Rabu, 15 Februari 2017

Vero

Bukan tentang Ahok.

Kali ini saya tidak ingin membicarakan Pak Ahok. Saya ingin membicarakan seorang pribadi di balik Pak Ahok. Ini tentang Ibu Veronica. Kenapa di balik bukan di samping, walau saya tahu ia ada di samping beliau. Saya bilang di balik karena Ibu Vero ini sering tidak terlihat karena yang banyak disorot adalah si bapak yang hot untuk dibicarakan. 

Saya adalah salah satu dari arsitek-arsitek yang terlibat dalam proyek RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak), dari sekian banyak orang dari Pemda sampai kontraktor serta mandor dan tukang-tukangnya. Karena itu saya memiliki kesempatan untuk melihat Ibu Vero bekerjanya seperti apa karena proyek RPTRA ini dikepalai oleh beliau. 

Saya melihat dengan mata kepala sendiri dari senyumnya yg orang bilang cocok untuk seorang Ibu Gubernur, sampai marah-marahnya Ibu Ahok ini. Saya mengalami sendiri bagaimana beliau memimpin, berpikir untuk kebaikan masyarakat kota Jakarta. Pemikirannya sangat detail karena beliau ingin semua dana yang dikeluarkan tidak luput sedikitpun untuk memberi kebaikan bagi warga. Walaupun proyek ini diprioritaskan untuk para ibu dan anak-anak, beliau ingin proyek ini dapat dinikmati semua kalangan warga.

Dalam rapat, biasanya kami 11 arsitek diberi waktu sekitar 1 jam untuk presentasi. Rapat dimulai jam 9 pagi selama 11 jam sampai jam 8 malam. Ibu Vero selalu mengikuti rapat dari awal sampai akhir. Dari 9 pagi sampai 8 malam Ibu Vero tidak keluar dari ruangan rapat selain untuk ke kamar kecil. Beliau makan bersama kami, makan siang nasi kotak yang sama dengan kami, eh makan malam sama kami juga. 

Ada 1 waktu ketika rapat Pak Ahok masuk ke ruangan dan memberi tahu ada tamu2 di luar dan mengajak apabila Ibu Vero mau ikut. Tapi Ibu Vero menolak karena rapat belum selesai. Lalu Pak Ahok bilang, "Ada JuPe lho". Ibu Vero hanya membalas, "Ya sudah Bapak saja sana". Ternyata banyak artis di luar, tapi Ibu Vero tetap memilih untuk melanjutkan rapat bersama kami (yang aku mah apa atuh) #terharu. Ketika rapat selesai beberapa jam kemudian, kami mempersilakan Ibu Vero untuk meninggalkan kami barangkali Ibu sudah ditungguin sama JuPe. "Yah kan Bapak sudah ada temennya sama JuPe, saya bisa menemani kalian". Kemudian terharu lagi, padahal rapatnya sudah selesai. 

Ibu Vero tidak mencari ketenaran, tp kebenaran. Banyak yang tidak tahu Ibu Vero seperti apa dan apa yang dikerjakannya. Saya berbangga terlibat dalam proyek ruang publik di Jakarta. Bukan untuk membanggakan diri, tp saya rasa dari pihak yang paling kecil  seperti para tukang adalah orang yang berkontribusi untuk kebaikan Jakarta. Walaupun kalau di proyek mereka bilang sama saya, "Non ini proyek bikin saya capek.", tapi "Non kalau bisa Pak Ahok kepilih lagi supaya banyak proyek seperti ini kan bagus tamannya, jadi saja belum tapi anak-anak sudah tak sabar untuk main sampai saya usir-usirin." 

Saya menulis ini karena saya ingin orang-orang untuk tahu hasil kerja Ibu Vero. Karena tanpa beliau saya tahu betul proyek-proyek tersebut tidak akan berjalan lancar. Sekarang saya lihat sendiri hasilnya terbayarkan oleh senyuman para ibu dan nyanyian anak-anak. 

Sebagai seorang anak, seorang wanita, dan seorang yang kelak menjadi ibu saya sangat bangga dan berterimakasih kepada Ibu Vero untuk menjadi seorang Ibu bagi kota Jakarta. 

Doaku bersamamu Ibu Veronica.

Kekaguman saya terhadap Ibu Veronica melebihi kekaguman saya terhadap Michelle Obama. Karena walau saya di Amerika pun saya tetap orang Indonesia. Dan yang dibutuhkan agar Indonesia yang lebih baik ya orang Indonesia ❤🇮🇩✌


Dari facebook kawan saya Xenia Sabina yang bantu desain RPTRA 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.