Jumat, 03 Februari 2017

Roby Lukita

Berjumpa dengan karya-karya Roby Lukita, kita akan merasakan moment-moment puitis tentang narasi masa kecil, hubungan dengan adik, ibu, lingkungan dan pandangan-pandangannya terhadap dunia. Kita percaya bahwa karya seni yang baik adalah karya yang muncul dari hati yang paling dalam. Memang ada yang mengatakan sebaliknya, bahwa karya yang baik itu adalah karya yang sudah dikonsepkan dulu sejak awal, namun bagi Roby karya itu bisa muncul begitu saja ketika dia berhadapan dengan media. Mungkin dia akan terkejut sendiri dengan hasilnya, sehingga dia memberi judul "Potret Kumpeni", misalnya kepada figur bertopi merah dan mata yang putih itu. Tetapi kalau kita percaya bahwa semua perbuatan itu tidak terlepas dari pergolakan alam bawah sadar, maka gambaran tentang "kumpeni" sebenarnya sudah ada jauh sebelum suatu karya diciptakan. Mungkin saja idea tentang kumpeni muncul ketika Roby menonton televisi atau mendengar dari pelajaran sejarah yang didapatkannya di sekolah. Dan kemudian mengkristal lalu meloncat ke dalam kanvas. 

Hal yang sama ketika ia membuat "Pancasila", lukisan itu tidak dimaksudkan sebagai suatu respon terhadap wacana kembali ke Pancasila seperti yang sedang hangat diperbincangkan di media akhir-akhir ini. Namun Pancasila versi Roby adalah endapan apa yang didapatnya waktu kecil. Pancasila versi Roby bukanlah kepala garuda yang gagah, namun lebih mirip leher bebek dengan perisai berbentuk oval. Di dalam perisai tersebut kita akan mendapatkan sekumpulan kata seperti Bandung, Djakarta, Aceh, Lampung, NTB, NKRI .... suatu jejak kebhinekaan. Lukisan Pancasila ini menarik karena mewakili bagaimana cara Roby memandang dunia di luar relasi dengan keluarga dan teman. Background dari sosok garuda ini sibuk dengan tulisan dan angka-angka, barangkali ini mempresentasikan kecenderungan Roby yang ingin bernarasi. Kata-kata yang ditulisnya berulang-ulang mirip mantra. Kita bisa menggali lebih jauh apa yang ingin dikatakan oleh Roby terhadap lukisan ini, dengan bertanya langsung kepadanya. Namun biarkanlah karya itu berbicara sendiri tanpa lebih banyak penjelasan.

Bagaimana citraan Roby tentang wanita masa kini, bisa dilihat pada karya "Show-off". Wanita berambut bob dan bergincu sedang bertolak pinggang mengenakan sepatu hak tinggi. Ada simbol-simbol kehidupan modern disitu, ada mobil, rumah, proyektor, gelas minuman, dan bar. Manusia modern diidentifikasikan dengan kehidupan malam dan dugem. Roby memberikan tone warna hitam untuk menggambarkan malam dan dunia yang gelap, berbeda saat dia memberikan warna merah ketika mencoba menggambarkan kegagahan Pancasila. Terlihat nuansa kesederhanaan bahasa ketika Roby ingin menuangkan sebuah idea - dengan cara menempelkan atribut yang terkait (gelas, botol, mobil) dan pemilihan warna untuk membedakan suasana. Jika itu terasa kurang, boleh ditambahkan kata-kata, seperti "fasion" (maksudnya fashion) dan "paro" (parodi?).

Lukisan lain yang seru adalah "Bon Ben", berisi sekumpulan binatang, orang dan pohon. Ada ayam, ikan, burung, banteng, armadillo, ular, dan makhluk-makhluk aneh lainnya, termasuk juga orang di dalamnya tentunya. Pohon ada banyak, kaktus, durian, rose, melati, bunga matahari. Tidak semua kata-kata bisa dimengerti, beberapa bisa kita tangkap, seperti OK, Neto 33 KG, panen, stone, kamus, baca, beo, memo, norma, nero, son, life, es, out, kera, not, tuh, big, nias, open. Kata Nero, OK, Son, ditulisnya berulang-ulang, mungkin itu bagian dari obsesinya. Bon Ben sendiri mungkin maksudnya Bon-Bin, Kebon Binatang. Ada keramaian dan keriaan di dalamnya. Ada kue, eskrim, tulang, pisang dan monyet juga. Kita akan dapati beberapa lukisan dengan gaya seperti ini kemudian, seperti pada "Sirkus Kampung", "Pagi Bersenang-senang", "Halaman Merah", "Memory" dan "Di bawah Horison".

