Jumat, 07 April 2017

Pendulum Foucoult


Bingung Membaca Pendulum Foucault?


Buku kali ini yang saya review berjudul Foucault’s Pendulum, atau Pendulum Foucault. Novel terjemahan dan diterbitkan oleh penerbit Bentang. Saya akan memulai dari kalimat di sampul belakang yang menggambarkan plot cerita dalam novel setebal690-an halaman ini.

Kisahnya secara singkat ada tiga orang editor buku yang bekerja pada penerbit Garamond Press milik Tuan Garamond. Mereka—Casaubon, Jacopo Belbo dan Diotallevi. Banyak naskah yang masuk dan sampai ke tangan mereka berisi tulisan tentang teori konspirasi, manuskrip-manuskrip okultisme, sejarah klasik, dan semacamnya. Karena bosan maka mereka pun memutuskan bersenang-senang dan membuat sebuah teori konspirasi sendiri. Lama kelamaan mereka mulai terobsesi pada “janin” yang masih merah itu, memupuk teru menerus sampai teori tersebut kelihatan strukturnya, polanya, dan keterkaitannya dengan dunia konspirasi yang sesungguhnya hanya mereka anggap hiburan semata. Dari Freemason, Kabala, Kesatria Templar, tak satupun terlewatkan.

Namun, permainan ini berubah menjadi teror ketika para penggemar teori konspirasi di luaran sana menganggap apa yang mereka kerja demikian serius. Lebih buruk lagi, sebuah perkumpulan rahasia meyakini bahwa salah seorang di antara ketiga editor tersebut memiliki kunci harta karun milik Kesatria Templar yang hilang. Perburuan pun dimulai. Sesuatu yang tadinya cuma keisengan.

Plotnya tampak sederhana, bukan?

Tapi nyatanya tidak, novel ini tidak sesederhana itu. Bahkan, mengecoh para calon pembacanya. Salah satu alasannya adalah karena kekurang jelian penerbit Indonesia dalam menerbitkan buku-buku terjemahan. Terlebih lagi novel ini adalah karya seorang Umberto Eco, filsuf dan pakar bahasa yang sukses membawa semiotik dalam perbincangan siapapun yang mempelajari sastra, bahasa, gramatika. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa jurusan hukum pun mempelajari cabang ini jika ingin mengetahui apa itu yang dimaksud semiotika hukum. Novel Foucault’s Pendulum ini dibilang lebih bagus dari karya Eco sebelumnya yang berjudul In the Name of Rose. Akan tetapi, lagi-lagi saya sangat menyayangkan kualitas penerjemahannya yang tidak bisa menghadirkan permainan bahasa yang dihadirkan sang Pengarang.

Sebagai contoh di Bab 3: 9. Oya, cara Eco menuliskan daftar isi novel ini seperti kitab suci. Terdiri dari 10 bab yang diambil dari nama-nama Sephiroth/Sefirot, yang merupakan ajaran dari Kabala; Keter, Hokhmah, Binah, Hesed, Gevurah, Tiferet, Nezah, Hod, Yesod, Malkhut. Tiap bab ini ada sub-bab berupa nomor. Misalnya bab prolog, yakni Keter mencakup sub bab 1 dan 2. Nah, sub-bab 9 ada pada bab 3/Binah.

Kembali pada contoh permainan bahasa di Bab 3: 9. Di bagian ini ada perbincangan antara Belbo dan Casaubon. Belbo mengeluh adanya objek seks pada naskah yang sedang dia edit dan sekaligus mengingatkannya pada mimpi basah pertamanya di mana Belbo kecil bermimpi punya sebuah terompet. Di sini pembaca sesungguhnya diajak masuk pada permainan bahasa Eco yang jelas tidak akan terbaca dengan terjemahan yang disajikan oleh penerbit Indonesia.

