Minggu, 16 April 2017

Paramadina sekarang

Diskusi Guru Bangsa Dilarang di Paramadina, Istri Cak Nur Sedihi

Istri tokoh bangsa Nurcholish Madjid (Cak Nur), Ommy Komariah Madjid mengaku sedih melihat perkembangan di Universitas Paramadina, Jakarta, yang sudah kehilangan roh perjuangan dan intelektuakitas yang dipupuk sejak awal berdiri. Kekecewaan itu memuncak ketika diskusi tentang merawat pemikiran guru bangsa dilarang untuk digelar di kampus itu.

Kekecewaan itu disampaikan Ommy dalam diskusi publik "Merawat Pemikiran Guru-guru Bangsa" di Hotel Century, Jakarta, Rabu (12/4). Pembicara diskusi terdiri atas Yenny Wahid, M Sobary, Abdul Muthi, dan Wahyuni Nafis.

Ommy mengatakan, kesedihannya muncul lantaran ada kelompok yang justru mematikan nilai-nilai yang dibangun Cak Nur di Paramadina, yakni pemikiran Islam yang plural dan demokratis. Bahkan, belakangan kelompok tersebut melarang digelarnya dialog tentang pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Buya Syafi'i Maarif, dan Cak Nur.

"Saya sedih ketika kemarin waktu acara dialog ini dibatalkan untuk digelar di kampus Paramadina dan tidak boleh diskusi di kampus yang dibangun oleh Cak Nur. Nama Paramadina ciptaan beliau dan kampus juga memakai nama Nurcholis Madjid supaya semua nilai yang disampaikan Cak Nur bisa diteruskan. Saya sedih ketika sekarang justru diskusi tentang pemikiran beliau di Paramadina malah dilarang," ujarnya.

Ommy menjelaskan, ketika Cak Nur sudah wafat, semestinya pemikiran beliau bisa terus dikaji, bukan malah nilai-nilai itu  dimatikan. Apalagi, pelarangan itu dilakukan di kampus yang didirikannya. Saat ini, ujarnya, nilai-nilai demokrasi, keterbukaan, dan pluralisme di Paramadina sudah tidak ada lagi, bahkan sudah hilang sama sekali.

"Bahkan, sekarang banyak mahasiswa Paramadina yang mengeluh, kok, kini tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Ini kafir, ini munafik, dan seterusnya. Inilah yang membuat saya sedih," jelasnya.

Kendati demikian, Ommy menyampaikan terima kasih, karena semangat dari sebagian kalangan dan anak muda yang selalu berjuang untuk membangun dialog dan diskusi tentang keislaman. "Meski sedih, di sisi lain saya juga bergembira, karena semangat intelektual anak-anak muda masih terus berkobar meskipun hawa di luar sana sangat panas. Mudah-mudahan, diskusi di sini kita bisa merembukkan pemikiran tiga tokoh bangsa, yakni Gus Dur, Cak Nur, dan Buya Syafi'i Maarif," ujarnya.

Moderator diskusi, Ahmad Gaus mengatakan, sebenarnya dialog tentang pemikiran tokoh bangsa itu adalah bagian dari keprihatinan lantaran akhir-akhir ini ada pihak yang mengembangkan suasana memanas dan menjurus kepada perpecahan bangsa. Mereka suka mengancam dan mengkafirkan pihak lain, padahal itu tidak pernah dilakukan para guru bangsa.

"Kami prihatin karena banyak pemikiran yang kemudian bersinggungan, hingga saling menuduh bahkan mengkafirkan, pada momen pemilihan kepala daerah. Tujuannya politik," ujar Gaus.
Dikatakan, suasana yang terbangun dalam Pilgub DKI Jakarta saat ini berkembang menjadi sesat. Hal itu terjadi karena lupa kepada pemikiran guru bangsa yang sudah meletakkan fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. "Inilah yang perlu direvitalisasi, bukan malah dilarang apalagi dihilangkan," kata Gaus.


Asni Ovier/AO
Rabu, 12 April 2017 | 17:19
AAA
Jakarta - 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.