Jumat, 05 Mei 2017

Kekerasan

Dalam metafisika Abrahamik, hierarki ontologis antara Allah dan manusia menjadikan manusia sebagai obyek kekerasan. Namun, pada saat yang sama, keistimewaan manusia sebagai citra dan wakil Allah menempatkan manusia pada relasi yang bersifat antroposentristik dengan alam yang dipandang memiliki status ontologis lebih rendah dari manusia.
Sebagai citra Allah, manusia memahami alam sebagai entitas yang ada bagi manusia. Sebagai wakil Allah, manusia memiliki kewenangan untuk memanipulasi dan mengeksploitasi alam untuk kepentingan eksistensinya. Apa yang dilakukan manusia dalam berelasi dengan alam tak lain mereplikasikan kekerasan yang dilakukan Allah terhadap manusia.
Nalar kekerasan dalam metafisika Abrahamik juga tampil dalam relasi antara sesama manusia. Selain ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan, yang menjelaskan hak-hak eksklusif laki-laki yang tidak dimiliki oleh perempuan, kekerasan dalam relasi antara sesama manusia tampak dalam perebutan klaim tentang siapa di antara mereka yang sungguh-sungguh merepresentasikan Allah.

Dari sinilah berkembang berbagai oposisi baru seperti Pemimpin vs Pengikut, Iman vs Kafir, dan sebagainya, yang menjadi pembenaran bagi ketaksetaraan relasi di antara sesama manusia.
Bangsa Yahudi, misalnya, mengklaim sebagai umat yang terpilih oleh Allah (YHWH) untuk menjadi pemimpin umat manusia. Klaim sejenis juga dilakukan oleh banyak kelompok lain atas dasar supremasi etnis dan/atau keyakinan religius. Masing-masing menganggap diri sebagai umat pilihan yang mengemban tugas Ilahiah untuk “menyelamatkan dunia”.

Semangat untuk menjadi “juru selamat” ini dilegitimasi oleh mekanisme nalar yang mempersamakan hal-hal yang berbeda. Dari sini, perampasan, penculikan, atau pembunuhan yang dilakukan oleh sebagian pemeluk agama sesungguhnya adalah operasionalisasi pada tingkat praktis dari kekerasan pada tingkat teoretis.
Dengan demikian, kekerasan bukanlah dimensi yang bersifat aksidental dalam agama-agama Abrahamik.

Kekerasan yang kerap dilakukan oleh sebagian pemeluk agama-agama Abrahamik bersumber dari mitologi dalam Alkitab dan Alquran yang mengisahkan asal-usul penciptaan dan pola relasi antara Allah dan manusia, antara manusia dan alam, dan antara sesama manusia yang berhadapan secara timpang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.