Minggu, 19 Maret 2017

Madzhab Sadisme


Islam Madzhab Sadisme

"Kami ini semua janda, empat bersaudara perempuan semua, masing-masing suami kami meninggal dunia, ...., kami bener-bener dizalimi, apalagi ngurus pemakaman orang tua kami aja susah," 

Begitulah rasa kedukaan yang teramat pedih keluar dari mulut Neneng, anak bungsu nenek Hindun (78) yang jasatnya ditelantarkan masyarakat sekitarnya, tidak disalati di tempat ibadah di kediamannya, Jalan Karet Raya II, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017). Dengan dalih sang nenek tak mengindahkan anjuran memilih calon muslim pada Pilkada DKI putaran pertama. Meski sudah banyak klarifikasi toh isu ini tetap dirasakan dan semoga tidak terulang kembali,

Rekayasa taktik politik dengan baju agama merupakan jurus jitu penggalangan suara kontestan peserta pilkada. Namun, merealisasikan isu politik yang belum tentu singkron dengan nilai luhur nan suci agama, ditambah berlawanan dengan etika sosial-kemasyarakatan adalah kebiadaban dan penistaan sisi keagamaan itu sendiri.

Agama, dalam hal ini Islam, yang dianut oleh nenek Hindun harus mengedepankan lima dasar pokok beragama yang disarikan oleh Imam as-Syatibi; menjaga Agama (hifdzu ad-Din), menjaga diri (hifdzu al-Nafs), menjaga keturunan (hifdzul an-Nasl), menjaga akal (hifdzu al-‘Aql) dan terakhir menjaga harta (hifdzu al-Mall). Secara umum Islam sebagai agama yang membawa keislaman dan keimanan yang rahmatan lil alamin mengedepankan lima prinsip dasar tersebut dalam bertindak dan berperilaku.

Jika prinsip dasar di atas disalahkan atau tidaksesuai, maka dalam teori psikologi hal yang demikian disebut “abnormalitas” atau ketidaknormalan. Ketidaknormalan ini kemudian menjurus pada bentuk perilaku di luar kaidah sebenarnya. Tinggal ketidaknormalan tersebut masih dalam tataran yang masih bisa ditoleril atau tidak. Bahasa agama kondisi-kondisi ketidaknormalan identik dengan identitas kafir, munafik, fasik dll.

Sehubungan dengan pentelantaran jasad nenek Hindun, watak keislaman ini benar-benar jauh dari esensi agama yang mensejahterakan dan menentramkan pemeluknya. Dianalisa dari sisi penjagaan agama (hifdu ad-Din) jelas-jelas ini mencederai keislaman nenek Hindun. Dia secara pribadi mengucapkan dua kalimah syahadat (persaksian), menjalankan shalat, puasa dan amal-amal ibadah wajib dan sunnah yang lain. Ini tidak bisa mensterotipe sebagai munafik apalagi kafir yang berujung tidak disalati.

Menimbang Orientasi beragama

Dalam hazanah ilmu pengetahuan, perilaku beragama dianalisa tuntas melalui psikologi agama. Raymond F. Paloutzian dalam bukunya, Invitation to the Psychology of Religion, menilai setiap individu memiliki orientasi keagamaan yang berbeda-bada. Pendekatan keimanan tentang apa makna iman dalam kehidupan membedakan orientasi keagamaan di kemudian.

Selanjutnya, orientasi keagamaan ini dibedakan menjadi dua konsep, yaitu orientasi keagamaan Intrinsik dan Ekstrinsik. Keberagamaan intrinsik menuntut pemeluk agama hidup berdasarkan atau sesuai dengan agama yang dianutnya. Ide keimanan yang dimotivasi secara intrinsik bermakna bahwa alasan keimanan seseorang ada dalam dan berasal dari internal orang tersebut.

Kedua, keberagamaan ekstrinsik, yaitu orang yang hidup menggunakan atau memanfaatkan agama yang dianutnya. Orang berorientasi agama ekstrinsik ia cenderung menggunakan agama untuk kepentingan dirinya sendiri. Dalam terminologi sederhana, orang golongan ini beragama karena ada semacam penguatan nyata (reinforcement) yang menarik keikutsertaannya dalam agama. Keberagamaannya ditentukan oleh ada tidaknya keuntungan yang didapat dari beragama itu. Dengan ungkapan lain, ada motif non-agama dari perilaku orang beragama.

Secara intrinsik, pemeluk agama dituntut melakukan penalaran akal budi yang sehat atas teks-teks suci, penafsiran para ahli agama serta penyesuaian pada kondisi situasi kenyataan. Penyesuaian diri ini harus terus diulang-ulang untuk menemukan sari dari nilai agama yang suci. Maka, dangkal sekali jika keimanan seseorang menyebabkan kedengkian, kebencian dan prasangka-prasangka negatif. Apa yang dulu diformulasikan nenek-moyang kita tentang nilai tepo-sliro, ungah-ungguh, sopan-santun dan akhlak terpuji lahir dari internalisasi kesalehan yang mapan.    

