Selasa, 16 Mei 2017

Kesenjangan

Kesenjangan/ketimpangan  itu fakta, tetapi kita menolak  menafsirnya berdasar agama/ras itu karena itu bahaya. Kita  Atasi kesenjangan sosial itu dgn PolitikProgresif, bukan PolitikRasis !

Sangat masuk akal Amerika tidak suka dengan affirmative action pada 'orang2 minus' sebab mereka penganut Liberal murni, Jadi meskipun John Rawls lahir disana, Theory of Justice (TOJ) ya tak pernah dapat tempat. 

Amerika sebagai negara "super"  yg menganut paham GDP Oriented (PDB adalah satu2nya indikator ekonomi) memiliki 18% penduduk miskin yang termasuk tinggi untuk negara maju. 
Berbeda dengan Eropa, yang menjadikan PDB hanya salah satu indikator ekonomi, sedangkan perananan negara, koperasi, Serikat buruh dan masyarakat madani adalah indikator-indikator yang setara dengan PDB. meskipun PDBnya tinggi, tetapi tingkat pemerataan ekonomi Juga tinggi yaitu 40prosen penduduk termiskin memperoleh 21 persen 

Mari kita segarkan lagi  konsep keadilan Rawls ,
Menurut Rawls, tidak boleh mengandaikan pandangan2 filosifis dan ideologis tertentu dalam penetapan dasar keadilan, sehingga prinsip Rawls Sesungguhnya bertolak dari 2 pengandaian 'tipis" saja, yg menurutnya tidak bs dibantah. Bahwa setiap orang ingin menjamin kepentingannya sendiri, dan bahwa manusia bersifat rasional dalam arti bahwa ia mampu bertindak tidak semata-mata secara emosional, melainkan berdasarkan kepentingan2nya sendiri.
Berdasarkan dua pengandaian itu Rawls berpendapat bahwa setiap orang akan menyetujui dua prinsip berikut : 

Bahwa 
(1) setiap orang berhak atas kebebasan yang sebesar-besarnya (liberty principle), tetapi 
(2) dengan pembatasan sedemikian rupa hingga suatu ketidaksamaan sosial dan ekonomis hanya dibiarkan berlangsung sejauh menguntungkan semua (difference principle – maximin principle).

Dengan Kata lain, perbedaan dalam kekayaan dan akses ke posisi - posisi berperngaruh hanya dapat dibenarkan bila mereka yang paling miskin dan lemah dalam masyarakat mendapatkan beruntung dari ketidaksamaan itu. Paham Keadilan ini "prosedural" karena merupakan hasil sebuah "cara bertindak" bersama yang "fair" dan "material" karena menghasilkan dua prinsip yang selanjutnya menjadi tolak ukur keadilan dalam masyarakat.

John Rawls memperkenalkan istilah “justice as fairness”,  (salah satu point dalam  Teori Keadilan Rawls) ini menekankan pemberian perhatian khusus pada orang – orang yang minus (remedial action). Dalam bahasa lain, John Rawls ingin berkata, bila ingin bersikap adil maka harus bersikap tidak adil.  John Rawls cenderung menggabungkan Egalitarian Justice dan Need Justice , pandangan ini bermaksud bahwa keadilan memang harus dimulai dengan persamaan, tetapi harus di ditopang / sustain dengan kebijakan.

Melihat prinsip itu, jelas US bukan penganut TOJ-nya Rawls mereka Liberal. Lepas dari Issue2 politik, secara elementer kita mmang perlu menilai secara rasional, bhwa Liberal tidak cocok utk kita, seperti China, yg awalnya Etatisme (komunis) kemudian bertransformasi menjadi "Sosialis - Egalitarian" itulah yg mirip utk kita. 

Negara tidak absen dalam konten, negara bukan hanya penyedia ruang dan penjaga gangguan dari Luar, Tapi ikut berperan dalam ekonomi dan Budaya. Dan intervensi negara dalam ekonomi dan Budaya adalah 2 hal yg paling ditolak Oleh Liberal, tetapi sejarah telah membuktikan bagaimana sistem Liberal murni hanya menciptakan gap yg sangat tajam antara pemilik modal dan masyarakat pekerja, gini ratio (indeks ketimpangan Ekonomi) yang sangat jauh dalam masyarakat dimana ada sekolompok masyarakat yang sangat kaya tetapi banyak kelompok masyarakat yang melarat sampai kurang makan. 

Tentu Hal ini adalah pelajaran berharga dalam sejarah, bagaimana peran negara sangat diperlukan dalam ruang-ruang kehidupan masyarakat termasuk ekonomi dan budaya.


Wadyo Pasaribu
Franz Magnis-Suseno, Pijar – pijar Filsafat, 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.