Minggu, 16 April 2017

Empirisme

Hume & Locke


Kepastian adalah kata kunci untuk perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan di abad 17 dan 18. Zaman dimana manusia berlomba-lomba menjelajah dunia ini, benua Amerika dan Australia baru "ditemukan" dan segera dirambah orang-orang Eropa untuk diambil sari patinya serta dibawa pulang ke negerinya. "Cogito Ergo Sum"-nya Descartes nampaknya tidak memberi kepastian. Realitas yang cuma didasarkan dari pikiran, tidak meyakinkan. 

Aliran baru muncul, yaitu Empirisme - suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan pengetahuan. Bagi penganut empirisme sumber pengetahuan yang memadai itu adalah pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman disini adalah pengalaman lahir yang menyangkut dunia dan pengalaman bathin yang menyangkut pribadi manusia. Sedangkan akal manusia hanya berfungsi dan bertugas untuk mengatur dan mengolah bahan-bahan atau data yang diperoleh melalui pengalaman. Kata empirisme ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) yang berarti pengalaman. Empirisme lahir di Inggris dengan dua eksponen utamanya: David Hume  (1711-1776) dan John Locke (1673-1704).

Locke menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Bagi Locke, "segala sesuatu berasal dari pengalaman inderawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu terisi". Sehingga mantra baru filsafat menjadi begini,


a.       Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
b.       Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
c.        Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
d.       Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. 
e.      Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
f.       Semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.


Hume lahir di Edinburg, Scotland. Selain filsafat, dia juga menguasai hukum dan sastra. Pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu, "I never catch myself at any time with out a perception" (saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression). Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression, atau kesan yang disistematiskan ) dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisis agar empirisme dapat dirasionalkan teutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada pengamatan (observasi ) dan uji coba (eksperimentasi), sehingga menimbulkan kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian dan akhirnya pengetahuan.


Empirisme menganjurkan agar kita kembali kepada kenyataan yang sebenarnya (alam) untuk mendapatkan pengetahuan, karena kebenaran tidak ada secara apriori di benak kita melainkan harus diperoleh dari pengalaman (posteriori). Melalui pandangannya, pengetahuan yang hanya dianggap valid adalah bentuk yang dihasilkan oleh fungsi pancaindra selain daripadanya adalah bukan kebenaran (baca omong kosong). Dan mereka berpendapat bahwa tidak dapat dibuat sebuah klaim (pengetahuan) atas perkara dibalik penampakan (noumena) baik melalui pengalaman faktual maupun prinsip-prinsip keniscayaan. Artinya dimensi pengetahuan hanya sebatas persentuhan alam dengan pancaindra, perkara-perkara pengalaman yang tidak dapat tercerap secara fisik adalah tidak valid dan tidak dapat diketahui dan tidak dianggap keabsahan sumbernya.

Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “Tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa ada seekor harimau di kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menceriterakan bagaimana kita sampai pada kesimpulan itu. Jika kemudian kita terangkan bahwa kita melihat harimau itu dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita itu, namun dia hanya akan menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang kita ajukan, dengan jalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri. Dengan itu, kaum empiris tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, karena tidak bisa dipegang dan dilihat.


Namun kemudian kita tau, bahwa empirisme mempunyai banyak kelemahan. Indera itu terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil padahal tidak. Ada keterbatasan kemampuan indera sehingga kadang ia melaporkan obyek tidak sebagaimana adanya. Indera juga suka menipu - pada orang sakit malaria, gula rasanya pahit, udara panas dirasakan dingin. Ini akan menimbulkan pengetahuan empiris yang salah juga. Objek juga menipu, contohnya ilusi, fatamorgana. Jadi objek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh alat indera - ia membohongi indera. Ini jelas dapat menimbulkan pengetahuan inderawi salah. Kelemahan ini berasal dari indera dan objek sekaligus. Ketika indera (mata) melihat kerbau, ia tidak mampu melihat seekor kerbau secara keseluruhan dan kerbau juga tidak dapat memperlihatkan badannya secara keseluruhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.