Terompet (horn) dan objek seks (horny), jelas kan maksudnya? Mengapa laki-laki mempunyai keinginan punya terompet (horn) sewaktu kecil? Karena hasrat objek seksnya terletak pada penisnya, dan ketika memasuki fase dewasa melalui mimpi basah, objek seks lelaki pindah. Dengan kalimat lain, mungkin pembaca bisa kepikiran bagaimana Casaubon merasa risih dengan horn dan horny yang berseliweran—sekali lagi pembaca yang paham maksud permainan bahasa ini, pasti menggambarkan raut sok polos Casaubon—dan berkata, “Menurutku sebenarnya kau memimpikan klarinet itu.”

Ya, dia menggantinya dengan klarinet. “Aku dapat klarinet itu,” ia memotong dengan tajam, “tetapi aku tidak pernah memainkannya.” disambut lagi oleh si Casaubon, “Tidak pernah memainkannya? Atau tidak pernah memimpikannya?”

“Memainkannya.” Jawabnya, memberi tekanan pada kalimatnya, …

Casaubon, entah pura-pura bodoh, atau benar-benar tidak menyadari bahwa ketika laki-laki dewasa mereka tidak memainkan terompet (horn), tapi perempuan-lah yang biasanya meniup (blow) terompet itu. Di situlah makna “memainkan (play)-nya (it = horn).”

Ribet, yah? Memang begini ini nikmatnya membaca Umberto Eco. Jarang sekali tiap dialog, Eco memberikan bantuan deskripsi atau narasi, gaya menulisnya sekilas akan membuat orang berpikir, “Ini siapa yang ngomong yah tokohnya, si A, B, atau C?” jarang sekali, jika tak perlu benar, Eco menambahkan kata-kata “tukasnya,”, “katanya”, “ujar si A,”, “ucap si B,”. Kemungkinan Eco membiarkan pembaca berimajinasi mengenai mimik, raut, dan kondisi yang dialami tiap tokoh ketika mengucapkan kalimat dialog/monolognya. Alih-alih mencantumkan, Eco ingin ekspresi tokoh-tokoh rekaannya tergambar di benak pembacanya. Penulis yang begini ini sangat langka di zaman sekarang dan saya yakin akan semakin dikit ke depannya.

Di bab lain Eco juga menyindir kebanyakan tulisan yang masih sajadi awal paragraf gemar memakai “Pada awalnya, pada suatu hari, konon di kala itu, dan lain-lain”. Akan tetapi, semua ini digambarkan pada dialog ketiga tokoh editor ketika mengeluhkan kebosanan dari pekerjaan mereka. Termasuk dalam kacamata editor, ada empat kategori manusia yang tidak diharapkan oleh para editor, masuk ke kantor mereka membawa naskah ke meja mereka, yaitu orang terbelakang, tolol, moron/pandir, dan gila. Namun, cara menjabarkan masing-masing kategori ini bukan definitif ala buku teks pelajaran, melainkan dengan penjabaran interdisiplin. Misalnya, orang moron adalah orang yang perbuatannya tidak keliru, tapi penalarannya keliru, seperti seseorang yang tak dipusingkan dengan teori evolusi sehingga sikapnya toleran dengan teori itu, tetapi pikirannya selalu menganggap teori evolusi itu salah karena menganggap manusia adalah si Kera besar, sementara teori evolusi sejatinya tak berpendapat demikian.

Untuk yang lainnya bisa dibaca sendiri karena terlalu panjang menjelaskannya. Saya harus segera masuk pada alur cerita. Novel ini ditulis dengan alur melompat-lompat, semisal pada bab 1 sebagai prolog, dibuka oleh setting waktu di mana tokoh utamanya sudah masuk dalam situasi terancam, tetapi di bab selanjutnya, alur cerita mundur ke beberapa tahun belakangan, bisa dekat dan bisa pula jauh sampai cerita mengenai kenangan si Tokoh utama pada masa kecil, atau saat berjumpa pertama kali dengan tokoh lainnya. Lalu tiba-tiba di bab selanjutnya, setting waktu kembali pada saat si Tokoh utama dalam keadaan terancam hidupnya.

