Sabtu, 08 April 2017

Descartes

Descartes (1596-1650)


René Descartes lahir di La Haye, sebuah kota kecil di Touraine, Perancis. Ia mendapatkan pendidikan di sekolah Jesuit di La Flèche. Di sekolah itu Descartes mendapatkan pelajaran tentang filsafat, fisika dan matematika. Selama di sekolah ini pula ia ikut merayakan ditemukannya berbagai bulan yang ada pada planet Jupiter, yaitu tahun 1611. Setelah meninggalkan La Flèche, Descartes berpergian ke beberapa negara Eropa selama satu dekade, termasuk hidup tiga tahun di Paris. Pada tahun 1629, dalam pencariannya akan ketenangan dan kesunyian, ia menetap di Belanda. Belanda dianggap sebagai tempat yang paling tepat karena iklim kebebasannya yang terbaik di Eropa. Descartes menetap di Belanda sampai dengan 1649. Pada rentang waktu tahun-tahun inilah ia menulis banyak karya ilmiah. Pada Oktober 1649 pula ia pindah ke Stochkholm, Swedia, namun pada Februari tahun berikutnya ia wafat karena penyakit pneumonia.

Inti metode Descartes adalah keraguan yang mendasar. Dia meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan: semua pengetahuan, pengamatan dan kesan indrawinya, dan bahkan juga kenyataan bahwa dia mempunyai tubuh sekalipun. Dari semua keraguan itu, dia mencapai satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu keberadaan dirinya sebagai pemikir. Oleh karena itu, dia sampai pada pernyataan yang terkenal "cogito ergo sum".

Jika dijelaskan, kalimat "cogito ergo sum" berarti sebagai berikut. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Ia bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.
Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.
Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun seandainya pikiran mengarahkan dirinya kepada kesalahan, namun ia tetaplah berpikir. Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah. Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat "ketika berpikir, sayalah yang berpikir" - salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada. Atau dalam bahasa Latin: COGITO ERGO SUM, "aku berpikir maka aku ada"
Meskipun demikian dia tidak mengingkari pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman. Hanya saja pengalaman  dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Karenanya, ia yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide, dan bukannya pada benda. Jika kebenaran adalah mempunyai ide yang sesuai dengan kenyataan, maka kebenaran hanya ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja.

Kemudian Descartes menolak untuk bergantung pada pendapat umum yang berkembang dalam masyarakat dalam melandaskan pemikirannya. Karena itu ia menolak seluruh hal kecuali kepastian dari pendapatnya sendiri. 

Dalam membangun filsafatnya, Descartes membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai patokan dalam menentukan kebenaran dan keluar dari keraguan yang ada. Adapun persoalan-persoalan yang dilontarkan oleh Descartes untuk membangun filsafat baru itu antara lain:

a.      Apakah kita bisa menggapai suatu pengetahuan yang benar?

b.      Metode apa yang digunakan mencapai pengetahuan pertama?

c.       Bagaimana meraih pengetahuan-pengetahuan selanjutnya?

d.      Apa tolok ukur kebenaran pengetahuan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Descartes menawarkan metode-metode untuk menjawabnya. Yang mana metode-metode tersebut harus dipegang untuk sampai pada pengetahuan yang benar, yaitu:

1. Seorang filsuf harus hanya menerima suatu pengetahuan yang terang dan jelas.
2. Mengurai suatu masalah menjadi bagian-bagian kecil sesuai dengan apa yang ingin kita cari. Atau jika masalah itu masih berupa pernyataan: maka pernyataan tersebut harus diurai menjadi pernyataan-pernyataan yang sederhana. Metode yang kedua ini disebut sebagai pola analisis.
3. Jika kita menemukan suatu gagasan sederhana, kita harus merangkainya untuk menemukan kemungkinan luas dari gagasan tersebut.  Metode yang ketiga ini disebut dengan pola kerja sintesa atau perangkaian.
4. Pada metode yang keempat dilakukan pemeriksaan kembali terhadap pengetahuan yang telah diperoleh, agar dapat dibuktikan secara pasti bahwa pengetahuan tersebut tak memuat satu keraguan pun. Metode yang keempat ini disebut dengan verifikasi.

Jadi dengan keempat metode tersebut Descartes mengungkap kebenaran dan membangun filsafatnya untuk keluar dari keraguan bersyarat yang diperoleh dari pengalaman inderawinya.

Menurut Descartes, tugas dalam kehidupannya adalah membedakan kebenaran dan kesalahan dalam semua bidang pelajaran. Karena menurutnya “semua ilmu merupakan pengetahuan yang pasti dan jelas". Filsafat Descartes banyak dipengaruhi oleh ilmu alam dan matematika yang berasas pada kepastian dan kejelasan, perbedaan yang tegas antara benar dan salah.

Cerita Descartes adalah kisah Rasionalisme. Rasionalisme adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, bukannya melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Pada mulanya ia beranggapan bahwa pengetahuan dihasilkan oleh indra. Tetapi karena indra itu tidak dapat meyakinkan, bahkan mungkin pula menyesatkan, maka indra tidak dapat diandalkan. Yang paling bisa diandalkan adalah diri sendiri. Dengan demikian, inti rasionalisme adalah bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukan berasal dari pengalaman, melainkan dari pikiran.

Rasionalisme sejak Descartes terus berkembang sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun rasionalisme ternyata membawa manusia kepada kehancuran, teknologi dipergunakan untuk memusnahkan alam dan manusia itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.