Rabu, 31 Mei 2017

3 Tokoh

3 Tokoh Agama di Indonesia Angkat Suara Soal Kasus Habib Rizieq, Apa Kata Mereka?


Kasus yang menjerat pemimpin Front pembela Islam (FPI) Rizieq Shihabmembuat sejumlah tokoh agama di Indonesia angkat bicara.
Para tokoh agama tersebut mengomentari sikap Rizieq yang hingga kini belum pulang untuk pemeriksaan oleh pihak kepolisian.
Padahal kini kepolisian telah mengubah statusnya dari saksi menjadi tersangka dalam kasus chat berkonten pornografi yang melibatkan Rizieq dan Firza Husein.
Untuk diketahui, Rizieq kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi setelah diadakannya gelar perkara.

Dalam kasus tersebut, Rizieq dijerat Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan atau Pasal 6 juncto Pasal 32 dan atau Pasal 9 juncto Pasal 34 Undang-Undang RI nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.


Berikut ini pendapat beberapa tokoh agama terkait polemik kasus Rizieq.

1. Imam Besar Istiqlal Minta Rizieq Beri Contoh Baik Hargai Hukum

K.H Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta meminta kepada Rizieq supaya kembali ke Indonesia untuk menghadapi proses hukum.
Menurut Nasaruddin, sebagai ulama seharusnya Rizieq memberikan contoh yang baik bagi umatnya.
"Beliau itu ulama. Sebagai ulama, harus memberikan contoh yang baik. Masih ada alternatif hukum yang bisa dilewati," ujar Nasaruddin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (30/5/2017) dikutip dari Kompas.com.

"Akan sangat elegan jika menghadapi sesuatu dengan kepasrahan. Toh, saya yakin (Rizieq) tidak akan kehilangan umat," lanjut dia.
Rizieq sebagai warga negara sepatutnya juga patuh kepada hukum yang diterapkan di Indonesia.
Nasaruddin juga mengungkapkan, melalui pendekatan yang tepat, Rizieq pasti akan kembali ke tanah air Indonesia.

"Saya yakin kok teman saya itu akan menghargai hukum yang ada di negerinya sendiri," ujar Nasaruddin.
Nasaruddin juga berpesan kepada para pendukung Rizieq untuk tetap tenang dan memasrahkan diri kepada Allah atas apa yang terjadi.
"Kita harus menjalani garis takdir Allah. Seperti apa nasib ke depan, hanya Dia yang tahu. Kita harus menerima kenyataan," ujar Nasaruddin.

2. Ketum MUI Sarankan Rizieq Shihab Ikuti Proses Hukum

Senada dengan Imam Besar Istiqlal, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin menyarankan Rizieq untuk mengikuti proses hukum di Indonesia.

"Kalau menurut saya, kalau dia (Rizieq Shihab) bisa mengikuti proses hukum, ya lebih bagus," ujar Ma'ruf di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (29/5/2017) seperti dikutip Kompas.com.

Terkait kasus chat berkonten pornografi, Ma'ruf Amin enggan memberikan tanggapan.


3. Menteri Agama Minta Pendukung Rizieq Shihab Taati Proses Hukum

Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin juga turut mengomentari polemik kasus Rizieq Shihab.
Lukman mengungkapkan jika Indonesia adalah negara hukum yang berkonsekuensi kepada setiap warga negara untuk wajib tunduk kepada hukum.
"Ikuti saja proses hukum yang berlangsung," ujar Lukman di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (29/5/2017).

Terkait penetapan status tersangka kepada Rizieq yang berpotensi menimbulkan gejolak di antara pendukungnya, Lukman berpesan agar pendukung pemimpin FPI itu juga turut menyerahkan hal ini kepada hukum yang berlaku di Indonesia.
"Dalam masyarakat modern, beradab serta negara hukum, semua silang sengketa diselesaikan lewat hukum. Hukumlah yang menyelesaikan perselisihan di antara kita," ujar Lukman.

"Maka, kita tunggu saja bagaimana proses di pengadilan itu," lanjutnya.
Lukman juga meyakini jika hakim di Indonesia akan memberikan putusan yang adil dalam memimpin jalannya persidangan.


(Fachri Sakti Nugroho)
Rabu, 31 Mei 2017 05:55 WIB

Just Do It !

Ini kisah nyata yg terjadi pada thn 1892 di Stanford University. 

Pesan moralnya masih relevan saat ini.

