Kamis, 20 April 2017

Jangan pindah, tetangga

Saya sering bolak-balik ke Pulau Ambon.

Punya teman yang sudah seperti saudara di sana. Hampir tahu semua nama daerah. Hampir sudah menyelami seluruh pesisir yang mengelilinginya. Saya jatuh cinta dengan pulau itu dan untuk sekarang, berniat untuk pensiun di sana. Punya kulit keriput kakek-kakek yang asin tertiup angin laut.

Ada tradisi yang terkenal di pulau itu namanya pela gandong, yaitu ketika kampung-kampung yang bersebelahan menganggap satu sama lain saudara, biasanya yang berbeda agamanya. Ini jadi suatu kebanggaan yang sangat. Persatuan jadi kuat.

Tapi sayangnya semuanya itu koyak oleh dahsyatnya konflik beragama pada tahun 1999. Kita semua tahu ceritanya lah. Betul-betul sebuah peperangan dengan kebiadaban dari kedua kubu.

Penduduk yang berbeda-beda agamanya ini, yang dahulu tinggal bersebelahan dan bertetangga, mulai saling meninggalkan rumahnya. Rumah-rumah dan kapling tanah dijual kepada mereka yang beragama sama dengan kebanyakan orang di lingkungan itu.

Orang-orang Ambon yang saya tanya selalu berkata bahwa warisan terpahit dari konflik di tanah mereka itu adalah lingkungan hidup yang kini tersegregasi (terkotak-kotak). Sekarang ada kantong pemukiman wilayah tempat tinggal muslim, dan ada kantong pemukiman wilayah tempat tinggal kristen, dan ada garis-garis perbatasan. Orang-orang tidak hidup bercampur lagi. Yang berbeda berhenti jadi tetangga.

Buruknya dari segregasi ini adalah, sekarang konflik lebih mudah terpicu dan terpantik, dan juga pengalaman hidup bersama bertetangga yang bisa memupuk persatuan dan toleransi jadi jauh berkurang.

Saya tidak bilang bahwa sekarang situasi di Ambon rentan konflik (saya yang kristen ke sana setahun 1-2 kali, nyilem di mana-mana termasuk di pesisir-pesisir daerah muslim, aman damai kok) – tapi hanya mengatakan bahwa inilah keadaan ‘warisan’ yang terjadi sekarang ini.

Pilkada Jakarta kali ini membelah kita memang.

Teman main, teman kerja, anggota keluarga, tetangga rumah, dan terutama di dunia sosmed, banyak yang terkoyak-koyak. Melukai, mengutuk, mencaci.

Perang kita. Walau tentu masih jauh dibandingkan konflik Ambon, tapi kita termasuk perang habis-habisan. Dengan hardikan dan sindiran, baik yang terucap ludah maupun dengan ketikan keyboard.

Saya ada dalam satu grup besar WA yang isinya adalah banyak sekali para penggiat dan tokoh-tokoh pendidikan yang membantu ketika Mas Anies menjabat Mendikbud.

Ketika pilkada dimulai semakin lama terlihat jelas bahwa kita-kita yang di dalam sana punya pilihan yang berbeda.

Waktu mulai sering terjadi gesekan di dalam sana, hati lembut anti-konflik saya ini maunya left group aja.

Simpel. Beres. Nggak makan ati.

Tapi ingatan tentang Ambon yang kini tersegregasi itu selalu menguatkan saya untuk tetap ada di dalam.

Jikalau kita, orang-orang yang di dalam grup itu yang katanya orang terdidik dan dewasa dan berpengaruh, mulai left group dan saling menjauh dan terputus, maka bayangkan akibatnya ke bawah kepada mereka-mereka yang memperhatikan kita, mereka-mereka yang masih belia, masih belum terdidik dan belum dewasa.

Ketika pagi ini suasana kembali memanas, Pandji yang ada di dalam grup itu, juga mengucapkan hal yang sama. “Kalau kita yang di sini aja baper-baperan, gimana anak-anak muda yang jadi pemilih pemula? Kalau setiap pemilu selesai kita tidak bisa melupakan perbedaan kita, kita akan hancur sebagai bangsa.”

Setuju saya.

Dan sekarang, yah, pagi kini sudah menjadi sore.

Ketika sekarang sudah jelas siapa yang menang dan kalah dalam pilkada ini, tapi kita tetap memutuskan menjual rumah-rumah kita dan kapling-kapling kita supaya kita tidak bertetanggaan lagi, maka yang tersisa nantinya adalah Jakarta, dan (bukannya tidak mungkin) akhirnya Indonesia yang tersegregasi.

