Jumat, 07 April 2017

Doa Kebencian


Saya sering membully dan mengkritik Rizieq melalui FB ini dan ada yang menganggap saya menghina ulama. Hellooowww.....? Saya ga pernah menghina ulama sekalipun. Di mata saya Rizieq itu secuwilpun bukan ulama dan tidak pantas disebut ulama. Meski gelar agamanya berderet, selalu pake sorban dan pendukungnya ribuan tapi di mata saya pengetahuan agama si Rizieq masih amat dangkal dan rendahan. Saya bukannya sombong dan merasa lebih pintar dalam hal agama hanya saja saya merasa lebih waras saja.



Rizieq hanya paham soal syariat dan penafsiran agama ala otak kiri dari teksbook formal saja padahal agama jauh lebih rumit, abstrak dan kompleks dari sekedar tulisan yang ada dalam teks formal. Dalam Islam, syariat hanyalah pelajaran dasar ibarat SD atau ibarat anak tangga pertama saja. Di atas itu masih ada level thariqat, haqiqat dan ma’rifat sebagai yang tertinggi yang dalam istilah akademis bisa diibaratkan sebagai SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Rizieq cuma paham penafsiran ala otak kiri dan dia sama sekali ga memiliki kecerdasan emosional (Emotional Quotient) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang seharusnya dimiliki oleh orang yang disebut sebagai ulama.



Meski muslim tapi saya sudah dengarkan ratusan rekaman khotbah dari pendeta dan penginjil dan tak pernah satupun saya mendengarkan khotbah biadab, penuh kebencian dan kekasaran semacam mulut kotor Rizieq ini. Apalagi nasehat dari para biksu, resi, pinisepuh, pertapa dan guru suci yang selalu memancarkan kesejukan, kedamaian, kebajikan, kebijaksanaan dan pencerahan. Saya mencoba mempelajari beragam agama dari beragam sisi sehingga input data saya lumayan lengkap dan bisa mengambil kesimpulan yang cukup adil, obyektif dan bisa dipertanggungjawabkan.



Orang ini telah menebarkan banyak kebencian dan benih-benih permusuhan sehingga tidak selayaknya dibiarkan terus bebas berkeliaran menebar provokasi kemana-mana. Banyak jiwa-jiwa polos yang telah dia sesatkan. Orang ini berbahaya untuk NKRI dan mengancam keragaman yang merupakan fakta nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Jika dibandingkan dengan sifat welas asih dan kebijaksanaan tokoh agama lain macam Bunda Theresa, Mahatma Gandhi dan Dalai Lama maka orang ini ibarat langit dan comberan saja.



Saya hanya berusaha menularkan virus kewarasan yang mulai perlahan menghilang dari sebagian warga negara ini. Dogma memang bisa mematikan akal sehat dan hati nurani. Dengan bahasa halus maupun kasar saya tetap akan berjuang untuk menyembuhkan dan membuat akal sehat dan hati nurani mereka bisa berfungsi normal kembali. Jika ada yang bangga, mendukung dan membela orang ini maka jujur saja saya justru merasa malu karena seakan ajaran agama saya menjadi begitu rendah. Doa orang baik pastilah mengenai kebaikan saja. Jika doanya saja macam orang kesurupan gini pastilah kita bisa menilai kualitas jiwanya seperti apa.



Bagi saya doa orang kafir yang berbunyi "Semoga seluruh makhluk berbahagia" dan "Semoga damai di bumi sebagaimana di sorga" adalah jauh lebih baik, lebih berkwalitas dan lebih waras dibandingkan doa orang mabok seperti ini. Di mata saya orang ini sama sekali tidak paham hakikat agama dan sama sekali tidak mengenal Tuhan. Menurut saya kita harus mulai berani menyuarakan kebenaran. Lha wong orang ini teriak di jalan raya "Bunuh, Bunuh, Bunuh..." aja berani kok.....



Salam Waras
(Dari FB Muhammad Zazuli)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.