Senin, 10 Juli 2017

Jejak Lukisan Palsu

Pendahuluan


Buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia diluncurkan pada 8 Mei 2014. Sampai dengan Maret 2016, enam kali diskusi tentang lukisan palsu diselenggarakan, bertolak dari buku tersebut – tiga kali di Jakarta, dua kali di Bali, sekali di Yogyakarta. Dalam enam forum itu pertanyaan yang selalu muncul dari peserta: “Bagaimana saya bisa mengetahui sebuah lukisan asli atau palsu?”

​Sesudah buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia (selanjutnya Jejak Lukisan) terbit, sepertinya orang lebih terbuka berbicara tentang lukisan palsu. Yang jelas, buku ini menegaskan bahwa pemalsuan lukisan memang kenyataan, dan melibatkan banyak pihak: pelukisnya, pemalsu tanda tangannya, pemodalnya, pengedarnya. 

Buku ini juga menyajikan contoh bahwa memeriksa sebuah lukisan yang dicurigai sebagai palsu adalah mungkin. Lukisan-lukisan Sudjojono, Soedibio, dan Hendra Gunawan yang diduga palsu dianalisis dari sisi sejarah dan unsur-unsur visual, dan disimpulkan lukisan-lukisan itu sangat diragukan keautentikannya. Memang belum ada kesimpulan pasti yang tak terbantahkan yang bisa diterima oleh semua pihak. Analisis dari sisi sejarah dan unsur-unsur visual masih membuka peluang perbedaan pendapat. Sejarah disusun antara lain berdasarkan fakta-fakta, dan fakta bisa saja keliru atau kurang lengkap bilamana ditemukan fakta baru. 

Analisis unsur-unsur visual mengandung subyektivitas, terbuka diperdebatkan. Karena itulah buku Jejak Lukisan belum memberikan semacam pedoman atau pegangan praktis untuk mengenali sebuah lukisan autentik atau palsu –seandainya ini dimungkinkan. Maka muncullah pertanyaan tersebut “Bagaimana saya bisa mengetahui sebuah lukisan asli atau palsu?”

​Sesungguhnya pertanyaan tersebut secara tidak langsung mempermasalahkan yang tersirat dalam buku Jejak Lukisan. Pertama, pengetahuan tentang sejarah seni rupa Indonesia yang bisa menjadi bahan guna memahami seni rupa Indonesia, seniman dan karyanya, baik dalam bentuk buku atau publikasi yang lain, belum memadai. Kedua, prasarana yang ada yang bisa memudahkan kita memperoleh dan memperkaya pengalaman melihat lukisan karya seniman Indonesia, baik itu berupa sebuah museum seni rupa atau museum virtual, misalnya, juga belum memadai.

​Memang; kasus-kasus lukisan palsu dari zaman ke zaman dan dari beberapa negara  membuktikan bahwa memiliki pengetahuan sejarah dan pengalaman melihat lukisan belum sepenuhnya menjamin kita terbebas dari kesalahan melihat lukisan palsu atau autentik. Dalam kasus lukisan palsu tahun-tahun belakangan ini, misalnya kasus Wolfgang Beltracchi, pelukis Jerman yang antara lain membuat lukisan-lukisan serupa karya Max Ernst. 

Lukisan-lukisan itu lolos masuk Sotheby’s dan Christie’s, hingga seorang ahli utama Max Ernst pun tertarik mengunjungi Beltracchi di rumahnya di Marseillan, Prancis. Werner Spies, ahli itu, pernah menjadi direktur Museum Nasional Seni Rupa Modern di Centre Pompidou, penyusun catalogue raisonnĂ© (katalog lengkap dengan informasi detail) Max Ersnt, menulis lima buku tentang Max Ernst, dan mengenal secara pribadi pelukis surealis Jerman itu; singkat kata ia bukan sembarang ahli tentang Max Ernst, ia adalah acuan utama tentang pelukis surealis itu. 

Syahdan, begitu menyaksikan lukisan yang dikatakan sebagai karya Max Ernst, Werner Spies terkagum-kagum dan langsung bilang akan memasukkan lukisan-lukisan itu dalam catalogue raisonné Max Ersnt.

Beltracchi, yang bebas dari hukuman pada Januari 2015, memang tak asal meniru Max Ernst. Menurut Helena, istrinya, ia mencoba “menjadi” Max Ernst: tinggal di tempat pelukis surealis Jerman itu pernah tinggal, melacak ke mana saja ia pergi, mempelajari riwayat hidupnya, bahan-bahan yang dipakai melukis dan lain-lain. Singkat kata ia serupa seorang aktor yang hendak memerankan Max Erenst dalam sebuah film. 