Jangan heran pula jika pembaca mendapati cara pen-deskripsian Eco dalam mendiskripsikan sesuatu melebar dan meluas ke mana-mana. Semisal, saat Diotavelli menceritakan tentang penyerangan KesatriaTemplar ke Ascalon;

“Aku merasa sedikit bersalah … aku membuat para Templar itu kedengaran seperti tokoh-tokoh kartun. Mungkin itu kesalahanWilliam dari Tyre, historiografer licik itu. Aku hampir bisa melihat para Kesatriaku dari Kuil itu, berjenggot dan terbakar terik matahari, tanda salib merah cerah pada jubah mereka yang putih seperti salju, kuda tunggangan mereka berputar dalam bayang-bayang Beauceant … Mungkin peluh yang dibicarakan oleh Santo Bernardus adalah kilauan perunggu yang memberi kesan suatu kebangsawanan sarkastik kepada senyum seram para Templar merayakan ucapan selamat tinggal kepada hidup … Singa-singa di medan perang, begitulah Jacques de Vitry menyebutnya, domba-domba manis di masa damai; kejam dalam pertempuran … .”

Banyak yang saya singkat dengan elipsis (…), tapi pembaca pun pasti akan mengerutkan kening dan bertanya-tanya, siapa sih William dari Tyre, apa sih maksud bayang-bayang Beauceant, siapa Jacques de Vitry?

Umberto Eco tidak menjabarkan semua itu dalam bukunya, kalau pembaca ingin tahu, carilah bacaan tentang nama-nama itu dalam buku literatur sejarah di perpustakaan-perpustakaan—jika memang ada, atau internet mungkin. Novel ini ibarat Anda sedang kuliah magister/master, atau doktoral, Anda takkan dicecoki seperti anak SD, SMP, SMA, atau S1 sekalipun. Semua literatur sejarah diajak masuk ke dalam, tapi tak ada footnote dan hanya sedikit istilah yang dijelaskan dalam glosarium. Ini bukan gaya penulisan novel thriller historis ala Da Vinci Code, The Expected, atau yang picisan tapi populerala Twilight. Sama sekali bukan. Pembaca kecewa? Mungkin. Akan tetapi, jika Anda mempunyai minat pada sejarah, justru novel ini tidak bisa dianggap sekadar novel sejarah. Mungkin ini adalah literatur sejarah yang dinovelisasi. Pilih saja—jika hidup ini memang pilihan, jenis bacaan seperti apa yang menjadi favorit Anda.

Cara penyajian data sejarah ala Eco sangat berbeda jauh dari, katakan saja, Dan Brown. Kalau dalam Da Vinci Code, Brown menjadikan tokoh utamanya Langdon sebagai sumber informasi utama sejarah, tapi Eco justru menggunakan alur flashback dengan model dekonstruksi, yakni membongkar kisah di mana ketika sejarah itu terjadi dari banyak perspektif. Contohnya, mungkin para pembaca yang terbiasa dan gemar dengan teori konspirasi adanya keterkaitan antara Kesatria Templar dan Freemason, pasti banyak membaca bahwa sosok Jacques de Molay sebagai tokoh utama keterkaitan antara Kesatria Templar dan Freemason. Akan tetapi, di sini Eco menawarkan pembacaan baru. Menurutnya, waktu itu Raja Prancis, yakni Raja Philip takut kekuasannya terancam dengan adanya Kesatria Templar sementara di satu sisi Paus juga tak ingin Templar meruntuhkan sistem gereja dan berkuasa di luar otoritas gereja. Akhirnya, daripada menghalalkan adanya peperangan antara tentara Paus yang disebut para Hospitaler dengan para Templar. Akhirnya, Raja Philip dan Paus bersepakat untuk menggabungkan antara Hospitaler dan Templar. Kemudian disuruhlah intelejen kerajaan bernama Jacques de Molay untuk menyusup ke dalam Templar. Ternyata Molay menemukan realitas berbeda ketika ia masuk ke dalam Templar. Di dalam tubuh Templar sendiri, ada banyak perbedaan meski tiap prajurit memegang doktrin yang sama. Ada Kesatria Templar yang terpengaruh oleh ajaran sufistik dari Syi’ah Isma’iliyah, ada yang terpengaruh Manicheanisme, ada pula Kesatria Templar yang putus asa dan takut berperang. Gambaran bahwa Kesatria Templar adalah prajurit berani mati dan gagah berani terlalu dibesar-besarkan. Faktanya mereka adalah prajurit yang dilematis. Mengapa? Di siang hari mereka harus berperang memenggal kepala-kepala musuh, tetapi di lain sisi, mereka harus menaati hukum gereja; tak boleh bersetubuh, tak boleh mengendurkan tali pinggang jubah mereka, tak boleh menjarah rampasan perang. Sedangkan apa yang harus mereka terima ini berbeda dari bagaimana tentara Hospitaler gereja yang justru banyak melanggar aturan gereja. Karena saking ketatnya peraturan yang harus ditaati para Kesatria Templar, sebagian dari mereka ada yang diam-diam menggelapkan uang dan kabur melarikan diri.

