Kamis, 29 Juni 2017

Belum ada Judul


(1)

teringat pada temanku, seorang malaikat yang bersayap. dia kadang ingin bertemu satu hari setelah lebaran. tidak berkunjung ke rumah, tapi kami berjumpa di danau yang tidak ada orang datang ke sana. ada satu bangku kayu panjang tanpa sandaran, kami duduk di sana, bercakap-cakap tentang Plato, yang masih mengajar sampai sekarang di surga. dan sampai hari ini pun, Plato masih saja mengklarifikasi ajaran-ajarannya kepada muridnya, Aristoteles. saya yakin, sebagai murid Plato, mungkin saja Aristoteles salah menangkap pendapat gurunya. problemnya adalah, buku-buku Aristoteles telah diterbitkan, sulit untuk dihapus atau direvisi. 

sambil ngobrol, saya merapikan sayap temanku itu, agar tergerai dengan teratur pada tanah dan semak di belakang bangku. ada perasaan takut kotor atau tersangkut, namun sepertinya malaikat itu tidak terlalu peduli atas sayapnya. dia mempunyai sistem sendiri sehingga sayap itu kembali bersih dan rapi. kadang kalau hari terlalu panas, temanku itu menceburkan dirinya ke danau, mandi dengan riangnya. "tidak ada telaga seindah ini di akhirat", saya cuma manggut-manggut saja. saya percaya dunia jauh lebih indah dari surga sekalipun.

apalagi di sana sungainya dari madu dan susu, badan kita akan lengket kalau tercebur di sana. dan susu? saya tidak suka. hanya kadang-kadang saja dicicip sebagai pengantar makan sereal, agar pencernaan lancar. madu? pasti membuat kita gemuk kalau terminum setiap hari, ketika menggosok gigi. menggosok gigi dengan madu? dan pasta giginya terbuat dari apa? surga bukanlah gambaran yang indah untukku. neraka mungkin lebih menarik.

saya membayangkan neraka lebih hangat, banyak coretan grafiti, kumuh, kelam, tapi penuh kreativitas. akan ada orang-orang aneh di sana. kita akan bertemu Hitler, Polpot, Jack the Ripper, Imam Samudra, Sumanto, kepada mereka - sebaiknya kita pura-pura tidak melihat saja ketika berjumpa secara tidak sengaja. di jalan ada banyak laki-laki bertattoo dan berjaket kulit dengan piercing pada hidung dan bibir. wanita yang suka lupa mengenakan beha akan berlalu-lalang sempoyongan sambil tangannya menggenggam botol vodca.

dimana tempat di surga ketika kita kangen ingin minum anggur Petrvs, Erazuric atau Penfold? saya kurang yakin ada gerai likeur tersedia di sana. belum lagi busana orang di surga akan monoton, baju putih panjang yang mirip longdress. apakah tidak ada perancang busana di surga? untungnya ada Herakleitos, filsuf favorit saya yang suka membandel - dia robek jubah putihnya dan dibentuknya cawat. dia masih saja mendalami Panta Rhei, "kehidupan seperti air sungai mengalir". sehingga kelas mengajarnya dipindahkan ke pinggir sungai. namun Herakleitos kurang happy dengan sungai di sana, karena airnya dari madu, sehingga jalannya lambat. bagaimana bisa menerangkan kehidupan yang deras?

teman saya yang malaikat itu senyum-senyum saja ketika saya sedang menggerundel kehidupan di akhirat kelak. saya mengusulkan adanya semacam pertukaran pelajar antara penghuni kelas surga dengan neraka. misalnya tiap weekend, kita boleh tinggal di neraka dan mereka tinggal di surga. hal itu baik untuk mengusir kehidupan yang jenuh di surga. "kamu mati aja dulu, nanti baru buat usulan", demikian temanku menjawab dengan santai. ada hal lain yang masih kurang menurutku, yaitu perihal kehidupan binatang, terutama nasib Wolverine, kucing kesayanganku. nantinya dia tinggal dimana? surga atau neraka? karena soal binatang ini tidak banyak dibahas dalam kitab suci. memang ada dibahas soal ular yang mengganggu Adam, tetapi ular disitu digambarkan sebagai personifikasi kejahatan. sementara soal kucing nampaknya terlupakan. 

bersambung ......




(2)

awal perkenalan dengan temanku yang malaikat itu, ketika orang-orang bersurban putih itu datang menyeruak Taman Ismail Marzuki sambil berteriak-teriak dengan membawa loudspeaker besar, disitulah dia turun. malaikat itu turun dari langit, dan hinggap dengan tenang di tengah-tengah kerumunan para demonstran beragama. Sayapnya lebar dan ujungnya berjuntai sampai ke tanah.

