Senin, 05 Juni 2017

Klise

Indonesia dan Sejumlah Klise



Menulis tentang Indonesia, bisa dari banyak sisi. Menulis tentang orang Indonesia, lebih banyak lagi sisinya. Negara kita yang berpenduduk 230 juta jiwa mempunyai lebih dari 17.000 pulau, 700 dialek, 1000 suku, dan 3000 lebih tarian daerah.

Sebenarnya mudah sekali untuk mengetahui tentang kekayaan budaya di Indonesia. Tinggal di-Google, lirik Wikipedia, atau intip YouTube. Yang saya tidak tahu, adakah rasa keingin-tahuan orang Indonesia terhadap budayanya sendiri? Seberapa besar rasa kebanggaan mereka? Dan sejauh mana upaya mereka melindungi budaya semajemuk ini?

Tulisan ini diawali oleh kenyataan yang membuat saya tergugah: melihat maraknya intoleransi masyarakat kita terhadap perbedaan. Bukan hanya perbedaan pendapat, politik, asal usul dan seksualitas, tapi juga --yang paling seru-- perbedaan agama. Yang terakhir ini, bagi banyak orang, adalah isu paling krusial, karena Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim, yang semua hal, mau tidak mau, akan selalu dikaitkan dengan agama.

Santai, tulisan ini bukan tentang agama. Saya hanya ingin mengemukakan tentang cara orang kita terjebak dalam klise, bahkan kadang tanpa mengetahuinya.

Klise tentang Suku

Mama saya berasal dari Yogjakarta dan mempunyai darah biru. Bapak saya anak seorang petani dari Kroya. Gosipnya, perkawinan mereka tidak disetujui oleh keluarga dari sisi Mama. Mungkin karena itulah, saya dan adik-adik tidak mempunyai gelar ningrat di depan nama kami. Karena titel seperti Raden Roro, Raden Mas, dll, hanya diberi kepada mereka yang berdarah “murni”.

Almarhum Bapak adalah seorang penulis buku, termasuk dalam komunitas inteligensia Indonesia. Dulu saya pernah dengar tentang ketidaksetujuannya terhadap snobisme lingkungan berdarah ningrat. Sistem politik Indonesia bukan Monarki dan gelar atau titel di depan nama tidak menentukan kebijakan seseorang.

Ternyata jauh sebelum hebohnya fenomena intoleransi akhir-akhir ini, bibitnya sudah ada di dalam diri banyak orang. Hanya saja kita tak menyadarinya.

Sering sekali saya mendengar dari tante teman sekolah, dari kenalan keluarga, maupun dari keluarga sendiri (dari sisi Mama ada 12 bersaudara, dari Bapak 16) tentang keluhan mereka yang terpaksa harus pacaran gelap karena keluarga tidak menyetujui.

Permintaan orang tua hampir sama. Orang Jawa diminta menikah dengan wong Jowo tulen. Orang Batak sebisanya menikah dengan marga yang diharapkan keluarganya. Orang Bali yang berkasta tinggi diharapkan mendapat pasangan dengan kasta yang sejajar. Begitu juga, orang beragama Islam diharuskan menikah dengan orang Islam juga.

Saya jadi teringat The Last of the Mohicans, film tahun 1992 yang diangkat dari novel The Leatherstocking Tales karangan James Fenimore Cooper tahun 1826. Dalam film itu, penonton bisa melihat 3 orang terakhir dari suku Indian, Mohican.

Ending di film tersebut memberi harapan untuk darah Mohican tetap mengalir karena Hawkeye, yang dimainkan oleh Daniel Day Lewis akan mempunyai anak dari putri Kolonel Inggris yang diselamatkannya.

Jadi nanti anaknya blasteran dong? Lho, bukannya anak blasteran biasanya cantik dan ganteng juga? Tapi berarti anaknya itu nggak murni berdarah Mohican dong? Hm, benar juga sih tapi memangnya kenapa kalau nggak murni?

Saya yang termasuk kelompok tidak berdarah murni (karena Mama menikah dengan Bapak yang darahnya “cuma” merah dan nggak biru), tidak pernah sekalipun merasa kejanggalan di manapun saya berada. Saya tidak pernah merasa ada sesuatu yang kurang karena nama saya bukan Raden Ayu Anggun Cipta Sasmi. Dan saya tetap murni orang Jawa dan murni hasil cinta kedua orang tua saya.