Ada seorang mahasiswa muda berusia 18 tahun yg berjuang untuk membayar biaya kuliahnya. 

Dia seorang yatim piatu, dan tidak tahu ke mana harus mendapatkan uang. 

Akhirnya dia dapat ide yg cemerlang. 

Bersama seorang temannya, ia memutuskan utk menggelar konser musik di kampus guna mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan mereka.

Konser itu mereka adakan dgn mendatangkan pianis besar Ignacy J. Paderewski. 

Manajer sang pianis  meminta biaya sebesar $ 2.000 untuk konser piano. 
Sebuah kesepakatan pun terjadi. 

Dua anak muda itu pun mulai bekerja untuk membuat konser sukses.

Hari besar tiba. Paderewski akan melaksanakan konser piano di Stanford University.

Tapi sayangnya, si kedua mahasiswa tidak berhasil menjual tiket sesuai target. Total tiket yg terjual hanya $ 1,600. 

Keduanya kecewa, Mereka lalu pergi ke Paderewski dan menjelaskan keadaan mereka. 

Mereka memberikan seluruh uang $1,600, ditambah dgn cek sebesar $ 400. 

Kedua mahasiswa tsb berjanji untuk melunasi cek cepatnya.

"Tidak" kata Paderewski. "Aku tidak dapat menerima." Dia menyobek cek, mengembalikan uang $1,600 sambil berkata kepada kedua mahasiswa, "Ini uang $1,600 kalian ambil. Gunakanlah untuk biaya kuliah kalian." 

"Aku akan mainkan konser piano tanpa perlu kalian bayar !"   

Kedua mahasiswa  terkejut, dan mengucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya.

Bagi Paderewski, yang dilakukannya adalah tindak kebaikan yang kecil. 

Tapi jelas itu menunjukkan bahwa Paderewski seorang manusia yang besar. 

Mengapa ia harus membantu kedua mahasiswa tsb yang bahkan dia tidak kenal sama sekali.? 

Kita semua juga sering menemukan situasi seperti ini dalam hidup kita.

Dan kebanyakan dari kita hanya berpikir "Jika saya membantu mereka, apa yang akan terjadi padaku?"

Kalau seseorang itu benar2 baik dan bijak, dia akan berpikir, "Jika saya tidak membantu mereka, apa yang akan terjadi dgn mereka?".

Orang2 yg baik dan bijak tidak akan melakukannya dengan mengharapkan balasan.

Mereka melakukannya karena mereka merasa itu adalah hal yang benar yang harus dilakukan.

Sebagaimana diketahui, Paderewski kemudian menjadi Perdana Menteri Polandia. 

Dia seorang pemimpin yg besar, tapi sayangnya ketika Perang Dunia I dimulai, Polandia dilanda kelaparan. 

Ada lebih dari 1,5 juta orang kelaparan di negaranya, dan tidak ada uang utk memberi makan mereka.

Paderewski tidak tahu ke mana harus berpaling utk minta bantuan. 

Dia mengulurkan tangan ke Administrasi Makanan dan Bantuan AS untuk minta bantuan.

Presiden AS saat itu, Herbert Hoover, setuju utk membantu dan cepat dikirim berton-ton bahan makanan untuk rakyat Polandia yg kelaparan. 

Akhirnya sebuah bencana dapat dihindari.
Paderewski lega. 

Dia memutuskan untuk pergi bertemu dengan Hoover secara pribadi guna berterima kasih kepadanya. 

Ketika Paderewski mengucapkan terima kasih kepada Hoover atas sikap mulianya, Hoover cepat menyela dan berkata, "Anda tidak harus berterima kasih kepada saya, Pak Perdana Menteri."

"Anda mungkin sudah lupa, tetapi saya tidak akan pernah dapat melupakannya." 

"Beberapa tahun yg lalu, Anda membantu biaya kuliah dua mahasiswa muda di Stanford University. Saya adalah salah satu dari mereka...."

Dunia adalah tempat yg indah. 

Apa yg terjadi di sekitar kita biasanya datang dari apa yg telah kita lakukan.

*Pada saat kita ada kesempatan untuk membantu sesama, JUST DO IT !!!*

Jangan pernah menghitung-hitung dan mengharapkan balas budi. 

Kita tidak perlu tahu dari mana dan dengan cara apa balasan itu akan datang kepada kita.


πŸ”ΉπŸ”ΈπŸ”Ή

Bongkar Selubung

Eks pentolan Hizbut Tahrir bongkar selubung proyek khilafah.



