Senin, 17 Juli 2017

Majapahit Berdarah

Runtuh karena perebutan kekuasaan


Kegemilangan Majapahit ditutup dengan rentetan peristiwa berdarah. Situs kota Majapahit di Trowulan, dulunya pernah ditinggalkan penduduknya karena perebutan kekuasaan menjelang runtuhnya kerajaan itu.

“Semacam bedol desa memang benar, bahwa memang perebutan kekuasaan di Jawa selalu berdarah-darah. Jadi, kalau satu kedaton ditundukan, itu hancur habis,” jelas arsitek dan arkeolog, Osrifoel Oesman dalam diskusi Omah-Desa-Kuto Majapahit Trowulan, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/7).

Sepeninggal Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, Majapahit mulai meredup. Sebelum menjadi semakin lemah akibat menguatnya kekuatan Islam Demak, pertentangan di tengah keluarga kerajaan telah lebih dulu membuat Majapahit goyah.

Osrifoel, yang akrab dipanggil Ipul, menjelaskan bahwa sumber tradisi menyebut Majapahit runtuh tahun 1478 pada masa pemerintahan Girindrawarddhana akibat serangan kerajaan Islam Demak. Tahun itu berdasarkan candrasengkala Serat Kanda yang menyebut sirna ilang kertaning bumi yang berarti 1400 saka atau 1478 M. Padahal, setelah itu masih ada bukti-bukti sejarah yang menunjukkan Majapahit masih ada.

Dalam Masa Akhir Majapahit, arkeolog dan epigraf, Hasan Djafar menyebutkan adanya prasasti-prasasti dari Raja Girindrawarddhana. Pada masa pemerintahan Girindrawarddhana antara 1408-1433 saka juga masih ada kegiatan pembangunan tempat suci bercorak Hindu di lereng Gunung Penanggungan. Hasan menafsirkan bahwa apa yang disimpulkan dalam candrasengkala itu lebih menunjukkan peristiwa gugurnya Bhre Krtabhumi di Kedaton akibat serangan Girindrawarddhana.


Soal kapan runtuhnya Majapahit, petunjuk lain bisa diambil dari berita Antonio Pigafetta, seorang penjelajah Venesia, Italia. Pigafetta menyebut Pati Unus sebagai Raja Majapahit yang sangat berkuasa ketika masih hidup. Pati Unus meninggal pada 1521. “Kami berpendapat antara tahun 1518-1521, kira-kira pada 1519, Pati Unus telah menguasai Kerajaan Majapahit,” tulis Djafar.

Dengan dikuasainya Majapahit oleh Pati Unus, kerajaan itu telah hilang kedaulatannya. Maka, tahun 1519 bisa dianggap sebagai saat keruntuhan Majapahit yang sebenarnya. Meski begitu, penyebab keruntuhannya dapat dipandang bukan hanya akibat serangan Demak tapi adanya perebutan kekuasaan antara keluarga raja.

Djafar berpendapat tindakan Pati Unus, sebagai penguasa Demak, dapat dipandang sebagai perjuangan seorang penguasa daerah untuk menguasai Majapahit. Sebab, Demak merupakan salah satu daerah kekuasaan Majapahit. Para penguasanya, menurut Babad Tanah Jawa dan Serat Kanda, adalah keturunan Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V.

Raden Patah, pendiri Kerajaan Islam Demak, adalah anak Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Oleh karena itu, serangan Pati Unus, anak Raden Patah, dapat dianggap sebagai upaya keturunan raja Majapahit merebut haknya atas takhta kerajaan.

“Ini menimbulkan polemik Islam menyerang Hindu, padahal didahului perebutan kekuasaan,” ujar Osrifoel.

Selain perebutan kekuasaan, faktor agama tak bisa dikesampingkan sebagai pendorong runtuhnya kerajaan besar itu. Meski menjadi bagian dari Majapahit, namun Demak telah sepenuhnya berlandaskan Islam. Hal ini yang juga mendorong Demak untuk berusaha lepas dari pengaruh Majapahit yang “kafir”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.