Minggu, 19 Maret 2017

Islam Pilkada

Islam Masa Pilkada


Akhir-akhir ini, saya kian kewalahan meyakinkan seorang teman bule yang kuatir akan masa depan Islam Indonesia yang dia lihat kian urakan. Saya berupaya menjelaskan bahwa apa yang dia lihat saat ini hanyalah bagian dari dinamika Pilkada. Tapi tetap saja dia sering menutup obrolan dengan ungkapannya yang itu-itu juga: Novri, apa yang saya saksikan kini di Indonesia, mirip sekali dengan apa yang telah saya lihat puluhan tahun lalu di Pakistan.

Dia kuatir, Islam Indonesia akan kian satu warna dan satu suara, kian konservatif bahkan ultrakonservatif, dan dengan demikian akan kian akrab dengan kepicikan dan kekerasan.

Saya berupaya membantah dengan mengatakan bahwa Islam di Indonesia akan baik-baik saja. Yang Anda lihat saat ini adalah fenomena sesaat karena adanya konteks Pilkada. Tunggulah sampai Pilkada selesai, kehidupan keberagamaan orang Indonesia akan kembali normal seperti sedia kala.

Kala itu, Nahdlatul Ulama akan tetap menunjukkan eksistensi Islam Nusantara, Muhammadiyah tetap berupaya menampakkan wajah Islam yang berkemajuan.

Kelompok Ikhwani akan tetap diombang-ambing sistem—bukan malah mengubah sistem politik yang koruptif. HTI akan tetap berkampanye tentang khilafah walau sudah ada yang tegak di Suriah.

FPI mungkin akan tetap beraksi di momen-momen tertentu dengan sponsor yang berbeda-beda. Begitulah kira-kira jawaban saya.

Tapi terus terang, saya tak pernah yakin dengan jawaban saya. Yang saya kemukakan itu mungkin bisa disebut harapan atau jawaban yang ingin melegakan hati.

Saya tahu, dinamika Islam itu begitu kompleks dan kita tidak pernah tahu pada titik apa akan terjadi kejutan-kejutan sejarah. Kalau Anda pernah menonton film Persepolis, Anda mungkin akan kaget melihat kehidupan orang Iran berubah 180 derajat setelah terjadinya Revolusi Islam yang dipimpin Imam Khomaini di tahun 1979.

Kalau tidak suka dengan contoh dari kalangan Syiah, renungkanlah ini: Siapa yang dapat mengira bahwa di sebuah negara Arab yang sedang berkecamuk, di tahun 2015, sekonyong-konyong tegaklah sebuah sistem Khilafah yang diklaim telah berkesesuaian dengan minhaj atau jalan atau teladan kenabian?

Ini artinya, pembalikan-pembalikan dan kejutan-kejutan sejarah itu mungkin sekali terjadi dalam momen-momen yang revolusioner dan mengagetkan.

Karena itu, jangan sekali-kali bermain-main dengan api Islam. Anies Baswedan pun telah bertobat dan mencoba memadamkannnya walau di tempat yang salah!

Andaikan Habib Rizieq Syihab kembali mampu mengorganisir sebuah demonstrasi jutaan orang pada bulan atau tahun depan, lalu diberikan akses untuk menguasai Senayan oleh Fahri atau Fadli, karena itu berhasil menjatuhkan pemerintah dan memaksakan visinya tentang NKRI Bersyariah, tentu saja Indonesia akan berubah dalam sekejap mata. Apakah berubah ke arah yang lebih nyaman atau paling jahanam, itu lain soal.

Jalan ke arah itu lebih mudah lagi bila ada sokongan logistik dari sosok-sosok oportunis lokal maupun interlokal, asing ataupun aseng, didukung pula oleh orang kuat yang mungkin tak tahan lagi ingin berkuasa dengan segala cara.

Apakah partai-partai politik yang nasionalis akan mampu membendungnya atau akan ikut menari saja dalam genderang yang paling garang?

Saya memang cuma berkhayal. Tapi saya agak ngeri membayangkan Indonesia yang kini sedang giat berbenah justru tampak dibenci dan ingin dibelokkan ke arah yang sektarian dan tuna-peradaban.

Di saat-saat Pilkada Ibukota ini, kita kian sering menyaksikan ekspresi-ekspresi keagamaan yang paling norak dan paling dangkal.

Rukun Islam tiba-tiba bertambah dengan poin kewajiban orang Indonesia untuk memilih paslon Muslim. Pilihan politik menentukan nasib jenazah apakah akan disalatkan atau tidak. Umat Islam tiba-tiba merindukan sosok Soeharto yang dulu dianggap sebagai taghut atau tiran paling efektif dalam mematikan politik Islam.

Ini artinya, Islam masa Pilkada adalah jenis Islam yang paling tidak konsisten dan paling manipulatif yang dapat kita saksikan. Ini adalah ekspresi Islam yang membenci seorang aseng dan mengemis kepada aseng-aseng lainnya.

Ini jenis Islam yang menyokong non-Muslim di suatu daerah dan memaki-maki calon non-Muslim di daerah lainnya. Ini adalah jenis Islam yang disesuaikan dengan kepentingan politik yang paling sempit, bukan Islam yang mengabdi untuk keutuhan tenun kebangsaan kita.    

Inilah jenis Islam yang paling labil untuk diamati dan paling tidak istiqamah. Pada titik ini, mungkin kita perlu angkat topi untuk ideolog ISIS Indonesia, Ustad Aman Abdurrahman, yang kini masih mendekam di penjara Nusa Kambangan.

Tahun lalu, Ustad Aman melarang para pendukungnya untuk berpartisipasi dalam aksi-aksi bela Islam. Alasannya sederhana: semua aksi-aksi itu tidak lepas dari jebakan sistem taghut yang diharamkan Allah.

Ustad Aman benar belaka. Islam masa Pilkada adalah jenis Islam yang berdinamika di seputar sistem demokrasi yang menghalalkan suksesi kekuasaan dan kompetisi yang reguler dalam jangka lima tahunan.

Sistem ini memang belum pernah dianut umat Islam sejak zaman Nabi sampai dengan runtuhnya sistem Khilafah Turki Usmani (1924). Dalam sistem ini, yang dipilih bukanlah Khalifah atau Sultan, atau siapakah yang paling Islami, tapi siapa yang paling baik untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat selama lima tahunan.

Pada titik ini, Ustad Aman tampak konsisten, sementara mereka-mereka yang sudah kenyang dengan asam garam pahit manisya demokrasi justru mencla-mencle dan penuh kemunafikan.

Di suatu tempat, mereka menghalalkan dukungan kepada calon non-Muslim tapi di tempat lain mereka haramkan. Di suatu daerah mereka bisa memfatwakan haramnya pemimpin perempuan, di daerah lain justru menghalalkan.

Inilah Islam masa Pilkada, jenis Islam yang ditimbang bukan berdasarkan kemaslahatan bangsa, tapi demi kepentingan dan kekuasaan sesaat belaka.

Saya berharap, kekonyolan-kekonyolan dan bentuk-bentuk ketidakdewasaan dalam kehidupan berbangsa dan beragama ini hanyalah merupakan fenomena sesaat. Dengan begitu, setelah Pilkada usai, Islam Indonesia akan tetap warna-warni dan tenun kebangsaan kita tidak terkoyak-koyak oleh penjahitnya sendiri.

Semoga ya Allah, Tuhan YME!

Jakarta, 10 Maret 2017
Novriantoni Kahar
10 Mar 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.