Jumat, 03 Februari 2017

Logical Fallacy

MERAWAT LOGIKA SEHAT

Kesalahan logika yang dalam bahasa Inggris disebut logical fallacy adalah hal yang oleh kaum akademisi seringkali dihindari, namun justru umum dijumpai dalam setiap perbincangan hingga perdebatan, mulai dari yang disiarkan di tivi, debat di warung kopi, debat di level siswa SMA, sampai pada debat di sosial media.

Logical fallacy yang paling sering dijumpai ada 6 jenis, Nah daripada  pusing harus baca buku-buku epistimologi filsafat ilmu dan logika, ini saya bagi 'resume' yang mungkin bermanfaat dan mencerdaskan :

*1. ARGUMENTUM AD HOMINEM*

Yakni menyerang pribadi lawan, bukan argumennya. Contoh:
A : "Adalah baik bila kita senantiasa menjaga keharmonisan kehidupan keluarga, khususnya suami istri."
B : "Lho kamu sendiri belum berkeluarga kok, jangan sok ngurusin orang lain deh kalau ngurus hidup sendiri aja belum bener !"
_Kesalahan: Alih-alih mematahkan argumen si A tentang pentingnya keluarga harmonis, si B justru langsung "menghunus keris" padanya. Jadi, si B shoots the messenger, not the message._

*2. STRAWMAN FALLACY*
Yakni menciptakan 'manusia jerami' (image palsu) untuk diserang, bukan argumen aslinya. Contoh:
A : "Honey, Hari ini aku  ada acara sama teman sepulang kantor, jadi gak bisa nganterin kamu ke mall."
B : "Jadi kamu udah males antar jemput aku ya? Udah gak sayang lagi sama aku? Kamu egois!"
_Kesalahan: si A hanya bilang ada acara dengan teman selepas jam kerja, mengapa si B melontarkan argumen (manusia jerami) yang tidak relevan? Dalam konteks perdebatan ini, malah Biasanya yg kemudian menuduh egois (Si B) itulah yg egois asli._

*3. APPEAL TO EMOTION*
Yakni menggunakan emosi sebagai dasar sebuah argumen. Penggunaan emosi sebagai basis Argumentasi adalah jenis perdebatan yang paling berbahaya. Contoh:
A : "KPK menangkap tangan seorang Bupati bernama Afi sebagai penerima suap."
B : "Tidak mungkin, selama ini dia sangat baik dan bijak. Lihat saja tulisan-tulisannya,  kebijakannya yang pro Rakyat dan penampilan dia yang sangat agamis itu!"
_Kesalahan: Yang bisa dijadikan tolak ukur sebuah kesimpulan hukum adalah  fakta hukum dan bukti empiris, bukan penilaian berdasarkan emosi yang subyektif ataupun sekedar penampilan seseorang_

*4. ARGUMENTUM AD POPULUM/BANDWAGON FALLACY*
Yakni mendasari kebenaran argumen dengan suara mayoritas. Contoh:
A : "Menurut penelitian, merokok tidak baik bagi kesehatan."
B : "Ah Orang jaman dulu juga banyak yang merokok, tapi mereka sehat-sehat aja tuh!"
_Kesalahan: Statement B tidak otomatis mematahkan kebenaran argumen A hanya karena dia menyimpulkan suatu penilaian dari pandangan terhadap kecenderungan mayoritas._

*5. APPEAL TO AUTHORITY*
Yakni mendasarkan argumen pada pendapat orang yang berpengaruh dan punya otoritas. Contoh:
A : "Ada apa dengan sekolah menengah itu, mengapa siswa nya suka berkelahi ?"
B : "Kata Pak ketua DPRD, sekolah X adalah sekolah yang paling angker di daerah sini. Berarti benar kan dugaanku!"
_Kesalahan: Hanya karena  Ketua DPRD mengatakan suatu hal, bukan berarti hal itu otomatis jadi fakta kebenaran, atas fenomena yang terjadi.Menyebut sekolah angker sebagai satu2 nya sebab siswanya suka berkelahi jadi terdengar lucu bukan._

*6. FALSE DILEMMA*
Yakni sering juga disebut dengan 'argumen hitam-putih', sederhananya adalah argumen yang "kalau tidak gini pasti gitu". Contoh:
A : "Dukung KPK atau tidak?"
B : "Tidak"
A : "Jika tidak dukung KPK berarti koruptor!"
_Kesalahan: A melontarkan kesimpulan "koruptor" pada B sebagai satu-satunya opsi, padahal A tidak seharusnya mengesampingkan faktor2  lain yang bisa jadi mendasari keputusan B tidak mendukung KPK, dan bisa saja si B pun tidak anti KPK. Karena itu penting untuk menggali lebih dalam argumen si B tadi yang tidak pro KPK._

6 macam Fallacy tsb di atas hanya sebagian saja, yang paling sering kita temui dalam setiap perbincangan/perdebatan. Baik yang menyangkut isue2 publik maupun sekedar urusan pergaulan sehari-hari.

Mari usahakan untuk tetap menjaga kesantunan dan etika, utamanya dalam bermedia sosial. 

Selamat merawat akal sehat,  yaa...😉

Salam Logika Akal Sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.