"Burung apakah ini?" salah seorang bersurban bertanya dengan gugup.

"Attapilooooooooh....." surban yang lain bereaksi dengan spontan.

"Burung berbadan manusia !"
"Manusia bersayap !"
"Malaikat !"
"Setan !"

Banyak orang berkomentar. Sebagian ada yang mulai bersujud, entah itu karena takut atau karena takjub.

"Saya adalah malaikat", manusia bersayap itu menjelaskan.

"Tidak mungkin !" pemimpin orang bersorban itu berteriak, mencoba menjelaskan kepada dirinya sendiri apa yang sedang dilihatnya.

"Nabi sudah mati. malaikat tidak dibutuhkan lagi untuk turun ke bumi."

"saat ini ada yang sedang tidak beres di dunia", makhluk bersayap itu menjelaskan.

"Pasti anda adalah setan yang sedang menipu manusia !"

"Setan itu terbuat dari api, saya terdiri atas cahaya", malaikat menjelaskan lagi.

"Kalau benar anda seorang malaikat, kenapa baru datang sekarang?" sang pemimpin bersurban bertanya takjub sambil heran.

"Memang Tuhan semula tidak mau ikut campur, namun perkembangan beberapa belas abad terakhir, menunjukkan umatnya bertambah rusak bukan semakin baik. Karenanya Tuhan kemudian menurunkan malaikat untuk membereskan, itulah saya."

"Siapa namamu?"

"Nama saya Gunawan, Tuhan memberi nama itu, maksudnya agar berguna bagi umat manusia."

"Bohong ! Ini pasti suatu tipuan, suatu trick, seperti film-film Hollywood. Anda pasti diturunkan dengan sling dari helikopter. Sayap anda ini ......"

Pemimpin bersurban dengan mata bercelak itu menyeruak ke arah Gunawan dan mencoba menarik-narik sayap itu, "Palsu dan akan saya copot sekarang juga."

Tapi sayap itu ternyata kuat sekali, sayap itu berakar kokoh pada punggung Gunawan.

"Hei, Jangan menyakitiku ! ini original bikinan Tuhan. Jangan kau rusak sayap indah ini. Designnya sangat ergonomis, ringan namun kuat. teman-temanku sudah bekerja keras mendesign sayap ini agar pas dengan punggungku."

"Tapi kau pasti bukan malaikat utusan Tuhan. Mau apa kau mengganggu acaraku ini?"

"Acara yang mana? Ini acara kesenian. Bukan acara anda. Mengapa anda ada disini?"

"Bukan itu, ini acaraku untuk menyadarkan manusia dari kesesatan. Manusia Indonesia yang lupa sejarah, yang ingin kembali menjadi Komunis lagi. Manusia Indonesia yang sudah lupa cerita kaum Sodom dan Gomorah, itulah sebabnya mereka ingin menjadi LGBT. Bisa anda bayangkan seorang LGBT yang Komunis berkumpul disini. Yaaaoooollooooo...... pasti Kiamat sudah dekat !" Si Sorban bercelak mulai marah dan berkhotbah.

"Mana podium? Turunkan dari mobil, sekalian pasang speakernya." dia memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan panggung.

"Disini kayaknya cocok untuk tempat panggung kita, nanti sambil berkhotbah saya akan menunjuk-nunjuk bioskop 21."

Seorang tukang parkir datang menghambur,

"Hei Pak, jangan pidato disini, menghalangi mobil lewat, lagian acara keseniannya bukan disitu, tapi disana tuh di Teater Jakarta."

"Ooooughh.... salah lokasi ya? Mari kita pindahkan panggung ke sana."

Panggung yang sudah hampir jadi itu kemudian dibongkar lagi untuk dipindahkan ke arah Teater Jakarta. Hari sudah terik ketika itu, keringat mengalir dari orang-orang berlongdress. Sebagian sudah membuka surbannya untuk mengelap keringat di wajah dan leher dan kemudian surban itu diikatkan kembali ke kepala dengan terampil. 

"Mau apa lagi kau sekarang?" malaikat mulai gusar.

"Saya ingin menjelaskan dan meluruskan orang-orang ini bahwa ajaran Komunisme dan LGBT itu sesat ! Jangan kita terpengaruh dengan ajaran-ajaran dari Barat. Kita harus kembali kepada ajaran agama. Sudah selesai panggungnya?" Pemimpin bersurban bertanya pada anak buahnya.

