Senin, 19 Juni 2017

Imajiner Gus Dur

Wawancara Imajiner dengan Gus Dur 


Akhir-akhir ini sedang maraknya wacana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia, sebuah partai yang menolak ikut kontestasi pemilu di NKRI dengan ciri khas mengusung sistem khilafah.

Wacana pembubaran ini menggelitik Zastrouw Ngatawi, yang merupakan mantan jubir Gus Dur untuk membuat wawancara imajiner. Dari dialog imajiner ini terlihat Zastrow mengenal dan memahami sekali sosok sekaligus pemikiran Gus Dur.

Berikut dialog Zaztrow dengan Gus Dur:

Zastrow : “Assalamu Alaikum Gus”
Gus Dur : “Waalaikumus salam”

Zastrouw : “Sehat Gus?”
Gus Dur : “Ya sehat… Kalau gak sehat ya gak bisa nemui kamu”

Zastrouw : “Gus Dur sdh dengar soal pembubaran HTI?”
Gus Dur : “Ya sudah..”

Zastrouw : “Gmn pendapat Gus Dur?”
Gus Dur : “Saya ndak setuju”

Zastrouw : “Lho.. kok..?!”
Gus Dur : “Lha ngapain dibubarin. Ditenggelemin aja”

(Tertawa saya hampir meledak, tapi saya tahan)

Zastrouw : “Tapi Gus, sekarang banyak politisi di DPR yg mbela HTI”
Gus Dur : “Biarin aja, gitu aja kok repot”

Zastrouw : “Maksudnya Gus?”
Gus Dur : “Omongannya politisi kan begitu. Makanya saya dulu menyesal bilang DPR itu kayak anak TK”

Zastrouw : “Kok menyesal Gus..?!”
Gus Dur : “Ya mestinya saya bilang mereka itu kayak anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) ...."

Zastrouw : “Huahahahaa (kali ini saya benar2 gak bisa nahan tawa saya).
Kembali soal HTI Gus. Menurut Gus Dur HTI seperti apa sih....?"
Gus Dur : “Seperti penyamun”

Zastrouw : “Haahhh… (terus terang saya kaget dg statemen itu).
Kok bisa Gus?!”
Gus Dur : “HTI itu Neo Khawarij. Lihat aja tingkahnya. Ke mana2 jualan ayat. Khawarij dulu ya gitu, teriak2 La Hukma illa Lillah. Tapi Sayidina Ali dawuh, itu kalimat yg Haq, tapi dimaksudkan utk sesuatu yg bathil”.

Zastrouw : “Bathilnya di mana Gus?”
Gus Dur : “Lha orang mecah-belah umat, ngafirkan orang, ngomong thoghat-thoghut Pancasila, itu kan bathil. Indonesia itu dar as-shulkhi, negara damai, kok mau dipecah belah”. Dawuhe Kanjeng Nabi, man faroqol jamaah Summa mata, maitatan jahiliyyah. Bukan mati syahid. Tapi mati sangit”.

Zastrouw : “Setelah dibubarkan, mereka sdh mati Gus?”
Gus Dur : “Tidak. Mereka tetap hidup. Sayidina Ali ktk mendapat laporan bahwa Khawarij sudah bisa dipunahkan, Sayidina Ali ngndiko, “Tidak..! Demi Allah mereka tetap hidup. Mereka ada dalam sulbi-sulbi kaum pria dan rahim- rahim kaum wanita. Namun setiap kali muncul seorang pemimpin di antara mereka, ia akan terpotong, sehingga mereka akhirnya hanya tinggal sebagai penyamun-penyamun”.

Zastrouw : “Tadi Gus Dur bilang mereka seperti penyamun, maksud Gus Dur?’
Gus Dur : “Lha yang bilang ini bukan saya. Tapi Sayidina Ali. Ah kamu ini wartawan susah nangkep, kayak ustadz2 HTI aja”.

Zastrouw : “Maaf, maaf Gus”
Gus Dur : “Di mana-mana mereka dilarang. Di negara2 Timur Tengah, di Eropa, di Asia, semua nggak mau ditempati HT. Di Indonesia aja mereka berani teriak2. Kalau di Arab, sudah ditembak kepala mereka. Gitu lho..”

Zastrouw : “Njih-njih Gus..”
Gus Dur : “Lha mereka Bilang kopar-kapir, thoghat-thoghut, horam-haram sama Pancasila yg merupakan hasil ijtihad para ulama dan tokoh bangsa, tapi mrk menikmati hidup berdemokrasi di negara Pancasila. Enak aja..”

Zastrouw : “Ooo.. gitu Gus ya..”
Gus Dur : “Lha iya.., negara ini didirikan dg genangan darah dan air mata. Lha mrk pendatang baru. Kok mau ngacau. Ya harus kita lawan. Yang waras gak boleh ngalah”.

Zastrouw : “Siap Gus..”
Gus Dur : “Ya udah, ini saya sdh capek.
Zastroooww..Zastrow. Coba dengkulku dipijetin. Kowe iku kerjaane mok ngopa-ngopi tok…”

(Saya lihat al-Zastrow mijeti kaki Gus Dur, dan saya pun pamitan)



Satu Islam – 
Satu Islam mendapati dialog imajiner ini dari sebuah webnews satunusanews.id. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.