Hasilnya, mulai tahun 2000 karya-karyanya terjual di balai lelang, termasuk Sotheby’s dan Christie’s, tanpa masalah. Bahkan, seperti sudah diceritakan, Werner Spies yang ahli Max Ernst yang mengunjungi Beltracchi mengatakan, itulah karya-karya Max Ernst yang pada 1933 dikeluarkan dari semua museum di Jerman atas perintah Hitler -- Hitler menyatakan bahwa karya seni modern merusak moral. 

Pada 2012 kejahatan Beltracchi terbongkar – laboratorium forensik menyatakan cat putih yang digunakan adalah produk baru. Werner Spies ikut diadili, didenda 652.883 euro, namun pengadilan banding membebaskannya. Menurut hakim banding, dimasukkannya lukisan tersebut dalam catalogue raisonnĂ© tak berkaitan langsung dengan penjualan lukisannya. Penyusun katalog bukan konsultan penjualan lukisan, jadi dia tak bisa diminta membayar ganti rugi meski terbukti lukisan tersebut tidak autentik. Ketika kasus Max Ernst palsu ini mulai terkuak pada 2011, Spies sempat hendak bunuh diri.

​Bila mata seorang ahli pun bisa keliru, bagaimana dengan sertifikat karya yang biasanya ditandatangani oleh keluarga terdekat sang pelukis –istri atau anak? Adalah janda Max Ernst, Dorothea Tanning, yang 30 tahun bersama Max Ernst dan dia sendiri adalah pelukis surealis. Dorothea pun sempat melihat “koleksi” Beltracchi, dan spontan menyatakan bahwa itulah lukisan suaminya yang terindah. Takada informasi, apa kata sang istri ini ketika lukisan tersebut terbukti tidak autentik. 

Yang bisa ditarik dari peristiwa ini, keluarga terdekat sang pelukis pun belum merupakan jaminan sepenuhnya. Apalagi, bila jaminan itu diwujudkan dalam bentuk sertifikat, bukankah sertifikat juga bisa dipalsukan, misalnya judul lukisan diganti, reproduksi diganti, dan sebagainya.

Bukan hanya sertifikat; dalam hal palsu-memalsu ini, sebuah katalog pameran, sebuah buku, sebuah foto, sebuah media yang memuat reproduksi lukisan dari lukisan yang diperdebatkan autentik tidaknya, di zaman digital ini, semua itu mudah dimanipulasi. Di buku Jejak Lukisan, seorang kolektor (E.Z. Halim) membeli lukisan yang bertandatangan S. Sudjojono karena reproduksi lukisan itu tercantum di buku Seni Lukis Indonesia Baru (Sanento Yuliman, Dewan Kesenian Jakarta, 1976). Ternyata empat halaman buku Seni Lukis itu diganti, dan salah satu reproduksi lukis pada empat halaman itu diganti dengan reproduksi lukisan yang dinyatakan sebagai lukisan Sudjojono.

Satu lagi cara menengarai sebuah lukisan autentik atau palsu, yaitu dengan melacak asal-usul lukisan, populer disebut provenance. Idealnya, pelacakan bisa sampai pada ketika lukisan diciptakan oleh pelukisnya. Pada kenyataannya pelacakan asal-usul tidak mudah terutama bila senimannya sudah tiada. Dalam kasus Beltracchi tersebut misalnya, Christie’s sempat menanyakan asal-usul lukisan milik Beltracchi kepada Helena, istrinya. 

Jawab sang istri, sebenarnya semuanya itu milik dia, warisan dari kakeknya, industrialis Jerman kaya-raya di tahun 1930-an. Semua koleksi diperoleh kakek Helena pada 1933 dengan harga murah karena pemiliknya, Alfred Flechtheim, seorang Yahudi pengusaha galeri di Dusseldorf, Berlin, dan Koln, ketakutan bahwa koleksinya akan disita oleh Nazi yang mulai berkuasa. Keduanya, si kakek dan pemilik galeri itu, memang sama-sama tinggal di Krefeld, dan kakek Helena pun sering ke Koln tempat salah satu galeri Alfred Flechtheim berada, karena kakek itu juga punya usaha di kota itu. 

