Senin, 12 Juni 2017

Jan Patocka

Menyimak Warisan Platon Dalam Tafsiran Patočka

Siapakah Jan Patočka itu? Bersama Václav Havel (1936-...) dan Jiřǐ Hájek (1913-1993),
Jan Patočka (1907-1977) dikenang dunia internasional sebagai eksponen dan juru bicara
Gerakan Piagam HAM 77. Tetapi dalam kalangan intelektual, Patočka dikenang sebagai
filsuf mashyur dari Republik Ceko (pra-1993: Cekoslovakia) setelah Comenius (1592-1670)
dan Thomas Masaryk (1850-1937). Seperti umumnya intelektual Ceko generasi pasca 68,
Havel mendaku Patočka sebagai figur Sokrates (469-399 SM) dari Praha. Seruan Havel soal
hidup dalam kebenaran, keterbukaan akan yang transenden, atau tanggung jawab politis dan
ekologis, menurut pengakuannya, berasal dari inspirasi Patočka (Patočka, 2002:xiv).
Selain di negerinya, gagasan filsafat Patočka dikenal luas hingga Eropa daratan. Ini
tampak pada sambutan hangat atas penerbitan karya-karyanya dalam edisi Jerman, Perancis,
dan Italia sejak dekade 1970-an. 

Karya-karyanya seputar etika dan politik juga telah terbit dalam edisi bahasa Inggris, seperti Heretical Essays in the History of Philosophy (1996), An Introduction to Husserl’s Phenomenology (1996), Body, Language, Community (1997), Jan Patocka: Philosophy and Selected Writings (1989), atau Plato and Europe (2002).

Ciri khas filsafat Patočka terformasikan berdasarkan fenomenologi Husserl (1859-1936),
Heidegger (1889-1976), Eugen Fink (1905-1975), serta pemikiran filsuf-filsuf Yunani kuno,
khususnya filsafat Platon (428-348 sM) dan Aristoteles (384-323 sM). Patočka memperkaya
hasil formasi filsafatnya dengan studi mandiri. 

Ia dilarang mengajar selama 20 tahun setelah
menolak untuk bergabung dengan Partai Komunis di negerinya. Ia lalu berkarya sebagai juru
tulis dalam sebuah kantor dokumentasi di kotanya sambil menerjemahkan karya-karya Hegel
(1770-1831) dan Schelling (1775-1854) ke dalam bahasa Ceko. Patočka kembali mengajar di
kampus bersamaan dengan pecahnya gerakan pembebasan yang melanda Praha pada musin
gugur 1968. Pada 1972, setelah berpendapat bahwa reputasi seorang intelektual mestinya
diukur berdasarkan kompetensi akademis dan bukan pada kesetiaan politis, Patočka kembali
dipaksa untuk meninggalkan kampus. Perannya sebagai juru bicara Gerakan Piagam HAM 77
di Ceko, pada 1 Januari 1977, menyebabkan ia mengalami gangguan, kesulitan luar biasa,
dan teror dari penguasa. Patočka akhirnya meninggal pada 13 Maret 1977 akibat pedarahan
otak setelah selama sebelas jam menjalani siksaan berat dari aparat (Ibid.; Derrida, 2005:vii).


Warisan Platon

Berbeda dengan studi yang dilakukan sarjana klasik seperti Wilamowitz-Moellendorff
(1848-1931), Benjamin Jowett (1817-1893), atau John Burnet (1863-1928), yang mengembangkan studi filologi atas filsafat Platon; atau tafsir filsuf modern seperti Karl Popper (1902-1994), yang memandang Platon sebagai sosok inspirator akan totalitarianisme modern (Popper, 1971:2 dan 34), tafsir Patočka kiranya berfokus pada warisan filsafat Platon sebagai inspirasi untuk memahami masalah krisis kebebasan pada masa modern. Tafsir ini muncul eksplisit pada Plato and Europe (2002). Dalam karyanya, Patočka mengajukan tesis perihal warisan filsafat Platon bagi sejarah perkembangan peradaban Eropa. Kebebasan
manusia dalam sejarah peradaban Eropa, demikian tesis Patočka, yang kini mendunia melalui pencapaian sains dan teknologi modern serta bermacam dilema dan krisis seriusnya dalam ranah kemanusiaan, kiranya dapat dijelaskan berdasarkan konsepsi Platon tentang merawat jiwa (epimeleisthai tēs psykhēs) (Patočka, 2005:89 dan 222; Plato, Apologia, 29e, 30a-b, dan 31b).

