Kamis, 23 Maret 2017

Selimut

TINDAKAN YANG PATUT UNTUK DITELADANI

Bapak tua yang berpakaian lusuh membutuhkan 5 buah selimut untuk keluarganya di musim hujan & dengan cuaca dingin.

Ia sudah berkeliling di pasar tapi tidak ada penjual toko yang menjual harga 100 ribu untuk 5 selimut.

Dengan sudah putus asa ia memasuki toko terakhir yang lebih megah di pasar tersebut.

Suara ragu bapak tua bertanya:
_"Saya membutuhkan 5 selimut... tapi saya hanya punya uang 100 ribu apakah bapak menjualnya ?"_

Pak Budi sang oemilik toko menjawab dengan ramah :  _"Oh ada pak, saya punya selimut bagus buatan Turki, harganya juga murah, hanya 25 ribu per buah. Kalau bapak beli 4 buah akan mendapat bonus 1 buah."_

Bapak tua merasa lega... terlihat pancaran wajah yang berseri. Segera ia mengulurkan lembaran uang 100 ribu miliknya lalu menerima bungkusan selimut dan membawanya pulang 

Didi anak pak Budi si pemilik toko dari awal  memperhatikan peristiwa itu lalu bertanya : _"Ayah .... Kok bisa ?? bukankah kemarin Ayah mengatakan selimut itu jenis selimut termahal di toko ini, kalau tidak salah kemarin Ayah mengatakannya seharga 250 ribu per helainya..!?"_

Pak Budi tersenyum pada Didi anaknya lalu menjawabnya : _"Benar sekali, kemarin kita menjualnya 250 ribu kepada pembeli yang lain tidak kurang sedikitpun *Kemarin kita berdagang dengan manusia Hari ini kita berdagang dengan Tuhan.*_

Ayah ingin keluarga bapak tua tadi dapat terhindar dari dingin di musim dingin ini. 
Ayah berharap Tuhan _menyelamatkan_ keluarga kita dari panasnya api neraka di akhirat nanti. 

Sesungguhnya.. 
kalaulah tidak karena menjaga harga diri bapak tua tadi, 
Ayah tidak ingin menerima darinya uang sedikitpun. 
Ayah tidak ingin ia merasa menerima sedekah sehingga merasa malu dihadapan kita disini."

Didi tersenyum bangga dapat mengambil hikmah atas pelajaran berharga yang diperoleh hari ini dari Ayahanda nya.

Sementara itu bapak tua telah sampai di rumah disambut istrinya dengan gembira, kemudian membuka bungkusan selimut. Terkejutlah si istri lalu bertanya:
_"Darimana ayah dapat uang beli selimut mahal ini ?"_

"Dari uang yang ibu kasih tadi" jawabnya sambil merebahkan diri di lantai karena kelelahan.

"Tidak mungkin dengan 100 rb, 
dapatkan selimut ini, 
jangankan 5, 
satu buah aja gak dapat." tukas istrinya.

Percakapan ini didengar Tuti sang anak, lalu menghampiri kedua orangtuanya.

Kemudian Tuti memeriksa selimut tersebut _"Ini harganya 250 rb, ayaahh"_

Si ayah bangkit melihat label harga yang dilihat Tuti lalu berkata: _"Sepertinya si pemilik toko salah, tadi dia bilang harganya 25 rb, karena ayah beli 4, dapat bonus 1"_

Semua terpaku diam...  _"Besok ayah hantarkan lagi ke toko itu, jangan dipakai dulu ya"_ kata si istri memecah kesunyian.

_"Ayah kelihatan capek, Tutu saja yang hantarkan sekarang. Di toko mana ayah beli selimut ini ?"_

_"Kenapa harus sekarang nak ? tadi ibu lihat kamu lagi menjahit pesanan bu Kino untuk besok"_ 
tanya ibunya

_"Ibu, kasihan si pedagang itu bu, kalau nanti dia jual lagi ke orang lain dgn harga segitu, soal jahitan itu, bisa saya selesaikan nanti malam"_
jawab Tuti.

Sang ayah tersenyum bahagia dan bangga, 
kemudian menjelaskan toko tempat dia membeli selimut.

Tuti mengayuh sepeda menuju pasar.

_"Silahkan masuk nona"_ sapa ramah Didi saat melihat Tuti celingak-celinguk di depan tokonya.

_"Maaf bang, tadi adakah Abang menjual selimut ini kepada seorang tua ? Saya anaknya mau mengembalikan selimut ini"_  tanya Tuti.

Dari bungkusannya Didi sudah tahu bahwa itu memang selimut yang dijual ayahnya tadi.
_"Maaf nona, apakah ada barang yg rusak ?Saya akan ganti dgn yang lain"_

_"Oh, tidak, saya mau kembalikan bukan karena rusak, tapi Abang salah lihat harga, di label ini 250rb bukan 25rb."_

Didi berpikir sejenak, 
sambil pura-2 memeriksa selimut tersebut.

"Terimakasih.. 
nona telah _menyelamatkan_ saya dari kerugian besar, coba bayangkan jika semua itu (sambil menunjuk tumpukan selimut) saya jual 25rb, berapa besar kerugian saya. 
Untuk itu saya hadiahkan selimut ini untuk ayah nona."

"Benar yang dibilang Didi anak saya, 
harap diterima kembali uang ini." Sang ayah yang sedari tadi hanya menonton, 
menimpali sambil menyodorkan uang 100rb ke Tuti.

"Eee"

_"Jangan menolak nona, ini sekedar ucapan terimakasih saja, nona telah menyelamatkan kami jauh lebih besar dari ini, bawalah selimut tsb pulang dan tolong kembalikan uang ini kepada ayahmu."_

Saudaraku...
sungguh untuk berbuat yang benar sesuai KehendakNya, 
butuh seni dan akhlaq yang tinggi. 

Seyogyanya kita bisa mencontoh akhlaq mulia dari pemilik toko, Didi anaknya serta keluarga bapak tua si pembeli selimut itu.

Janganlah jemu untuk berbuat baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.