Minggu, 16 April 2017

Pengkhianatan ke Paramadina

Pengkhianatan Anies Baswedan ke Paramadina

Kunjungan dan pidato Anies Baswedan ke markas Front Pembela Islam (FPI) merupakan puncak dari pengkhianatannya terhadap Universitas Paramadina. Dengan bangga, Anies mengatakan universitas yang menjadi simbol pemikiran dan perjuangan Cak Nur tersebut kini berhasil ia padamkan api perjuangannya.

Sebelumnya, Anies merupakan tokoh yang sangat memahami tentang konsep keindonesiaan yang majemuk. Seringkali Anies mengungkapkan betapa pentingnya bangsa Indonesia untuk merajut tenun kebangsaan. Bahkan, Anies pernah menulis di kolom opini Kompas (12/11/2012) dengan judul “Tenun Kebangsaan. Titik!”.

Dalam tulisannya, Anies menganggap kebhinnekaan Indonesia adalah sebuah fakta yang dirajut dari kebhinnekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Sekarang, tenun kebangsaan yang dirajut dengan penuh keberanian dan amat berat oleh founding fathers terancam oleh sekelompok orang lebih memilih menggunakan pisau, pentungan, parang, dan pistol secara brutal.

Anies juga tidak segan menyebut mereka bukan hanya seorang kriminal, melainkan sudah merobek tenun kebangsaan yang dibangun amat lama dan serius. Soal perbedaan, Anies berpendapat semua warga harus dilakukan sama dan hanya berpihak pada aturan yang berlaku.

Sebenarnya, nilai-nilai yang dibangun oleh Anies selama ini sejalan dengan nilai-nilai Universitas Paramadina yang pernah dipimpinnya.. Namun, sikap Anies telah berubah sejak mengikuti kontestasi Pilkada Jakarta 2017. Anies mengkhianati nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan, termasuk nilai-nilai Paramadina.

Telah kita ketahui, Universitas Paramadina merupakan salah satu universitas yang konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keislaman dan keindonesiaan. Yang mana mampu membentuk karakter bangsa Indonesia dalam kesadarannya tentang kebhinnekaan sosial dalam wadah tatanan politik yang adil, terbuka, dan demokratis.

Pidato Anies pada kunjungannya ke markas FPI telah merobek nilai-nilai yang diperjuangkan selama ini. Bahkan, Anies kerapkali menjelek-jelekkan universitas yang telah melambungkan namanya tersebut. Sebaliknya, Anies memuji dirinya sendiri yang berhasil memadamkan api di Universitas Paramadina.

FPI dan Anies yang semula seperti air dan minyak yang tak pernah menyatu. Sekejap mata mereka terlihat akrab. Sikap Anies dalam hal ini sangat menjual murah integritas yang dibangun selama ini, baik melalui sikap maupun melalui tulisan-tulisannya yang mengecap kelompok-kelompok yang lebih memilih pisau, parang, dan pentungan daripada dialog dan musyawarah.

Bahkan, Anies yang begitu vokal menggemakan kebhinekaan dan keberagaman di Indonesia terlihat lunglai di depan Rizieq Syihab. Anies tidak segan memuji dan merasa kagum kepada Rizieq Syihab atas perjuangannya selama ini. Padahal, FPI dibawah Rizieq Syihab sudah banyak melakukan tindakan intoleransi dan kekerasan.

Menurut The Wahid Institut, dalam Laporan Kebebasan Beragama, Berkeyakinan dan Toleransi 2010, FPI adalah pelaku tindakan intoleransi beragama tertinggi di Indonesia. Sepanjang 2010, semua perilaku tindakan kekerasan di tanah Air, 30 persen dilakukan oleh FPI.

Begitu juga dengan laporan Setara Institut yang menyebut bahwa FPI merupakan pelaku pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan tertinggi di Indonesia. Bahkan sepanjang tahun 2007-2010 FPI adalah pelaku tindakan kekerasan terbanyak di Indonesia dengan 107 tindakan kekerasan.

Selain itu, pidato Anies di markas FPI terkesan menyudutkan Universitas Paramadina. Anies mengatakan bahwa kondisi Universitas Paramadina sebelum ia datang banyak sekali kontroversi. Seperti, pernikahan beda agama lintas madzhab dan pelajaran LGBT yang menurut Anis berhasil ia padamkan. Padahal, dalam dunia akademis kontroversi merupakan suatu hal yang sangat bias terjadi.

Justru, Anies-lah yang tidak mengerti sejarah Paramadina sesungguhnya. Pemikiran Cak Nur dengan Paramadina merupakan sebuah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan diantara keduanya. Semangat berfikir tentang keislaman yang progresif yang dipancangkan Cak Nur di Paramadina tidak lain adalah untuk memantik ide-ide baru dan pemikiran kreatif pada eranya demi kemaslahatan umat.

Hanya saja, orang-orang yang tidak banyak bacaan dan wawasan serta nalar yang sehat, termasuk Anies memandangnya dengan sikap sinis. Mereka justru mematikan semangat berfikir tentang disiplin keislaman  dan menganggapnya harus diberantas habis.

