Minggu, 29 Januari 2017

Taufik

SESATMU BUKANLAH SESATKU…
(SEBUAH TANYA UNTUK TAUFIK ISMAIL)

DENGAN PUISI AKU
(Taufiq Ismail)

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbaur cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Napas jaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

Saat menghadiri acara silaturahmi Iluni Bangkit untuk Keadilan di Taman Lingkar Universitas Indonesia, Jumat, 27 Januari 2017 kemarin Taufik Ismail menyatakan penolakannya pada lirik lagu "Padamu Negeri" yang diputar.

"Saya bersama teman-teman menolak lagu ini (Padamu Negeri)," ujar Taufik. Saya tidak tahu siapa yang beliau maksud dengan ‘teman-teman’ di sini. Apakah ini berarti ada kelompok ‘Penolak Lagu Bagimu Negeri’  atau semacamnya?
Taufik Ismail menilai dua baris terakhir, yakni "bagimu negeri jiwa raga kami" sangat bermasalah. "Jiwa raga ini diberi karunia oleh Allah SWT, yang Maha Pencipta, dan jiwa ini kembali kepada Allah SWT, tidak pada yang lain," kata Taufik. Lirik "Padamu Negeri" terdengar patriotik. 

Namun dia menyebut lirik tersebut sesat. "Salah sekali (lirik yang itu), istilah ini musyrik," ucap Taufik. Dia lalu mengajak pada para tamu undangan yang hadir untuk tidak mendengar lagi lagu tersebut. "Sebaiknya kita koreksi dengan tidak usah mendengar lagu ini," kata Taufik.
Terus terang saja saya sampai melongo and terhenyak pada pernyataan beliau ini. 

Saya tidak pernah berpikir bahwa seorang sastrawan besar yang saya kagumi ini bisa menganggap lirik “bagimu negeri jiwa raga kami”  sebagai sebuah kalimat yang musyrik.  Bagaimana mungkin seorang sastrawan bisa begitu sempit memaknai sebuah lirik lagu dan kemudian menghakiminya sebagai sebuah kalimat pernyataan kemusyrikan? Kalau yang bicara ini santri yang baru belajar agama tentang ketauhidan maka saya mungkin hanya akan tertawa. 

Tapi ini Taufik Ismail, Sang Begawan Sastra, yang puisi-puisinya begitu indah dan mampu menggelorakan hati kita dengan kalimat-kalimatnya yang penuh majas yang indah…!

Pernyataannya di atas tersebut membuat saya jadi bertanya-tanya bagaimana ia ‘ bercinta dengan puisi’ dan ‘berdoa dengan puisi’ seperti puisinya di atas. Apakah benar bahwa selama ini ia ‘bercinta dengan puisi’ dan apalagi ‘berdoa dengan puisi’? Bolehkah saya menjadi naif sesekali dengan bertanya, “Apakah Pak Taufik Ismail selama ini tidak pernah diajari berdoa yang benar menurut ajaran Islam sehingga ia  terpaksa mesti ‘berdoa dengan puisi? Apakah kira-kira doa beliau selama ini bisa diterima oleh Tuhan kalau berdoa yang semestinya dengan permintaan yang khusyuk dan khidmat tapi beliau malah melakukannya dengan berpuisi?

Jika saya boleh bertanya pada beliau, pernahkah beliau sesekali dalam hidupnya minta tolong pada seseorang dalam bentuk apa saja? Pernahkah, umpamanya, beliau minta tolong diantar ke sesuatu tempat, minta tolong diketikkan naskah puisinya, minta tolong diingatkan kalau lupa, minta tolong dibelikan sesuatu, minta tolong dipinjami uang untuk suatu keperluan, dll? Saya yakin beliau sering minta tolong kepada sesama manusia.

Jika demikian, bolehkah saya mengingatkan beliau bahwa jika beliau minta tolong pada manusia maka sesungguhnya itu berpotensi musyrik dan sekaligus mengingkari janjinya setiap hari pada Tuhan. Bukankah beliau setiap hari berjanji pada Allah “HANYA kepadaMu kami memohon pertolongan (Wa iyyaka nasta in)” dan tidak kepada siapa pun? Bagaimana mungkin seseorang yang berjanji belasan kali dalam sehari ‘hanya akan memohon pertolongan pada Tuhan’ tapi dalam prakteknya dalam kehidupan sehari-harinya ternyata minta tolong juga pada manusia?
Sebagai penutup tulisan saya yang sedang gundah ini baiklah kita nikmati puisi beliau yang indah ini.

Mencatatkan Kerinduan
Kepada bimbo
Setelah 25 tahun
Lirik dituliskan

Sam, TOLONG catatkan kerinduanku
Pada daun-daun pohon jati
Cil, TOLONG catatkan kerinduanku
Pada nelayan laut sepi
Jaka, TOLONG catatkan kerinduanku
Pada kata si rendah hati
In, TOLONG catatkan kerinduanku
Pada penangkap ikan dan 25 nabi

Adalah sunyi sipres tua
Ada pula awan bulu domba
Adalah anak tak putus bertanaya
Ada pula serangga berkata-kata
Adalah merdu Daud burung-burungnya
Ada pula dedahanan berkosakata
Adalah tongkat nabi Musa
Ada pula eling ranggawarsita
Ada sakratulmaut di mana dia

Dari seribu kerinduan berapa kiranya
Yang dikau berikan
Dari sepuluh kerinduan
Manakah kerinduan
Yang bersangatan?

Salam
Satria Dharma
http://satriadharma.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.