"Siap, Boss !" 

"Ehmmmm .... test ... test .... Assa ......" sambil mengetuk-ngetuk mike dengan bonus suara lengking karena sound system yang kurang baik.

"Hoi, ini aku ingin menjelaskan pada kalian semua, bahwa Tuhan sudah memutuskan bahwa Surga itu akan dishare kepada semua pemeluk agama." malaikat Gunawan berteriak dengan lantang.

Orang-orang bersurban itu melongo, mengucek-ngucek mata, saling melihat satu sama lain. Tidak percaya ada orang berkata dengan seberani itu. Mereka pun mulai mengeluarkan pentungnya, bersiap-siap untuk menyerang makhluk bersayap itu.

"Bohooooong ! Kamu pasti malaikat palsu, atau setidak-tidaknya kamu itu malaikat dari perwakilan agama lain yang tidak punya surga. Seraaaaaaang ....... !" mereka merangsek maju ke arah malaikat.

Namun malaikat mementangkan tangannya dan keluarlah cahaya dari kedua telapaknya. Efeknya adalah orang-orang bersurban itu terangkat dari tanah, melayang-layang ke udara. Para peserta program kesenian yang sudah berkumpul untuk melihat atraksi orang-orang bersurban itu berdecak. Baru kali ini para pengacau beragama bisa diselesaikan dengan mudah tanpa bantuan Polisi. Namun tidak hanya itu, malaikat itu menerbangkan mobil pick up, speaker, spanduk, ke udara. Orang-orang melihat rombongan sirkus dan propertinya semakin jauh pergi ke langit, tidak tau mau kemana. Mereka juga baru sadar bahwa malaikat bersayap itu juga sudah menghilang entah kemana.

Dalam kurang dari 5 menit, media on line sudah menyebarkan berita itu kemana-mana lengkap dengan foto-foto orang bersurban yang sedang terbang. Salah satu judul berita dalam berita tersebut "Superman in action". Esoknya masyarakat benar-benar gempar, dilanjutkan dengan seminar dan konferensi pers dari organisasi agama yang terkenal di negeri ini.  Ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab dalam seminar :

1. Apakah benar manusia bersayap itu adalah seorang malaikat.
2. Mengapa dia cuma menyebut Tuhan, bukan Allah atau Yesus atau Sidharta Gautama atau Sang Hyang Widhi atau nama-nama Tuhan dari agama yang lain
3. Mengapa dia memakai sayap
4. Berapa kecepatan terbang dari malaikat bersayap itu
5. Dimana rumahnya
6. Apakah dia sudah punya pacar
7. Dia itu malaikat yang diutus khusus untuk Indonesia saja, atau nantinya akan mendunia
8. Apakah akan ada kitab suci baru
9. Bagaimana dia melipat sayapnya, karena nanti seandainya mau hadir diundang seminar di hotel, akan cukup menyusahkan panitia
10. Apakah dia punya akun FB juga

bersambung .....

Open House

HATI-HATI DENGAN PROPAGANDA SESAT TOKO SEBELAH!

Open House artinya terbuka kepada siapapun. Siralurahmi biasa. Tak ada pembicaraan khusus apapun. 

Jokowi adalah Presiden semua rakyat Indonesia, termasuk mereka yang jahat, culas, dan perlu dijewer. 

Jokowi juga berbudi-pekerti yang halus. Dia tak mengatakan 'cuih!' atau 'emangnya lo siapa?' ketika ada yg sok penting dan merasa pantas dapat akses khusus berkomunikasi. Jawaban 'mari kita buka komunikasi' itu sebetulnya tamparan keras bagi yg bisa mikir. 

Demikian untuk dimengerti! 

Jilal Mardhani, 25-6-2017

+++

KLARIFIKASI PRESIDEN

Presiden 'katanya' Menerima Perwakilan GNPF MUI

Presiden Joko Widodo pada Minggu, 25 Juni 2017, menerima kunjungan silaturahmi dari perwakilan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) di Istana Merdeka. Pertemuan yang diselenggarakan beberapa lama setelah kegiatan _open house_ berakhir tersebut merupakan permintaan dari pihak GNPF MUI yang disampaikan dan dikoordinasikan melalui Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

"Pada saat open house tadi, saya dihubungi oleh Pak Menteri Agama bahwa ini Pak Bachtiar Nasir dan kawan-kawan ingin menghadap Pak Presiden. Tadi Pak Presiden kami laporkan dan beliau mengatakan, "Ya, ini kan open house. Siapa saja kita tunggu," Menteri Sekretaris Negara Pratikno menerangkan kepada jurnalis.

