Rabu, 26 April 2017

Silent Majority

Silent majority hanya diam? 

Mereka tidak diam, hanya berbicara dengan bahasa yang berbeda. 

Papan bunga yang mereka kirim lebih berbicara daripada semua demo yang pake tiga angka. 

Tidak bikin macet dan tidak perlu mengerahkan massa banyak-banyak, hanya tukang kirim bunga yang wara-wiri ke Balai Kota. 

Tidak bikin rusuh, karena bahasa bunga adalah bahasa cinta dan perdamaian. 

Tidak bikin takut, malah bikin senang yang terima, dan bikin girang tukang bunga karena dagangannya laris manis. 

Tidak perlu teriak-teriak, karena bunga berbicara seribu bahasa. 

Tidak bawa-bawa agama, karena bunga mewakili keindahan yang juga ada di semua agama. 

Tidak perlu buang uang milyaran buat kasih makan dan ongkos pendemo, karena bunga dipesan oleh masing-masing pengirim dan harga sudah termasuk ongkos kirim. 

Bunga di Balai Kota bukan sekedar bunga, itu adalah wujud perlawanan atas ketidakadilan dan keserakahan status quo. 

Revolusi Bunga. 

Bagaimana mengalahkan dukungan hati yang mencintai? 

Entahlah...... 

Namun yang jelas dukungan uang dan kepentingan tidak akan pernah bisa mengalahkannya. 

Silent Majority sedang berbicara, dengarkanlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.