Eks pentolan organisasi trans-nasional Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ainur Rofik secara terbuka mengungkap selubung penyesatan dibalik proyek khilafah. Menurutnya, HTI dengan ideologi khilafahnya cenderung mendramatisir dalil-dalil keagamaan dalam Islam untuk memperluas pengaruhnya termasuk di Indonesia.

Menurut Ainur, sebenarnya HTI selama ini cenderung menggunakan dalil yang kurang shohih dalam meyakinkan para anggotanya untuk mendukung proyek pemerintahan negara Islam. 

"Yang ingin saya katakan HTI, sering mengunakan dalil debatable. tetapi itu diyakinlan sebagai yang benar. Dia menggambarkan, ingin menetapkan khilafah mulai jaman rasul. Dia memaksakan dalil. Itu yang saya sebut inagurasi dalil," ujar Ainur dalam Bedah Buku "Membongkar Proyek Khilafah HTI" di D`hotel Jalan Sultan Agung 9, Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Dalam kesempatan tersebut Ainur membuka berbagai tabir kepalsuan HTI dengan berbagai media dakwah yang dilakukannya. Ia menghimbau agar masyarakat jangan mudah percaya dengan dalil dakwah HTI yang menurutnya semata agitasi untuk ideologisi khilafah.

"Kalo anda ketemu Hizbut Tahrir jangan terlalu meyakini, itu hanya hasil ijtihadnya ulama mereka. Tapi sayangnya ini bagi penggikutnya dianggap kebenaran," ucapnya.

Ainur sebagai penulis dari buku Membongkar Proyek Khilafah HTI tersebut mengatakan didalam pemikiran HTI terdapat rekayasa pemahaman seolah Khilafah merupakan satu keharusan dalam ajaran Islam.

"Khilafah seolah sama dengan Islam. Kalo anda menafikan khilafah, anda menafikan Islam. Dia berusaha mengonstruk mabdak, untuk memperkuat ideologi khilafah," ungkapnya. 

Ainur menjelaskan HTI mewajibkan anggotanya mempunyai buku panduan atau buku wajib. Buku wajib tersebut, kata dia, dinilai sebagai panduan yang mempunyai nilai yang terpercaya.

"Sebanyak 18 kitab. Disitu membicarakan bagaimana cara memasarkan khilafah mereka. Kemudian HTI dalam metodologinya, untuk memperoleh khilafah mereka memiliki cara, dan cara ini baku, istilahnya tarekah, dan cara ini wajib dilakukan karena meniru nabi," jelasnya. 

Lebih lanjut Ainur menyampaikan masifitas tehnik rekrutmen kader HTI. Dalam proses kaderisasi, ungkap Ainur, HTI serius mengajarkan para pengikut dengan buku panduan yang dimilikinya.

"Misalkan dengan metode taskif. Istilahnya membina atau mengkader. Mereka lebih serius dan tidak senang guyon. Mereka ditawari tentang gagasan HTI," terangnya.



Jakarta -
Jurnas. com
(Hatim) 

Imut

Wanita Tak Pernah Salah... 

Diana      : "Pah, pasangan itu engga banget deh"
Ahong  : [trauma]

Diana      : "Papaaah...kok melengos sih..lihat donk... Itu lhoo suaminya ganteng imut kaya sahrul gunawan, Istrinya kok tua bener ya pah?"
Ahong  : [nengok sekilas] Hmm...

Diana      : "Papah kok nggak komentar sih? Pasti papah ngerasa senasib kan sama bapak-bapak itu? Iya kan? Papah ganteng, imut, awet muda, sedangkan Mamah cepet tua. Iya kan? Udah deh ngaku aja.."
Ahong  : #sakitjiwaedan

Re-inventing Pancasila

Indonesia tersedak. 

Pancasila yang kita banggakan, hormati dan junjung tinggi sebagai dasar negara yang mempersatukan bangsa, ternyata selama ini acap terbengkalai. Bahkan kadang kita acuhkan.

Mungkin kita terlalu sibuk dengan bermacam hal darurat yang cenderung bersifat teknis. Entah  memperbaiki yang rusak, merapikan yang terbengkalai, menata yang berantakan, mengejar yang ketinggalan, hingga mengumpulan, mengembangkan, dan membangun yang tersisa. 

Kesibukan yang menyita waktu dan energi yang tak sedikit itu,  nyatanya terus-menerus digoda, dijahili, diganggu, dihalangi, bahkan dipecundangi. Sebagian besar oleh segelintir pihak yang sebelumnya justru merupakan penyumbang terbesar dari semua kekacauan itu. 