Dalam open house itu, selain Pratikno, Kepala Negara juga didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto serta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Sementara dari pihak GNPF MUI, turut hadir bersama Bachtiar Nasir ialah Kapitra Ampera, Yusuf Marta, Muhammad Lutfi Hakim, Habib Muchsin, Zaitun Rasmin, dan Denny.

Pratikno menyampaikan bahwa tidak ada pembahasan khusus yang dilakukan antara Presiden dan GNPF MUI. Pertemuan itu murni dilakukan untuk silaturahmi semata.

"Intinya tidak ada acara yang diperbincangkan, hanya silaturahmi saja," ucapnya.

Lebih lanjut, dirinya juga menjelaskan bahwa GNPF MUI menyampaikan apresiasi mengenai apa yang dilakukan pemerintah selama ini. Mereka juga menyatakan mendukung kebijakan pemerintah.

"Mereka juga mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah, pembangunan bangsa ini, dan mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Pak Presiden, serta meminta untuk punya akses komunikasi. Yang disampaikan Presiden, 'Mari kita buka komunikasi.' Itu saja," ia menjelaskan.

Sementara itu usai pertemuan kepada jurnalis, Bachtiar Nasir mengatakan bahwa kunjungannya bertemu Presiden untuk bersilaturahmi. “Alhamdullilah tadi kami diterima Presiden dalam rangka silaturahim halal-bihalal, hari raya dan bagi kami ini kesempatan dalam rangka momen halal bihalal,” ucap Nasir.

Nasir mengakui bahwa Presiden Joko Widodo mengemban amanat yang cukup berat dan selalu berusaha menjalankan setiap program-programnya dengan berbagai macam cara pandang.  

“Ada yang suka dan tidak suka, kemudian bagaimana presiden juga harus konsisten dalam program yang dijalankannya. Dan presiden mengatakan 'saya harus berani mengambil risiko itu',” kata Nasir.

Nasir juga memuji upaya Presiden Jokowi dalam keberpihakan untuk ekonomi kerakyatan. “Hal yang cukup bagus adalah bagaimana kita dengar sekian belas juta hektar tanah diperuntukkan untuk masyarakat,” ujar Nasir.

Jakarta, 25 Juni 2017
Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Bey Machmudin

Rokok vs Kanker

27-6-1957: Inggris Ungkap Hubungan Merokok dan Kanker Paru-Paru


Tepat 60 tahun lalu, yakni pada 27 Juni 1957, Medical Research Council Inggris mengumumkan bahwa ada hubungan langsung antara kanker paru-paru dengan merokok.

Laporan tersebut mempelajari peningkatan drastis kematian akibat kanker paru-paru selama 25 tahun dan menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah merokok. Namun perusahaan tembakau membantah temuan tersebut dan mengatakan bahwa hal tersebut adalah 'masalah soal opini'.

Sementara itu pemerintah menyatakan bahwa kampanye pendidikan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya merokok akan diadakan melalui otoritas kesehatan setempat.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 1945 bahwa terdapat 188 kematian akibat kanker paru-paru di setiap satu juta. Sepuluh tahun kemudian, angka tersebut hampir meningkat dua kali lipat menjadi 388 di setiap satu juta kematian.


Dilansir BBC On This Day, laporan yang melihat bukti dari 21 penyelidikan di enam negara, menemukan bahwa merokok merupakan penyebab utama kenaikan tersebut.

"Pemerintah merasa bahwa merupakan hal tepat untuk memastikan bahwa pendapat otoritatif terbaru ini akan dibawa secara efektif untuk pemberitahuan publik, sehingga setiap orang dapat mengetahui risikonya," ujar Sekretaris Parlemen untuk Kementerian Kesehatan kala itu, Vaughan-Morgan.

Namun ia memastikan bahwa masyarakat diperbolehkan untuk mengambil keputusannya sendiri dan tidak ada larangan merokok. Ia menambahkan, tidak ada rencana untuk melarang merokok di teater, bioskop, dan transportasi publik.

Masyarakat yang mengetahui hasil laporan tersebut terlihat tak terpengaruh. Seorang perokok mengatakan bahwa, meski dirinya tak mempertimbangkan untuk berhenti merokok, namun ia berpikir bahwa generasi muda tak disarankan untuk melakukan hal tersebut.

