Kamis, 29 Juni 2017

Belum ada Judul


(1)

teringat pada temanku, seorang malaikat yang bersayap. dia kadang ingin bertemu satu hari setelah lebaran. tidak berkunjung ke rumah, tapi kami berjumpa di danau yang tidak ada orang datang ke sana. ada satu bangku kayu panjang tanpa sandaran, kami duduk di sana, bercakap-cakap tentang Plato, yang masih mengajar sampai sekarang di surga. dan sampai hari ini pun, Plato masih saja mengklarifikasi ajaran-ajarannya kepada muridnya, Aristoteles. saya yakin, sebagai murid Plato, mungkin saja Aristoteles salah menangkap pendapat gurunya. problemnya adalah, buku-buku Aristoteles telah diterbitkan, sulit untuk dihapus atau direvisi. 

sambil ngobrol, saya merapikan sayap temanku itu, agar tergerai dengan teratur pada tanah dan semak di belakang bangku. ada perasaan takut kotor atau tersangkut, namun sepertinya malaikat itu tidak terlalu peduli atas sayapnya. dia mempunyai sistem sendiri sehingga sayap itu kembali bersih dan rapi. kadang kalau hari terlalu panas, temanku itu menceburkan dirinya ke danau, mandi dengan riangnya. "tidak ada telaga seindah ini di akhirat", saya cuma manggut-manggut saja. saya percaya dunia jauh lebih indah dari surga sekalipun.

apalagi di sana sungainya dari madu dan susu, badan kita akan lengket kalau tercebur di sana. dan susu? saya tidak suka. hanya kadang-kadang saja dicicip sebagai pengantar makan sereal, agar pencernaan lancar. madu? pasti membuat kita gemuk kalau terminum setiap hari, ketika menggosok gigi. menggosok gigi dengan madu? dan pasta giginya terbuat dari apa? surga bukanlah gambaran yang indah untukku. neraka mungkin lebih menarik.

saya membayangkan neraka lebih hangat, banyak coretan grafiti, kumuh, kelam, tapi penuh kreativitas. akan ada orang-orang aneh di sana. kita akan bertemu Hitler, Polpot, Jack the Ripper, Imam Samudra, Sumanto, kepada mereka - sebaiknya kita pura-pura tidak melihat saja ketika berjumpa secara tidak sengaja. di jalan ada banyak laki-laki bertattoo dan berjaket kulit dengan piercing pada hidung dan bibir. wanita yang suka lupa mengenakan beha akan berlalu-lalang sempoyongan sambil tangannya menggenggam botol vodca.

dimana tempat di surga ketika kita kangen ingin minum anggur Petrvs, Erazuric atau Penfold? saya kurang yakin ada gerai likeur tersedia di sana. belum lagi busana orang di surga akan monoton, baju putih panjang yang mirip longdress. apakah tidak ada perancang busana di surga? untungnya ada Herakleitos, filsuf favorit saya yang suka membandel - dia robek jubah putihnya dan dibentuknya cawat. dia masih saja mendalami Panta Rhei, "kehidupan seperti air sungai mengalir". sehingga kelas mengajarnya dipindahkan ke pinggir sungai. namun Herakleitos kurang happy dengan sungai di sana, karena airnya dari madu, sehingga jalannya lambat. bagaimana bisa menerangkan kehidupan yang deras?

teman saya yang malaikat itu senyum-senyum saja ketika saya sedang menggerundel kehidupan di akhirat kelak. saya mengusulkan adanya semacam pertukaran pelajar antara penghuni kelas surga dengan neraka. misalnya tiap weekend, kita boleh tinggal di neraka dan mereka tinggal di surga. hal itu baik untuk mengusir kehidupan yang jenuh di surga. "kamu mati aja dulu, nanti baru buat usulan", demikian temanku menjawab dengan santai. ada hal lain yang masih kurang menurutku, yaitu perihal kehidupan binatang, terutama nasib Wolverine, kucing kesayanganku. nantinya dia tinggal dimana? surga atau neraka? karena soal binatang ini tidak banyak dibahas dalam kitab suci. memang ada dibahas soal ular yang mengganggu Adam, tetapi ular disitu digambarkan sebagai personifikasi kejahatan. sementara soal kucing nampaknya terlupakan. 

bersambung ......