Ya, 32 tahun kekuasaan Orde Baru terlalu gegabah dan terang-terangan mencederai -- bahkan mengkhianati -- keluhuran makna filosofis dari Pancasila itu sendiri. Begitu banyak lakon dan laku yang dipertontonkan Suharto bersama kroni-kroninya yang jauh melenceng bahkan bertolak belakang. 

Saya maklum pada upaya sejumlah pihak yang mencoba mengangkat romantisme saat P4 -- Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila -- digalakkan di masa pemerintahan Suharto dan Orde Baru dulu. Tapi sayapun tak mampu menyembunyikan senyum yang kecut jika mengingat masa-masa itu. Berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan yang ada di sekeliling, program penataran itu, sesungguhnya banyak dilakoni semata karena keharusan. Bahkan acap membebani dan miskin penjiwaan. Semata-mata karena terlalu banyak hal yang berlaku sehari-hari di sekitarnya yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang sedang dipompakan kegiatan itu. Tapi, di tengah iklim kekuasaan pemerintah yang represif saat itu -- ketika kebebasan berpendapat dan menyuarakan kebenaran justru sering dibungkam semena-mena -- bagaimana mungkin sikap kritis mempertanyakannya bisa berkembang? 

+++

Adalah sesuatu yang wajar dan sama sekali tidak berlebihan jika saat ini muncul dugaan yang kuat tentang runtuhnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila pada sebagian anak bangsa. 

Adalah semestinya pula jika pemimpin dan penguasa negara kita -- bersama seluruh tokoh dan pemimpin elemen masyarakat -- kembali menyuarakan pentingnya kesetiaan bangsa ini terhadap keluhuran Pancasila. 

Tapi agaknya harus dipahami sekaligus disadari bahwa maksud maupun upaya tersebut, saat ini, berhadapan dengan tantangan dan persoalan yang lebih kompleks. 

Pertama karena iklim demokratisasi kita yang jauh lebih baik sehingga kini siapapun leluasa bersikap lebih kritis.

Kedua, kemajuan teknologi yang merevolusi kemudahan penyebaran informasi, telah menyebabkan lompatan budaya dalam kehidupan masyarakat. Hoax merupakan keniscayaan yang tak perlu diratapi. Sebaliknya, justru berbagai upaya terobosan dan kreatif untuk menyasatinya yang perlu terus menerus dikembangkan.

Ketiga, semua pihak justru harus digalang untuk berlomba memamerkan keteladanan-nya dalam menghayati dan mengamalkan Pancasila. Sebab hari ini, pemahaman konsepsi nilai lebih dipengaruhi oleh aksi-aksi nyata yang menginspirasi dan mampu menjadi trending. 

Keempat, bersikap dan bertindak lah secara tegas kepada siapa pun yang mencoba mengkhianati Pancasila. Bukan hanya yang berkait langsung maupun tidak langsung dengan sila pertama, tapi justru juga pada pemahaman dan pengamalan sila-sila lainnya. Termasuk meluruskan berbagai amanah konstitusi yang beberapa diantaranya telah diupayakan memiliki payung hukum. Seperti kekuasaan negara terhadap hal-hal yang terkait dengan kepentingan publik, tanggung jawab sosial dari setiap warga negara, kesetaraan di muka hukum, dan seterusnya. 

+++

Indonesia telah ber-evolusi, sejalan dengan perkembangan maupun asam-garam zaman yang dilaluinya. Kita harus mampu dan bijak menyikapinya sesuai kodrat hari ini dan masa depan. Bukan berkutat di masa lalu yang jelas telah usang dan ketinggalan. 

Jilal Mardhani, Ramadan #6, 2017

Tawon & Elang

BELAJAR DARI KISAH TAWON DAN ELANG


Di pagi yang cerah, di antara rindangnya pepohonan, tampak seekor burung elang sedang bermalas-malasan beristirahat di dahan sebatang pohon. Selama beberapa hari burung elang berulang kali hinggap di dahan pohon yang sama karena tertarik mengamati kegiatan segerombolan tawon (lebah) yang terlihat sibuk bekerja bersama-sama membuat sarang yang berjuntai di dahan sebatang pohon.

