Kamis, 29 Juni 2017

Film Toleransi

Film pendek 'Kau Adalah Aku yang Lain', yang menjadi juara lomba Police Movie Festival, menjadi viral dan menuai pro-kontra di media sosial. Anto Galon, sutradara film pendek tersebut, memberi penjelasan.

Berdasarkan penjelasan Anto, yang diperoleh detikcom dari Brigjen Rikwanto, Rabu (28/6/2017), film tersebut mencoba menggambarkan Islam itu lembut dan toleran sesuai dengan tema 'Unity in Diversity', yang diangkat panitia.

"Mengenai salah satu watak yang diperankan si Mbah, tokoh dalam film saya, itu adalah gambaran dari sifat manusia bahwa di kelompok-kelompok tertentu, tidak hanya Islam, masih ada orang yang kolot seperti itu. Selalu saja ada oknum, digambarkan oleh si Mbah seperti itu, tapi kemudian disadarkan oleh warga yang lain dan polisi yang sedang berjaga di situ. Kita adalah pengingat bagi yang lain," kata Anto.

Dalam film itu, kata Anto, pada akhirnya ambulans diberi jalan dan tidak ada satu pun massa pengajian yang menolak ambulans tersebut lewat. Bahkan tokoh si Mbah akhirnya sadar dan ikut membantu ambulans itu lewat.

"Saya ingin menggambarkan bahwa Islam itu toleransi, jadi saya berharap penonton jangan terfokus pada tokoh si Mbah, jangan hanya nonton sebagian," ujarnya.

Menurut Anto, bangunan sebuah film harus diciptakan dari sebuah kasus dan penyelesaiannya. Dalam penyelesaian kasus dari film ini, menurutnya, ada kebahagiaan dari rasa toleransi yang ada.

"Si Mbah adalah contoh oknum Islam yang nggak bener dan warga yang lain adalah contoh Islam yang benar, menurut saya. Si Mbah di sini mewakili kata sifat bahwa manusia itu beraneka macam sifatnya. Jagat pewayangan adalah potret dari kita bahwa manusia itu ada yang bersifat seperti Bima, Arjuna, Duryudana, Rahwana, Rama, Sengkuni, dan lain-lain," ujarnya.

Anto mengakui karyanya menjadi kontroversi. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang bisa menerima pesan yang ingin dia sampaikan lewat film tersebut.

"Di inbox saya, itu banyak sekali ancaman dan hujatan, bahkan ada yang melaknat dan mengkafirkan saya, seolah mewakili sang pencipta yang memiliki hak," ujarnya. 

Menurut Anto, dirinya mengerti bahwa mungkin ada pihak-pihak yang kurang bisa terpuaskan, tersentil, atau pesan yang ingin disampaikan tidak sampai kepada pihak-pihak tersebut. 

"Saya mohon maaf. Sekali lagi saya mohon maaf jika film ini tidak bisa memuaskan semua pihak," ujarnya.

"Tonton film tersebut secara utuh dan resapi. Film ini sendiri adalah sebuah renungan bagi saya sebagai seorang muslim, sehingga saya tidak menjadi oknum seperti yang si Mbah gambarkan dalam film tersebut," tuturnya berpesan kepada pihak yang kontra.

Film pendek itu diunggah ke akun Facebook Divisi Humas Polri, Kamis (22/6). Beragam komentar pro dan yang menilai video itu mengandung unsur SARA muncul sehingga menjadi trending topic di Twitter dengan hashtag #PolriProvokatorSara.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan film tersebut merupakan juara lomba Police Movie Festival ke-4, yang tersaring dari 241 film yang masuk ke panitia. Lomba itu bertema 'Unity in Diversity'. Lomba ini menghasilkan 10 film pendek terbaik dan 10 film animasi terbaik.

"Dengan mengambil tema 'Unity in diversity', diharapkan dapat menjadi inspirasi persatuan bangsa kita. Hasil film dan animasi Police Movie Festival 2017 ini memiliki makna bahwa persatuan diraih karena keragaman, kekeluargaan, kerja sama, dan gotong royong tanpa memandang suku, ras, dan agama," kata Rikwanto melalui pesan singkat, Rabu (28/6).


Jakarta - 
(idh/fdn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.