Senin, 31 Juli 2017

Jangan Menghakimi

JANGAN BURU BURU MENGHAKIMI DAN BERBURUK SANGKA

Ada sepasang suami isteri ter-gesa² berlari menuju ke HELIKOPTER di PUNCAK GEDUNG HOTEL  untuk menyelamatkan diri, pada saat terjadi KEBAKARAN .

Tetapi saat sampai di atas sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yg tersisa. Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya utk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum HELIKOPTER menjauh .

Dan kejadian Berikutnya.... API ITU SEMAKIN MEMBESAR dan MENGHANGUSKAN seluruhnya (termasuk sang ISTRI).

DOSEN yg menceritakan kisah ini bertanya pada mahasiswa²nya, menurut kalian, apa yg sang istri itu teriakkan? ....
Sebagian besar mahasiswa - mahasiswi itu menjawab : 

- Kamu JAHAT
- Aku benci kamu, 
- kurang ajar...
- kamu egois, 
- nggak tanggung jawab, 
- nggak tau malu...kamu.

Tapi ada seorang mahasiswi yg hanya diam saja, dan guru itu meminta mahasiswi yg diam itu menjawab, 

Kata si mahasiswi, 
saya yakin si istri pasti berteriak...
"Tolong jaga anak kita baik²"

Dosen itu terkejut dan bertanya, apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?
Mahasiswi itu menggeleng, belum, tapi itu yg dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.

DOSEN  itu menatap seluruh kelas dan berkata :,
Jawaban ini benar, ......
HOTEL itu kemudian benar² terbakar habis... dan... sang suami harus kembali ke kota kecilnya dengan Air mata yg terus menetes harus menjemput dan mengasuh serta membesarkan anak2 mereka yg masih TK dan BALITA ..... sendirian, dan Kisah Tragedi tersebut disimpan rapat2 tanpa pernah dibahas lagi.

Dan bertahun2 kemudian, anak2 itu sdh menjadi Dewasa.... Ada yg menjadi pengusaha... Ada yg menjadi Dokter....dan 1 lagi masih bekerja sambil kuliah. 
Pada suatu hari ketika anak bungsunya bersih2 kamar sang Ayah, dia menemukan buku harian ayahnya, 

Dia menemukan kenyataan bahwa terjadi kebakaran di hotel waktu  itu, mereka sedang berobat jalan karena sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan divonis dokter akan segera meninggal.

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu²nya kesempatan untuk bertahan hidup.
Dan dia menulis di buku harian itu,
Betapa aku berharap istriku tercintalah yg naik ke Helicopter itu. Tapi....
demi anak2, terpaksa dengan hati menangis, aku membiarkan kamu tertinggal di sana dan meninggal sendirian.

Si anak bungsu kemudian menceritakan  kepada kedua kakaknya.... dan mereka... Bertiga segera menyusul sang Ayah di kampus...... mereka sujud mencium kaki sang Ayah Bergantian.....(mengucap syukur atas perjuangan sang Ayah membesarkan mereka semua, walau
Harus menanggung beban mental yg demikian berat. 

Cerita itu selesai, ....
dan seluruh kelas pun terdiam. 

Dosen itu kemudian berkata :

Siapakah sang Ayah ? .....

Sang Ayah Itu.... saat ini lah yang ada di hadapan kalian....

Para Mahasiswa pun segera bertepuk tangan, ada yg berlarian memeluk sang DOSEN, ada yg terhenyak meneteskan air mata haru. 

Mereka sekarang mengerti Hikmah dari cerita nyata tsb, 

bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan dibaliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa².

Mereka yg sering membayar untuk orang lain bukan berarti kaya, tapi karena lebih menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yg bekerja tanpa ada yg menyuruh bukan karena bodoh, tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yg minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah, tapi karena lebih menghargai orang lain.

Mereka yg mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berhutang, tapi karena menganggap kita adalah sahabat.

Mereka yg sering mengontakmu bukan karena tidak punya kesibukan, tapi karena kita ada di dalam hatinya.

JANGAN MUDAH MENGAMBIL KESIMPULAN KARENA ASUMSI.