Seorang pria lain mengatakan bahwa ia sama sekali tak takut dengan laporan itu. Bahkan ia mempertimbangkan untuk meningkatkan jumlah rokoknya setiap hari.

Pandangan ini tercermin pada pasar saham, di mana sebagian besar saham-saham perusahaan rokok terkemuka tidak terpengaruh oleh laporan tersebut.



Citra Dewi 
27 Jun 2017, 06:00 WIB
Liputan6.com, London - T

Waria Berlebaran

Kisah santri waria ikut raih kemenangan pada hari Idul Fitri

Ketika momen Idul Fitri tiba, para waria ikut melaksanakan ritual salat Ied, ziarah dan silaturahmi


Pagi itu adalah hari pertama lebaran. Shinta Ratri mengenakan gamis, jilbab dan kaca mata hitam. Usai mengikuti Salat Idul Fitri di wilayah Kotagede, Yogyakarta, Shinta dan motor bebeknya bergerak menuju makam almarhum ayahnya. Makam tersebut terletak tidak jauh dari rumah Shinta di Kotagede yang juga menjadi tempat para kaum waria di Yogyakarta belajar agama Islam.

Bersisian dengan makam sang ayah, ada juga makam kakek dan nenek Shinta. Di antara ketiga makam tersebut, Shinta duduk dan berdoa. Sebentar saja, setelah menabur bunga dan menyiram air, Shinta bangkit, berjalan menuju motor bebeknya dan pulang ke rumah.

Tidak ada yang spesial di rumah Shinta saat lebaran tiba. Rumah itu sepi. Hanya ada beberapa stoples berisi kue di atas meja dan Shinta yang tinggal di sana.

“Kalau lebaran biasanya santri-santri di sini pada mudik,” kata Nur Ayu, santri Pesantren Waria Al-Fatah yang tinggal persis di sebelah rumah Shinta.

Awal mula berdiri

Shinta bercerita, gagasan berdirinya pesantren ini muncul setelah terjadinya bencana gempa bumi di Yogyakarta pada tahun 2006 silam. Saat itu, beberapa kaum waria di Yogyakarta berkumpul dan mendoakan teman waria mereka yang menjadi korban dalam bencana tersebut.

Setelah itu, waria-waria tersebut memutuskan untuk membentuk pengajian rutin yang dipimpin oleh K.H. Hamrolie Harun. Dia pernah menjadi pembimbing seorang waria bernama Maryani dalam pengajian mujahadah al-Fattah di Desa Pathuk, Yogyakarta.

“Beliau ngomong, ada ide pesantren waria itu supaya kawan-kawan waria bisa belajar bersama, salat berjamaah, dan memahami bagaimana pandangan Islam tentang waria,” kata Shinta.

Pondok Pesantren pun resmi berdiri pada tanggal 8 September 2008 dan kini diketuai oleh Maryani. Shinta. Saat ini pesantren buka setiap Senin-Kamis.

Bersama seorang notaris yang biasa membantu kaum marginal, Suparyatun, ia bersama Maryani mulai menyusun AD/ART, mengajukan izin pendirian lembaga pesantren waria, dan mendaftarkan pesantren tersebut ke Pengadilan Tinggi Yogyakarta pada tahun 2011. Berkas-berkas resmi milik pesantren hingga kini masih dijaga oleh Shinta.

Ada tiga agenda di Pesantren Waria Al-Fatah, yaitu pendidikan agama Islam kepada para waria, pendidikan kepada masyarakat mengenai eksistensi waria melalui kegiatan sosial, dan advokasi terhadap pemerintah. Kegiatannya bermacam-macam, mulai dari mengaji, salat berjamaah, diskusi, pentas seni, bakti sosial, hingga mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis.

Pada tahun 2014, Maryani meninggal dunia. Setelah itu, Shinta, mantan ketua Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO) 2010—2014, ditunjuk sebagai ketua pesantren oleh para santri waria. Pesantren yang sebelumnya berada di wilayah Notoyudan pun ikut pindah ke rumah Shinta. 

Di sela-sela bercerita, muncul sosok perempuan berkerudung di depan pintu yang disusul seorang laki-laki mengenakan peci hitam. Perempuan dan laki-laki tersebut sungkem kepada Shinta.

“Itu anakku yang aku angkat umur tiga bulan, yang laki-laki tadi suaminya,” kata Shinta.

Siang harinya, Shinta berjalan menemui tetangga-tetangganya. Para tetangga di sekitar rumah menerima Shinta sebagai tamu dengan baik.