Menurutnya, kebebasan lahir dari kapasitas manusia dalam mensintesakan tiga momen
yang menggerakkan kehidupan eksistensial dalam kaitannya dengan dunia sebagai realitas:
mengafirmasi dunia-kehidupan, menguji secara cermat dan kritis, lalu mentransendenkannya.
Dengan ini, penghayatan hidup manusia sebagai praktek pembebasan memuncak pada laku
pengorbanan diri demi sesuatu yang lebih luhur dan terhormat. Praktek ini, dalam tafsiran
Patočka, tampak pada pengabadian Platon tentang laku intelektual etis Sokrates (Patočka,
2005:87-88).


Formasi dalam Filsafat: Merawat Jiwa

Patočka mengawali penyelidikan filosofisnya dengan mengajukan pertanyaan: bagaimana
filsafat bisa membantu manusia untuk menemukan hidupnya yang otentik dan paripurna (pōs bioteoun)? Menurutnya, filsafat bukan sejenis dongengan atau penghiburan murahan hingga membuat manusia terapung-apung di atas samudra imanensi sensasi dan ilusif. Filsafat justru muncul dari puing-puing tradisi dongengan. Pada momen itulah filsafat menegaskan gerak
perubahan yang sangat berani untuk selalu mempertanyakan dan menguji keabsahan terhadap aneka macam tabu dan pamali. Momen ini membalik sikap pasif orang dalam melakukan
formasi kapasitas dan kehendaknya demi menemukan kebenaran. Dalam arti ini, filsafat pada dasarnya peduli pada masalah perawatan jiwa. “The soul forms the center of philosophy;
philosophy is the care of soul”, demikian kata Patočka (Ibid., 91). Lewat filsafat, manusia
mengalami keterbukaan untuk hidup dalam kebenaran (alēthōs zōē); atau filsafat juga bisa
memampukan manusia bertindak seturut kodrat hakiki dirinya sendiri (ta eautou prattein)
(Ibid., 113).

Ini semua dimungkinkan karena filsafat dari “kodratnya” selalu bergerak dalam proses
pengujian kritis. Dalam perkara ini, Patočka mengapropriasi konsepsi Husserl tentang epokhē
(Ibid., 92). Dalam kebudayaan Yunani kuno, epokhē mengandung arti paradoks: penundaan
segala sesuatu yang tidak otentik sekaligus pula melancarkan aktivitas untuk meraih dengan
tepat segala sesuatu yang otentik. Epokhē diturunkan dari kata epe (menunda) dan khein
(meraih sesuatu). Konsep ini awalnya diperkenalkan filsuf skeptisis Yunani hingga Descartes (1596-1650). Husserl mengembangkan epokhē berdasarkan pengertian filsuf skeptisis Yunani tetapi dengan memprioritaskannya sebagai metode dan bukan sebagai konklusi. Husserl tidak memakai epokhē berdasarkan keraguan Cartesian namun dalam usaha fenomenologis sebagai metode yang berguna kapan saja, semacam modus untuk membedakan sikap alamiah (sikap spontan; memandang dunia sebagai sesuatu yang pasti dan benar) dan sikap fenomenologis
(sikap filosofis; atau sikap memandang dunia sebagai fenomen tetapi menuntut pengujian
kritis berdasarkan sikap transendental) (Verlande-Mayol, 2000:47). Dari Husserl, Patočka
menafsirkan epokhē sebagai proses formasi jiwa dari dalam diri seseorang untuk menemukan
otentisitasnya.

Selain dari Husserl, Patočka juga mengapropriasi konsep Platon tentang exetasis (menguji
secara kritis) dalam arti jiwa (psykhē) adalah penggerak bagi dirinya sendiri (to auto eauto
kinoun) (Patočka, 2005:220). Menurutnya, formasi jiwa mengacu pada lingkar pengujian
kritis antara kepedulian untuk merawat jiwa dan konsep jiwa yang tertentu. Dalam pengujian
kritis, dimungkinkan untuk mengajukan berbagai pertanyaan kritis. Patočka memperlihatkan
betapa gerak formasi jiwa yang diperkenalkan Platon persis menegaskan esensi pendidikan
dalam arti luas (paideia), mencakup pandangan filosofis, konsepsi, serta praktek tentang nilai
ideal yang hendak diformasikan secara deliberatif pada diri seseorang, yang lazimnya terkait
dengan keseluruhan sejarah, dunia-hidup, serta realitas kebudayaan (Bdk. Jaeger, 1954:xvixvii,
Plato, Apologia 38a).