Tampak seekor tawon sebentar terbang hinggap di antara bunga-bunga hutan yang mekar, mengisap sari madu, dan terbang kembali ke dahan memberikan sari madu ke sarangnya, dan begitu seterusnya. Burung elang dengan tidak sabar menegur seekor tawon yang sedang terbang di dekatnya, "Hai tawon kecil, kamu sibuk terbang dari satu bunga ke tempat sarangmu, memangnya apa yang sedang kamu kerjakan?"

Tawon pun menjawab: "Aku dan kawan-kawan sedang membuat sarang."

"Untuk apa kalian repot membuat sarang sebesar itu? Umur tawon kan sangat pendek. Sudahlah..., tidak perlu susah-susah bekerja! Santai-santai saja dan nikmati kehidupanmu yang singkat itu." Demikian burung elang menasihati si tawon.

"Umurku memang tidak sepanjang umurmu burung elang. Tapi justru karena pendeknya waktu yang aku punya, aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Aku harus bekerja giat dan lebih rajin agar sarang kami bisa selesai sesingkat umur kami," jawab tawon.

"Untuk apa sarangmu harus diselesaikan cepat-cepat, toh kamu akan segera mati," elang menanggapi dengan cepat. "Maka, kamu pun tidak bisa menikmati sarang yang telah dibuat dengan susah payah."

"Hahaha, tuan elang yang gagah dan berumur panjang, kasihan sekali caramu berpikir. Justru umur kami yang singkat inilah yang harus kami hargai dengan sungguh-sungguh. Kami memang makhluk kecil dan berumur pendek tetapi kami bangga dan bahagia karena bisa berarti bagi makhluk lain yaitu dengan memberi semua hasil kerja keras yang telah dilakukan seumur hidup kami. Itulah arti keberadaan kami," pungkas tawon kecil sambil terbang berlalu.

Mendengar ucapan tawon kecil, si burung elang terdiam. Ia tidak mampu berkata-kata lagi dan bersombong diri. Ternyata di balik penampilan makhluk yang kecil dan berumur pendek, kehidupan mereka pun memiliki arti tersendiri.

Kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan berakhir. Tetapi jika di setiap penggal waktu yang kita punya, kita punya dedikasi untuk melakukan yang terbaik serta mampu bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri (apalagi juga bermanfaat bagi orang lain) niscaya tiap hari yang kita jalani adalah hari yang penuh optimise dan produktif.


πŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜† πŸ˜ŠπŸ€—πŸ˜‡
Andrie Wongso
April 7, 2016


Ganti Nama

CERITA JAMAN ORDE BARU 

Waktu itu, semua orang keturunan Tionghoa harus ganti nama menjadi nama Indonesia.
Seorang Tionghoa yg sudah tua datang ke kantor Catatan Sipil mau ganti nama Indonesia.

Dia bilang ke petugas :
" Pak, saya mau ganti nama, tapi gak tahu pilih nama apa?"

Petugas catatan sipil, acuh tak acuh (seperti umumnya pegawai negeri) menjawab :
"Pakai nama Kasnowo saja !"

Tionghoa tua : "itu artine apa pak?"                            

Petugas (masih males malesan) : "Kasnowo =  Bekas Cino dadi Jowo..."

Tionghoa tua : "Oh... gitu ya pak..."

Tionghoa tua  berlalu dan terus menulis di formulir isian.

Setelah 10 menit formulir dikembalikan.

Petugas (mendelik 😳 karena kaget) : "Lho... ini kok namanya ditambahi Kasnowo Diponegoro? Apa artinya...?"

Tionghoa tua (dengan kalem menjawab) : "Bekas Cino Dadi Jowo Dipekso Negoro..."

😝😝😝
Mringizzz....Shitikk...*😜

Sosok

taman dilihat dari jendela
ada bunga bakung, gardenia, melati dan cempaka
aku dapat melihat, aku tak terlihat
namun mereka membayangkan sosok samar
di balik jendela

tirai langit kemudian dibuka
sehingga hujan turun dengan leluasa
air mata
ibu-ibu yang merangkulmu,
para pengguna busway sepertiku
penyapu jalan yang gajinya meningkat 3 kali lipat
mengucapkan selamat tinggal dengan hormat

Selasa, 30 Mei 2017

Batman vs Superman

apakah worthy menghidupkan kembali Jendral Zod demi sebuah kekuasaan,
Lex Luthor?
dengan itu Bruce Wayne bersumpah membunuh Clark Kent dengan tombak krypton

dunia sebentar lagi kiamat,
pada layar televisi yang membuatku terkantuk
"jarak terpendek dari segitiga Euclid adalah garis lurus", katamu terbata-bata kepada Lois Lane
langit Metropolis merah membara
hujan deras membasuh sayap Superman 
sungguh malam jahanam

pada jam 11 
debu serbuk hijau sempat melumpuhkanmu
baku hantam cukup imbang
diselingi deram halilintar sebagai musik pengiring

tuhanku,
mengapa engkau mendiamkan kehancuran ini?