Mungkin makna perkawinan dengan orang dari suku atau kasta yang sama adalah untuk melanjutkan sesuatu tradisi “kemurnian” itu yang jika tidak dijaga akan punah.

Tetapi dari sisi lain, bukankah perbedaan asal usul justru merupakan cara untuk memberi kekayaan darah, budaya dan sejarah kepada sang keturunan?

Klise tentang Liberalisme

Dengan profesi saya sebagai penyanyi, media sosial adalah alat komunikasi yang penting dan menjadi jembatan antara saya dan fans. Dengan followers yang lumayan banyak di Twitter dan Instagram, di setiap posting, tergantung topiknya, hampir selalu marak dengan komentar dari fans, komentator lewat dan juga haters.

Saya tahu sekali tentang perbedaan antara mem-posting sesuatu yang netral dan yang tidak. Biasanya yang terakhir akan membangkitkan gairah mengomentari orang-orang yang merasa opini mereka sangat penting. Positif atau negatif.

Bagi saya, itu sah saja. Dalam hidup, semua orang pasti ada yang menyukai dan ada yang tidak. Harus ada keseimbangan.

Posisi saya sebagai figur publik membuat realitas ini lebih teramplifikasi.

Di antara semua komentar aneh yang kelihatan sekali upayanya untuk menghujat, kadang malah jadi lucu karena out of topics dan nggak masuk akal, ada satu yang membuat saya tercengang. Saya dibilang “Liberal.”

Yang membuat saya tercengang adalah, mengapa kata “liberal” bisa dikategorikan menjadi satu hujatan. Mungkin terjadi kesalah-pahaman serius yang tidak pernah dikoreksi sampai sekarang.

Saya tengok di Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata “liberalisme.” Definisinya ada dua:

1. Aliran ketatanegaraan dan ekonomi yang menghendaki demokrasi dan kebebasan pribadi untuk berusaha dan berniaga.

2. Usaha perjuangan menuju kebebasan

Arti kata “liberal,” ada dua juga.

Bersifat bebas.

Berpandangan bebas, luas atau terbuka.

Jadi mereka membenci saya karena saya perempuan yang memilih untuk tidak terbelenggu atau bebas?

Saya lihat lagi arti kata Bebas. Ada 6 definisi, dan salah satu definisi yang ditulis adalah: Merdeka. Dalam artian tidak dijajah, diperintah atau dikuasai oleh negara atau kekuasaan asing. Tentu saja dalam konteks pribadi, negara atau kekuasaan asing berarti orang lain.

Mengapa banyak yang takut dengan kata “liberal” sehingga orang begitu membencinya? Tahukah mereka bahwa salah satu sinonim dari kata “liberal” adalah “humanis” dan “toleran.” Antonimnya adalah Intoleran.

Klise tentang Orang Alim

Awal Mei lalu saya dan suami pergi ke Madagascar untuk satu misi kemanusiaan. Saya diberi kehormatan menjadi juru bicara dan ambassador untuk Aviation Without Borders. Ini bukan misi pertama saya dengan mereka di Madagascar.

Kali ini saya bertugas mengontrol pembagian susu ke beberapa yayasan di Antananarivo, ibu kota Madagascar. Setiap tahun ada sekitar 2 kontainer penuh dengan susu bubuk, buku, baju, dan peralatan medis yang dikirim ke beberapa negara di Afrika.

Buku dan baju, kami dapatkan dari donasi. Dulu, untuk susu kami selalu dapatkan dari Persatuan Negara Eropa, tetapi semenjak krisis ekonomi dan kenaikan jumlah orang miskin di dunia, susu harus dibeli, untungnya dengan harga spesial.

Sangat tidak mudah tugas Aviation Without Borders di negara-negara Afrika yang rata-rata termasuk negara berkekurangan. Korupsi merajalela. Madagascar adalah salah satu negara dengan contoh korupsi yang bisa membuat saya darah tinggi.

Misalnya dari pihak bea cukai yang sengaja mempersulit dengan alasan formulir yang “salah isi”, yang mengharuskan kontainer ditahan berbulan-bulan di gudang dan ujung-ujungnya minta uang.