Dengan menegaskan bahwa filsafat adalah masalah kepedulian akan perawatan jiwa,
tafsiran Patočka atas filsafat Platon telah memberi sumbangsih untuk memperkaya tafsiran
filsuf-filsuf lain, seperti tafsiran Nietzsche (1844-1900) tentang kehendak kuasa; Heidegger
tentang peristiwa pewahyuan Ada; Gadamer (1900-2002) tentang capaian ilmu pengetahuan
dan matematika; Arendt (1906-1975) tentang perjuangan menegaskan paham republik; Leo
Strauss (1899-1973) tentang konflik filsuf dan non-filsuf, atau Foucault (1926-1984) tentang
kepedulian akan diri-sendiri (Patočka, 2005:xv).


Merawat Jiwa: Tiga Dimensi Terpadu

Patočka berpandangan, filsuf-filsuf Yunani kuno menyumbangkan penemuan filosofis
tentang realitas yang tidak merosot, tidak berawal dan berakhir dalam ketiadaan. Realitas ini
berciri kekal dan berpusat pada Ada. Patočka menghubungkan realitas Ada sebagai masalah
kebebasan. Menurutnya, kebebasan sebagaimana dipikirkan oleh filsuf-filsuf Yunani kuno
mengungkap ikhtiar untuk menemukan spirit kebebasan Yunani yang utuh-menyeluruhterpadu
dalam konsep perawatan jiwa. Konsep ini manifes pada filsafat Platon dalam tiga
dimensi terpadu.

Pertama, merawat jiwa dalam dimensi onto-kosmologis. Dimensi ini menjelaskan jiwa
sebagai pusat yang menghubungkan kaitan antara kodrat manusia (phusis tou anthrōpou) dan
kodrat alam semesta (phusis tou pantou). Jiwa adalah satuan tengah antara segala sesuatu
sebagai bagian menyeluruh dari struktur Ada dan segala sesuatu sebagai satuan partikular
yang menyingkapkan diri dalam dunia. Keterbukaan jiwa atas dunia, khususnya pada momen ketakjuban, memungkinkan manusia mengarahkan daya cipta untuk merayakan martabat dan kebebasan melalui permenungan filosofis. Ini dikatakan Platon dalam Theaitetos (155d) bahwa “takjub pangkal bijak” (tauma arkhē tēs sophia) sebagai titik tolak berfilsafat; atau
Aristoteles dalam Metafisika (I.982b13-14), bahwa orang mulai berfilsafat “dari rasa takjub”
(dia to taumazein). 

Pada momen ini, manusia di hadapan dunia adalah makluk yang memiliki kebebasan untuk mengajukan pertanyaan seputar eksistensi yang menduniakan dirinya. Rasa takjub mengungkapkan campur-aduk antara rasa bingung dan rasa kagum, rentangan tarikmenarik
antara sesuatu yang utuh-menyeluruh dan sesuatu yang belum utuh-menyeluruh, semacam identitas dalam perbedaan, yang benar dan yang tidak benar, serta yang baik dan yang jahat. Rasa takjub juga merupakan suatu testamen akan kebebasan manusia, tentang kemungkinan yang sama antara tindakan berfilsafat dan perjuangan meraih kebebasan. Pada momen ini, orang dipanggil untuk memikul tanggung jawab dalam menemukan kebebasan.

Berfilsafat dengan demikian menuntut transformasi batin. Berfilsafat berarti membiarkan
orang menguji kritis segala sesuatu dan membawanya dalam percakapan antara diri dan pihak lain akan makna hidup. Ini merupakan bentuk kepedulian untuk merawat jiwa atau dorongan untuk memadukan dalam diri orang, bahwa perawatan jiwa tidak berhenti pada masalah kebenaran (alētheia) tetapi juga terkait erat pada masalah ‘keadilan-ketegakan-kebenaran’ (dikaiosunē). Sokrates menegaskan masalah ini dengan ungkapan: “Lebih baik menderita ketidakadilan daripada bertindak tidak adil.”

