Jumat, 23 Juni 2017

NUS

New Urban Sensation !

Membaca New Urban Sensation ! (NUS) terasa ‘gue bangets’, bagi orang yang berumur 50 plus. Inilah cerita Gitanyali yang sekarang sudah dewasa, menjadi wartawan dan kemudian bekerja di perusahan distribusi film. Perjalanan dari kota ke kota, dalam rangka pengedaran film ke bioskop-bioskop di Jawa, menjadi alur cerita novel ini. Karakter Gita tidak hilang dari serial sebelumnya, Merapi Merbabu Complex, yaitu doyan mengejar-ngejar wanita. Namun Gita sekarang muncul dengan versi yang lebih jinak. Saya tidak mau menerka apakah ini representasi dari pengarang itu sendiri, yang bisa menjawab, saya rasa hanya Vivi Yip. 

Cerita dimulai dengan Farrah Fawcett (wuiidiiiih… 70-an sekali ya), sebagai personifikasi rambut Nita yang dipanjangkan sehingga ikal bergelombang besar-basar ala Fawcett. Di tahun 1976, poster Fawcett yang mengenakan baju renang warna merah itu laku terjual 12 juta copy. Suatu rekor yang luar biasauntuk media poster. “Aku lupa pada generasi apa aku bicara. Tentu dia tidak mengenal Farrah Fawcett. Zaman make love not war ia belum lahir. Apalagi Nasakom bersatu – zaman yang lebih cerdas dari zaman agama. Moral juga masih agak terjaga.” Begitu renungan Gita ketika Nita bertanya siapa itu Farrah Fawcett.

Pensiun

Orang mau pensiun itu suka menceritakan kejayaan masa lalu, untungnya Nita selalu terpesona dengan kisah-kisah Gita yang romatis itu. Karena Gita itu orang yang peduli atas kesenian rakyat, mau bantu-bantu kelompok ketoprak tobong dari Pati. Bantu-bantu ngasih saran untuk revitalisasi. Dan disanalah Gita bertemu Mbak Kis, yang memainkan tokoh fiksi Dewi Kencanawungu dalam cerita Menakjinggo. Sebagaimana biasa, Gita tidak bisa bertahan dari daya pukau Dewi Kencanawungu.

Dari atas panggung aku tau mata dia sesekali melirikku. Jlebb. Aku tertikam keris Kyai Sambernyowo. Mati berdiri. Ilmu silatku tak berdaya menghadapi wanita. Guru pasti jengkel punya murid seperti aku.”

Saya tidak akan meneruskan bagaimana kisah cinta dengan Mbak Kis yang berkaki mulus, saya persilahkan membaca sendiri NUS yang mengharu biru itu. Barangkali buku ini adalah kenang-kenangan penulis sebelum pensiun dari dunia kewartawanan. Semoga serial Gitanyali akan terus berlanjut. Bagaimana cerita Gita ketika meneruskan sekolah ke luar negeri, harus dilanjutkan. Bravo !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.