Kamis, 20 April 2017

Mal Praktek

KATA DOKTER, KITA HARUS HATI-HATI KEPADA DOKTER
Terutama di RS SWASTA

Ini mungkin tulisan yang cukup 'aneh'.
Kok bisa, seorang dokter justru meminta kepada pasien untuk berhati-hati kepada pelayanan dokter.

Tetapi inilah saran yang diberikan oleh dokter Billy sebagaimana ditulis dalam "Konsul Sehat" (http://konsulsehat/. web.id).
Konsul sehat merupakan situs untuk kemajuan edukasi masyarakat di bidang kesehatan. 

Seperti yang diceritakan dr. Billy dalam artikel tersebut, selama beberapa hari dr. Billy mengurusi abangnya yang sakit demam berdarah (DBD).
Dokter ini membuatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS SWASTA  yang terkenal cukup baik pelayanannya.

Sejak masuk UGD, Billy menemani sampai masuk ke kamar perawatan, dan setiap hari dia menunggui.
Jadi dia sangat tahu perkembangan kondisi abangnya. 

"Abang saya paksa untuk rawat inap karena trombositnya 82 ribu.
Agak mengkhawatirkan," katanya.
Padahal sebenarnya si abang menolak karena merasa diri sudah sehat, tidak demam, tidak mual, hanya merasa badannya agak lemas. 

Mulai di UGD Billy sudah merasa ada yang 'mencurigakan'.
Karena Billy tidak menyatakan bahwa dia adalah dokter pada petugas di RS, jadi dia bisa dengar berbagai keterangan/penjelasan dan pertanyaan dari dokter dan perawat yang menurutnya 'menggelikan'. 

Pasien pun diperiksa ulang darahnya.
Ini masih bisa diterima.
Hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. 

Ketika abangnya akan di EKG, si abang sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dan hasilnya sangat baik.
Lalu Billy menenangkan bahwa itu prosedur di RS. 

Tetapi yang membuat Billy heran adalah si Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia tidak sakit lambung, dan tidak mengeluh perih sama sekali.
Obat ini disuntikkan ketika Billy mengantarkan sampel darah ke lab. 

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk tiga hari, padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung, dan biasanya obatnya pasti ganti lagi.
Belum lagi resepnya pun isinya tidak tepat untuk DBD.
Jadi resep tidak dibeli. 
Dokter penyakit dalamnya setelah ditanya ke temannya yang praktek di RS tersebut, katanya dipilihkan yang dia rekomendasikan, karena 'bagus dan pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS. 

Malamnya, via telepon, dokter penyakit dalam memberi instruksi periksa lab macam-macam.
Setelah Billy lihat, banyak yang 'nggak nyambung', jadi Billy minta Abang untuk hanya menyetujui sebagian yang masih rasional. 

Besoknya, Billy datang ke RS agak siang.
Dokter penyakit dalam sudah visite dan tidak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak.
Billy diminta perawat untuk menebus resep ke apotek.
Ketika Billy melihat resepnya, dia heran.
Di resep tertulis obat *Ondansetron suntik, obat anti mual/muntah untuk orang yang sakit kanker dan menjalani kemoterapi.
Padahal Abangnya sama sekali tidak mual apalagi muntah.
Tertulis juga Ranitidin suntik, yang tidak diperlukan karena Abangnya tidak sakit lambung.
Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi, padahal Abang sudah bilang bahwa dia punya banyak. 

Karena bingung, Billy cek di internet. Apakah ada protokol baru penanganan DBD yang dia lewatkan atau kegunaah baru dari Ondansetron.
Ternyata tidak.
Akhirnya Billy hanya membeli suplemen vitamin saja dari resep. 

Pas Billy menyerahkan obat ke perawat, perawat tanya 'obat suntiknya mana?'
Billy jawab bahwa pasien tidak setuju diberi obat-obat itu.
Si perawat malah seperti menantang.
Akhirnya dengan terpaksa Billy sampaikan bahwa profesi dia adalah dokter, dan dia yang merujuk pasien ke RS.
"Abang saya menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya".
Malah saya dipanggil ke nurse station dan diminta menandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat, papar Billy. 

"Saya beritahu saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang menandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung.
Sementara dokter saat visite nggak menjelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan.
Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'." katanya. 

Saat Billy menunggu Abangnya, pasien di ranjang sebelahnya ternyata sakit DBD juga, dan dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal dan sudah 2 botol yang dipakai, padahal kondisi fisik dan hasil labnya tidak ada infeksi bakteri.
Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain.
Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya'.
Visite nggak sampai tiga menit. 

Besoknya dokter penyakit dalam yang menangani Abangnya Billy visite kembali dan tidak berkomentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan.
Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. 

"Saya jadi membayangkan, nggak heran PONARI dan orang pandai dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional.

Kasihan, banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan, dan dibuat 'miskin' untuk membeli obat-obat yang mahal. Ini belum biaya  dokter ahli yang hrs  'dibayar' cukup mahal yang ternyata nggak banyak memberi penjelasan kepada pasien, sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visite." papar dokter Billy. 

Beberapa waktu sebelumnya Billy juga pernah menunggui saudaranya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil di Jateng akibat sakit tifoid. 

Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang tidak rasional yang diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya. 

"Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN.
Semoga info ini bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk pembaca semua agar berhati-hati dan kritis terhadap pengobatan dokter," tulis Billy menutup artikelnya. 

Pertanyaan kita sekarang, apakah semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang berprofesi dokter supaya tidak mendapat pengobatan sembarangan?

Sahabatmu, dr. Billy Nugraha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.