Minggu, 11 Juni 2017

Jeprut

RUKUN JEPRUT



Kewajiban menyampaikan orasi Islam kultural menjelang buka puasa yang diselenggarakan  Dewan Kebudayaan Jeprut Jawa Barat, pada Minggu besok (11 Juni 2017) di YPK Jl. Naripan  7 Bandung dengan tema seputar kerukunan bagi saya sendiri menarik untuk ditelaah lebih jauh.

Kerukunan nampaknya menjadi hal yang relevan kita refleksikan hari ini. Harapannya kerukunan ini kemudian menjadi etik imperatif yang menginjeksikan kesadaran kita tentang pentingnya hidup dalam kebersamaan, solidaritas dan kohesivitas sosial. Hidup damai  jauh lebih bahagia  ketimbang merawat politik saling curiga. Pandangan husnu dzan lebih menggembirakan daripada terus menerus melekatkan cairan kebencian dalam isi kepala.

Kerukunan itu sejatinya merupakan mataholang (saripati) dari gotong royong. Tidak mungkin terwujud gotong royong kalau tidak rukun. Dan bukankah gotong royong ini yang ditahbiskan sebaga kesimpulan utama dari Pancasila sebagaimana dikatakan Bung Karno. Kata Soekarno, Pancasila yang hari maulidnya baru saja secara gempita diperingati 1 Juni, bisa dipadatkan menjadi trisila (sosio demokrasi, sosio-nasionalisme, dan ketuhanan yang maha esa). Yang tiga itu bisa diperas lagi menjadi satu sila, eka sila, yaitu gotong royong.

Bagi saya organisasi (serikat/partai) yang lahir ketika Hindia Belanda menerapakan politik etis yang diinisiasi kaum pribumi dan bangsawan pikir trajektorinya tidak lain adalah mempromosikan roh gotong royong, menyuntikkan kerukunan untuk bersama-sama solid menghadapi kolonial. Hanya tema yang diusungnya saja yang berbeda. SDI mengambil tema gotong royong dalam ekonomi, SI (dalam politik), Paguyuban Pasundan, Perkumpulan Kaum Betawi, Jong Minahasa, Jong Celebes, Serikat Sumatera  (dalam etnik), Muhamadiyah, Mathlaul Anwar, Nahdatul Ulama (dalam agama), Budi Utomo dan Perhimpunan Indonesia di Belanda (dalam pendidikan dan kebudayaan), Indische Partij, PKI, PNI (dalam partai).

Sel darah merah

Semangat kerukunan dan gotong royong itu sesungguhnya yang mempercepat Indonesia menemukan bentuknya yang matang dan puncaknya diproklamasikan Bung Karno dan Bung Hatta di Gang Pegangsaan atasnama seluruh rakyat Indonesia. Kerukunan itu juga yang menjadi sel darah merah yang membuat negara kita dalam waktu tidak terlalu lama memiliki dasar negara Pancasila yang diterima semua pihak lewat perdebatan alot, rasional, dan jernih. Dicoretnya "tujuh kata" justru mencerminkan sikap lapang manusia pergerakan.

Pancasila melambangkan jalan tengah dari tarikan sekularisme dan godaan arkaik negara agama, juga titik temu dari semua keragaman yang terhampar sepanjang garis khatulistiwa. Baik keragaman etnik, bahasa, budaya bahkan juga keyakinan. Pancasila semacam “Piagam Madinah” yang menjadi modal sosial Kanjeng Nabi bisa mempersatukan masyarakat yang berbeda di Madinah. Menjadi “mitsaqan ghalidza” (perjanjian kuat) yang telah diikrarkan oleh seluruh elemen bangsa dan tidak boleh dikhianati siapa pun.

Saya tidak bisa membayangkan Indonesia tanpa sebuah Pancasila, mungkin sudah dari dulu bercerai berai, larut dalam pusaran konflik, sengketa tak berujung dan pertumpahan darah yang sia-sia sebagaimana dialami negara-negara Timur Tengah. Apalagi kita sebagai bangsa sangat potensial bagi tergelarnya konflik itu. Budaya yang berbeda, agama tidak sama, secara geografis antar pulau terpisah lautan bahkan dengan kawasan Indonesia Timur warna kulit dan bentuk rambut juga sulit dipertemukan kesamaannya. Pancasila sebagai agama sipil  (Robert Bellah) dan kebenaran yang lahir dari masyarakat (Jean-Jacques Rosseau) dan digali kaum leluhur dari   akidah dan kekayaan budaya yang ada di Nusantara.