“Mohon maaf lahir batin, Pak,” ucap Shinta dalam bahasa Jawa.

Diskriminasi dan perlakuan kasar terhadap waria

Usai bersilaturahmi, Shinta kembali ke rumah dan bercerita mengenai pesantren. Bagi Shinta, kehadiran Pesantren Waria Al-Fattah bagi para waria sudah menjadi kebutuhan karena para waria yang ingin beribadah biasanya tidak diterima di ruang publik.

“Misalnya, Mbak Nur salat di masjid. Nanti ketika dia berdiri, ada yang mengundurkan diri dari safnya. Itu terjadi pada waria, baik yang salat memakai sarung atau mukena. Makanya, kita memberikan ruang nyaman ini untuk belajar agama,” ujarnya.

Di samping banyaknya perlakuan diskriminatif yang diterima, Pesantren Waria Al-Fattah mendapatkan dukungan dari organisasi masyarakat Islam Nahdlatul Ulama.

“Kami punya pembina dari NU, mereka sangat mendukung. Tetapi, dengan Muhammadiyah, kami tidak ada hubungan sama sekali. Mereka tidak mengutuk dan juga tidak mendukung,” kata Shinta menjelaskan.

Para waria ini juga diperlakukan secara diskriminatif ketika ingin menempuh pendidikan atau mencari pekerjaan. Sikap itu muncul, karena lingkungan sekitar tidak menerima mereka. Padahal, penerimaan terhadap kaum waria merupakan hal paling mendasar.

“Ketika waria diterima keluarga, dia tidak akan putus sekolahnya, dia bisa punya pekerjaan yang baik, tidak berada di jalan dan dekat dengan ‘dunia malam’. Karena imbas dari waria yang tidak diterima, dia akan lari dari keluarganya, kemudian di perantauan dia bekerja seadanya karena tidak punya kemampuan,” tutur dia memaparkan.

Tidak hanya itu, pelecehan fisik dan verbal pun kerap diterima oleh para waria. Nur mengungkapkan banyak juga waria yang mendapat kekerasan fisik. Sebagai contoh, waria yang mangkal, tahu-tahu ditusuk orang dan kepalanya dipukul.

“Kalau melakukan tindak kriminal seperti itu mereka selalu rapat, tutup helm. Motifnya mungkin untuk pelampiasan,” kata Nur.

Berdasarkan penelitian tahun 2013 yang dilakukan oleh Arus Pelangi terhadap komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender Waria (LGBT), 79,1% responden menyatakan pernah mengalami kekerasan psikis, 63,3% menyatakan pernah mengalami kekerasan budaya, 46,3% menyatakan pernah mengalami kekerasan fisik, 45,1% menyatakan pernah mengalami kekerasan seksual dan 26,3% menyatakan pernah mengalami kekerasan ekonomi.

Karena tindakan kekerasan yang diterima tersebut, 17,3% populasi LGBT pernah berpikir untuk bunuh diri dan 16,4% populasi LGBT pernah melakukan percobaan bunuh diri. Sementara, ancaman kekerasan budaya justru datang dari keluarga dengan persentase 76,4% dalam bentuk pengusiran. Dalam penelitian tersebut, tertulis juga bahwa kaum waria mengalami tindakan kekerasan seksual paling banyak dibanding ketiga kelompok lain.

“Pernah ada masalah bola. Karena tim favoritnya kalah, pelampiasannya waria yang di jalan. Kami sebagai teman, membantu dengan memberi dukungan moral. Aku pernah hidup di jalan juga. Kami, tuh, seolah dianggap orang yang tidak berguna. Kadang kami diancam pakai senjata tajam untuk ‘melayani’ orang,” tuturnya.

Samar-samar, terdengar suara lain dari kejauhan memanggil Shinta. Mereka adalah Jessi dan Yeti, dua teman Shinta yang juga waria. Meski Jessi dan Yeti tidak merayakan lebaran, mereka ingin berkunjung ke rumah Shinta untuk bersilaturahmi dan mengucapkan selamat lebaran.

Sore itu, adzan maghrib terdengar jelas hingga ke ruang tamu rumah Shinta. Nur Ayu yang berperan sebagai juru masak di pesantren datang membawa mangkuk-mangkuk berisi ketupat, opor ayam, krecek, dan tahu.