Pihak Christie’s tak bertanya lebih jauh, karena Alfred Flechtheim memang salah seorang pemilik galeri di Jerman yang dikenal luas. Baru setelah kecurigaan muncul, pelacakan mengungkapkan, meskipun kakek Helena dan sang pemilik galeri tinggal di kota yang sama dan punya usaha di kota yang sama pula, mereka tak saling mengenal. Apa kata Christie’s kemudian? “Ini kasus [pemalsuan yang] canggih yang tidak biasa.”        

Dari kasus Beltracchi, pemeriksaan autentik atau tidaknya sebuah lukisan dari sisi sejarah dan analisis visual ternyata bisa juga keliru. Kasus lukisan palsu Max Ernst ini terungkapkan karena teknologi, yakni teknologi uji forensik. Namun harus segera dinyatakan pula, uji forensik (untuk mengetahui jenis dan usia media yang digunakan pada sebuah lukisan) pun tidak bisa dikatakan sebagai kata pamungkas. 

Tampaknya hasil pemeriksaan dari semua sisi itulah yang kemudian saling menguatkan menuju sebuah kesimpulan yang valid. Ibarat pertandingan bola, untuk menyimpulkan autentik tidaknya sebuah lukisan yang meragukan, perlu “total football”.  

Yang memprihatinkan, semuanya itu satu per satu, belum memadai atau belum diterapkan di Indonesia dengan sungguh-sungguh. Enin Supriyanto, salah seorang pembicara dalam diskusi Buku Jejak, April 2014 di Salihara, Jakarta, mengibaratkan kekurangan dalam dunia seni rupa kita itu sebagai lubang. Lubang itulah, salah satu di antaranya, yang membuka peluang maraknya lukisan palsu. Bila lubang dibiarkan, tidak diupayakan ditutup, besar kemungkinan kita bakal berkali-kali terperosok ke dalamnya, kata Enin, seorang kurator dan penulis seni rupa yang dipercaya mengkuratori pameran seni rupa Indonesia di Biennale Venesia 2017.  

Dengan demikian rasanya sulit menjawab pertanyaan tersebut, “Bagaimana saya bisa mengetahui sebuah lukisan asli atau palsu?”, di masa ketika bukan hanya lukisan yang palsu melainkan juga sertifikat, buku, katalog, foto dean sebagainya. Seorang kolektor yang yakin bahwa sebuah lukisan yang ditawarkan kepadanya autentik dan ia sangat ingin mengoleksi lukisan itu, mungkin dia perlu pendapat pihak ketiga agar ia tak terperosok membeli karya palsu. 

Sayangnya, di Indonesia pihak ketiga itu, lembaga publik untuk memeriksa sebuah lukisan autentik atau tidak, belum ada. Lembaga publik yang lazim disebut lembaga verifikasi karya seni ini sudah barang tentu beranggotakan sejumlah ahli dari bermacam bidang berkaitan dengan lukisan; dari ahli sejarah seni rupa, pakar spesialis yang mampu menganalisis lukisan seniman tertentu, sampai ahli uji forensik. Itulah yang diusulkan oleh  Jean Couteau, peneliti dan kritikus seni rupa asal Prancis yang sejak beberapa tahun lalu tinggal di Bali. 

Jean Couteau, salah satu pembicara dalam diskusi keempat Jejak Lukisan di Ciputra Artpreneur, 17 September 2015, mengusulkan Indonesia membentuk lembaga verifikasi yang memiliki otoritas memeriksa dan menyimpulkan sebuah lukisan autentik atau palsu. Di Prancis, katanya, “Lembaga ini dipegang tenaga ahli yang profesional dan disumpah.”

Namun lembaga verifikasi publik juga bukan tanpa masalah. Cerita Jean Couteau mendapat respons dari seorang peserta diskusi; Rusharyanto membandingkan pemalsuan lukisan di Prancis dan Indonesia dari sisi hukum. Kata dia, sebagai polisi ia tak bisa melakukan apa-apa seumpama ada kasus pemalsuan lukisan, bahkan di lingkungan kepolisian. 

Bagaimana bisa begitu? Kata perwira menengah polisi yang sarjana hukum ini, pangkal soalnya adalah Undang-Undang Hak Cipta tahun 2014 pada Pasal 120 menetapkan kasus-kasus berkaitan dengan hak cipta, termasuk pemalsuan karya seni, adalah delik aduan. Tanpa ada pengaduan, meskipun di masyarakat heboh perkara lukisan karya seorang pelukis maestro Indonesia yang diduga kuat palsu, tak mungkin aparat hukum turun tangan  mengusut. Waktu itu Rusharyanto seorang perwira menengah di Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus, Markas Besar Kepolisian Indonesia, direktorat yang antara lain menangani pemalsuan karya seni.      