"sudah kuciptakan dunia untukmu 
dalam 6 hari
sekarang saatnya aku bertahta 
pada singgasana Arsy, 
apakah aku tidak boleh beristirahat?" 
dia menggerutu

film sudah merambat 120 menit,
belum ada tanda kekacauan akan berakhir
bersyukur sutradara memunculkan Wonder Woman
pertarungan diteruskan
Metropolis diselamatkan 
manusia jua yang bisa mengalahkan Zod

namun dajjal itu tidak bisa mati,
menjelma kembali dalan bentuk ISIS, HTI, F..



Minta Maaf

Salah satu ajudan Bung Karno (BK) bernama Maulwi Saelan mempunyai kisah menarik. 

Suatu hari ia berbantah-bantahan dengan BK. “Kalau marah, mata Bung Karno merah. Ia langsung masuk kamar,” katanya. 

Tak lama kemudian BK keluar kamar dan memanggil Maulwi  dalam bahasa Belanda “Komm je hier maar (Kemarilah kamu),” kata BK. 

“Mampus, saya pasti dipecat,” pikir Maulwi. Namun apa yang terjadi kemudian? 

“Kamu benar, maafkan saya,” kata BK meminta maaf pada Maulwi.

Kesediaan untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan, menandakan kebesaran hati si pemimpin.

Suatu saat jika kita dipercaya untuk menjadi pemimpin,  apakah kita sudah siap untuk rendah hati dan mau melayani?

Orang yang rendah hati tidak akan bersikap membenarkan diri. Ia menyadari dirinya toh masih manusia yang bisa saja khilaf. 

Jiwa yang kerdil melemparkan kesalahan pada orang lain, namun 
JIWA YANG BESAR mengakui KESALAHAN DAN MEMINTA MAAF

"Be civil to all, sociable to many, familiar with view, friend to one, enemy to none"
--- Benjamin Franklin

Selamat pagi

Gelora Baru

Gelora Baru Sukarno


Tampaknya Bung Karno dan Pancasila belakangan ini memperoleh sebuah relevansi baru, a new lease of life.

Setelah pertentangan tajam dalam Pilkada DKI serta hukuman penjara yang menimpa Ahok secara tidak adil, kita kini merasa perlu menggali sejarah. Sebuah diskursus baru dalam soal negara dan Islam yang berakar di masa silam. Sebuah inspirasi untuk mengurangi kecemasan kita dalam menghadapi radikalisasi politik agama di masa mendatang.

Mungkin saja. Yang jelas, Bung Karno memang masih terus menggetarkan, bukan sosoknya sebagai penguasa tertinggi atau Pemimpin Besar Revolusi, namun sebelum itu, bahkan jauh sebelum itu. 

Buat saya, dua sosok Bung Karno yang paling menarik adalah “Bung Karno 1 Juni” dan “Bung Karno in exile.” Yang satu adalah politisi peletak dasar negara, yang satunya lagi adalah intelektual muda dalam pembuangan yang ingin mendobrak kebekuan berpikir pada zamannya. Kedua sosok ini pada esensinya berbeda, namun saling melengkapi: inilah yang perlu digali kembali kalau kita mau mencari pelajaran dalam konteks Indonesia sekarang.

Dalam hal Bung Karno 1 Juni, kita tentu berbicara tentang pidatonya dalam Sidang BPUPKI di ujung penjajahan Jepang, yang kerap disebut sebagai pidato kelahiran Pancasila. Pidato ini adalah racikan seorang maestro, atau mungkin lebih tepat: dalang piawai.

Ia adalah pidato terbaik Bung Karno sepanjang karir politiknya. Jika di Amerika Serikat ada Gettysburg Address dari Abraham Lincoln yang tersohor itu, di Indonesia kita bisa berbesar hati, sebab oratori Bung Karno dalam mengantarkan kelahiran Pancasila mungkin lebih baik, atau setidaknya sama kualitasnya dari segi teknik pembawaan, diksi, hentakan dan kedalaman isinya.