Kesatria Templar ini menjalankan sistem perbankan pertama, seperti kartu kredit modern. Bagi orang-orang dari Eropa yang mau berziarah ke Yerussalem, tapi takut dirampok selama dalam perjalanan, mereka bisa meninggalkan harta mereka ke perwakilan Templar di Prancis, lalu pergi bersama pengawalan beberapa Templar dan ketika sampai di tujuan maka Kesatria Templar akan memberi sejumlah dana, fasilitas, senilai dengan apa yang mereka tinggalkan di Prancis. Namun, lagi-lagi, para Kesatria Templar dengan aturan yang ketat tak berhak menyentuh harta itu karena mereka harus tetap hidup dengan cara-cara rahib. Bisnis seperti ini makin berkembang sampai-sampai membuat Raja Philip geram. Sang Raja pun berkhianat, pada 14 Septermber 1307, Raja menyita seluruh aset Kesatria Templar, menangkap mereka dan menghakimi tanpa ada jalannya persidangan. Paus pun tak bisa menghalangi, atau “terlambat” untuk melakukan sesuatu yang bisa mencegah peristiwa ini.

Mungkin anak-anak sekarang mengenal istilah Friday the 13th sebagai hari Jumat yang horor di mana hantu-hantu bergentayangan. Sejarah menyatakan bahwa tanggal 13 Oktober hari Jumat, ribuan Kesatria Templar dibakar hidup-hidup dengan tuduhan pelaku bid’ah, orang musyrik yang memuja berhala baphomet (orang berkepala kambing, berjenggot dan bertanduk), dan homoseks. Mereka dipaksa mengakui semua itu di tiang pembakaran. Jika mengaku mereka akan dipenjarakan dan jika tidak, maka kematian siap menjemput mereka. Raja Philip dengan dibantu dua orang penasihat yang licik bernama Marigny dan Nogaret mengambil alih jalur bisnis serta harta simpanan para Templar. Sebagian Kesatria Templar yang selamat dari penindasan itu berhasil menyelamatkan harta-harta mereka.

Jacques De Molay sendiri dipenjara. Anda mungkin pernah membaca sejarah revolusi Prancis di masa Renaissance, berabad jauh dari masa Raja Philip. Ketika revolusi itu terjadi, para pemberontak membakar penjara Bastille dan Raja Prancis lainnya bernama Louis XIV dipenggal di pisau guillotine, seorang pria tak dikenal naik ke atas panggung pemenggalan dan berteriak. “Jacques de Molay, dendammu telah terbalaskan!” ya, dendam pada kerajaan Prancis yang telah mengkhianati Molay di masa lalu, memenjarakannya, dan juga kemudian membakarnya hidup-hidup. What a story! Anda takkan mendapatkan kekayaan data sejarah semacam ini di novel-novel best seller modern, kecuali membaca karya-karya sekaliber Umberto Eco.