Sabtu, 29 Juli 2017

Toilet

TOILET GILA

Ketika itu saya udah kebelet pengen BAB, kepaksa mampir dulu di Hotel. Bukan buat check-in, tapi nebeng ke WC-nya.
Untung ada yang kosong satu. Masuk aja.

Baru saja jongkok di WC, dari sebelah ada yang teriak nanya,

+ "Apa kabarnya?"
- "Baik" jawabku

+ "Masih kerja di tempat yang dulu itu?"
- "Ah, saya lakoni aja, jaman sekarang mah sulit mau cari kerja baru" kata saya sambil hati bertanya-tanya ini siapa, koq kenal sama saya.

+ "Anak masih dua?"
- "Sekarang mah udah tiga" jawab saya sambil tetap penasaran ini siapa di WC sebelah

+ "Istrimu sehat-sehat saja?"
- "Ya alhamdulillah semua sehat" jawab saya ngasih penjelasan sambil masih blank lupa ini siapa orang yang di WC sebelah ..

Hening beberapa saat ..

Tidak berapa lama orang di WC sebelah ngomong gini:

"Udahan dulu ya neleponnya.. Ini di WC sebelah ada orang gila.. Ngasih komen terus.."

Jumat, 28 Juli 2017

Sains vs Agama

Stephen Hawking, Ibn Sina, dan Eksistensi Tuhan



Ide dari tulisan ini muncul setelah membaca sebuah artikel tentang perdebatan agama dan sains beberapa waktu lalu. Atas dasar perkembangan teori penciptaan modern, penulisnya membangun pendapat tentang hubungan agama dan sains.

Adalah Stephen Hawking yang memunculkan teori baru tentang keberadaan alam semesta dan sekaligus mengoreksi teori dentuman besar (big bang) Albert Einsten. Berbeda dengan Einstein, Hawking dalam penelitian terbarunya malah membuktikan bahwa alam ini tidak berawal dari sebuah dentuman besar, serta tidak pula memiliki permulaan dan akhir.

Pertentangan teori sains dan agama seperti ini membuat penulisnya berpendapat bahwa sains dan agama berada dalam dua wilayah berbeda yang sama sekali tidak bisa dihubungkan. Yang menarik perhatian saya adalah kesimpulan sang ilmuan tentang penegasian eksistensi Tuhan dan kesimpulan penulis tentang hubungan antara sains dan agama.

Diskursus teori penciptaan di atas mengingatkan saya pada perdebatan lintas generasi dalam sejarah pemikiran Islam, yaitu antara Ibn Sînâ (890-1037 M) dan al-Ghazâlî (1058-1111 M). Perdebatan ini terkait persoalan apakah alam semesta ini kekal (qadim) atau baru (hudȗts).

Al-Ghazâlî dalam Tahâfut al-Falâsifah, membantah argumen Ibn Sînâ yang menyatakan bahwa alam semesta ini bersifat kekal (qadim). Menurutnya, alam semesta ini bersifat baru (hudȗts), karena ia diciptakan oleh Tuhan.

Kata “diciptakan” mengandung makna bahwa pada awalnya alam ini tidak ada dan kemudian di-ada-kan oleh Tuhan (creatio ex nihilo). Sedangkan Ibn Sînâ meyakini teori yang berbeda, bahwa ketiadaan hanya bisa menghasilkan ketiadaan (ex nihilo nihil fit).

Maksudnya, segala sesuatu yang ada tidaklah bisa berawal dari ketiadaan, sehingga hanya “ada” yang bisa menjadi “ada”. Hal ini berkonsekuensi pada pandangan terhadap kekalnya alam ini.

Tentu perdebatan Ibn Sînâ dan al-Ghazâlî ini mirip dengan perdebatan Einstein dan Hawking, walaupun dalam kondisi yang terbalik. Ibn Sînâ meyakini kekalnya alam ini dan al-Ghazâlî kemudian hadir dan membantahnya dengan keyakinan kebaruan alam semesta. Begitu juga dengan Einstein yang mengakui alam ini memiliki permulaan dengan teori dentuman besarnya (big bang) dan kemudian hadir Hawking yang menyatakan teori bahwa alam ini tidak memiliki awal dan akhir.