Naifnya, tampilan pemeluk agama dewasa ini lebih mengedepankan faktor  ekstrinsik. Tafsir-tafsir kebencian, sentimen rasial, pemaksaan madzhab kebenaran, ataupun bentuk-bentuk ritual temporal yang didesain pada situasi dan kondisi tertentu, tampak sebagai politik-relegius (siasah) daripada tujuan intinya agama sebagai pembinaan psikologis-relegius (akhlak). Tak jarang tujuan agama hanya disudutkan sebagai ideologi politik yang profan memenuhi keinginan kelompok agamis tertentu.

Islam Madzhab Sadisme

Tampilnya agama tak terkecuali Islam, mengedepankan aspek ekstrinsik, mengesankan terjadinya perilaku sadisme menyatu ke dalam egoisme-agamis. Di sisi lain, berlawanan dari lima dasar ajaran Islam yang disampaikan oleh Imam as-Syatibi membenarkan terjadinya prilaku sadisme atas nama agama. Keberagamaan demi kepentingan sesaat melupakan lima dasar tersebut menyebabkan nilai suci agama tidak dirasakan. Maka patut disebut sebagai “patologi-beragama”.

Oleh sebab itu, cara pandang agama pun diabsahkan kacamata kelompoknya saja. Keniscayaan perbedaan diakuisisi sebagai produk akal-akalan manusia, bukan bagian dari doktrin agama, sehingga ajarannya tidak patut dilaksanakan bahkan haram. Dan merasa senang jika yang berbeda dengan mereka bisa dijatuhkan.

Erich Fromm dalam, The Anatomy of  Human Destructiveness (1973) menjelaskan kesadaran yang demikian disebabkan pengalaman mereka yang diulang-ulang tentang kesadisan, keganasan dan ketimpangan yang diterima. Atau dianggapnya sebagai aksi balasan dari kelompok mereka yang menerima hal seperti itu. Sehingga, bukan nalar agama yang digunakan tetapi sentrisme kelompok maupun suku, sebagai manifestasi keadilan. Walhasil, pemaksaan, anarkisme dan pengkategorian negatif identitas agamis; munafik, fasik dan kafir pun terjadi.

Inilah bayang-banyang madzhab sadisme yang jauh dari idealitas agama sebagai penyelamat dan menata dunia yang lebih baik. Watak sadisme ini kepada siapa pun dilakukan jika mereka tergolongan di luar, baik yang berderajad secara sosial-keagamaan, keilmuan jatuh dihadapan mereka. Dicemooh, dicaci-maki bahkan tragisnya nyawa yang merupakan anugerah terbesar tuhan dengan mudah dikorbankan. Aksi terorisme baik pelaku maupun korban diakui sebagai sebab-akibat jihad suci. Modusnya pun bermacam-macam dan makin menjadi-jadi.

Ada faktor yang mendorong hal ini mengapa terjadi, antara lain; pertama, lebih mengedepankan prilaku ritualistik daripada menimbang kebermaknaan ibadah. Ini dibuktikan penelitian  yang dilakukan F. Paloutzian pada tahun 1940-an dan 1950-an, yang disebut olehnya sebagai grand paradox keberagamaan. Ia mendapatkan bukti bahwa, secara umum orang yang intens pergi ke rumah ibadah (Gereja) memperoleh skor lebih tinggi pada ukuran prasangka etnis dan rasial dibanding yang tidak pergi ke rumah ibadah.

Kedua, romantisme peradaban dijunjung tinggi sebagai pencapaian agama semata, menghilangkan signifikansi faktor penguat yang lain; sosial, politik, budaya dan keilmuan. Mimpi-mimpi bahagia atas kemajuan zaman keemasan, Nabi dan Sahabat misalnya, tidak didasari atas tanggungjawab menata kondisi sosial-budaya kemasyarakatan saat itu. Sekaligus tidak dianggap sebagai keberhasilan personal berdialektika dengan konsep agama yang terbentang luas dan dalam nilainya.

Kenaifan Islam hari ini, khususnya yang terjadi di Indonesia, menganggap terjadi pembalikan dari apa yang mereka akui sebagai kesalahan / meninggalkan ajaran Nabi dan Sahabat. Toh, mereka tidak juga sadar akan perjalanan waktu, apa yang dulu dilakukan Nabi dan Sahabat dan sampai pada kita melalui proses panjang banyak duri dan nestapa keislaman.

Maka, kecenderungan bersikap sadistik sejatinya tumbuh disebabkan ketidakmampuan persoanal mengatasi paradoks dalam dirinya. Di satu sisi mereka selalu memaksakan kehendak pada yang lain, di sisi lain mereka selalu menuntut yang lain memahami mereka.
Jika bertemu dengan orang seperti ini, kasihanilah sebab mereka orang yang gagal menjadi manusia agamis.

M. Miftah Wahyudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.