Sabtu, 08 April 2017

Tirai Bambu

Akhir Maret 2010 dunia dikejutkan ketika produsen mbl asal China, Geely diumumkan akan segera mengakuisisi Volvo. 
Dunia makin terbelalak ketika Lenovo yg dimotori para alumni Chinese Academy of Sciences mengambil alih raksasa komputer dari AS, IBM.
Apalagi ketika China mampu menciptakan processor yg lbh hebat dari Intel shg mrk secara mandiri bisa menghasikan produk MRI kelas dunia. Dan itu lahir dari dapur riset Chinese Academy of Sciences.

China punya 17 juta mahasiswa yg mayoritas ambil jurusan sains & teknik. Tiap thn tak kurang dari 325 ribu insinyur dihasilkan. Dan tiap thn China keluarkan USD 60 milliar untuk riset & pengembangan.
Saat ini, fokus laboratorium² China diarahkan untuk mendukung inovasi kaum entrepreneur untuk hasilkan produk yg bagus & murah.

Kemajuan China skrg tak lepas dari semangat kemandirian dari kaum terpelajarnya yg mrpkn komunitas elite (cuma segelintir sarjana S1 nya dari total populasi). Tp kesempatan jadi sarjana ini benar² mrk maksimalkan untuk ambil bagian dlm membawa peradaban bangsa ke tingkat yg lbh tinggi. 

China punya Silicon Valley spt Qingdao. Hebatnya kota nelayan ini jg punya Laoshan yg mrpkn kawasan indah berhawa sejuk yg ditetapkan sbg kawasan Industri High Tech. Di kawasan inilah berdiri berbagai perusahaan High Tech yg melakukan berbagai inovasi di bidang IT. Mrk terhubung dgn > 100 kampus terbaik di China dan bbrp lembaga riset.

Dari business software IT saja wilayah ini menghasilkan devisa > USD 40 miliar/thn (lbh besar dari income MIGAS kita). Gaji seorg insinyur di Qingdao cuma 1/5 gaji insinyur di AS & Eropa dgn kualitas kerja yg sama. Biaya hidup di Qingdao jg sangat murah, ini mengundang bnyk perusahaan asing melakukan investasi & inovasi produk dgn menggandeng insinyur Qingdao.Tentu mrk jg hrs bermitra dgn pengusaha lokal. Disinilah terjadi sinergi hebat antara SDM, market & investor.

China gak punya kebun kelapa sawit tp memiliki downstream CPO terluas di dunia. Dari oleokimia, oleopangan, dan oleo non food/oleo non edible mencakup ratusan item produk yg dihasilkan oleh ribuan industri hilir CPO. Indonesia yg punya kelapa sawit, tp mrk yg dapatkan nilai tambah luar biasa besarnya. Itu semua berkat kehebatan visi China menjadi negara industri modern dgn dukungan riset. Nilai ekspor produk turunan CPO China lbh besar dari nilai penerimaan devisa kita sbg penghasil CPO.

Pertumbuhan cepat China krn adanya paradigma baru stlh era Deng yaitu lahirnya New Wave of Entrepreneurs dari kalangan kampus. Mrk terpelajar dan sangat mudah menerjemahkan kebijakan pemerintah untuk melompat ke masa dpn.
Sebagian besar yg kini jadi 1.000 org kaya China adlh para sarjana alumni Chinese Academy of Sciences.

Andaikan dulu para sarjananya lbh memilih jalur aman berkarir sbg karyawan, mgkn sampai skrg China msh akan terbelakang. Tantangan masa dpn cuma bisa dijawab oleh kaum terpelajar dan itu didukung oleh kemauan mrk untuk berwiraswasta menjadi hero bagi keluarga & negaranya. Jadi memang budaya suatu bangsalah yg membuat bangsa itu kuat melewati putaran jaman.


Tuh kondisi saat ini negeri tirai bambu panda .. wa
China mau disaingi...
Wong orng Ina males....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.