Namun, hal menarik yang perlu dicermati adalah, perbedaan kesimpulan akhir dari kedua perdebatan lintas generasi tersebut. Kesimpulan Hawking akhirnya menegasikan eksistensi Tuhan. Sedangkan pedebatan antara Ibn Sînâ dan al-Ghazâlî sama-sama diperuntukkan untuk mengagungkan Tuhan.

Kesimpulan Hawking tentang alam semesta yang kekal menyebabkan penegasian eksistensi Tuhan. Ketidakberawalan alam semesta ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah tidak ada dan selalu ada, sehingga tidak diperlukan sesosok agen (Tuhan) untuk memproses dirinya dari ketiadaan menuju keberadaan.

Namun, akan menjadi menarik apabila kita menilik pemikiran Ibn Sînâ. Bagaimana bisa dari sebuah premis awal yang sama tentang kekekalan alam ini, ia menghasilkan sebuah kesimpulan yang berbeda dengan Hawking.

Ibn Sînâ lebih cenderung menggunakan dalil filosofis dalam membangun argumentasi hubungan alam dan Tuhan. Ada dua dalil filosofis yang melandasi argumen Ibn Sînâ, yaitu bahwa segala sesuatu membutuhkan sebab dan sebuah sebab tidak bisa menghasilkan akibat yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan sebabnya.

Jika dalil-dalil ini diterapkan pada alam semesta ini, maka akan memunculkan pertanyaan “apakah sebab dari alam semesta ini?”. Saya tidak tahu persis bagaimana Hawking akan menjawab pertanyaan ini.

Jika seandainya ia menjawab bahwa alam semesta ini tidak memerlukan sebab, tentu ini akan bertentangan dalil filosofis pertama. Padahal dari dalil filosofis tersebutlah seluruh bangunan ilmu pengetahuan bersandar. Seluruh penelitian ilmiah bertujuan untuk mencari sebab dari fenomena tertentu.

Hilangnya prinsip filosofis tersebut akan menghancurkan seluruh bangunan ilmu pengetahuan manusia. Namun, jika ia menjawab bahwa sebab dari alam ini adalah dirinya sendiri, hal ini sama halnya dengan mengatakan bahwa materi merupakan sebab bagi dirinya. Pernyataan itu tentu bertentangan dengan prinsip filosofis kedua.

Secara sederhana bisa dianalogikan bagaimana mungkin seseorang yang tidak bisa berbahasa Inggris sukses melatih orang lain untuk fasih berbahasa Inggris. Prinsip filosofis di atas mengakibatkan bahwa haruslah ada sesuatu yang lebih tinggi dari keberadaan materi tersebut yang berlaku sebagai sebabnya.

Di sisi lain, prinsip kausalitas itu sendiri harus berakhir pada causa prima, yaitu suatu sebab yang tidak memiliki sebab. Ketidakberakhiran sebab-akibat secara tidak terbatas (tasalsul) merupakan hal yang tertolak.

Alam semesta itu sendiri tidak bisa kita jadikan sebagai causa prima dengan alasan yang sudah dipaparkan di atas. Sesuatu yang derajatnya melampaui materilah yang dapat dijadikan causa prima. Dalam terma kaum agamawan, istilah causa prima ini diidentikkan dengan Tuhan.

Melalui prinsip-prinsip tersebut Ibn Sînâ menjelaskan hubungan antara alam semesta dan Tuhan melalui teori emanasinya. Bahwa alam semesta ini merupakan pancaran dari dzat Tuhan. Hal ini secara sederhana dianalogikan dengan matahari dan sinarnya.

Akan sangat tidak mungkin kita bisa memisahkan eksistensi matahari dan eksistensi sinarnya. Adanya matahari meniscayakan keberadaan sinarnya. Begitu pula dengan Tuhan dan alam semesta. Kita tidak bisa mengatakan bahwa alam semesta ini bermula dari ketiadaan. Mengatakan alam ini pernah tiada, sama tertolaknya dengan pernyataan pernahnya kondisi matahari tanpa sinarnya.

Lalu apakah dengan kekalnya alam berarti kita menyamakan alam semesta dengan Tuhan? Di sinilah letak solusi cerdik Ibn Sînâ. Ia membagi konsep kekal (qadim) menjadi dua, yaitu kekal dari segi masa atau waktu dan kekal dari segi dzat. Kekal dari segi masa bermakna sesuatu yang tidak memiliki permualaan waktu.

