Kamis, 08 Juni 2017

Suku

SUKU ITU APA?

Warisan teristimewa yang ditinggalkan almarhum ayahanda adalah ke-Indonesia-an saya.

"Aku memang tak mencantumkan marga di belakang namamu, karena kau Indonesia, nak!", begitulah jawabnya atas pertanyaan konyol saya berpuluh tahun yang lalu.

Kenyataannya, di secarik kertas Akta Kelahiran yang menjadi acuan penulisan nama resmi di ijazah pendidikan, kartu tanda penduduk, hingga paspor, nama yang saya sandang adalah Jilal Mardhani saja. 

+++

Salah satu yang tak mampu saya pahami pada tabulasi hasil penelitian Syaiful Mujani mengenai persepsi masyarakat tentang NKRI dan ISIS kemarin, adalah lembar distribusi jawaban responden yang mengacu pada ke-sukuan-nya. Walaupun disebut 'berdasarkan demografi', kategori pengelompokan yang digunakan mengacu pada 7 istilah yang agaknya dianggap terbesar : Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Betawi, Batak, dan Minang. Sisanya yang lain -- seperti Manado, Karo, Mandailing, Dayak, Papua, Ambon, Melayu, Badui, dan seterusnya -- mungkin termasuk ke dalam kategori "Lain-lain". 

Sebab, seandainya sahabat saya, Andy Manik Natanael, menjadi salah satu responden mereka, hampir pasti dia tak sudi disebut Batak. Leluhur dari kedua orangtuanya berasal dari Kabanjahe, Sumatera Utara. Mereka menyebut diri Karo. Begitu pula sepupu saya yang bernama Iqbal Bandaharo Harahap. Tak akan mungkin mau disebut Batak. Sebab garis keturunan orangtuanya adalah Mandailing yang umumnya berasal dari kawasan yang menghampar dari bagian selatan Tapanuli  hingga Sibolga. Bahkan ibu saya yang menggunakan Siregar di belakang nama gadisnya, tak pernah menyebut diri Mandailing, tapi Simaninggir. Mengacu pada desa kecil yang terletak beberapa kilometer dari Padang Sidempuan. Dia pun menarik garis pembeda yang tegas dengan ipar ayahanda yang juga menggunakan Siregar di belakang namanya, tapi berasal dari Singkuang yang terletak di pesisir timur dekat Sibolga. Begitu pula mungkin teman kecil saya, Yazid Lubis. Seingat saya, dia lahir di Medan, tapi selalu menyebut Kota Nopan sebagai asal turunannya. Apalagi bang Eduard Depari, rekan sekantor ketika masih bekerja di salah satu televisi swasta dulu. Dia orang Simalungun dari daerah Pematang Siantar.

Jadi, 7 kategori besar yang secara implisit digunakan Syaiful Mujani untuk membedakan suku maupun golongan respondennya itu, saya kira termasuk penyesatan. Boleh jadi informasi yang disajikannya tergolong bid'ah.

Bayangkan, berapa banyak dari 1500 responden yang diwawancarainya terpaksa atau tergiring memilih -- atau dikelompokkan pada -- salah satu diantara pilihan yang diberikan? 

+++

Lebih runyam lagi jika yang jadi responden adalah Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama. Apakah dia menyebut dirinya Cina-Bangka? Lalu bagaimana dengan Sutikno Leksono, teman kuliah dulu, yang turunan Tionghoa tapi lahir di Jember? Kalau Ewo Prabowo, salah satu rekanan bisnis periklanan terbesar di era tahun 1990-an dulu, secara tegas menyebut dirinya Cina-Hollywood. Saya tak tahu persis latar belakang persisnya. Sebab dia tak lahir dan besar di Amerika Serikat. Walaupun sosoknya kadang memang asyik kayak Jacky Chen.

Jika soal suku dan golongan memang penting, mengapa Syaiful Mujani tak memasukkan kategori Cina atau Tionghoa sebagai salah satunya ya? Begitu juga Arab untuk mengakomodasi Rizieq Shihab, Anies Baswedan, dan Said Abdullah, teman saya yang selalu naik panggung setiap kali mengikuti turnamen golf amatir.

Tapi seandainya pun Syaiful Mujani menyediakan kategori Cina dan Arab, mungkin respondennya tetap bingung menjawab. Sebagaimana rumitnya sahabat-sahabat dan sanak famili saya jika dikategorikan sebagai Batak tadi.

+++

Mas Goenawan Mohamad kemarin berjanji ingin mencermatinya lebih jauh. Lalu mungkin akan disajikan dalam bentuk kuliah umum yang kira-kira bertajuk 'Membongkar Ke-suku-an Bangsa'. Saya berharap mimpi itu sungguh-sungguh terwujud. 

Sebelum itu terjadi, saya terlanjur yakin penggolongan atas kesukuan itu sesungguhnya sesat dan keliru. Sangat mungkin ada maksud tertentu, kepentingan sempit, bahkan niat jahat dari siapapun yang pertama kali memperkenalkan dan menggunakan istilah pengelompokan yang sesungguhnya 'useless' itu. 

Jika demikian, bukankah sebaiknya kita tak ikut-ikutan latah menggunakannya? 

+++

Analisa terkait akar budaya, adat-istiadat, dan berbagai kategori sosial lainnya memang perlu. Kadang justru sangat bermanfaat. Tapi mungkin lebih kepada bagian dari perjalanan hidup maupun pengalaman nyata yang kemudian dapat diagregatkan. Bukan melalui labelisasi yang sesungguhnya miskin makna. Bahkan bisa jadi kontra-produktif. 

Jadi, mencermati pola dan kecenderungan yang berlatar tempat kelahiran, ataupun daerah dimana seseorang menjalani sebagaian besar masa kanak-kanak hingga dewasanya, maupun kota atau daerah yang dipilih sebagai tempat tinggal setelah berkeluarga, rasanya akan jauh lebih afdol.

Labelisasi yang salah kaprah itu memang memusingkan. Bagi saya, jika ada yang bertanya soal agama dan keimanan yang dianut saja, sudah terasa enggan untuk menjawabnya. Sebab khawatir terjadi salah sangka.


Jilal Mardhani, Ramadan #12, 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.