Sementara, Jessi, Yeti dan Shinta tengah asyik berbincang soal adanya lima gender dalam kebudayaan Bugis, sejarah Nommensen di Medan, khotbah Quraish Shihab di Istiqlal, hingga radikalisme. Sementara, Nur justru serius memerhatikan layar telepon genggamnya, layaknya tingkah masyarakat kota masa kini. – 




Rappler.com
Davin Rusady
Published 12:42 PM, June 28, 2017
YOGYAKARTA, Indonesia - 

Whisky

Killer joke

Husband was sipping his whisky, while sitting in the balcony with wife and he says, 

"I love you so much,
I don't know how I could ever live without you."

Wife asks, 
"Is that you, or the whisky talking?"

Husband replies,  
"It's me... talking to whisky."

😜😜😜
...😝

Pinter vs Bijaksana

PILIH MENJADI ORANG PINTAR ATAU BIJAKSANA

Di dunia banyak sekali orang pintar atau manusia yang menganggap dirinya pintar… 

Pada umumnya Orang Pintar akan cenderung selalu mau BERDEBAT, BERBANTAHAN & bahkan terkadang BERKELAHI ketika berkumpul, terutama karena kepalanya dibuatnya  MEMBATU oleh KEPINTARAN-KEPINTARAN nya. 

Ciri-ciri Orang  BIJAKSANA selalu membuat dirinya SELENTUR AIR ketika berkumpul...
ia akan cepat sekali menyatu, bersenyawa seperti Air sesuai wadah _KEBIJAKSANAAN NYA...   

ORANG BIJAKSANA mampu meregangkan  "kepadatannya" mengikuti situasi dan kondisi dimana dia berada. 

Pada situasi yang panas dia akan "menguap" menjadi uap air, pada keadaan dingin dia pun bisa turun menjadi "embun" penyejuk dipagi hari dan pada keadaan dingin yang ekstrim dia mampu "membatu" menjadi es dan bertahan dalam kondisi itu utk waktu yang lama hingga suhu kembali normal dan dia kembali ke wujudnya yang semula. 

Aristotle mengatakan "Knowing yourself is the beginning of all wisdom."

Di dunia kerja, ada banyak orang PINTAR dengan gagasan-gagasan yang brillian. Namun seringkali justru tidak mampu bersatu dengan team dan akibatnya efektivitas dan efisiensi kerja team menjadi buruk.

Gagasan brillian yang dimiliki pun menjadi sia-sia karena tidak didukung oleh anggota team lainnya. Tentu saja hal ini menjadi kontraproduktif bagi perusahaan tersebut.

Oleh karenanya di jaman ini lebih banyak perusahaan mencari karyawan yang  COCOK ketimbang karyawan yang  PINTAR.

Karyawan yang  COCOK  adalah orang-orang yang _BIJAKSANA.

Orang yang mengerti menempatkan dirinya di dalam organisasi, larut dan bersenyawa di dalam team, serta berkontribusi positif bersama teman-teman yang ada di dalam team tersebut. 

Oleh karenanya mari instropeksi diri kita, seberapa "cair"kah diri kita? Seberapa bijakkah kita.

"The only true wisdom is in knowing you know nothing."
(Semakin bijaksana seseorang semakin dia tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa) ......

Socrates

Film Toleransi

Film pendek 'Kau Adalah Aku yang Lain', yang menjadi juara lomba Police Movie Festival, menjadi viral dan menuai pro-kontra di media sosial. Anto Galon, sutradara film pendek tersebut, memberi penjelasan.

Berdasarkan penjelasan Anto, yang diperoleh detikcom dari Brigjen Rikwanto, Rabu (28/6/2017), film tersebut mencoba menggambarkan Islam itu lembut dan toleran sesuai dengan tema 'Unity in Diversity', yang diangkat panitia.

"Mengenai salah satu watak yang diperankan si Mbah, tokoh dalam film saya, itu adalah gambaran dari sifat manusia bahwa di kelompok-kelompok tertentu, tidak hanya Islam, masih ada orang yang kolot seperti itu. Selalu saja ada oknum, digambarkan oleh si Mbah seperti itu, tapi kemudian disadarkan oleh warga yang lain dan polisi yang sedang berjaga di situ. Kita adalah pengingat bagi yang lain," kata Anto.

Dalam film itu, kata Anto, pada akhirnya ambulans diberi jalan dan tidak ada satu pun massa pengajian yang menolak ambulans tersebut lewat. Bahkan tokoh si Mbah akhirnya sadar dan ikut membantu ambulans itu lewat.