Sedangkan kekal dari segi dzat adalah sesuatu yang tidak tergantung kepada yang lain. Jadi alam semesta ini bersifat kekal dari segi waktu, sedangkan Tuhan kekal dari segi dzatnya. Hal ini juga diperkuat dengan pembagian Ibn Sînâ tentang wajib al-wujȗd menjadi dua, yaitu wajib al-wujȗd bi dzatihi dan wajib al-wujȗd li ghairihi.

Wajib al-wujȗd bi dzatihi bermakna wujud yang wajib adanya dikarenakan oleh dzatnya sendiri, yaitu Tuhan. Sedangkankan wajib al-wujȗd li ghairihi adalah wujud yang wajib ada karena bersandar pada sesuatu yang lain, inilah alam semesta. Maka kekalnya alam semesta ini tetap bersandar pada kekalnya dzat Tuhan.

Tentu keduanya berbeda dalam hal kualitas kekekalannya. Dengan demikian, penerimaan kekekalan alam semesta ini tidak selalu dianggap sebagai menduakan Tuhan atau bahkan menegasikan Tuhan.

Demikianlah kiranya perbedaan kesimpulan antara Hawking dan Ibn Sînâ, walau berangkat dari premis awal yang sama. Dengan ini pun sesungguhnya bisa dikatakan bahwa sains dan agama itu tidak benar-benar terpisah.

Bahwa keduanya pun terkadang bisa saling mendukung satu sama lain. Tinggal bagaimana kita memilih cara berpikir dan sudut pandang dalam menyikapinya.


Andry Fitrianto

Daya Beli

Sari    : (gemetar) "Mampus, hamil aku..."

Ibu     : (cuek) "Aaaaaaaahh ga mungkin!"

Sari    : "Tapi akhir-akhir ini aku sering muntah-muntah Mak..."

Ibu     : "Paling cuma masuk angin doang."

Sari    : (menangis) "Tapi kenapa sekarang aku suka makan makanan yang asem ya Mak?"

Ibu     : (dengan kesal sambil berteriak)

           "Berhentilah menghayal Saripudin! Emak tabok lo entar, bencong mana bisa hamiiiiiilllll!"
😁😁😁😁😁😁😁

Hamil

Sari    : (gemetar) "Mampus, hamil aku..."

Ibu     : (cuek) "Aaaaaaaahh ga mungkin!"

Sari    : "Tapi akhir-akhir ini aku sering muntah-muntah Mak..."

Ibu     : "Paling cuma masuk angin doang."

Sari    : (menangis) "Tapi kenapa sekarang aku suka makan makanan yang asem ya Mak?"

Ibu     : (dengan kesal sambil berteriak)

           "Berhentilah menghayal Saripudin! Emak tabok lo entar, bencong mana bisa hamiiiiiilllll!"
😁😁😁😁😁😁😁

Surprise

Today is Ahong's birthday, so Diana, his wife, decided to surprise him, she took him to a Strip-Club House. 

At the club..

DOORMAN: "Hey Ahong ! How are you?"

Diana : "How does he know you?" 😡 

Ahong : "We play Golf together !" 😥

BARTENDER: "The usual beer, Ahong?" 😊

Diana : "And how does he know you?" 😡 

Ahong : "He's on the Bowling Team !" 😰 

HOT STRIPPER : "The special Lap Dance again, Ahong?" 😛

Diana storms out...... dragging Ahong with her, into a taxi ! 😤 🚖 

TAXI DRIVER : "Hey Ahong boy.... You picked an ugly one this time... Same Hotel? " 🤣 😆😆😆

Ahong's funeral will be this Saturday at 12noon...

Tidak Absolut

Tidak Ada Kekuasan Absolut


Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa di Indonesia tidak ada kekuasaan yang absolut dan pihak yang menyebutkan ada praktik kekuasaan yang absolut sebagai berlebihan.

"Perlu saya sampaikan bahwa saat ini tidak ada kekuasaan absolut atau kekuasaan mutlak, kan ada pers, ada media, ada juga LSM, ada juga yang mengawasi di DPR, pengawasannya kan dari mana-mana, rakyat juga bisa mengawasi langsung," kata Presiden Jokowi di Cikarang, Jumat

Pernyataan itu merespon pesan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono bahwa para pemegang kekuasaan tidak boleh tanpa batas menyalahgunakan kekuasaannya.

