Rabu, 26 April 2017

Pahlawan Bangsat

Prabowo berterimakasih pada Rizieq Shihab. Dipujinya orang tersebut sebagai seorang pemberani tiada tara. Dia juga berterim  a kasih pada guru spiritualnya, komandan Wisata Al Maidah, dalam kepentingan Pilkada DKI Jakarta, beberapa hari lalu di Masjid Istiqlal.

Apakah kemenangan Anies-Sandi ditentukan Rizieq Shihab? Tapi mengapa Prabowo tak menyebut dan berterima kasih pada Buni Yani? Setidaknya Eep Syaifullah Fatah dan Mardani Ali Sera tak menyarankan itu. Mereka lebih merekomendasikan pemikiran Hitler, goreng terus kebohongan, maka rakyat akan percaya.

Mestinya Prabowo juga harus berterima kepada Jusuf Kalla (sebagai ketua Dewan Masjid Indonesia), yang telah menerima Zakir Naik, dan tak protes masjid dipakai kampanye menjatuhkan Ahok, sekali pun ada larangan dalam UU Pilkada. Toh yang menggaet Anies maju cagub adalah Erwin Aksa, anak Aksa Mahmud (adik ipar JK). Lagi pula, JK orang KAHMI, yang dalam kongres para alumni HMI itu terang-terangan menginginkan Anies memenangkan Pilkada DKI Jakarta.

Belum pula dukungan para veteran politik, yang kini lebih banyak bersembunyi di balik kesunyian seperti Aburizal Bakri, Fuad Bawazier, yang sesungguhnya tidak menyukai sepak-terjang Ahok. 

Jika Rizieq Shihab selalu meneriakkan ‘9 Naga’ di belakang Ahok, Rizieq sedang menjadi corong ‘9 Naga’, yang sebenarnya berdiri di belakang Anies-Sandi. Masyarakat lebih percaya teori ‘maling teriak maling’. Ahok, memang keturunan China, tetapi para taipan korup didikan Orde Baru Soeharto, sama sekali tak menyukainya. Ahok telah menghancurkan bisnis mereka. Anies-Sandi, jauh lebih akomodatif. 

Pada sisi lain, kaum takfiri dan wahabiyah, entah itu dengan pakaian PKS, FPI, HTI dan berbagai anak ormasnya, merasa mendapatkan momentum. Orang-orang seperti Prabowo dan Anies Baswedan, kendaraan yang bagus. Sisi moralitas akan bisa menutup sisi keberingasan ideologi yang dibawa. Sisi modalitas, Prabowo dan Sandiaga Uno, dengan dukungan pengusaha yang tak menyukai Ahok, menjadi kekuatan besar. Apalagi Hari Tanoe, yang selalu membanggakan Donald Trump.

Jika Pilkada DKI Jakarta 2017 disebut praktik demokrasi terburuk dalam sejarah politik Indonesia, karena mundur ke politik identitas. Pilkada Jakarta bukan demokrasi yang bebas dari intimidasi dan isu SARA. Bahkan, dengan cara memobilisasi massa, menekan pemerintahan yang sah dengan agenda sejenis. Pilkada Jakarta contoh kelemahan sistem demokrasi itu sendiri, yang memang hanya bicara kuantitas suara dan bukan kualitas.

Demokrasi bisa ditunggangi dengan sempurna, dengan alat yang tak bisa diverifikasi. Yang dihadapi adalah para berhala tuhan yang menakutkan, suka menebar neraka bagi yang tak sepemahaman. Maka siapa pahlawan bangsatnya, ketika kebodohan dieksploitasi terus-menerus untuk menopang kekuasaan? Kekuasaan akan makin sulit dikontrol, karena agama makin tidak suci, karena tafsir kuasa yang korup !


Sunardian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.