Kamis, 20 April 2017

Wisanggeni Gugur

Dalam kitab Mahabharata disebutkan bahwa Wisanggeni adalah anak keturunan dari Arjuna dengan Dewi Dresnala bidadari dari Kahyangan. Berbagai keanehan atau ketidak laziman telah menyertai kemunculannya didunia pewayangan. Dia lahir dan besar seketika di api kawah Candradimuka. Dia sakti luar biasa. Bisa terbang, bisa masuk kedalam bumi dan lautan. 

Dia punya satu obsesi saja dalam hidupnya yakni : menegakkan kebenaran. Oleh karena itu tak satupun yg ditakutinya. Jangankan manusia, bahkan para Dewa termasuk Sang Hyang Girinata akan dilawannya bila bertindak tidak benar. Dia tidak berdiri dipihak manapun. Walaupun ayahnya adalah salah satu dari Pandawa, ia tetap berdiri netral. 

Ia tidak bisa berbahasa halus. Kepada siapapun ia menganggap sederajat, dan ia akan bicara dengan bahasa "ngoko" atau bahasa orang awam atau rakyat kebanyakan. Dengan bahasa itu ia bicara blak-blakan, apa adanya tanpa basa basi. 

Keadaan ini membuat kacau dunia wayang. Banyak sekali musuh2nya dari segala penjuru. Bahkan para Dewapun berusaha membunuhnya. Diapun menyadari keadaan itu. Tetapi ia tak dapat menghindari apalagi mengingkari takdir hidupnya yaitu membasmi ketidak benaran. 

Hal ini benar2 membebani Arjuna sebagai ayahnya. Bahkan Prabu Kresna, titisan Dewa Wisnu dan penasehat Pandawa juga khawatir. Apabila nanti Wisanggeni tahu kalau pihak Kurawa telah berlaku tidak benar, maka pasti dia akan memusnahkannya. Bila ini terjadi maka Bharatayudha yang merupakan skenario takdir alam semesta, akan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Menurut takdir alam semesta pewayangan, kebenaran dan ketidak benaran merupakan unsur dinamika abadi alam semesta. Tidak bisa salah satunya ditiadakan. Bharatayuda adalah sekedar momentum puncak pertarungan keduanya. Pertarungan kelompok sifat2 baik dan kelompok sifat2 buruk. Karena itu Wisanggeni harus dihentikan.

Perlu diketahui bahwa arti kata Wisanggeni berasal dari kata Wisa yang berarti bisa (racun) dan Geni yang berarti api. Ia dapat membunuh lawannya hanya dengan menjilat bekas kakinya atau dengan meniup bayangannya saja. Maka akhirnya Sri Bathara Kresna berdialog dengan Wisanggeni dan minta agar ia membiarkan alam semesta berjalan sesuai takdir ceriteranya yaitu bahwa kebenaran dan ketidak benaran akan selalu ada selamanya. 

Wisanggeni akhirnya dapat mengerti dan bersedia untuk mundur dari percaturan jagad raya. Ia kemudian mejilat bekas tapak kakinya sendiri. Wisanggeni kemudian gugur. Gerimis turun dari langit kelabu. Para Bidadari menangis dan menaburkan bunga duka cita....

Alam semesta kembali seperti semula. Kebenaran dan ketidak benaran beriringan... abadi !!!

TAMAT

Silahkan cerna dan interpretasikan sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.