"Power must not go unchecked. Artinya kami harus memastikan bahwa penggunaan kekuasaan oleh para pemegang kekuasaan tidak melampaui batas, sehingga tidak masuk apa yang disebut abuse of power. Banyak pelajaran di negara ini, manakala penggunaan kekuasaan melampaui batasnya masuk wilayah abuse of power, maka rakyat menggunakan koreksinya sebagai bentuk koreksi kepada negara," kata SBY di Bogor, kemarin (27/7).

Sebaliknya Presiden Jokowi memastikan tidak ada kekuasaan absolut di Indonesia termasuk saat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan.
"Dan juga perlu saya sampaikan, Perppu itu kan produk undang-undang, dan dalam mengeluarkan Perppu kan juga ada mekanismenya. Setelah Presiden mengeluarkan Perppu, kan ada mekanisme lagi di DPR dan di situ ada mekanisme yang demokratis, ada fraksi-fraksi entah setuju dan tidak setuju. Artinya sekarang tidak ada kekuasaan absolut atau mutlak, (kekuasaan absolut) dari mana? Tidak ada," tegas Presiden.

Presiden menilai pihak-pihak yang menyampaikan bahwa ada kekuasaan absolut di negara ini adalah berlebihan.

"(Pernyataan itu) sangat berlebihan, apalagi setelah di dewan nanti ada proses lagi, kalau tidak setuju bisa ke MK, iya kan? Kita ini kan negara demokrasi sekaligus negara hukum, jadi proses-proses itu sangat terbuka sekali. Kalau ada tambahan demo juga tidak apa-apa, jadi jangan dibesarbesarkan hal yang sebetulnya tidak ada," jelas Presiden.

Jokowi menyebut pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Soebianto sebagai pertemuan biasa.

"Pertemuan tokoh-tokoh, pertemuan partai saya kira biasa-biasa saja, sangat baik. Tapi perlu saya sampaikan bahwa sebagai bangsa kita sudah menyepakati secara demokratis untuk menyelesaikan setiap perbedaan, setiap permasalahan dengan musyawarah dan mufakat," ungkap Presiden.

Perppu No 2 tahun 2017 adalah perubahan atas UU No 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Perppu Ormas).
Perppu Ormas itu diterbitkan karena pemerintah menilai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tidak lagi memadai dalam mencegah meluasnya ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Dampak dari perppu ini adalah Kementerian Hukum dan HAM memiliki kewenangan untuk mencabut atau membatalkannya status hukum dari ormas yang dinilai bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 termasuk pencabutan badan hukum ormas Hizbut Tharir Indonesia mulai 19 Juli 2017.


Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Serangga di Kolam

serangga berkaki kurus panjang
meniti air pada kolam
bergelombang ditiup angin
mendekatiku,
"bolehkah aku duduk pada topimu?"

Pulpen

Ahong : “Pinjem pulpen dong”?
Bagol : “Ada nih,,”

Ahong : "Makasih.... waahh ni pulpen dari Jakarta ya?”
Bagol : “hehe...iya...kok tau, kenapa, keren ya?”

Ahong : “Bukan...macet...!!!

Menjaga Kesehatan

Perlunya Menjaga Kesehatan


Dua Direktur baru saja Meningal di Usia Produktif (Masih Muda). 


Pertama Dirut Semen Indonesia (Rizkan Chandra - 49 Th) meninggal Dunia pada Sabtu 15 Juli 2017.

Yang Kedua Direktur Bisnis PT. PNM (M. Lukman Rizal - 49 Th) meninggal Minggu, 16 Juli 2017 Jam 3.00 Dini Hari.

Keduanya meninggal dalam Usia Muda.
Keduanya memiliki Etos Kerja Yang Luar Biasa.

Dari keduanya saya hanya mengenal baik yang Direktur Bisnis PT. PNM.
Beliau Energik, Rajin dan Rutin Fitnes, Tubuhnya Atletis,  Selalu Menjaga Makanannya dan Anti Rokok.
Beliau terkena Serangan Jantung secara tiba2 sebelum meninggal.

Saya seperti tidak percaya dengan meninggalnya beliau.