Mengingat itu semua, bisakah dijawab pertanyaan yang selalu muncul dalam diskusi enam kali itu, “Bagaimana saya bisa mengetahui sebuah lukisan autentik atau palsu”?

Bilamana tujuan mengetahui sebuah lukisan autentik atau palsu agar juga diterima oleh publik, masalahnya tidaklah sederhana. Kesimpulan palsu atau tidaknya sebuah lukisan Dengan lain kata, pengetahuan tersebut harus didasarkan atas argumentasi dan bukti yang tak terbantahkan. Mencari bukti tak terbantahkan inilah yang menjadikan tidak semua kasus dugaan lukisan palsu terselesaikan dan diterima semua pihak. 

Ada sejumlah karya yang diragukan keautentikannya, dan setelah sejumlah pemeriksaan dari segala sisi (sejarah, uji forensik, pelacakan asal-usul karya, dan mungkin ada lagi) tetap ada dua pihak yang menyatakan berbeda. Contoh, lukisan Jackson Pollock (1912-1956), pelukis ekspresionisme abstrak Amerika, berjudul Red, Black & Silver, berukuran sekitar 50X60 cm, tanpa tanda tangan. Lukisan ini milik sang pacar, Ruth Kligman, yang dijadikan gambar kulit muka buku karya dia, Love Affair, A Memoir of Jackson Pollock, terbit pada 1974.   Begitu buku terbit segera heboh pun menyeruak, dan pernyataan paling keras dan serius bahwa lukisan tersebut bukan karya Pollock datang dari istri sang maestro: Lee Krasner.

Kalau begitu, apakah kita harus menunggu berbagai sarana seperti sudah disebutkan –lembaga verifikasi, ahli sejarah dan lain-lain, bukti asal-usul karya atau lazim disebut provenance, dan undang-undang – bila kita hendak membeli sebuah lukisan?

Berbagai sarana yang mendukung pembuktian lukisan autentik atau tidak, seperti diceritakan itu, diperlukan bila terjadi suatu kasus. Yaitu, ada pihak yang memerkarakan sebuah lukisan ia anggap palsu dan karena itu mesti diusut.

Lalu bagaimana jalan keluar masalah lukisan palsu di Indonesia, ketika segala jurus pengusutan dan pembuktian serta undang-undang yang mengatur ini semua masih lemah atau bahkan belum ada? ……


Bab 1

DI depan hampir dua ratus orang yang hadir, Daoed Joesoef, salah seorang cendekiawan utama kita, menyampaikan pandangannya tentang keindahan.

“Anda dapat menunjukkan dengan persis suatu pemandangan matahari terbenam atau pemandangan di kala terang bulan, tetapi Anda tidak dapat menunjukkan kepada saya keindahan tersebut persis seperti yang Anda rasakan atau hayati. Dengan kata lain, keindahan tidak mengklasifikasi sesuatu dalam artian yang sama seperti yang dilakukan oleh (warna) merah atau (warna) putih. Keindahan adalah suatu kualitas yang sarat dengan subyektivitas manusiawi,” simpul Daoed Joesoef yang juga seorang pelukis dan sketser yang  tekun.

Oleh sebab itu, lanjut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  pada 1977-1982 ini, “membuat dan mengedarkan lukisan palsu demi keuntungan finansial menodai keindahan.”

Ini tidak berarti sebuah lukisan palsu, misalnya, tanpa keindahan. “Karya palsu itu bisa saja memukau orang yang melihatnya,”  tapi si pengedar penjual karya palsu itu sekaligus “menipu” dan “membunuh”. Dia menipu kolektor dan publik yang awam dan, lebih parah lagi, membunuh badan, pikiran (ide) dan jiwa dari pelukis yang asli.”

Daoed Joesoef menyampaikan pendapat tersebut dalam acara peluncuran buku Jejak Lukisan Palsu Indonesia, di Galeri Nasional Indonesia, 8 Mei 2014. Inilah awal perihal lukisan palsu dibukukan dan “disahkan” bahwa masalah ini bukan sekadar omongan warung kopi, melainkan nyata terjadi dan menimbulkan masalah di dalam dunia seni rupa Indonesia. Memang, sudah di tahun 1970-an  di kalangan para perupa Indonesia masalah lukisan palsu diomongkan; dari sekadar guyonan hingga dibeberkan di sebuah diskusi. Pelukis Cak Kandar pernah memprakarsai diskusi tentang lukisan palsu pada awal 1980-an di Balai Budaya, Jakarta.



Bambang Bujono



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.