Senin, 13 Februari 2017

Mark Down

BAGAIMANA MEMANFAATKAN AKSI BANTING HARGA MASA PRE-CLOSING
February 13, 2017


Sejak diberlakukannya sistem penutupan pre-closing di bursa kita, kita sering melihat adanya aksi banting harga yang dilakukan di masa pre-closing, aksi ini mengundang banyak protes dari investor ritel selama ini, karena dianggap banyak merugikan investor ritel. Protes tersebut memang cukup beralasan, karena pergerakan harga dalam periode pre-closing memang hanya mungkin dilakukan oleh pemodal besar, dan kita sebagai investor ritel sering kali hanya bisa pasrah melihat saham yang dimiliki jatuh secara tiba-tiba tanpa bisa melakukan reaksi apapun.

Sebagai investor ritel kita memang tidak mungkin bisa memprediksi apakah saham yang kita miliki akan dibanting di masa pre-closing atau tidak, team riset kami beberapa kali melakukan studi terhadap pergerakan harga saham-saham yang dibanting di masa pre closing, dengan menggunakan M3S (Market Maker Monitoring System), kami melakukan reka ulang pergerkaan harga  pada saham-saham yang harganya turun signifikan di masa pre-closing, dengan tujuan untuk memprediksi kejatuhan harga tersebut, sebelum masa pre closing dimulai.

Kami memperhatikan stuktur antrian, struktur broker summary, running trade, dll namun sampai saat ini kami belum juga menemukan satu pattern yang berulang yang terjadi di saham-saham yang akan dibanting harganya di masa pre closing, kalaupun ada seringkali tandanya baru muncul beberapa detik menjelang dimulainya masa pre-closing, sehingga sangat sulit untuk dideteksi oleh sistem kami.

Namun meskipun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dari pergerakan big player dalam masa pre-closing tersebut,  sebenarnya ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh investor ritel ketika ada saham yang harganya dibanting di masa pre closing antara lain :

gap up dan naikHarga akan Gap Up dan Naik di esok harinya.
Dari riset yang dilakukan oleh team Creative Trader kami mendapati semua saham yang dibanting di masa pre-closing selalu dibuka Gap Up di keesokan harinya.

Salah satu contohnya seperti pergerakan saham AISA di samping, saham ini sempat turun luar biasa di masa pre-closing pada perdagangan akhir bulan Januari lalu.

Bantingan di masa Pre-Closing membuat saham ini ditutup auto-reject bawah, namun di keesokan harinya AISA langsung Gap Up dan lanjut naik sepanjang hari perdagangan dan di akhir hari sudah kembali tutup di level harga yang sama dengan harga pembukaan di hari sebelumnya.

Kami melihat ada kecenderungan pola yang sama pada perdagangan di keesokan hari pasca adanya bantingan harga pre-closing seperti ini, yaitu harga akan dibuka Gap Up dan akan lanjut naik sepanjang perdagangan. Artinya sebagai trader kita bisa memanfaatkan pola ini untuk mengambil keuntungan dari pergerakan harga pada hari tersebut.

Harga tidak selalu langsung kembali ke level sebelum kejatuhan harga pada keesokan harinya seperti contoh di saham AISA ini, namun harga hampir selalu naik cukup signifikan jika dibandingkan dengan harga pembukaannya. Artinya jika kita menemukan saham seperti ini di masa pre-closing, maka kita bisa berusaha untuk membeli saham ini di harga permbuakaan keesokan harinya, terutama jika harga pembukaan tersebut masih ter-discount cukup besar dibandingkan dengan harga pembukaan di hari sebelumnya.

Kejatuhan harga sering dijadikan sarana Mark Down Bandar / Asing

mark down bandar

Jika anda memahami cara menganalisa Bandarmologi, atau memiliki sistem analisa Foreign Flow anda akan menyadari bahwa aksi banting harga ini tidak selalu disertai dengan aksi jual besar-besaran oleh para Bandar / Big Player atau Investor Asing. Jadi meskipun harganya jatuh, dan secara technical umumnya memberikan sinyal negatif yang sangat kuat, namun dengan menggunakan analisa Bandarmologi / Foreign Flow kita justru menemukan peluang pada kejatuhan harga tersebut, jika kejatuhannya tidak disertai aksi distribusi yang signifikan.

Salah satu contohnya adalah kejatuhan harga BBCA pada hari Jumat kemarin, aksi investor asing di masa pre-closing membuat saham ini ditutup terkoreksi 4% dalam perdagangan hari Jumat. Namun jika kita lihat pergerakan harga BBCA ini dari sudut pandang Foreign Flow kita melihat ada peluang yang sangat menarik dibalik kejatuhan harga saham ini.

Sistem CTS Foreign Flow Pro mencatat investor asing hanya menjual sebesar 30M dalam perdagangan kemarin, outflow yang sangat rendah jika dibandingkan dengan inflow hari-hari sebelumnya. Sebagai perbandingan pada hari Kamis ada inflow sebesar 235M padahal harga BBCA hanya naik kurang dari 1%.

Jika kita menghitung average akumulasi asing selama 1 minggu terakhir, maka kita mendapati sepanjang minggu lalu total asing memborong BBCA sebanyak 429M dengan average harga pembelian sebesar 15.600, artinya aksi bantingan di pre-closing kemarin membuat saham ini justru sangat menarik, karena ditutup di harga 15.000 atau sekitar 4% di bawah average akumulasi asing sepanjang minggu lalu.

Dalam ilmu foreign flow aksi seperti ini disebut mark down, dimana asing hanya menjatuhkan harga saja, tanpa melakukan distribusi, dan sebagai investor lokal yang memahami ilmu foreign flow, kejatuhan harga seperti ini sangat menarik untuk dimanfaatkan dengan strategi trading jangka pendek. Peluang yang kemungkinan besar akan datang dalam perdagangan di pagi hari ini.

*Waktu-waktu Sering Terjadinya Aksi Banting Harga*

Setelah kami pelajari aksi banting harga ini, paling sering terjadi di akhir bulan, atau akhir semester, dimana para Big Player sering membanting harga di masa pre-closing pada penutupan perdagangan di bulan tertentu. Jadi sebagai ritel menjelang beberapa menit menjelang masa pre-closing perdagangan setiap akhir bulannya kita bisa menggunakan strategi pasang antrian di harga bawah di saham-saham unggulan,

Kita bisa memasang di antrian di kisaran harga -3% sampai -20% dibanding dengan harga pembukaan hari tersebut, juga tergantung pada pergerakan harga sepanjang hari sebelum pre-closing. Intinya kita memasang antrian di kisaran harga diskon yang pada umumnya tidak tercapai tanpa ada bantingan harga pre-closing. Semakin besar market capnya, umumnya semakin kecil koreksi yang terjadi jika harganya dibanting di masa pre-closing seperti contoh AISA dan BBCA di atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.