Saya baru tahu bahwa Tekanan Pekerjaan atau Pikiran yang Membuat Stress Ternyata juga Penyebab Serangan Jantung.

Untuk Rekan2, Tetap Jaga Pikiran dan buatlah selalu Fresh, Jangan jadikan Beban terhadap apapun yang  menjadi tanggungjawab diri.

Mudah2an Artikel berikut bermanfaat untuk Rekan2 yang masih Muda dan masih panjang perjalanan hidupnya.

Hubungan Penyakit Jantung dengan Stress yang Patut Diketahui.

Seseorang yang mengalami Stress dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit jantung koroner.

Stres sendiri dapat berpengaruh terhadap sistem peredaran darah dan saraf. Suatu penelitian menyatakan bahwa stres akut memicu berkurangnya aliran darah ke jantung sehingga meningkatkan pembekuan darah pada jantung. Semua ini memicu penyakit kardiovaskuler. Jika anda sudah memiliki aterosklerosis, stres dapat menyebabkan nyeri di dada yang disebabkan peredaran darah di jantung berkurang sehingga jantung kekurangan oksigen dan dalam waktu bersamaan jantung harus memompa darah.

Hubungan penyakit jantung dengan stress ini sangat berpengaruh karena apabila kita sering mengalami stress atau depresi maka kinerja jantung akan tidak stabil. Ada banyak hubungan antara dua penyakit tersebut. Antara satu dengan lainnya bisa saling berkontribusi terhadap perkembangan satu sama lainnya, juga saling menggangu pengobatannya. Dibawah ini adalah beberapa hubungan penyakit jantung dengan stress yang patut diketahui.

1. Stress dapat mempengaruhi irama jantung, meningkatkan tekanan darah, menyebabkan gumpalan darah dan menyebabkan peningkatan tekanan hormon secara kronis. Menurut American Heart Association ,ditemukan bahwa stress bisa menyebabkan orang menjadi kurang memperhatikan nutrisi dan kesehatan secara keseluruhan.

2. Sress sering terlihat pada orang-orang yang pernah terkena serangan jantung atau yang pernah menjalani Cardiopulmonary Bypass Surgery (pengalihan fungsi jantung dan paru-paru selama operasi). Data dari NIMH menunjukan bahwa 1 dari 3 orang yang selamat dari serangan jantung pernah bertarung dengan stress selama masa pemulihan.

3. Stress akan membuat orang yang mengidap penyakit jantung jadi lebih sulit untuk menjalankan pengobatannya dan mematuhi pola makan sesuai resep dokter dan olahraga rutin. Hasilnya, orang yang mengidap stress sekaligus penyakit jantung akan diprediksi lebih lama sembuh (data dari Cleveland Clinic Journal of Medicine). Selain itu orang dengan penyakit jantung cenderung lebih negatif terhadap prediksi tersebut, yang mana akan memperburuk stress nya juga..

4. Penyakit jantung dan stress adalah penyakit yang serius. Untungnya, dua penyakit tersebut seringkali dapat dikendalikan melalui pengobatan dan perubahan gaya hidup. Jika Anda pernah didiagnosa mengidap salah satu atau bahkan dua kondisi tersebut, konsultasikan baik-baik dengan dokter Anda untuk menemukan pengobatan dan pilihan gaya hidup yang tepat.

Demikian informasi tentang hubungan penyakit jantung dan stress yang patut diwaspadai ini. Mulai sekarang sebisa mungkin Anda harus bisa menghindari stress atau depresi agar terhindar dari penyakit jantung dan Hidup Sehat Selalu..

🙏 NN

.

Anjing

Di tengah perjalanan malamnya, Abu Yazid al-Bisthami bertemu dengan seekor anjing.
Dengan sigap, diangkatlah gamisnya, dengan maksud agar tidak terkena najisnya.

Spontan anjing tersebut berhenti dan memandang Abu Yazid.
Atas kuasa Allah, Abu Yazid mendengar anjing tersebut berbicara, kepadanya :

"Wahai Yazid, tubuhku ini kering, tidak akan menimbulkan najis kepadamu. 
Jika pun terkena najisku, engkau tinggal membasuhnya  7x, dengan air dan tanah. Maka najisku akan hilang, namun jika engkau angkat gamismu, karena berbaju manusia, merasa lebih mulia dan menganggap aku hina, maka najis di dalam hatimu, tidak akan mampu terhapus, walaupu  kaubersihkan dengan air dari 7 samudera".

