Sabtu, 13 Mei 2017

Jalan Buntu

Masih Ada Waktu Keluar dari Jalan Buntu 

Kasus Ahok adalah alarm bahwa keindonesiaan sudah digerogoti. Tapi masih ada kesempatan keluar.

Dulu ada sebuah masjid tak jauh dari rumah kami. Suaranya lembut. Saya kerap bangun dini hari untuk bermain sepeda serta melihat fajar kuning ungu. Alunan dari masjid itu memberi rasa pada warna pagi. Beberapa bapak dengan sarung dan peci berjalan ke sana, tenang-tenang.

Tak saya temukan lagi rasa itu. Bertahun-tahun belakangan ini, di sekeliling saya minaret-minaret dengan suara nyalang menyiarkan penyingkiran terhadap kaum non Muslim dari kehidupan bersama. Jangan mengucapkan selamat Natal. Orang Kristen tak boleh jadi pemimpin. Kita harus membela umat Muslim yang dizalimi (tanpa pernah ada anjuran untuk membela non Muslim yang dizalimi—seolah-olah bukan urusan mereka jika non Muslim dizalimi).

Yang Muslim tapi tak sepaham pun disebut kaum munafik. Saya Kristen. Mendengar yang mereka serukan, saya tak bisa lagi melihat bapak-bapak yang beribadah itu seperti saat saya kanak dulu.

Kini pengadilan menghukum Ahok dua tahun penjara karena menista agama, padahal jaksa tidak pun menuntutkan pasal itu. Sebuah keganjilan dalam hukum. Kita semua tahu latar belakang perkara ini. Sayang, tidak semua mau mengakui bahwa Indonesia, sebagai sebuah komitmen kebersamaan, berada dalam bahaya.

Kita tahu ada beberapa pihak yang berperan menghancurkan demokrasi di mana pun: politisi busuk, pengusaha culas, aparat korup—unsur yang akan selalu ada, sebab keserakahan memang ada dalam diri manusia—dan massa. Yang memprihatinkan, vaksin yang seharusnya membentengi kita dari persekutuan jahat justru memperkuatnya.

Agama justru memberi ekspresi pada kebencian dan wujud pada permusuhan. (Pada gilirannya, kebencian dan permusuhan menjadi alat tiga elemen pertama mempolitisir massa.)

Yang diteriakkan di menara-menara membuat saya merasa tersingkir; sementara Islam yang dibicarakan di ruang-ruang intelektual membuat saya bersimpati. Di keduanya, posisi saya adalah penonton dan calon korban dari perdebatan ayat-ayat. Saya masih calon, sementara Ahok sudah menjadi korban. Ia, yang telah begitu banyak berbuat untuk kebaikan Jakarta, kini meringkuk dalam penjara. Dalam posisi ini, berikut lima butir renungan saya:

1

Saya melihat kelompok Muslim yang toleran dan anti kekerasan di satu sisi; di sisi lain yang intoleran dan menggunakan kekerasan. Masing-masing punya dalil. Secara teoretis, sebagai orang luar, saya tak tahu mana yang lebih benar.

Jika saya tidak menyertakan ideal saya sendiri tentang humanisme dalam pertimbangan, saya tidak tahu mana yang lebih benar di antara front Islam Nusantara dan FPI—sekalipun saya lebih suka yang pertama. Artinya, karena saya sudah lebih dulu percaya demokrasi dan hak asasi manusia, maka saya percaya bahwa Islam kompatibel dengan itu. Bukan sebaliknya.

2

Konsekuensi poin satu: Dengan demikian, jika orang tak percaya demokrasi dan hak asasi manusia, mereka sah punya visi tentang khilafah yang anti demokrasi dan anti hak asasi manusia. Lembaga apakah di kalangan umat ataupun ulama sendiri yang bisa menengahi pertentangan ini? Sementara ini tak kelihatan, selain pertarungan. Pertarungan yang baik adalah pertarungan ide.

Sayangnya, kaum intoleran menggunakan kekerasan untuk menghentikan adu gagasan. Kami mengalami sendiri bagaimana FPI mencoba menyerang kantor Jaringan Islam Liberal di Utan Kayu dan membubarkan diskusi feminis Irshad Manji di Salihara. Maka, di tengah ketiadaan lembaga penengah, tiada perlindungan atas adu ide, yang tersisa adalah pertarungan fisik dan kekerasan yang sesungguhnya. Jalan buntu, kalau bukan jalan kekerasan.

