Minggu, 16 April 2017

Kant

Rasionalisme mengatakan bahwa sumber pengetahuan adalah akal budi (rasio) saja. Adapun Empirisme berpendapat sebaliknya: sumber pengetahuan adalah pengalaman inderawi. Descartes telah menemukan adanya rasio atau kesadaran diri yang menjadi prinsip filsafat Barat modern. Namun filsafat Descartes masih sangat terbatas, karena ia belum memasukkan realitas empiris ke dalam sistemnya. 

Sementara kelemahan filsafat Empirisme tidak berhasil memasukkan dimensi rasional di dalam sistemnya. 

Immanuel Kant dapat membuat sintesa antara kedua paham yang bertentangan dan sama-sama terbatas itu. Sehingga dalam filsafat Kant kita menemukan baik unsur empirisme maupun  rasionalisme.

Hume mengatakan bahwa segala macam hal yang tidak bersifat inderawi hanya boleh dikira-kira saja atau diterima sebagai “kepercayaan” (faith) saja, tapi tak bisa dipastikan. Adanya prinsip kausalitas (prinsip sebab-akibat) misalnya, tidak bisa diterima Hume sebab sebuah “prinsip” tidak bisa diindera. Maka filsafat dan ilmu pengetahuan alam yang cara kerjanya mengandalkan prinsip ini tidak bisa mencapai kepastian, paling-paling hanya kementakan (probability). 

Kant tidak bisa menerima ajaran Hume itu, karena sudah jelas hukum-hukum pengetahuan alam berlaku umum, selalu dan dimana-mana. Bagaimana pengetahuan manusia bisa mengerti itu semua? Syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi agar ilmu pengetahuan alam bisa menghasilkan sesuatu yang jelas dan eksak?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini Kant mengadakan suatu “Revolusi Kopernikan”, yaitu Kant mau memperlihatkan bahwa pengenalan realitas berpusat pada Subjek dan bukan pada Objek. Objeklah yang mengarahkan diri pada Subjek untuk diproses menjadi pengetahuan. Maka itu filsafat Kant tidak memulai dengan penyelidikan atas benda-benda sebagai objek, melainkan menyelidiki struktur-struktur Subjek yang memungkinkannya mengetahui benda-benda sebagai objek.

Menurut Kant, perlu dibedakan adanya suatu hirarkhi dalam proses pengetahuan manusia. Dimana tingkat terendahnya adalah pencerapan inderawi. Tahap berikutnya adalah akal budi, dan tahap tertinggi adalah budi atau intelek. 

Budi atau intelek merupakan sesuatu yang dapat “mengatasi” akal dan pencerapan inderawi. Pada tingkat pencerapan inderawi sudah ada dua unsur apriori yaitu ruang dan waktu, keduanya ini adalah ​struktur dalam dari diri subjek, dengannya ia “menangani” data-data realitas yang masuk melalui panca indra. Pada tingkat ini baru terjadi pengalaman manusia, belum pengetahuan.

Akal budi secara spontan menggarap input yang diberikan dari pengalaman pada tingkat sebelumnya. Caranya dengan menerapkan “kategori-kategori”, yaitu konsep-konsep fundamental yang membantu manusia menyusun ilmu pengetahuan. 

Ada 12 kategori yang termuat akal-budi, namun yang terpenting adalah kategori kausalitas (prinsip sebab-akibat). 

Selanjutnya Budi atau intelek bertugas untuk merangkum pengetahuan yang telah diperoleh pada tingkat sebelumnya dalam kesatuan paripurna dan tertinggi dari pemikiran. 

Untuk menjalankan tugas ini, intelek dipimpin oleh Idea Jiwa, Ide Dunia dan Ide Allah yang memberikan orientasi agar memungkinkan intelek menata dan mensistematikan fenomena-fenomena yang ada. "Pengalaman" manusia tidak termasuk ke dalam tiga Idea ini, sehingga tidak mungkin ada pengetahuan rasional tentang mereka. 

Allah bukanlah objek yang ada pada tingkat akal budi tetapi bidang intelek. Sehingga dengan penalaran Kant, manusia bisa mengerti tentang adanya Tuhan tanpa melihat dan memegangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.