Singkatnya, lewat pidato ini Bung Karno memberi pelajaran berharga dalam soal retorika. Tapi tentu bukan ini alasan utama mengapa tokoh kelahiran Surabaya itu dan pidato Pancasila sekarang memperoleh relevansi baru. Kita tertarik pada argumennya. Kita ingin melihat bagaimana tokoh terpenting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan itu membujuk serta “mencari persetujuan faham” di kalangan pimpinan dan anggota BPUPKI yang mewakili kemajemukan Indonesia pada momen historis itu.

Dan mungkin paling penting: kita ingin lebih memahami bagaimana Bung Karno menyusun kata dan penjelasan untuk menyerap, sekaligus membalikkan, argumen dari tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Ketua PP Muhammadiyah, yang menuntut agar syariat Islam menjadi dasar negara bagi Republik Indonesia yang akan segera dibentuk.

Tuntutan Ki Bagus, beserta dilema di baliknya, adalah soal paling pelik dalam rapat BPUPKI. Kalau dituruti, Indonesia akan menjadi negara agama, teokrasi. Kalau tidak, tokoh-tokoh Islam mungkin akan memboikot dan Republik Indonesia pecah bahkan sebelum hari kelahirannya.

Karena itu, bagi Bung Karno, pidato 1 Juni 1945 adalah sebuah momen to be or not to be. Dalam kata-kata Goenawan Mohamad, sastrawan dan salah satu penafsir Pancasila yang paling perceptive: saat itu Bung Karno sedang meniti buih. Bung Karno sendiri, dalam pengakuannya kepada Cindy Adams, menjelaskan bahwa semalam sebelumnya selama beberapa lama dia berjalan di bawah gelapnya langit Jakarta, berdoa serta mencari inspirasi.

Jalan keluar yang dia pilih, sebagaimana yang bisa kita baca dalam teks pidato yang dicatat lengkap oleh E. Karundeng, adalah metode khas kaum politisi: kompromi dan “persatuan hati.” Konsep dasarnya adalah negara kebangsaan, tempat segala golongan yang berbeda, termasuk golongan agama, dapat hidup bersama secara damai dan produktif. Untuk menambah daya tarik konsep ini, Bung Karno menyitir ungkapan “satu buat semua, semua buat satu,” sebuah frasa dari tradisi Latin yang dipopulerkan oleh Alexandre Dumas dalam novel Three Musketeers, unus pro omnibus, omnes pro uno.

Adalah testimoni pada kemampuan retorika Bung Karno bahwa dalam menjelaskan konsep yang mudah ini, dia merasa perlu bertamasya secara intelektual serta menyarikan pandangan filsuf, tokoh politik atau pemikir besar seperti Mahatma Gandhi, Sun Yat Sen, Otto Bauer, dan Ernest Renan. Penjelasan ini begitu menyatu dalam tarikan nafasnya, begitu efektif dan memukau.

Negara kebangsaan, bukan negara agama: itulah intinya, dan selebihnya adalah kembangan yang mengikutinya, termasuk lima sila yang menjadi acuan dasar dalam penyelenggaraan konsep negara kebangsaan ini -- ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, perwakilan dan keadilan sosial.

Di tangan seorang politisi biasa, atau seorang pembicara medioker, uraian mengenai konsep negara kebangsaan yang dijabarkan ke dalam lima sila pasti akan kering dan menjemukan (ada yang ingat penataran P4 di zaman Orde Baru?). Namun di tangan seorang orator seperti Bung Karno, butir-butir dalam Pancasila menjadi filosofi yang hidup, saling mengisi, bergelora, seperti gelombang laut yang indah dengan hawa menyegarkan.

Bahkan seperti pemain sulap, Bung Karno berkata bahwa Pancasila bisa dia ubah menjadi Trisila atau Ekasila. Yang terakhir ini adalah negara gotong royong (“Alangkah hebatnya! Negara gotong royong, saudara-saudara!”). Saking terpukaunya, para hadirin yang ada di hadapan Bung Karno saat itu tidak ada yang bertanya atau mengajukan interupsi, apa hubungan, misalnya, antara prinsip ketuhanan dan gotong royong. Yang terjadi adalah, seperti dicatat stenografis E. Karundeng, tokoh-tokoh BPUPKI di gedung Volskraad tua itu menyambut kristalisasi Pancasila menjadi Ekasila dengan tepuk tangan bergemuruh.