Kadang juga orang dari satu yayasan yang ternyata menjual ke pasar gelap, barang-barang yang ditujukan untuk anak-anak yang terlantar.

Sekarang setelah beberapa pengalaman buruk, akhirnya kami mempunyai kontak orang yang bisa dipercaya. Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang relijius.

Saya bertemu dengan Sister Marie Annick. Beliau tinggal di Madagascar selama lebih dari 40 tahun dan membaktikan dirinya untuk Tuhan Yesus dan juga untuk anak orang-orang miskin.

Setiap harinya, Sister Marie Annick memberi makanan untuk 500 anak. Menu makanan tidak jauh dari nasi dengan kacang merah atau nasi dengan kacang kuda.

Di hari itu dan sampai bulan Oktober, sambil makan anak-anak juga dapat minum susu. Mereka hanya makan sekali sehari.

Bulan November, kontainer kami akan tiba lagi di Madagascar dengan susu untuk mereka.

Saya juga bertemu dengan Father Pedro. Seorang figur karismatik yang terkenal di Madagascar karena karakter dan keteguhannya demi membela orang miskin.

Umurnya hampir 70 tahun tapi energik sekali! Selama 5 jam pertemuan kami, saya capek mengikutinya, karena jalannya cepat sekali.

Setelah bertemu dengan mereka, timbul kembali rasa percaya saya pada kebaikan manusia, apalagi dengan kaum relijius. Akhir-akhir ini, kata “relijius” punya konotasi yang berbeda dengan yang seharusnya. Banyak orang mengaku beragama tetapi tidak beriman.

Ada banyak kelompok orang yang sangat vokal, yang perilakunya, mungkin tanpa mereka sadari, malah menodai reputasi agama yang sebenarnya mengajari kasih dan cinta.

Dan tentunya saya pun tak pernah lepas dari pertanyaan: agamamu apa?

Kadang saya bingung dengan pertanyaan ini. Pertama, karena hanya di Indonesia saja saya mendengarnya dan inipun semenjak kurang lebih 5 tahun belakangan ini.

Mengapa agama yang dipeluk seseorang mendefinisikan orang tersebut? Mengapa kita mempunyai kecenderungan menutup pintu kepada orang yang bukan dari kelompok kepercayaan yang sama?

Apakah jika seseorang tidak mempunyai agama adalah sebuah jaminan bahwa orang tersebut layak dihujat? Bagaimana dengan orang-orang yang bersembunyi di balik atribut agama untuk melakukan korupsi dan kejahatan?

Sudah beberapa tahun ini saya mempunyai “Spiritual guide”. Beliau tinggal di Jakarta. Kami memanggilnya Abah Jhonny. Abah adalah seorang figur agama yang tidak pernah sama sekali menghakimi atau mengkritik siapapun.

Beliau tidak pernah mempertanyakan ke agamaan seseorang. Tidak pernah meninggikan diri dengan merendahkan orang. Murah senyum dan kata-kata yang datang dari bibirnya hanya tentang cinta dan kehidupan.

Setiap saya dan suami pamit, beliau hanya bilang jangan lupa berdoa dan bersyukur.

Terus terang, saya agak takut dengan banyaknya kejadian di Indonesia. Intoleransi, diskriminasi, hoax dan radikalisme sudah mulai merajai wajah negeri ini.

Saya takut dengan Bias Konfirmasi. Kecenderungan bagi orang-orang untuk mencari bukti-bukti yang hanya mendukung pendapat yang mereka percayai dengan mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya.

Inilah yang membuat kita mudah sekali menstempel hoax ke satu teori, bukti atau pernyataan yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Jika kita tidak hati-hati, kesalahan pemikiran ini bagaikan penjara yang kita bina tanpa kita ketahui.

Dan yang tadinya hanya kesalahan pribadi bisa menjadi ancaman besar.

Indonesia yang saya ketahui adalah negara yang menghargai perbedaan agama dan kekayaan budaya. Kaya karena berbeda. Berbeda tapi saling mengisi menjadi satu budaya. Budaya adalah kekuatan kita.

“Birds born in a cage think flying is an illness” - Alejandro Jodorowski

Semoga kita bisa bebas dari penjara dalam pikiran kita.



Anggun C. Sasmi
Qureta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.