Minggu, 28 Mei 2017

HTI

HIZBUT TAHRIR TELANJANG BULAT DI PANGGUNG SEJARAH

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melalui Menkopolhukam Jendral Wiranto telah melarang keberadaan ormas Hizbut Tahrir Indonesia. Meskipun belum masive mulailah demo anti HTI dan menolak HTI dimulai dari kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dan UGM.

Siapakah HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) itu?

Hizbut Tahrir bukanlah ormas (organisasi kemasyarakatan) akan tetapi partai politik transnasional yang berusaha mewujudkan kekhalifahan dunia. HT Indonesia sebagai ideologi khilafah dibawa ke Indonesia oleh Abdurrahman al Bhagdadiy seorang Libanon yang terusir karena HT menjadi partai terlarang di Libanon. Abdurrahman al Bhagdadiy pernah datang ke Indonesia dan mengajarkan ideologi HT di Jakarta tahun 1980an, namun dia sekarang memilih tinggal dan hijrah di London Inggris. Hijrah di negeri yang dianggapnya kafir dan demokratis yang dianggapnya system Jahilliyah. Kemudian datang lagi Mustofa bin Abdullah bin Nuh membawa ideologi HT dan salah satu muridnya adalah Ismail Yusanto juru bicara HTI.

Sejarah HT sebenarnya dimulai dari gerakan politik Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir tahun 1928 yang berpusat di Ismailiyah oleh Hasan al Banna. Gerakan politik ini mencoba metode harakah dan da'wah yang menggabungkan da'wah yang ada di Mesir saat itu (1928) baik tradisionil, sufiy, moderat semacam Mohammad Abduh maupun Sunny Salafiy. Tentu saja dari awal Salafiy jauh dari pemikiran Hasan al Banna dan yang lainnya yang selama ini dikritisinya. 

Sesudah perang Mesir - Israel (1948) IM yang mempunyai sayap militer Thandimul Jihad pecah menjadi dua kelompok.

1. Hasan al Banna tetap memimpin IM dan menerima demokrasi dan nasionalisme (selama kehidupan syariat berjalan).
2. Taqiuddin Nabhani mendirikan Hizbut Tahrir dan mempertahankan Thandimul Jihad sebagai perlawanan bersenjata dan militerisme dalam perjuangannya. HT menganggap bahwa kekalahan Islam adalah karena penjajahan Islam oleh system demokrasi dan nasionalisme.

Hasan al Banna meninggal tahun 1949 ditembak oleh agen pemerintahan Mesir waktu itu yang dipimpin Raja Farouk dan Perdana Menteri Nugrasi. Sayap militer Thandimul Jihad akhirnya diambil alih oleh Ikhwanul Muslimin yang dikomando Sayyid Qutub. HT berjuang di negara Syria, Libanon dan Jordania. Ketiga negara yang menerapkan nasionalisme dan monarchi. Disamping dilarang di tiga negara tersebut HT juga menghadapi da'wah Salafiy seperti di Jordania dimana Syaik Muhammad Nasharuddin al Albaniy adalah ulama salaf yang disegani. Akhirnya mereka mengadakan kudeta kepada Raja Husain namun bahu membahu antara militer dan Salafiy, Hizbut Tahrir pun terusir dari Jordania. Sementara Ikhwanul Muslimin terus memperjuangkan hasrat politik dan kekuasaannya di Mesir. IM sempat menang dalam pemilihan presiden dan menjadikan Mursi sebagai presiden IM pertama di Mesir. Akhirnya Mursi dikudeta oleh militer Mesir karena menerapkan secara keras dan kaku undang-undang Mesir yang hendak total di rubahnya.

IM dan HT di Indonesia

Kehancuran IM dan HT di negeri asalnya (Mesir, Syria, Libanon, Jordania) membuat mereka mencari basic perjuangan di luar. Di negeri mayoritas muslim kehadiran mereka di tolak. Sudah 20 negara melarang dan menolak kehadiran mereka. Mereka hanya bisa hidup di negara demokrasi, system yang mereka haramkan dan pemerintahnya mereka anggap thaghut.

Reformasi rupanya telah membawa angin segar bagi IM dan HT dimana Indonesia merasa terbebas dari rezim otoriter dan hidup di alam demokrasi. IM dan HT pernah bahu membahu meneriakkan keKhilafahan. IM kemudian menjadi parpol Partai Keadilan (PK) dan kemudian PKS karena aturan parlemen trashold yang menjadikan mereka harus merubah nama untuk pemilu berikutnya. IM sudah menyebar di pemerintahan dan parlemen di Indonesia, tidak menutup kemungkinan di militer.

Sementara HT tetap pada prinsipnya untuk membentuk kekhalifahan. Mereka menganggap bahwa Pancasila adalah system jahilliyah, namun mereka melakukan taqiah (menyembunyikan perjuangan) dengan menyatakan diri sebagai ormas da'wah.

Perjuangan HT

1. Membentuk pribadi muslim
2. Penyadaran perjuangan HT
3. Interaksi membantu masyarakat
4. Gerakan Intelektualisme
(di ISI Jogjakarta dengan KHAT (Khilafat Art Network) 
5. Merebut Kekuasaan.

Dalam pandangan HTI sudah sampai pada tahapan Merebut Kekuasaan. Di dalam Konferensi Internasional Huzbut Tahrir di Jakarta 12 Agustus 2007 mereka mengharamkan demokrasi dan Pancasila sebagai produk jahilliyah. (entah mengapa pemerintah waktu itu tidak memberangus mereka) dan akan membentuk kekhalifahan di Asia Tenggara dan Australia.

Pantaslah kalau pemerintahan yang sekarang melarang mereka, bukti sudah jelas. Hizbut Tahrir telanjang bulat di panggung sejarah!

Jakarta 2 ramadhan 1438


Rifzikka Atmadiningrat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.