3

Maka, marilah kita keluar dari jalan buntu. Lembaga penengah sebenarnya ada. Dialah Indonesia tercinta. NKRI. Betapapun kita bosan mengulangi kata ini sejak SD, mungkin ini saatnya meresapi. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah wadah dalam peta dunia, dalam semangat persatuan, dengan bentuk republik (artinya demokratis), bagi Indonesia yang beragam suku dan agama.

Keindonesiaanlah yang seharusnya bisa melindungi agar pertarungan ide tidak diserobot jadi intimidasi. Dialah yang bisa menengahi adu gagasan antara kaum toleran dan intoleran, kaum liberal vs konservatif, dan lain-lain. Dan dialah yang bisa membuat saya, kita, tidak hanya duduk sebagai penonton atau calon terdakwa di hadapan dalil agama.

Wahai, bukan cuma minoritas Kristen, Tionghoa, Ahmadiyah, Syi’ah yang menjadi calon korban sistem intoleran, tapi juga umat Muslim yang diberi stigma munafik dan murtad. Maka, bangkitlah, kembali pada keindonesiaan!

4

Gagasan Indonesia memang sedang digerogoti sekarang ini. Ada tiga hal utama yang menggerogotinya. Yang pertama adalah ketidakpedulian. Yang kedua, sikap kritis dan skeptis yang berlebihan. Yang ketiga, radikalisme. Ketidakpedulian biasanya menghinggapi mereka yang pragmatis dan hanya mencari kemapanan diri. Sejauh mereka hidup nyaman, persetan dengan Indonesia.

Sikap kritis dan skeptis berlebihan banyak di kalangan intelektual dan aktivis. Sementara itu, radikalisme Islam, sudah banyak dibicarakan, juga merasuk lewat pendidikan. (Sekadar contoh: Tribunnews: Penyebaran Paham Radikal di Kampus) Masih ada waktu dan modal untuk mempertahankan keindonesiaan. Berikut beberapa jalan.

5

Wahai para seniman dan pekerja industri kreatif, buatlah kampanye "Indonesia Keren". Yakinkan generasi muda bahwa bangsa ini hebat dan mampu menawarkan jalan kebhinekaan kepada dunia. Berilah mereka harapan agar tidak larut memikirkan (lalu mendatangkan) kiamat.

Wahai para intelektual dan aktivis, teruslah kritis tetapi tawarkanlah jalan yang realistis. Jangan hanya marah dan nyinyir, berilah alternatif. Dan orang-orang beriman, berhati-hatilah agar agama tidak dijadikan jalan penyebar kebencian. Lalu, tentu saja, kita harus terus melakukan pekerjaan lama: merawat demokrasi, menghilangkan korupsi, dan lain-lain.

***

Teman saya, seorang Muslim, begitu sedih dan geram ketika hakim menghukum Ahok. Ia bilang, “Pokoknya, sekarang aku mau anjurkan teman-teman non Muslim untuk menggugat pakai pasal penistaan agama juga.” Saya anggap ini spontanitas rasa kesal saja. Kami tidak percaya “mata ganti mata, gigi ganti gigi”—apalagi jika pasti gagal.

Di Indonesia, pasal penistaan hanya berhasil jika yang marah mayoritas. Tapi, ada banyak orang seperti dia, yang percaya demokrasi, hak asasi manusia; seraya membiarkan guru agama anak-anaknya mengajarkan yang bertentangan. Daripada menyuruh orang lain balas dendam, lebih baik melihat ke dalam lalu bertindak bersama-sama. Kita bisa belajar dari Musdah Mulia, yang tak diam ketika tahu anaknya diajar oleh guru agama agar tidak berteman dengan orang Kristen. Ia mengadukan masalah itu ke kepala sekolah.

Kasus Ahok adalah cambuk keras. Alarm bahwa keindonesiaan sudah digerogoti. Strategi ini akan dipakai dalam pemilu daerah maupun nasional. Korban berikutnya bukan hanya Kristen, Cina, Ahmadiyah, Syiah, liberal, nusantara, LGBT; tapi siapapun yang akan diberi stigma kafir, murtad, munafik, sesat. Korbannya adalah keindonesiaan itu sendiri.

Masih ada waktu dan modal untuk keluar dari jalan buntu. Mari bangkit dari ketidakpedulian, skeptisisme. Selamatkan Indonesia dan jadikan bangsa kita keren!


Ayu Utami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.