Minggu, 09 Juli 2017

Post Truth

Pakar Komunikasi Dunia
Bahas Post-Truth

KAMUS Oxford menjadikan kata post-truth sebagai 2016 word of the year. Pengertian kata ini berkaitan dengan atau menunjukkan keadaan di mana fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik ketimbang terhadap emosi dan kepercayaan pribadi.

Dilandasi keprihatinan itu, para sarjana komunikasi dunia akan membahas ini di konfrensi interna-sional bertajuk Indonesia International Graduate Conference on Communication (Indo-IGCC) 2017. Konfrensi berlangsung 11-12 Juli di Kampus FISIP UI Depok, Jawa Barat. Konferensi ini diikuti oleh lebih dari 100 akademisi dari 4 negara. Total sebanyak 91 paper hasil penelitian akan dipresentasikan, yang terbagi dalam 5 topik yakni komunikasi, manajemen media, komunikasi pemasaran, komunikasi organisasi dan komunikasi politik. 

Masalah pascakebenaran atau post-truth menjadi penting karena cukup merisaukan. Saat ini banyak yang berpendapat tidak penting lagi kebenaran itu karena yang terpenting adalah apa yang dicapai.
Wakil Ketua Panitia Indo-IGCC Hendriyani, Senin (4/6) mengatakan, konferensi ini menjadi ajang berbagi hasil riset yang sudah dilakukan para mahasiswa pascasarjana komunikasi dari berbagai universitas.
Hendriyani yang juga Ketua Kelas Khusus Internasional Program Sarjana Ilmu Komunikasi UI ini mengemukakan bahwa karakteristik post-truth dapat dilihat dari berbagai peristiwa. Misalnya, ketika toleransi publik pada tuduhan yang tidak akurat semakin tinggi, muncul penolakan yang langsung dan keras terhadap fakta-fakta yang akurat.

Adapun pembicara kunci Indo-IGCC 2017 antara lain Prof Alwi Dahlan (Guru Besar Komunikasi UI), Prof Ariel Heryanto (Monash University), dan Dr Daniel Angus (University of Queensland, Australia).
Alwi Dahlan menjelaskan, kata post-truth paling sering dibicarakan terutama saat terpilihnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Referendum Brexit negara Inggris dari komunitas Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE).
“Trump dinilai tidak mengerti pemerintahan, kampanyenya menggunakan isu tidak benar seperti menjelekkan Obama. Begitupun dalam poling tidak unggul namun terpilih menjadi Presiden AS,’’ jelas Alwi. ‘’Intinya pada kasus Trump, banyak hal tidak benar yang dikatakannya, dianggap hebat dan didukung.’’

Post-truth tidak hanya berpengaruh dalam komunikasi politik. Fenomena ini saat ini juga terjadi dalam media, komunikasi pemasaran hingga organisasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.