"Saya ingin menggambarkan bahwa Islam itu toleransi, jadi saya berharap penonton jangan terfokus pada tokoh si Mbah, jangan hanya nonton sebagian," ujarnya.

Menurut Anto, bangunan sebuah film harus diciptakan dari sebuah kasus dan penyelesaiannya. Dalam penyelesaian kasus dari film ini, menurutnya, ada kebahagiaan dari rasa toleransi yang ada.

"Si Mbah adalah contoh oknum Islam yang nggak bener dan warga yang lain adalah contoh Islam yang benar, menurut saya. Si Mbah di sini mewakili kata sifat bahwa manusia itu beraneka macam sifatnya. Jagat pewayangan adalah potret dari kita bahwa manusia itu ada yang bersifat seperti Bima, Arjuna, Duryudana, Rahwana, Rama, Sengkuni, dan lain-lain," ujarnya.

Anto mengakui karyanya menjadi kontroversi. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang bisa menerima pesan yang ingin dia sampaikan lewat film tersebut.

"Di inbox saya, itu banyak sekali ancaman dan hujatan, bahkan ada yang melaknat dan mengkafirkan saya, seolah mewakili sang pencipta yang memiliki hak," ujarnya. 

Menurut Anto, dirinya mengerti bahwa mungkin ada pihak-pihak yang kurang bisa terpuaskan, tersentil, atau pesan yang ingin disampaikan tidak sampai kepada pihak-pihak tersebut. 

"Saya mohon maaf. Sekali lagi saya mohon maaf jika film ini tidak bisa memuaskan semua pihak," ujarnya.

"Tonton film tersebut secara utuh dan resapi. Film ini sendiri adalah sebuah renungan bagi saya sebagai seorang muslim, sehingga saya tidak menjadi oknum seperti yang si Mbah gambarkan dalam film tersebut," tuturnya berpesan kepada pihak yang kontra.

Film pendek itu diunggah ke akun Facebook Divisi Humas Polri, Kamis (22/6). Beragam komentar pro dan yang menilai video itu mengandung unsur SARA muncul sehingga menjadi trending topic di Twitter dengan hashtag #PolriProvokatorSara.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto mengatakan film tersebut merupakan juara lomba Police Movie Festival ke-4, yang tersaring dari 241 film yang masuk ke panitia. Lomba itu bertema 'Unity in Diversity'. Lomba ini menghasilkan 10 film pendek terbaik dan 10 film animasi terbaik.

"Dengan mengambil tema 'Unity in diversity', diharapkan dapat menjadi inspirasi persatuan bangsa kita. Hasil film dan animasi Police Movie Festival 2017 ini memiliki makna bahwa persatuan diraih karena keragaman, kekeluargaan, kerja sama, dan gotong royong tanpa memandang suku, ras, dan agama," kata Rikwanto melalui pesan singkat, Rabu (28/6).


Jakarta - 
(idh/fdn)

Minggu, 25 Juni 2017

Poor Nation

The difference between the poor and rich nations  is not the age of the Nation.

This can be demonstrated by countries like India and Egypt, which are more than
2000 years old and are still poor countries.

  On the other hand, Canada, Australia and New Zealand, which 150 years back were insignificant, today are developed and rich countries.

The difference between the poor and rich nation does not also depend on the available natural resources.

Japan has limited territory, 80%  mountainous, unsuitable for agriculture or farming, but is the third in worlds economy. The country is like an immense floating factory, importing raw material from the whole world and exporting manufactured products.

Second example is Switzerland, it does not grow cocoa but produces the best chocolates in the world. In her small territory she rears animals and cultivates the land only for four month in a year, nevertheless manufactures the best milk products. A small country which is an image of security which has made it the strongest world bank.

Executives from rich countries who interact with their counterparts from poor countries show no significant intellectual differences.

The racial or colour factors also do not evince importance: migrants heavy in laziness in their country of origin are  forcefully productive in rich European countries.

What then is the difference?

The difference is the attitude of the people, moulded for many years by education and culture.

When we analyse the conduct of the people from the rich and developed countries, it is observed that a majority abide by the following principles of life:

1. Ethics, as basic principles.
2. Integrity.
3. Responsibility.
4. The respect for Laws and Regulations.
5. The respect from majority of citizens by right.
6. The love for work.
7. The effort to save and invest.
8. The will to be productive.
9. Punctuality.

In the poor countries a small minority follow these basic principles in their daily life.

We are not poor because we lack natural resources or because nature was cruel towards us.

We are poor because we lack attitude. We lack the will to follow and teach these principles  of working of rich and developed societies.