(2)

awal perkenalan dengan temanku yang malaikat itu, ketika orang-orang bersurban putih itu datang menyeruak Taman Ismail Marzuki sambil berteriak-teriak dengan membawa loudspeaker besar, disitulah dia turun. malaikat itu turun dari langit, dan hinggap dengan tenang di tengah-tengah kerumunan para demonstran beragama. Sayapnya lebar dan ujungnya berjuntai sampai ke tanah.

"Burung apakah ini?" salah seorang bersurban bertanya dengan gugup.

"Attapilooooooooh....." surban yang lain bereaksi dengan spontan.

"Burung berbadan manusia !"
"Manusia bersayap !"
"Malaikat !"
"Setan !"

Banyak orang berkomentar. Sebagian ada yang mulai bersujud, entah itu karena takut atau karena takjub.

"Saya adalah malaikat", manusia bersayap itu menjelaskan.

"Tidak mungkin !" pemimpin orang bersorban itu berteriak, mencoba menjelaskan kepada dirinya sendiri apa yang sedang dilihatnya.

"Nabi sudah mati. malaikat tidak dibutuhkan lagi untuk turun ke bumi."

"saat ini ada yang sedang tidak beres di dunia", makhluk bersayap itu menjelaskan.

"Pasti anda adalah setan yang sedang menipu manusia !"

"Setan itu terbuat dari api, saya terdiri atas cahaya", malaikat menjelaskan lagi.

"Kalau benar anda seorang malaikat, kenapa baru datang sekarang?" sang pemimpin bersurban bertanya takjub sambil heran.

"Memang Tuhan semula tidak mau ikut campur, namun perkembangan beberapa belas abad terakhir, menunjukkan umatnya bertambah rusak bukan semakin baik. Karenanya Tuhan kemudian menurunkan malaikat untuk membereskan, itulah saya."

"Siapa namamu?"

"Nama saya Gunawan, Tuhan memberi nama itu, maksudnya agar berguna bagi umat manusia."

"Bohong ! Ini pasti suatu tipuan, suatu trick, seperti film-film Hollywood. Anda pasti diturunkan dengan sling dari helikopter. Sayap anda ini ......"

Pemimpin bersurban dengan mata bercelak itu menyeruak ke arah Gunawan dan mencoba menarik-narik sayap itu, "Palsu dan akan saya copot sekarang juga."

Tapi sayap itu ternyata kuat sekali, sayap itu berakar kokoh pada punggung Gunawan.

"Hei, Jangan menyakitiku ! ini original bikinan Tuhan. Jangan kau rusak sayap indah ini. Designnya sangat ergonomis, ringan namun kuat. teman-temanku sudah bekerja keras mendesign sayap ini agar pas dengan punggungku."

"Tapi kau pasti bukan malaikat utusan Tuhan. Mau apa kau mengganggu acaraku ini?"

"Acara yang mana? Ini acara kesenian. Bukan acara anda. Mengapa anda ada disini?"

"Bukan itu, ini acaraku untuk menyadarkan manusia dari kesesatan. Manusia Indonesia yang lupa sejarah, yang ingin kembali menjadi Komunis lagi. Manusia Indonesia yang sudah lupa cerita kaum Sodom dan Gomorah, itulah sebabnya mereka ingin menjadi LGBT. Bisa anda bayangkan seorang LGBT yang Komunis berkumpul disini. Yaaaoooollooooo...... pasti Kiamat sudah dekat !" Si Sorban bercelak mulai marah dan berkhotbah.

"Mana podium? Turunkan dari mobil, sekalian pasang speakernya." dia memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan panggung.

"Disini kayaknya cocok untuk tempat panggung kita, nanti sambil berkhotbah saya akan menunjuk-nunjuk bioskop 21."