Indonesia yang jarang merasa bertetanggaan lagi dengan mereka yang berbeda. Indonesia yang rakyatnya terputus dan hanya dengar pendapat yang sama dan lihat perbedaan hanya dari kejauhan.

Indonesia yang jauh lebih mudah dipecah-belah, Indonesia yang akan lebih mudah terpicu konflik, sama seperti di Ambon.

Percayalah, sama seperti banyak kalian, rasa sakit saya dan kekecewaan saya dan keinginan saya untuk pergi saja dan membenci dari jauh itu juga sangat besar. Seperti kamu, ada seribu satu hal yang ingin saya teriakkan juga. Manusiawi kok.

Tapi semoga, semoga bukan keputusan itu yang kita pilih.

Semoga gambar Ambon yang kini terpisah-pisah cukup kuat sehingga kita akan berjuang sekuat tenaga kita supaya Indonesia kita tidak akan mengalami hal yang sama.

Ketika hal-hal mendasar seperti kemanusiaan dan saling menghormati masih kita pegang bersama, mari belajar hidup dalam perbedaan.

Tetap berdekatan dan tetap bertetanggaan. Sering lihat, sering dengar. Tidak asing dengan yang berbeda dan berkubu hanya dengan yang sama.

Buat yang menang janganlah jumawa. Okelah boleh jumawa tapi bentar aja ya  Kalian menang. Tidak ada yang perlu dibuktikan lagi. Kalian menang. Ayo kami tunggu janji-janji kalian.

Buat yang kalah, ijinkan saya bagikan satu pengetahuan yang sangat membantu saya setiap saya sedih dan kecewa:

Tahap kesedihan (grief) itu ada 5,
dimulai dari tidak mau percaya (denial),
lalu marah (anger),
lalu menawar (bargaining),
lalu depresi (depression),
sampai akhirnya menerima (acceptance).

Pada akhirnya, semua orang akan sampai acceptance, walaupun ada mereka yang membutuhkan waktu sampai puluhan tahun. Tapi semakin dewasa seseorang, sampai di acceptance-nya semakin cepet.

Seperti Pak Ahok Djarot tuh, sudah ‘mengaku’ kalah di konpres (sambil menunggu hasil resmi KPU).

“Kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan juga yang ambil, jadi ga usah gimana-gimana banget lah…” kata dia sambil ketawa-ketawa. Langsung ke acceptance dia.

Semoga kita juga cepat dewasa, sehingga kerjaan kita nggak nyinyir terus, cuma mangkrak di tahap denial.

Jangan jadi pahit. Kita kalah. Yang sudah terjadi, semua-semua-semuanya, sudah lewat.

Sambil tetap kritis, berilah sangka baik dan waktu dan juga dukungan untuk mereka yang menang.

Saya suka pernyataan Bernie Sanders, tokoh populer partai Demokrat lawannya Trump, ketika Trump dinyatakan menang setelah kampanye yang juga sangat keras:

“To the degree that Mr. Trump is serious about pursuing policies that improve the lives of working families in this country, I and other progressives are prepared to work with him. To the degree that he pursues racist, sexist, xenophobic and anti-environment policies, we will vigorously oppose him.”

“Sewaktu Mr. Trump serius mengusahakan kebijakan-kebijakan yang memperbaiki hidup kelas menengah, saya dan teman-teman siap untk bekerja sama dengan dia. Sewaktu dia mengusahakan kebijakan-kebijakan yang rasis, seksis, mendiskriminasi, dan membahayakan lingkungan, saya akan dengan sekuat tenaga melawan dia.”

Harusnya memang begitu. Dukung dan kritik berjalan berdampingan.

Despite everything that has been said and done, I still have faith in Mas Anies. Apalagi mendengar pidato-pidato kemenangan yang barusan disiarkan live. Janji pekerjaan pertama yang terus dia utarakan adalah mengembalikan persatuan setelah kampanye yang sangat membelah kita ini.

We’ll see.


Mari kita saling memaafkan, dan melihat ke depan. Semoga cinta kita akan negeri ini dan masa depan-nya untuk anak-anak kita, jauh lebih besar dari hasrat untuk terus saling membenci.

Sampai kapanpun juga, kita yang berbeda-beda etnis, agama, dan pandangan politik ini, kita akan selalu merasa tanah yang kita pijak ini tanah milik kita.

Kita akan selalu bertetangga.

Pintaku sore ini, untuk para tetanggaku: jangan kalian jual rumah kalian, dan jangan pindah jauh dari saya.




Edward Suhadi
April 19, 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.