Perlu diperhatikan juga bahwa di tengah semua itu, ada sesuatu yang sebenarnya terasa lain, sebuah non-sequitur: Bung Karno sampai beberapa kali meminta maaf, khususnya kepada Ki Bagus Hadikusumo (“Maafkan... saya pun orang Islam.”) Dengan semua ini kita bisa merasakan bahwa terbersit semacam kecemasan, sekaligus sikap defensif, di balik pembawaan ekspresif Bung Karno manakala dia berbicara soal Islam, atau ketika dia meminta tokoh-tokoh Islam untuk menerima konsep negara kebangsaan.

Barangkali untuk menutup kecemasan tersebut, Bung Karno mengulurkan sebuah consolation prize: di dalam negara kebangsaan pasti ada “perjuangan faham,” dan untuk itu silakan kelompok Islam “bekerja sehebat-hebatnya” dalam lembaga perwakilan agar “hukum-hukum yang keluar (adalah) hukum Islam pula.”

Lewat kalimat ini, misi pidato 1 Juni sebenarnya sudah selesai, bukan dengan penutup, tetapi dengan sebuah kemungkinan. Negara kebangsaan adalah sebuah panggung bersama: tarian, penari serta musik seperti apa yang kita mainkan di panggung ini adalah bagian dari perjuangan masing masing, termasuk golongan atau kekuatan politik Islam.

Pada titik ini kita mungkin bisa bertanya: tarian itu, atau musik yang dimainkan, apakah bentuk dan karakteristiknya sudah selesai, given? Apakah ia berubah, menjadi lebih baik atau sebaliknya, dan adakah yang bisa dilakukan untuk memastikan arah perubahan ini?

Dengan pertanyaan sederhana seperti itu, saya cenderung mengambil kesimpulan bahwa betapapun mengagumkan dan pentingnya pidato 1 Juni, konsep dasar di dalamnya harus dilengkapi dengan sesuatu yang lain. Panggung saja tidak cukup. Kita tidak bisa membuat panggung dan kemudian hanya berpangku tangan pada apapun yang terjadi di atasnya.

Sejauh kita berbicara mengenai hubungan negara dan Islam dalam konteks demikian, maka “sesuatu yang lain” tersebut adalah Bung Karno-in-exile, seorang aktivis muda dalam pembuangan panjang di Ende dan Bengkulu, seseorang yang, dalam kata-katanya sendiri, mengambil peran sebagai “pendobrak kebekuan berpikir dalam Islam.” Yang satu menyatukan, merangkul kekuatan Islam dalam sebuah shared political community, yang satunya lagi mengubah dari dalam, mendorong agar umat Islam sendiri bergerak bersama zaman sehingga menjadi bagian dari kemajuan bersama. 

Itulah kenapa di atas tadi saya menyinggung bahwa kedua sosok Bung Karno pada masa pra-Proklamasi adalah dua sumber inspirasi yang saling melengkapi.

Bung Karno 1 Juni adalah seorang politisi matang berusia 44 tahun yang menerima Islam sebagai suatu kenyataan politik, dan karena itu dia harus mengakomodasikan realitas ini, bukan mengubahnya. Sebaliknya, Bung Karno sang pendobrak adalah seorang intelektual-aktivis yang resah dan dari  tempatnya terbuang ingin mengubah realitas masyarakat Islam yang ditemuinya sehari-hari.

Dalam salah satu tulisannya dari Bengkulu di majalah Pandji Islam (1940), Bung Karno berkata bahwa masyarakat kini bukan lagi “masyarakat onta, tetapi masyarakat kapal terbang.” Namun Islam telah membeku, terlalu mementingkan “jubah, tasbih dan celak mata.” Kini saatnya Islam mengembalikan “peran akal” dari penjara seribu tahun, menjadi modern dan merebut kemajuan. “Hanya dengan beginilah kita boleh dengan sebenar-benarnya menamakan diri kita umat Nabi Muhammad dan bukan umat kaum fiqh atau umat kaum ulama.”

Adakah self-reflection dan formulasi yang lebih baik dari itu? Kalimat yang terang benderang, dengan verve yang kental, jelas ke mana dia ingin melangkah.

Itulah Bung Karno sang pendobrak. Dan barangkali pesan, gelora, dan optimisme seperti itulah yang sekarang perlu kita kabarkan kembali, khususnya kepada generasi muda Islam yang sedang mencari tempat berpijak.

Sukarno is dead. Long live Sukarno!


Rizal Mallarangeng