Peristiwa kesenian

Kalau hari Minggu, 11 Juni 2017 seniman jeprut Jawa Barat mentafakuri kerukunan dari perspektif kesenian tentu saja juga sangat menarik. Tempo hari bahkan usulan Bang Karno pada sidang BPUPKI  itu adalah, “Ketuhanan yang Berkebudayaan”. Kesenian adalah bagian dari kebudayaan.  Dalam bahasa  Inggris kebudayaan itu disebut culture yang berasal dari bahasa Latin colere yang bermakna mengolah tanah atau bertani. Kebudayaan dan kesenian sebagai proses transendensi mengembalikan hakikat kemanusiaan kita kepada tanah, kepada ibu pertiwi, lemah cai, bali geusan ngajadi.  Agama dan budaya nu ngindung ka waktu mibapa ka jaman.

Tentu saja "bercocok tanam” yang baik bukan asal “ceb” dan “padu melak” tapi harus dilakukan secara seksama mulai dari pemilihan dan pemilahan bibit, keikhlasan menyiram secara rutin, menaburi pupuk yang benar dan akhirnya kita boleh mengharap datangnya panen yang menguntungkan. Apalagi dalam konteks kesundaan, sebelum menanam bahkan petani (budayawan/seniman) melakukan ritual terlebih dahulu, membaca mantera murni  yang diwariskan dari leluhurnya, bersujud pada kemurahan alam, kesadaran humanismenya dihubungkan dengan sesuatu yang sakral dan adikodrati yang dalam budaya persawahan disebut Dewi Sri seperti diteliti oreintalis Wessing dalam Cosmology and Social Behaviour in a West Javanese (1978). Saya kutip mantera menarik ini  dari  buku Agroekosistem Orang Sunda :

Amit kanu boga bumi/Amit kanu boga bale/Turun  ka Sang Rumuhun menta menta/Kami rek netepkeun Pohaci Sanghyang Asri/Di Buana Pancatengah pasar Allah/Pohaci sanghyang Asri/Ku kami rek ditetepkeun/Ku kami rek direremokeun/Di malam ahad/Di bumi pertiwi/Buana pancatengah/Ulah geder ulah reuwas/mangka tetep mangka langgeng/mangka hirup ka jayana/nu kosong pangeusiankeun/nu celong pangminuhankeun/Pohaci Sanghiyang Asri/Ulah geder ulah reuwas/Mangka tetep mangka langgeng…/Lumput tanggul ki Maung/Limpas caang ki hara/Mangka hirup ku beutina/Mangka miakar kawat/Mangka montok ka borosna/Mangka hirup ku pucukna

Kalau hari ini kerukunan itu semakin sayup-sayup terdengar, akarnya tidak lain karena kita tidak pernah “bercocok tanam” atau tanaman yang kita tancapkan ke tanah tidak dirawat secara telaten. Bercocok tanam tanpa melibatkan doa bahkan ketika panen gagal yang dilakukan bukan introspeksi malah sumpah serapah, caci maki dan agitasi sambil memobilisasi massa untuk melakukan hal serupa. Tidak mumuliakan ibu pertiwi dan lebih bangga menjadi Malin Kundang yang durhaka terhadap ibunya, tak mengakui tanah airnya. Seringkali tergesa-gesa dalam melihat banyak hal. Terburu-buru menyimpulkan baik persoalan keagamaan  ataupun kebangsaan.

Dan seandainya keagamaan itu kita upacarakan yang seringkali muncul adalah sikap partisan dan muslihat mendominasi orang lain. Orang lain sedari awal dipandang neraka. Lian sebagi kafir. Di pusaran ini radikalisme itu tumbuh subur dan bersamaan itu pula modus kelahiran agama rahmatan lil alamin kian menjauh.


KH. Asep Salahudin 
(Wakil Rektor Akademik IALM Suryalaya/ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat)
Pikiran Rakyat, 10 Juni 2017
Cc. Tisna Sanjaya dan  Kang M Malik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.