Kedua, merawat jiwa dalam dimensi politis. Dalam Politeia Buku II, misal saja, masalah merawat jiwa diilustrasikan Platon dengan “aksara besar” agar orang bisa memandang realitas invisibel (jiwa) di tengah realitas visibel (kehidupan politis). Selanjutnya, dalam Politeia Buku IV-VII, Platon menegaskan bahwa jiwa dan politik adalah dua ranah yang mengungkap kebenaran dan keadilan. Dalam ranah ini posisi filsuf tidak perlu disingkirkan. Karena itu, pesan penting Politeia, menurut Patočka, mengarah pada keharusan historis untuk menimbang setiap klaim politis di hadapan kebenaran dan keadilan. Artinya, yang politis senantiasa didesak berdialog dengan filsafat karena keabsahannya bergantung pada pengujian filosofis.

Arena untuk menimbang (menguji) klaim politis berpusat pada pendidikan sebagai formasi jiwa. Dalam arti ini pula perawatan jiwa sejatinya adalah perawatan keutamaan (epimeleisthai tēs aretēs) untuk mencapai kebijaksanaan (phronēsis) dan kebenaran (alētheia) atau harmoni antara kekuasaan dan kebebasan. Menarik bahwa Platon menekankan formasi jiwa pada keugaharian sebagai dasar keutamaan, kemudian diikuti kesalehan, keberanian, serta kebijaksanaan, sebagai tafsiran filosofis atas pesan orakel Delfi tentang gnōthi seauton (kenalilah dirimu sendiri) dan mēden agan (jangan berlebihan) (Patočka, 2005:110; Diels, 1953:45).


Ketiga, merawat jiwa dalam dimensi metafisis.

Dimensi ini mengungkap kedudukan individu dalam kaitannya dengan sesuatu yang tak berhingga, imortalitas, keabadian, sebagai Ada. Patočka, misal saja, merujuk Politeia Buku VI dan VII untuk memperkenalkan konsep Platon tentang formasi pengetahuan ke dalam jiwa pada jenjang intelek dan membedakannya dengan jiwa pada jenjang non-intelek. Jiwa pada jenjang intelek berfungsi untuk menerima pengetahuan tentang realitas sejati, yang diandaikan bersifat kekal. Platon mengulas dimensi ini lebih arkhitektonik dalam dialog-dialog Theaitetos, Sophistes, Parmenides, atau Timaios. Dengan kata-kata Patočka, jiwa adalah subjek yang terpanggil untuk menemukan keabadian (Patočka, 2005:125).


Keluar dan Masuk Kembali ke Gua

Tafsiran Patočka tentang kepedulian untuk merawat jiwa tentunya adalah usaha filosofis
untuk mengatasi krisis akibat merajelelanya penalaran instrumental-teknis. Krisis ini, antara
lain, tampak dalam praktek memandang alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi semena-mena. Padahal alam mestinya dirawat dengan penuh hormat. Maka, tidak seperti Heidegger,
yang tenggelam dalam ratapan filosofis dan memandang krisis hanya bisa diselamatkan
melalui pewahyuan ilahi, Patočka mewarisi semangat filosofis Husserl dan yakin, filsafat bisa
menyelamatkan krisis. Karena itu, konsep perawatan jiwa menurutnya masih relevan. Tetapi
Patočka tidak bermaksud mengajak orang melakukan “transposisi historis” ke masa kuno
melainkan menafsirkan kepedulian untuk merawat jiwa pada Platon berdasarkan semangat
fenomenologis Husserl. Berfilsafat kemudian menjadi mungkin bilamana terhubung dengan
fakta-fakta fenomenologis. Orang bisa mengambil jarak dari segala sesuatu yang datang membanjiri dirinya. Sikap berjarak menjadi mungkin justru karena orang tidak sepenuhnya bisa mengelakkan dari fakta-fakta fenomenologis.

