Jumat, 03 Februari 2017

Agama Terbaik

Ketika Agama Mendefinisikan Manusia


Agama apa yang terbaik? Sewaktu saya kelas 5 SD, mendiang Pak Tedjo wali kelas kami, menanyakan hal tersebut, sepersekian detik kemudian salah satu teman saya menjawab: Agama A (agama yang dianutnya) dengan lantang, lugas dan lancar jaya, padahal dia gagap dalam kesehariannya, namun ketika berbicara tentang agama dia bisa berbicara seperti korlap demo.

Agama selalu dibanggakan oleh umat yang menganut dan menyakininya, mereka selalu merasa paling benar, paling baik dan paling jelas jaminan masuk surganya.  Menurut Adherents.com agama di dunia berjumlah kurang lebih 4300, setiap penganutnya dengan segala ritual penyembahannya entah itu dengan cara sujud atau kayang merasa itu cara yang paling disukai Tuhannya.

Dan sebagian para penganut agama – agama ini layaknya anggota MLM selau berusaha mengajak orang lain baik yang sudah beragama lain atau yang tidak beragama mengikuti agamanya. 

Segala dalil dan ayat dari kitab suci mereka baik yang berbahasa isyarat sampai dengan berbahasa klingon ataupun petuah – petuah dari nabi mereka masing – masing yang bisa saja berasal dari Pematang Siantar tempat bapakku lahir  ataupun berasal dari Planet Namec, tempat Pikollo ditetaskan.

Berhasilkah? Tidak sama sekali! 

Segala dalil, ayat ataupun petuah nabi agama tertentu hanya bekerja dan dipercayai oleh penganut agama tersebut, yang biasanya agama tersebut adalah turunan dari orang tuanya. 

Bagi orang yang bergama lain atau tidak beragama hal-hal tersebut adalah salah. Dengan hanya sekedar khotbah ngalor-ngidul, tidak akan sekonyong-konyong membuat mereka merubah agama mereka.

Terkadang manusia beragama bahwa segala hal dalam hidup bisa ditemukan dalan kitab suci agama mereka, segala tetek bengek kehidupan ada didalamnya dan segala keruwetan hidup bisa diselesaikan dengan hanya membuka kitab suci agama. 

Apa pun masalahnya, agama adalah solusinya. Memang terkadang tekanan hidup membuat manusia tidak bisa membedakan antara agama dan teh botol.  Kita memperlakukan agama dan kitab sucinya seperti buku manual “How To Do Everything” dan pada akhirnya kita membiarkan agama mendefiniskan siapa kita.

Karena kita membiarkan agama mendefinisikan hidup, kita menjadi dipaksa untuk tidak bisa (boleh) berpikir “out of the box”.  Ketika kita berpikir di luar kotak, walaupun itu adalah hal yang baik akan dianggap sebagai penistaan terhadap kotak pengungkung pikiran kita yang dinamakan agama (yang ditafsirkan sesuai dengan kepentingannya masing-masing. 

Eropa yang notabene merupakan salah satu benua yang paling maju teknologinya, pernah mengalami era di mana agama mendefinisikan hidup manusia serta mengatur segala aspek kehidupannya.

Ironisnya, era itu dinamakan “Dark Ages” atau Era Kegelapan. Era di mana tidak ada kemajuan signifikan dalam ilmu pengetahuan, bisa dibilang Eropa sedang mengalami apa dinamakan “bebel massal”. 

Dan era dimana segala kekejian terjadi atas nama agama. Segala penemuan yang dinyatakan tidak sesuai dengan kaidah agama akan dilarang dan bila hal tersebut diteruskan orang bersangkutan akan dihukum bahkan sampai dengan hukuman mati. Masa kegelapan ini berlangsung lebih dari 5 abad sejak kekaisaran Romawi runtuh pada pada abad ke-5.

Apabila agama mendefinisikan siapa kita, kita menjadi terlalu mengagung-agungkan agama menjadi barang tak tersentuh dan mengkultuskannya lebih dari Tuhan sendiri.

Alih - alih mengeksplorasinya untuk kemajuan umat manusia kita malah membiarkan agama menjadi barang yang usang.  Usang termakan jaman, tekstual mengaburkan esensinya, agama (dan kitab sucinya) menjadi hal yang statis dan kaku yang tidak bisa memandang dunia sesuai kontek waktu dan jamannya yang menjadikan kita hanya beragama secara tekstual bukan kontekstual.

Pada akhirnya kita mencoba mempraktekan agama dengan cara pandang yang sama seperti ratusan atau ribuan tahun yang lalu. Di mana kondisinya sangat jauh berbeda, seperti bahwa ilmu pengetahuan sudah sangat maju dibanding ribuan tahun lalu di mana tulisan digoreskan diatas batu bukan diatas tablet keluar terbaru.

Hal yang dulu sebagai keajaiban bisa dijelaskan dengan mudah oleh ilmu pengetahuan. Ataupun bahwa dulu adalah masa peperangan dan sekarang adalah masa damai, maka dari itu kita harus mempraktekan agama dengan cara pandang yang benar dan sesuai dengan kondisi dan jamannya.

Namun selama kita masih membiarkan agama mendefinisikan siapa kita, hal tersebut tidak akan berubah.  Kita harus sadar kita diberi nalar untuk mengembangkan diri, termasuk dalam hal agama. 

Beragama harus proaktif, bukan pasif apalagi reaktif.  Manusialah yang harus mendefinisikan apa itu agama, bukan sebaliknya. Definisikan agama kita dengan perbuatan kita, bagaimana sikap dan interaksi kita dengen sesama. 

Segala perbuatanmu yang akan menggambarkan baik buruknya agamamu, bukan dengan ayat dan dalil agamamu.  Karena seperti tertuang dalam Alkitab “Iman tanpa perbuatan adalah mati.


Mularoy Marpaung
18 Jan 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.