Senin, 03 Juli 2017

Patung Dirobohkan

Patung Cendekiawan Dirobohkan?

Masih ingat patung di persimpangan Jalan Wastukencana-Cihampelas-Abdul Rivai-Cicendo yang sempat jadi polemik? Ya, patung cendekiawan namanya. Namun, sejak seminggu terakhir, patung itu tak ada lagi di tempatnya. Pergi kemana gerangan?

Saat "PR" melintas persimpangan dimaksud, Minggu 2 Juli 2017, tak ada lagi jejak patung setinggi 6 meter karya Ketut Winata tersebut. Yang tersisa hanyalah sebuah taman kecil berbentuk lingkaran berdiameter 3 meter. Di tengahnya ada onggokan tanah dan tiga batang pohon yang tak berdaun.

"Sore-sore itu ada dua mobil datang dan beberapa orang. Terus patungnya dibongkar. Baru malam selesai. Saya tidak tahu darimana. Mungkin dari pemkot," ucapnya.

Kemudian, lahan bekas patung itu berdiri, ditanami sejumlah tanaman. "Tapi, beberapa hari kemudian dirusak orang. Kayaknya sih orang gila. Jadi acak-acakan seperti sekarang," katanya.

Patung Cendekiawan hadiah Inkindo
Sebagai informasi, patung cendekiawan itu karya pematung asal Bali yang merupakan alumni Fakultas Seni Rupa ITB, Ketut Winata. Patung itu merupakan hadiah dari Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) sebagai bentuk terima kasih kepada Kota Bandung yang telah memunculkan banyak cendekiawan.

Patung itu menjadi simbol atau monumen cendekiawan bagi Kota Bandung. Peresmiannya digelar 21 Juni 2014, sekaligus bertepatan dengan peringatan HUT ke-35 Inkindo. Hari itu juga dijadikan momentum pencanangan Kota Bandung sebagai Kota Cendekiawan.


Dikutip dari situs web Inkindo Jabar, secara filosofi gambaran wujud monumen adalah sebagai berikut :

Wujud utama Monumen adalah "Figur Manusia" karena dalam hal ini "manusia" merupakan subjek utama dalam pengertian "manusia berkualitas".
Gerak Monumen: Figur manusia berdiri tegak dalam sikap mata terpejam seakan sedang mendayakan pikirannya dan melalui kekuatan daya pikir serta kearifannya sebagai manusia berkualitas. Telapak tangan kirinya mengeluarkan api yang berwujud "pelita" sebagai simbol dari penerang yang dapat memberi cahaya pada kegelapan sedangkan telapak tangan kanannya meneteskan air sebagai simbol memberi kehidupan.

Figur tersebut digambarkan metamorfosis dari tanaman/tumbuhan yang merambat dari bawah ke atas sebagai simbolisasi dari wawasan lingkungan yang merupakan dasar pijakan.
Monumen berdiri di atas bentukan konstruksi struktur yang paling kokoh & stabil "piramida" yang sekaligus gambaran tiga dimensional dari lambang Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo). Lambangnya menembus ke atas dari dasar bumi secara konstan berkesinambungan, terus tumbuh ke atas sejalan dengan kehidupan, semakin lama semakin besar dan kuat dalam tatanan struktur kelembagaan yang kokoh, stabil, dan paripurna.


Satrya Graha    
2 Juli 2017, 09:34
BANDUNG RAYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.