Abu Yazid terkejut mendengar perkataan anjing tersebut.
Dia menunduk malu, dan segera meminta maaf kepada si anjing.

Diajaknya anjing tersebut bersahabat dan mengikuti perjalanannya, tetapi anjing itu menolak.

Kemudian anjing itu berkata:

"Engkau tidak mungkin bersahabat dan berjalan denganku, karena orang2 yang memuliakanmu akan mencemooh kamu dan melempariku dengan batu.

Aku juga tidak tahu mengapa mereka menganggap aku hina, padahal aku telah berserah diri kepada Penciptaku atas wujud ini.

Lihatlah...
Tidak ada yang aku bawa, bahkan sepotong tulang sebagai bekalku saja tidak.
Sementara engkau masih membawa bekal sekantong gandum".

Kemudian anjing tersebut berlalu..

Dari jauh Abu Yazid memandangi anjing tersebut, berjalan meninggalkannya.

Tidak terasa air  mata Abu Yazid menetes, dan ia berkata dalam hati: 

"Ya Rabb, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja aku merasa tidak pantas.
Bagaimana aku bisa pantas berjalan dengan-Mu?

Ampunilah aku, sucikanlah najis di dalam kalbuku ini...".


▪ Jangan pula merasa lebih baik, lebih terhomat daripada orang lain, karena Allah melihat kalbumu bukan penampilan fisik dan lahirmu.

▪ 
امين يارب العالمين🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Patung

Ruang Publik Patung


Merebaknya pembongkaran patung yang ditempatkan di ruang publik akhir-akhir  ini patut menjadi perhatian bersama. Yang terakhir tentu saja peristiwa penghancuran patung bikinan Nyoman Nuarta di Kabupaten Pangandaran yang  ternyata langsung mendapat persetujuan Bupatinya. Di lain tempat, seperti di Purwakarta dan Bekasi, satu tahun yang lalu justru patung itu dibikin atas inisiatif Sang Bupati tapi masyarakat yang tak sehaluan dengan alam pikiran penguasa menggerusnya. 

Itulah yang menjadi tema utama Diskusi Publik, “Problematika Seni Budaya di Ruang Publik”. Diprakarsai Dewan Kebudayaan Jeprut Jawa Barat di Gedung YPK Jl Naripan pada Sabtu 22 Juli 2017. Menghadirkan pembicara, Bupati Purwakarta, Bupati Pangandaran, Walikota Bandung, Prof. Dr. Roos Akbar (Pakar Tata Kota ITB), Dr. Rikrik A. Kusmara (Dosen Patung PSRD ITN), Nyoman Nuarta (Maestro Pematung), Asep Salahudin (Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat) dengan moderator Bambang Q. Anees (Pascasarjana UIN Bandung). Seperti disampaikan Tisna Sanjaya bahwa dialog ini bukan untuk saling menghujat atau menyalahkan siapa pun, tetapi mencari jalan keluar dari maraknya pengrusakan karya seni di ruang publik. Sebagai satu ikhtiar menciptakan suasana kota yang tentram tanpa ada pengrusakan karya seni.

“Ruang publik adalah milik bersama. Tempat terjadinya interaksi antara karya seni dan apresiatornya. Seniman menghadirkan karyanya di tempat umum dan masyarakat dapat mengapresiasinya. Sejatinya ruang publik menjadi tempat menenangkan, membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi penghuni kota”.

Dua kemungkinan

Ada dua kemungkinan mengapa peristiwa  pengrusakan patung itu bisa terjadi dan berulang kali. Pertama, rendahnya apresiasi masyarakat dan penguasa (pemerintah) terhadap kesenian sehngga ketika ada karya seni yang dipandang tidak sesuai seleranya maka serta merta diluluhlantakan tanpa harus terlebih dahulu dibuka ruang dialog  dan komunikasi deliberatif semua pihak termasuk melibatkan kalangan seniman untuk mencari titik kesamaan pemahaman. Klarifikasi jauh lebih baik ketimbang mengambil jalan pintas “kekerasan”, merasa benar sendiri dan so kuasa.