Di sisi lain, ketidaktahanannya akan kontroversi yang terjadi di luar Paramadina ketika itu, secara tidak langsung Anies menganggap dirinya tidak pantas menjadi seorang pemimpin. Sikap dan prinsipnya dapat dengan mudah dipengaruhi dari luar ketika itu. Padahal, seorang pemimpin seharusnya mempunyai sikap yang tegas dan sejalan dengan prinsip dan nilai-nilai yang diperjuangkan selama ini. Dan hal ini tidak ada pada Anies.

Anies Pengkhianat

Seorang pengkhianat adalah seseorang yang berubah posisi. Dari yang semula baik menjadi tidak baik, dari yang semula mendukung jadi nggak mendukung dengan alasan irrasional, dari yang semula merangkul jadi tiba-tiba menendang tanpa ba bi bu, dari yang berwajah manis ternyata menusuk dari belakang.

Secara nyata, Anies telah mengkhianati sikap dan nilai-nilai yang selama ini ia bangun. Sikapnya yang menjual murah integritas dan nilai-nilai Paramadina yang selama ini diemban menjadi bukti nyata bahwa ia hanya haus kekuasaan semata.

Seperti yang kita lihat, Anies semula menjadi pioneer kebangsaan. Anies sangat vokal dan bersemangat dalam menggaungkan kebhinnekaan dan keberagaman. Bahkan, Anies tidak segan mengecam segala tindakan yang mengatasnamakan agama dan tuhan dalam melakukan pemebenaran atas segala tindakannya.

FPI yang kala itu Anies kecam mati-matian atas segala tindakannya yang sewenang-wenang dan mengatasnamakan agama dan tuhan dalam segala pembenaran tindakaannya, kini ia rangkul dan sanjung-sanjung. Hanya demi mendongkrak suaranya pada Pilkada Jakarta 2017, Anies rela merendahkan dirinya dan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan.

Bukan hanya itu, merendahkan dan mencibir Paramadina sebagai api kontroversi serta menyatakan dirinya sebagai pemadam merupakan penghinaan besar terhadap Cak Nur. Paramadina adalah buah nyata dari sebuah pemikiran Cak Nur untuk Bangsa Indonesia.

Jika Anies dalam pidatonya menyatakan sebagai pemadam api Paramadina, maka Anies telah nyata berhianat terhadap apa yang diperjuangkan Cak Nur selama ini. Cak Nur sudah sangat lama telah bahu-membahu dan berkeringat penuh terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan hingga menghasilkan Universitas Paramadina sebagai buah nyata.

Kemudian, Anies dengan bangga di hadapan Rizieq Syihab yang dulu ia kecam telah berhasil memadamkan api Paramadina, maka tindakan Anies telah menginjak harga diri Cak Nur. Sikap Anies sungguh sangat disayangkan.

Anies Tidak Berprestasi

Hingga detik ini, kita tidak menemukan karya dari seorang Anies. Ketika menjadi Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Anies tidak mampu mengawal program prioritas berupa Kartu Indonesia Pintar dengan baik. Padahal Presiden Jokowi menaruh ekspektasi besar kepada Anies. Pada akhirnya, Anies dipecat atas kegagalan tersebut.

Belum lagi, kasus-kasus yang menyelimuti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di bawah Anies. Seperti, salah hitung anggaran tunjangan profesi guru sebesar 23,3 Triliun, pemborosan dana anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang tidak menghasilkan kerja nyata, serta penilaian buruk atas pencapaian Kemendikbud oleh Ombudsman Republik Indonesia.

Selanjutnya, Maneuver Anies selama pencalonannya menjadi Gubernur Jakarta bersama Sandi sebagai Cawagubnya sangat jauh dari nilai-nilai Paramadina. Hal ini menjadi bukti nyata atas ketidakbecusan Anies dalam mengawal dan merawat nilai-nilai perjuangan Cak Nur.

Sikap Anies yang cenderung oportunis dalam menghadapi Pilkada dan menggadaikan integritas serta idealismenya selama ini sungguh disayangkan. Harapan besar masyarakat atas apa yang diperjuangkan Cak Nur akan dilanjutkan Anies telah sirna. Hal ini dibuktikan dengan berbagai sikapnya yang bergabung dan mendukung kelompok yang selama ini ia benci mati-matian.

Kegagalan Anies dalam mengawal nilai-nilai perjuangan Cak Nur dan menjaga sikap integritasnya selama ini merupakan bukti bahwa Anies tidak layak menjadi seorang pemimpin. Sudah seharusnya, seorang pemimpin harus menjunjung tinggi integritas dirinya.

Dengan demikian, tidak ada yang patut kita banggakan dari Anies Baswedan. Fakta ini diperkuat dari tidak adanya prestasi di setiap instansi yang selama ini  dipimpinnya. Anies hanyalah orang yang pandai berkata-kata dan hanya melihat peluang emas untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan, tidak ada cerminan bahwa Anies layak menjadi Gubernur Jakarta atas sikapnya selama ini.


qureta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.