Dengan mengapropriasi dialog Platon bagian Alegori Gua (Politeia Buku VII), Patočka
menegaskan, berfilsafat sejatinya seperti seseorang yang berjuang susah-payah keluar dari
gua. Filsafat mengarahkan orang agar ia bisa mengatasi fakta-fakta fenomenologis dengan
jalan mentransendenkan pengalaman hidup seperti ia keluar dari gua. Setelah meraih nilai
transenden, orang bergerak kembali memasuki gua. Dalam arti ini, filsafat tidak berpretensi
untuk menemukan solusi akhir tetapi lebih sebagai usaha untuk mengajukan berbagai macam

Tentu perlu diingat bahwa maksud Patočka dengan dimensi metafisis pada filsafat Platon persisnya mengacu pada pengertian Ada (on). Ini mengingat Platon tidak memakai kata “metafisika” atau “metafisis” sebagai konsep filsafat. Dalam arti lebih luas, kata “metafisika” dan “metafisis” juga tidak dikenal dalam filsafat Yunani kuno, sedikitnya dari Thales sampai Aristoteles. Mahakarya Aristoteles, Metafisika (Tōn Meta Ta Physika), misal, lebih tepat diberi judul Filsafat Pertama (Philosophia Prōtē), karena fokus studi Aristoteles tercurah pada penyelidikan tentang bermacam sebab-musabab dasar akan Ada (on, einai, atau ousia) atau Ada sebagai Ada (to ontōs on). Dengan ini, kata “metafisika” atau “metafisis” adalah anakronisme yang terlanjur diterima sebagai konsensus dalam studi filsafat bila kata ini dipakai dengan maksud untuk menjelaskan berbagai tafsir akan Ada dalam filsafat Platon maupun Aristoteles.

pertanyaan dan mengujinya secara kritis. Manusia bukan budak bahasa, masyarakat, politik, atau sejarah. Aktivitas berfilsafat sejatinya adalah undangan untuk menimbang fakta-fakta
fenomenologis dalam keterbukaan akan yang transenden. Tanpa keterbukaan kepada yang
transenden, orang tidak akan mampu mengatasi krisis pada ranah teknologis, lingkungan,
demografi, yang menurut Patočka makin mengancam eksistensi planet kita dewasa ini.


Relevansi

Tafsiran Patočka mengenai kebebasan sebagai formasi jiwa, yaitu kepedulian terhadap
perawatan jiwa, rupanya juga bukan gagasan yang sama sekali baru atau asing untuk konteks
studi filsafat pada masa tertentu di Indonesia. Dalam karya klasiknya, Alam Pikiran Yunani,
Mohammad Hatta (1902-1980) telah “mengantisipasi” tafsiran Patočka dengan memaparkan masalah (formasi) jiwa pada Platon dalam kaitan dengan kebebasan pada level transenden (yaitu jiwa yang suci dan sempurna) sebagai berikut:

“Semua yang kelihatan merupai yang tidak kelihatan. Jiwa yang murni sangat rindu kepada dunia yang asal, di mana ia dapat memandang semuanya dalam kesuciannya dan kesempurnaannya. [...] Manusia yang mengetahui yang tinggi-tinggi itu yang disinari oleh ide kebaikan, tidak dapat tidak mencintainya. Keinginannya tidak lain daripada naik ke atas. Syarat untuk itu ialah mengasah budi. Budi ialah tahu. Siapa yang tahu akan yang baik, tidak dapat menyimpang dari itu. Siapa yang cinta akan idea, menuju kepada yang baik. [...] Jadinya jalan untuk mencapai budi baik ialah menanam keinsafan untuk memiliki idea dengan pikiran.” (Hatta, 1986:107)

Senada dengan Hatta, Sutan Sjahrir (1909-1966) mengungkapkan pergulatannya sebagai
“intelektual interniran” dengan meresapi warisan filsafat Platon dalam kaitan keluasan jiwa dan kebebasan:

“Mungkin kita sendiri yang membayangkan adanya jiwa lapang itu dalam kebudayaan klasik Yunani, sedang peninggalan-peninggalannya hanyalah fragmen-fragmen saja berupa karya-karya kesusastraan atau patung-patung dan bangunan-bangunan. Tapi bagiku jiwa klasik Yunani itu berarti jiwa tanpa prasangka, jiwa yang agung dan karena itu mulia. Ambillah umpamanya Plato. Dengan segala keberatan-keberatan apapun yang bisa diketengahkan terhadap pikirannya yang aristokratis itu, akan tetapi padanya sama sekali tidak ada rasa sesak, kita tidak bersua pagar-pagar yang mengganggu kalau kita mengembara dalam dunia pikirannya. Di mana-mana di situ serba luas, bebas, indah, mulia.” (Sjahrir, 1990:117)