Kedua, munculnya  gejala akhir-akhir ini terjadinya  kontestasi laten perebutan ruang publik oleh banyak kalangan termasuk kalangan kepentingan baik yang mengatasnamakan agama atau pun kekuatan pemodal neo kapitalisme. Di titik ini kita melihat bagaimana agama seringkali dijadikan alat untuk menjustifikasi boleh dan tidaknya sebuah karya seni lewat penafsiran serba harfiah, alakadarnya, skripturalis dengan kesimpulan serampangan dan terburu-buru khas olah pikir kaum puritan.

Agama diposisikan menjadi sebuah pemahaman yang “dipaksa” harus berseberangan dengan kesenian. Agama direduksi sebatas halal dan haram (fiqh). Padahal sesungguhnya  fikih itu  hanya satu dimensi saja dari ajaran agama. Ada dimensi lain yang lebih mampu memberikan apresiasi terhadap kesenian sekaligus  keragaman bukan hanya keragaman kultural tapi bahkan keyakianan yakni dimensi esoterik (tasawuf).

Dalam ajaran tasawuf diteguhkan bahwa Tuhan itu indah, dan  Dia mencintai keindahan. Ibnu Arabi sampai pada sebuah pemahaman bahwa Tuhan itu lebih banyak mempersonifikasi Dirinya dengan sifat  feminim bukan maskulin. Feminitas Tuhan dalam ajaran Islam lebih banyak diiperkenalkan ketimbang maskulinitas-Nya. Feminitas adalah wajah lain dari estetika dan kesenian. Tuhan melalui  Asmaul Husna-Nya lebih sering memperkenalkan Dirinya sebagai sosok yang maha lembut, kasih sayang, toleran, lapang (jamaliah) ketimbang yang maha pengazab dan keras (jalaliyah).

Kekhawatiran bahwa patung itu akan dijadikan objek sembahan, alasan ini bukan hanya mencerminkan keawaman paling dasar tapi sangat tidak masuk akal. Di banyak kawasan dunia Islam bagaimana tokoh-tokoh ilmuwan pada abad pertengahan dibikinkan patungnya sebagai ikon kemajuan peradaban. Patung menjadi penanda untuk mengaktifkan daya ingatan tentang situs kemajuan pada sebuah masa.

Puncak kejayaan Islam abad pertengahan itu, identitasnya tidak hanya merujuk kepada ilmu pengetahuan tapi juga kesenian dan kebudayaan secara umum. Bagaimana sampai hari ini seni kaligrafi, puisi, khat, baca al-Quran termasuk seni patung (walaupun tidak begitu pesat perkembangannya dalam tradisi kesenian Islam) sangat dikagumi dunia lain dan menjadi mataiar yang telah memberikan pencerahan batin. Media transendensi untuk menghampiri Sang Ilahi.  Benar apa yang dibilang Einstain, “Imajinasi jauh lebih penting ketimbang sains dan teknologi”.

Kaum pemodal

Penggerusan terhadap patung juga bisa jadi bukan alasan agama tapi dilakukan kaum kapitalis karena dianggap ruang publik itu mengganggu kepentingannya yang perhitungan utamanya serba material. Bagi mareka tidak ada yang lebih penting kecuali hal ihawal yang bersifat kebendaan. Tentu saja bagi kelompok ini tidak ada yang mustahil, semua bisa diterabas dengan menggunakan kekuatan uang termasuk mengendalikan penguasa dan memanipulasi logika. Penguasa (politik) yang telah kawin dengan pengusaha seperti ini kita menyebutnya oligarki. Lebih repot lagi kalau di tengah jalan menggandeng kaum agamawan yang telah gelap mata, maka sempurnalah alasan untuk menumbangkan segala jenis karya seni bahkan menghancurkan lingkungan yang asri sekali pun.

Jangan-jangan alasan ini (oligarki) yang lebih dominan atau alasan pertama yang lebih banyak digunakan. Atau alasan pemodal yang kemudian memanfaatkan ajaran-ajaran agama untuk memuluskan kepentingan dan sifat serakahnya.



ASEP SALAHUDIN
Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat
Dimuat TRIBUN JABAR, Selasa, 25 Juli 2017