Seorang tukang parkir datang menghambur,

"Hei Pak, jangan pidato disini, menghalangi mobil lewat, lagian acara keseniannya bukan disitu, tapi disana tuh di Teater Jakarta."

"Ooooughh.... salah lokasi ya? Mari kita pindahkan panggung ke sana."

Panggung yang sudah hampir jadi itu kemudian dibongkar lagi untuk dipindahkan ke arah Teater Jakarta. Hari sudah terik ketika itu, keringat mengalir dari orang-orang berlongdress. Sebagian sudah membuka surbannya untuk mengelap keringat di wajah dan leher dan kemudian surban itu diikatkan kembali ke kepala dengan terampil. 

"Mau apa lagi kau sekarang?" malaikat mulai gusar.

"Saya ingin menjelaskan dan meluruskan orang-orang ini bahwa ajaran Komunisme dan LGBT itu sesat ! Jangan kita terpengaruh dengan ajaran-ajaran dari Barat. Kita harus kembali kepada ajaran agama. Sudah selesai panggungnya?" Pemimpin bersurban bertanya pada anak buahnya.

"Siap, Boss !" 

"Ehmmmm .... test ... test .... Assa ......" sambil mengetuk-ngetuk mike dengan bonus suara lengking karena sound system yang kurang baik.

"Hoi, ini aku ingin menjelaskan pada kalian semua, bahwa Tuhan sudah memutuskan bahwa Surga itu akan dishare kepada semua pemeluk agama." malaikat Gunawan berteriak dengan lantang.

Orang-orang bersurban itu melongo, mengucek-ngucek mata, saling melihat satu sama lain. Tidak percaya ada orang berkata dengan seberani itu. Mereka pun mulai mengeluarkan pentungnya, bersiap-siap untuk menyerang makhluk bersayap itu.

"Bohooooong ! Kamu pasti malaikat palsu, atau setidak-tidaknya kamu itu malaikat dari perwakilan agama lain yang tidak punya surga. Seraaaaaaang ....... !" mereka merangsek maju ke arah malaikat.

Namun malaikat mementangkan tangannya dan keluarlah cahaya dari kedua telapaknya. Efeknya adalah orang-orang bersurban itu terangkat dari tanah, melayang-layang ke udara. Para peserta program kesenian yang sudah berkumpul untuk melihat atraksi orang-orang bersurban itu berdecak. Baru kali ini para pengacau beragama bisa diselesaikan dengan mudah tanpa bantuan Polisi. Namun tidak hanya itu, malaikat itu menerbangkan mobil pick up, speaker, spanduk, ke udara. Orang-orang melihat rombongan sirkus dan propertinya semakin jauh pergi ke langit, tidak tau mau kemana. Mereka juga baru sadar bahwa malaikat bersayap itu juga sudah menghilang entah kemana.

Dalam kurang dari 5 menit, media on line sudah menyebarkan berita itu kemana-mana lengkap dengan foto-foto orang bersurban yang sedang terbang. Salah satu judul berita dalam berita tersebut "Superman in action". Esoknya masyarakat benar-benar gempar, dilanjutkan dengan seminar dan konferensi pers dari organisasi agama yang terkenal di negeri ini.  Ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab dalam seminar :

1. Apakah benar manusia bersayap itu adalah seorang malaikat.
2. Mengapa dia cuma menyebut Tuhan, bukan Allah atau Yesus atau Sidharta Gautama atau Sang Hyang Widhi atau nama-nama Tuhan dari agama yang lain
3. Mengapa dia memakai sayap
4. Berapa kecepatan terbang dari malaikat bersayap itu
5. Dimana rumahnya
6. Apakah dia sudah punya pacar
7. Dia itu malaikat yang diutus khusus untuk Indonesia saja, atau nantinya akan mendunia
8. Apakah akan ada kitab suci baru
9. Bagaimana dia melipat sayapnya, karena nanti seandainya mau hadir diundang seminar di hotel, akan cukup menyusahkan panitia
10. Apakah dia punya akun FB juga

bersambung .....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.