Rabu, 31 Mei 2017

Re-inventing Pancasila

Indonesia tersedak. 

Pancasila yang kita banggakan, hormati dan junjung tinggi sebagai dasar negara yang mempersatukan bangsa, ternyata selama ini acap terbengkalai. Bahkan kadang kita acuhkan.

Mungkin kita terlalu sibuk dengan bermacam hal darurat yang cenderung bersifat teknis. Entah  memperbaiki yang rusak, merapikan yang terbengkalai, menata yang berantakan, mengejar yang ketinggalan, hingga mengumpulan, mengembangkan, dan membangun yang tersisa. 

Kesibukan yang menyita waktu dan energi yang tak sedikit itu,  nyatanya terus-menerus digoda, dijahili, diganggu, dihalangi, bahkan dipecundangi. Sebagian besar oleh segelintir pihak yang sebelumnya justru merupakan penyumbang terbesar dari semua kekacauan itu. 

Ya, 32 tahun kekuasaan Orde Baru terlalu gegabah dan terang-terangan mencederai -- bahkan mengkhianati -- keluhuran makna filosofis dari Pancasila itu sendiri. Begitu banyak lakon dan laku yang dipertontonkan Suharto bersama kroni-kroninya yang jauh melenceng bahkan bertolak belakang. 

Saya maklum pada upaya sejumlah pihak yang mencoba mengangkat romantisme saat P4 -- Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila -- digalakkan di masa pemerintahan Suharto dan Orde Baru dulu. Tapi sayapun tak mampu menyembunyikan senyum yang kecut jika mengingat masa-masa itu. Berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan yang ada di sekeliling, program penataran itu, sesungguhnya banyak dilakoni semata karena keharusan. Bahkan acap membebani dan miskin penjiwaan. Semata-mata karena terlalu banyak hal yang berlaku sehari-hari di sekitarnya yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang sedang dipompakan kegiatan itu. Tapi, di tengah iklim kekuasaan pemerintah yang represif saat itu -- ketika kebebasan berpendapat dan menyuarakan kebenaran justru sering dibungkam semena-mena -- bagaimana mungkin sikap kritis mempertanyakannya bisa berkembang? 

+++

Adalah sesuatu yang wajar dan sama sekali tidak berlebihan jika saat ini muncul dugaan yang kuat tentang runtuhnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila pada sebagian anak bangsa. 

Adalah semestinya pula jika pemimpin dan penguasa negara kita -- bersama seluruh tokoh dan pemimpin elemen masyarakat -- kembali menyuarakan pentingnya kesetiaan bangsa ini terhadap keluhuran Pancasila. 

Tapi agaknya harus dipahami sekaligus disadari bahwa maksud maupun upaya tersebut, saat ini, berhadapan dengan tantangan dan persoalan yang lebih kompleks. 

Pertama karena iklim demokratisasi kita yang jauh lebih baik sehingga kini siapapun leluasa bersikap lebih kritis.

Kedua, kemajuan teknologi yang merevolusi kemudahan penyebaran informasi, telah menyebabkan lompatan budaya dalam kehidupan masyarakat. Hoax merupakan keniscayaan yang tak perlu diratapi. Sebaliknya, justru berbagai upaya terobosan dan kreatif untuk menyasatinya yang perlu terus menerus dikembangkan.

Ketiga, semua pihak justru harus digalang untuk berlomba memamerkan keteladanan-nya dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila. Sebab hari ini, pemahaman konsepsi nilai lebih dipengaruhi oleh aksi-aksi nyata yang menginspirasi dan mampu menjadi trending. 

Keempat, bersikap dan bertindak lah secara tegas kepada siapa pun yang mencoba mengkhianati Pancasila. Bukan hanya yang berkait langsung maupun tidak langsung dengan sila pertama, tapi justru juga pada pemahaman dan pengamalan sila-sila lainnya. Termasuk meluruskan berbagai amanah konstitusi yang beberapa diantaranya telah diupayakan memiliki payung hukum. Seperti kekuasaan negara terhadap hal-hal yang terkait dengan kepentingan publik, tanggung jawab sosial dari setiap warga negara, kesetaraan di muka hukum, dan seterusnya. 

+++

Indonesia telah ber-evolusi, sejalan dengan perkembangan maupun asam-garam zaman yang dilaluinya. Kita harus mampu dan bijak menyikapinya sesuai kodrat hari ini dan masa depan. Bukan berkutat di masa lalu yang jelas telah usang dan ketinggalan. 

Jilal Mardhani, Ramadan #6, 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.