Kemudian soal Foucault’s Pendulum, pembaca pasti akan bertanya-tanya, kok judulnya seperti itu. Maksudnya apa?

Mungkin kita perlu kembali pada sosok Leon Foucault, sang Filsuf Prancis dan juga seorang fisikawan. Ingat, Leon Foucault bukanlah Michel Foucault. Keduanya filsuf, ilmuwan dan orang Prancis, tapi berbeda zaman. Anda tahu kan pendulum bentuk alatnya seperti apa? Yang tidak tahu bisa lihat di google. Pendulum Foucault, sebuah bola tembaga digantungkan pada dawai, senar, atau kawat tipis, yang diujicobakan pertama kali di suatu gudang bawah tanah pada 1851, kemudian dipamerkan di Observatorium dan kemudian di bawah kubah Panteon dengan ukuran kawat sepanjang enam puluh tujuh meter dan sebuah bandul seberat dua puluh delapan kilogram.

Hukum pendulum Foucault mengatakan bahwa dalam suatu ruang hampa udara, setiap objek yang menggantung pada sebatang kawat tak berbobot dan tak bisa molor, bebas dari tekanan dan pergesekan udara, akan bergerak bolak-balik selamanya. Bayangkan jika skalanya kita tarik lebih besar lagi. Bayangkan apabila sesungguhnya bintang-bintang, planet-planet, galaksi-galaksi ibarat bandul atau bola tembaga yang bergantung pada seutas kawat celestial di alam semesta. Bandul-bandul, planet-planet, itu terus bergerak sesuai orbitnya, terus menerus begitu selamanya. Namun, sebagaimana pendulum yang ayunannya lambat laun melambat akibat adanya gaya (dalam teori Newton gaya itu adalah gravitasi, ilmuwan lain punya tawaran preposisi lainnya) dan akhirnya berhenti di satu titik, maka apa yang akan terjadi pada alam semesta, kehancuran-kah, atau kembali pada titik awal?

Dalam pembacaan saya, judul Pendulum Foucault ini ibarat metafora, alegori, kiasan atas obsesi tokoh-tokoh dalam novel ini terhadap teori konspirasi yang selalu bergerak, menyebar dan tak pernah berhenti. Ironisnya, teori konspirasi adalah konspirasi itu sendiri. Jika tak ada konspirasi di dunia ini, akan seperti apa kehidupan manusia. Pertanyaannya kembali ke atas; kehancuran-kah, atau kembali pada titik awal?

Saya juga sempat membicarakan tentang Sephiroth/Sefirot di awal-awal tulisan ini, yang mana ada kaitannya dengan string theory. Anda bisa membaca tulisan review saya tentang fisikawati modern bernama Lisa Randall mengenai string theory. Adapun soal keterkaitannya dengan Sephiroth, saya akan coba memberikan gambaran begini;

Bayangkan jika alam semesta ini tidak hanya seperti apa yang diteorikan Einstein, yakni berjumlah 4 dimensi. Bagaimana jika ada 10? Atau bagaimana jadinya jika ada 9 sembilan alam semesta selain alam semesta kita? Nah, interpretasi modern atas ajaran mistik Kabala bernama Sephiroth itu, adalah fisika modern yang terkenal dengan teori dawai atau string theory. Dimensi-dimensi, atau bahkan the multiverse—multi universe, saling berkaitan satu sama lain mirip teori dunia parallel. Jika string theory ditemukan di era modern, sedangkan orang-orang zaman dulu sudah memperbincangkan tentang Sephiroth.


Kupret El-kazhiem
10 Maret 2013 09:36:55
Diperbarui : 24 Juni 2015 17:02:15
Buku: Foucault’s Pendulum
Karya: Umberto Eco
Penerbit: New York, Ballantine Books, 1997
Penerbit Indonesia: Yogyakarta, Bentang 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.