Kalau Jean Dubuffet meninggalkan bangku sekolah seni demi mendapatkan penciptaan karya yang natural, humanis dan anti akademis. Sehingga didapatkan lukisan yang naif, kekanak-kanakan dan melanggar kaidah-kaidah anatomi - tidak seperti yang diajarkan pada lukisan-lukisan berstandard "high art". Maka karya-karya Roby Lukita sudah genuine dari sononya. Dia tidak mengenyam sekolah seni, bahkan sekolah formalnya pun lulus dengan penuh perjuangan. Tetapi kita bisa melihat ada keindahan disitu. Warna-warna mentah yang dipilihnya berpadu dengan corat-coret yang dituangkan, membentuk keindahan melebihi Dubuffet yang karyanya cenderung gelap. Lagipula siapa yang berhak menciptakan standard keindahan? Apa definisi keindahan itu. Menurut saya, keindahan itu mempunyai definisi sendiri-sendiri, relatif terhadap pelukis dan relatif terhadap pemirsanya. Gampangnya begini, Basoeki Abdullah membuat macan akan menciptakan macan yang naturalis. Orang mengatakan macannya Basoeki itu indah, seperti hidup. Namun Popo Iskandar, melukis macan tidak naturalis, bisa kita sebut penciptaan macan Popo itu sebuah citraan tentang macan. Namun warna-warna yang mencolok pada macannya Popo dengan bentuk yang aneh itu, indah juga. Basoeki dan Popo sama-sama indah dengan ukurannya masing-masing. 

Itu yang dimaksudkan dengan Dubuffet bahwa tidak ada orang atau institusi apapun yang bisa memberikan judgement tentang keindahan. Begitu Clement Greenberg memperkenalkan karya-karya Dubuffet ke Amerika, lukisan-lukisan aneh Dubuffet langsung diterima pasar dan dikoleksi kolektor-kolektor post-modern Amerika ketika itu. Hal yang sama dengan Jean-Michel Basquiat, begitu corat-coret di temboknya dipindahkan ke kanvas, dia menjadi salah satu lukisan termahal di dunia saat ini. Orang mengoleksi Dubuffet dan Basquiat karena lukisannya terasa asli dan tidak dibuat-buat. Hal yang sama dengan Roby, apa yang membuat lukisannya terasa asli? Karena karya-karya itu muncul dari hatinya, setelah jadi baru dia sadar habis menggambar apa. 

Misalnya, bagaimana dia menggambarkan kehidupan masa kecilnya bermain tak ngumpet, dituangkan dalam "Pohon Merah". Atau masa pacaran dimana dia bisa berjalan-jalan berdua di kampungnya, digambarkan dalam karya "Photo Berdua". Adiknya yang sok galak, dilukiskan dalam "Figure". Selebihnya adalah gambaran tentang ibu yang dikasihinya, ada beberapa "My Mother" dan "Menjelang Makan". Tentang teman-temannya, "Boy", "Wanted", "Face", "Violet", dan "Ortodoks", kenangannya tentang permainan gitar Edi Bonetski. Itulah Roby, dengan lingkungannya, yang jujur dan tanpa pretensi.

Terakhir adalah tentang dirinya sendiri, Roby menggambarkan dirinya yang ganteng dalam "Baju Hijau", dan "Membaca" (karena dia suka membaca), cita-citanya menjadi "Maestro", dan saat bermain-main pada "Go Play". Dalam senirupa, bidang yang baru belakangan ini dia tekuni, Roby menemukan dirinya sendiri. Dengan itu dia bisa mencurahkan isi hatinya dan mengeluarkan apa yang terpendam selama ini. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.