Sabtu, 13 Mei 2017

Martir Politik

Ini adalah kejatuhan yang menyakitkan. Kekalahan yang mengejutkan. Namun ini adalah waktu yang tepat untuk merenung, introspeksi diri. Orang-orang yang mencintai Ahok pasti bersedih. Mereka mengumpat, menyumpahi, bahkan menyalahkan. Itu hak kalian. Lakukan sebaik-baiknya. Namun itu tidak mengubah fakta. Tidak sedikitpun.

Ahok memang kalah, bertubi-tubi bahkan, tapi ia telah melawan dengan terhormat. Orang-orang yang memahami bagaimana politik bekerja tidak akan mudah menyalahkan. Sebagian Ahokers mulai menyalahkan Jokowi. Menyalahkan lembaga peradilan. Menyalahkan Negara ini. Padahal banyak hal berjalan rumit di belakang itu semua.

Menyalahkan Jokowi jelas kekeliruan besar. Jika Jokowi mengintervensi hukum, pemerintahan seperti apa yang hendak ia bangun? Sejak awal orang-orang mengaitkan Jokowi dengan Ahok. Mengatakan Jokowi menjadi backing Ahok. Ujaran seperti itu ditulis oleh seleb medsos seperti Denny Siregar dan para pengikutnya. Mereka membuat asumsi dan tebakan, yang sialnya dipercayai sebagai fakta.

Akibatnya, kaum sebelah meyakini hal itu sebagai kebenaran. Mereka bahkan membidik Jokowi melalui Ahok. Sama seperti Ahokers, Amien Rais memiliki keyakinan, Ahok akan diangkat jadi menteri jika bebas. Padahal ini awalnya apologi Ahokers ketika tahu jagoannya kalah. Dan mereka terus mencari celah untuk menaikkan Ahok. Dan itu justru akan membuat kaum sumbu pendek makin cepat tersulut. Mereka akan semakin bergairah untuk mengatasnamakan bela agama.

Menempelkan Jokowi pada Ahok adalah blunder terbesar yang mereka buat. Mestinya mereka belajar menyimpan hal-hal yang tak perlu dijelaskan. Jikapun mereka ada info dari dalam, belajarlah untuk tutup mulut. Bangsa kita belum siap dengan keterbukaan gagasan. Masih banyak yang mudah dihasut dengan ayat-ayat pelintiran.

Jadi, secara tidak langsung, Ahokers ini membuat salah umpan bagi seteru mereka. Umpan mudah yang membuat gawang mereka makin kebobolan. Ahok telah tenggelam dan hanyut terbawa arus yang sangat deras. Mengulurkan pelampung dan seluruh tali hanya akan berakhir percuma. 

Nyemplung ke dalam juga hanya akan menambah korban sia-sia. Jokowi ada di pinggir kali itu, bersama musuh-musuh yang siap melemparkannya ke dalam pusaran. Mata mereka terus mengawasi dengan saksama. Sekali Jokowi membungkuk, mereka akan membuatnya tersuruk.

Menyalahkan lembaga peradilan juga sebuah kekonyolan. Hakim bisa keliru, lembaga peradilan juga tak bersih dari korupsi. Namun menolak keputusan hukum, apalagi lembaga peradilan adalah kebodohan. Dengan adanya hukum saja sering terjadi ketidak-adilan. Apalagi tanpa hukum?

Satu-satunya yang bisa dilakukan orang-orang cerdas adalah berpikir positif. Silakan bersedih, memaki, tapi jangan menyalahkan dan patah semangat. Ahok tidak berakhir di sini. Tempuh semua mekanisme hukum yang ada. Gunakan posisi Ahok yang sekarang untuk mendulang simpati, membersihkan namanya, memberikannya kesempatan lain suatu saat.

Menyalahkan Negara juga reaksi yang menyedihkan. Negara ini memang sakit sejak lama, tapi ia harus terus diperbaiki, dibangun, bukan hanya diratapi. Para parasit dan benalu mesti dilawan dan dibersihkan. Negara harus tetap dicintai, meski kadang juga dikritik. Kejatuhan Ahok ini adalah momentum untuk membersihkan para begundal itu. Tidak ada lagi alasan demi melindungi Ahok.

Ahok belum tamat, ia hanya tersuruk. Dengkulnya berdarah, matanya dipenuhi linangan air mata. Pandangannya nanar. Badannya gemetar dan lemas. Namun ia akan bangkit, menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Jauh lebih hati-hati. Ia mendapat pengajaran yang tidak tercantum dalam buku. Biarkan ia tenggelam sementara dari hiruk-pikuk. Untuk kemudian muncul kembali dengan lebih bercahaya.

Namun sebelum melakukan semua itu, ada baiknya peristiwa ini membuat Ahokers lebih cerdas lagi dalam membangun opini. Ada hal-hal besar yang harus diselamatkan: kepentingan-kepentingan Negara. Berhentilah seolah-seolah mewakili Jokowi. Seolah-olah memahami posisi dan strateginya. Kalian hanya akan membual dan membuat gerak-geriknya terbatas. Menjadi dukun medsos yang meresahkan.

Satu lagi, tak perlu memanggilnya Pakdhe sebagai ungkapan kedekatan. Toh kalian bukan keponakannya. Namanya Jokowi, panggil saja demikian. Itu sudah obyektif dan menghormati. Jokowi milik seluruh rakyatnya. Tak perduli ia haters atau lovers. Silakan dukung dan membelanya. Namun biarkan ia bekerja, jangan kalian ganggu dengan asumsi-asumsi bodong itu. 

Ahok harus terus berjuang, tapi ia juga harus menerima takdir kekalahannya. Ia martir politik. Bersedihlah, berdoalah untuknya, karena itu hak orang-orang yang mencintainya. Untuk seluruh relawan yang telah berjuang mati-matian, saya haturkan hormat sedalam-dalamnya. Kembalilah ke dalam barisan untuk membela hal-hal besar atas nama bangsa dan Negara. Perjuangan masih sangat panjang dan melelahkan. 

Selebihnya, biarkan Tuhan bekerja dengan rahasia. Jangan mendahuluinya!

Kajitow Elkayeni

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.