Dari dua petikan di atas, tampak jelas bahwa sekalipun antara Patočka, Hatta, dan Sjahrir
hidup dalam zaman dan tanah air yang berbeda, tetapi tiga orang pejuang kemerdekaan bagi
negerinya itu memiliki “koinsidensi keyakinan” yang sama: filsafat membantu manusia
menemukan hidup otentik dan paripurna. Dengan ini, bila akhir-akhir ini kita dibanjiri faktafakta
fenomenologis tentang praktek penyimpangan otoritas pada ranah publik berdasarkan “aksioma 1+1=2.000.000.000”, soalnya tentu tidak disebabkan pada masalah salah hitung atau lemah dalam nalar matematik. Bagi Patočka, juga Hatta dan Sjahrir, masalah ini kiranya terkait pada formasi jiwa, khususnya jiwa pada level budi dalam mensintesakan tegangan dialektis antara otoritas dan kebebasan publik. Masalah ini tidak terjadi pada Patočka, Hatta, atau Sjahrir, baik dalam jiwa, pikiran, ataupun tindakan. Mereka sungguh-sungguh “belajar” dari kearifan Platon, bahwa konsep “1+1=2” bukan semata-mata konsensus umum akan jiwa pada level penalaran matematik (dianoia) tetapi melibatkan dimensi jiwa yang lebih serba luas, luhur, dan mulia, yang di dalamnya menuntut pula integritas jiwa pada level budi (noēsis). Platon sendiri mengkaji masalah ini dalam dialog Politeia bagian Alegori Matahari, Garis Terbagi, dan Gua (Buku VI-VII) sebagai solusi atas krisis publik dan keutamaannya (Alegori Juru Mudi Kapal; Buku VI) serta mengantisipasi merosotnya harmoni dialektis antara otoritas dan kebebasan publik (Buku VIII-IX).

Dalam arti ini, Patočka, juga Hatta dan Sjahrir, kiranya telah membantu kita mengenali,
bahwa refleksi filosofis Platon ribuan tahun silam, khususnya kebebasan sebagai formasi
jiwa, bukan sesuatu yang absurd dan mengawang-awang tetapi konkret dan aktual. Masalah ini tetap hidup dan hadir di sekitar kita sebagai agenda menantang serta menuntut perhatian serius pada ranah terpadu antara sensibilitas dan intelektual.


Bibliografi

Aristotle, 1968, Metaphysics, Vol. I (dwibahasa, edisi Loeb, terj. Hugh Tredennick), London:
William Heinemann.
Derrida, Jacques, 1995, The Gift of Death (terj. David Wills), Chicago: The Univ. of Chicago
Press.
Diels, Hermann, 1953, The Pre-Socratic Philosophers (Teks Seksi A; terj. Kathleen Freeman,
menurut edisi ketiga teks Diels), Oxford: Basil Blackwell.
Hatta, Mohammad, 1986, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: Tintamas dan UI Press.
Jaeger, Werner, 1954, Paideia: The Ideal of Greek Culture. Vol. I. Archaic Greece. The Mind
of Athens (terj. Gilbert Highet), Oxford: Basil Blacwell.
Patočka, Jan, 2002, Plato and Europe (terj. & pengantar: Petr Lom), California: Stanford UP.
Plato, 1966, Euthyphro, Apology, Crito, Phaedo, Phaedrus (dwibahasa, edisi Loeb, terj. H.N
Fowler), London: William Heinemann.
Plato, 1969/1970, The Republic. 2 Vols. (dwibahasa, edisi Loeb, terj. Paul Shorey), London:
William Heinemann.
Popper, Karl R., 1971, The Open Society and Its Enemies, Vol. 1. The Spell of Plato,
Princeton: Princeton UP.
Sjahrir, Sutan, 1990, Renungan dan Perjuangan (terj. H.B. Jassin, pengantar: Charles Wolf,
serta catatan akhir: Soedjatmoko), Jakarta: Penerbit Djambatan dan Dian Rakjat



Haryanto Cahyadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.