Kamis, 23 Maret 2017

Aulia

TERJEMAH AL-MAIDAH 51

Selesai mengajar, saya masuk perpustakaan UIN Jakarta. Penasaran ingin mengecek terjemah al-Qur'an bahasa Indonesia terhadap surat al-Maidah 51. Bagaimana para penerjemah al-Qur'an mengartikan kata auliya' dalam surat itu.

Terkumpul 14 buku terjemah al-Qur'an di meja saya. Sebagian besar berbahasa Indonesia, kecuali hanya tiga yang berbahasa daerah; dua berbahasa Jawa dan satu berbahasa Sunda. Hasilnya sudah bisa diduga. Mereka tak satu kata dalam menerjemah kata auliya' itu.

Hamka, Bakri Syahid, Bachtiar Surin, Zainuddin Hamidy & Fachruddin Hs, Qamaruddin Shaleh dkk, mengartikan kata auliya' sebagai pemimpin. 

Yang menarik, dalam buku terjemah cetakan tahun 1968, Mahmud Yunus mengartikan auliya sebagai pemimpin. Namun, dalam buku terjemah Mahmud Yunus cetakan tahun 2002, terjemah kata auliya' mengalamj perubahan, dari "pemimpin" menjadi "wali" saja. Perlu diriset, kapan persisnya perubahan terjemah ini terjadi.

Sementara Abdurrauf, Quraish Shihab, KH Bisyri Mustofa, HB Jassin, Oemar Bakry, Rifai & Rosihin Abdulghoni, Hasbi al-Shiddiqie, Kemenag RI tak mengartikan kata auliya' sebagai pemimpin. Ada yang mengartikannya dengan; sahabat, teman setia, teman dekat, kekasih, penolong, dan pengendali urusan.

Dari paparan itu, satu hal yang bisa kita katakan; bahwa kata auliya' memiliki beragam makna. Ia tak bermakna tunggal sebagaimana diduga sebagian orang. Wallahu a'lam bis shawab.


Rabu, 22 Maret 2017

Abdul Moqsith Ghazali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.