Senin, 23 Januari 2017

Orientasi

Jabatan. Tidak akan selamanya kita sandang. Kesehatan. Tidak akan selamanya kita dapatkan. Bahkan kehidupan. Tidak akan selamanya kita genggam. Akan ada akhir untuk segala sesuatu. Jabatan kita diakhiri dengan pensiun. Kesehatan diakhiri dengan sakit. Kehidupan. Diakhiri dengan kematian. Ah. Kita semua juga sudah tahu soal itu.
 
Betul. Soal tahunya sudah sama. Tapi, apakah pengetahuan yang sama itu memberi dampak yang sama? Ternyata tidak. Bahkan sangat jauuuuh bedanya. Lantas apa yang menjadikannya berbeda? Orientasinya. Dunia. Atau akhirat. Itulah yang menjadi sumber pembedanya.
 
Orang yang orientasinya akhirat. Akan menjadikan kehidupan dunia sebagai 'modal' untuk menata kehidupan akhirat yang indah. Dia percaya pada kehidupan setelah kematian. Tempat segala perbuatannya selama hidup di dunia diperhitungkan. Maka dia akan menjadi orang baik.
 
Tapi orang yang orientasinya dunia? Menjadikan kehidupan di dunia sebagai tujuannya. Kemasyhuran, kedigdayaan, kekuasaan didunia menjadi kejarannya. Sekalipun untuk mendapatkannya dia harus menempuh cara apa saja. Sehingga baik atau buruk tidak lagi menjadi ukurannya. Karena hawa nafsu telah meliputi dirinya.
 
Mengapa banyak orang kaya yang rendah hati misalnya? Antara lain karena dia berorientasi pada akhirat.  Sehingga walaupun kekayaan bisa membelikannya apapun, dia tetap hanya membelanjakan hartanya dijalan yang disukai Tuhan.
 
Mengapa banyak orang miskin yang tetap jujur? Juga karena dirinya berorientasi pada akhirat. Sehingga walaupun kemiskinannya bisa menjadi justifikasi ketidakjujurannya dalam menjalani hidup, dia tetap menjaga akhlaknya tetap mulia. Bahkan menghindar dari sekedar meminta-minta. Semua perilakunya, dijaga.
 
Mengapa banyak pemimpin yang amanah? Juga karena dia berorientasi pada akhirat. Sehingga walaupun jabatannya membuat dirinya berkuasa untuk melakukan apapun, tetapi kekuasaannya digunakan untuk kemaslahatan rakyatnya.
 
Tapi kenapa banyak pula orang kaya yang semena-mena? Karena orientasi mereka hanya dunia. Sehingga hanya uang dan kemasyhuran yang menjadi ukurannya. Ada uang? Ada kemasyhuran? Sikat. Kalau tidak. Buat apa?
 
Dan kenapa pula banyak penguasa yang berkhianat? Kita tahu bahwa khianat, adalah lawan kata dari amanah. Maka pilihan bagi pemegang kekuasaan adalah menjadi penguasa yang amanah atau khianat. Kenapa banyak pula penguasa yang berkhianat? Kenapa? Karena orientasi mereka hanya dunia. Dan mereka, mengabaikan akhirat. Indikasi itu, jelas sekali.
 
Lalu sebagai pribadi. Kemana kita punya orientasi? Duniakah tujuan utama kita? Atau akhiratkah? Dia yang mengejar dunia dengan sungguh-sungguh. Maka dia akan bertemu dengan kemasyhuran dan kemakmuran. Tapi akhirat akan luput dari dirinya.
 
Sedangkan dia yang dengan sepenuh kesungguhan menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya. Maka dia akan mendapati akhirat menjadi tempat terindah yang menanti kepulangannya. Tapi dia akan mendapati dunia menyakitinya.
 
Mau kemana orientasimu tertuju temanku? Pilih saja sesuka hatimu. Tapi. Tunggu dulu. Sebelum engkau memilih. Kuajak dirimu untuk menengok kedalam Al-Qur'an terlebih dahulu. Surah Al-Baqoroh ayat 201.
 
Disana Alloh mengajarkan sebuah doa untuk kita. Bunyinya. Robbanaa. Aatinaa. Fiddunya hasanah. Wafil aakhiroti hasanah. Waqinaaa. Adzaabannaaar.
 
Maka bagi orang yang beriman kepada Al-Qur'an. Hanya bagi orang yang mengimaninya saja. Jelas sekali panduannya. Sehingga kita tidak perlu bingung untuk memilih. Karena Al-Qur'an sudah memilihkan. Tinggal diikuti saja kan?
 
Maka sekarang sudah jelas kemana orientasi kita bukan? Kemana orientasi Anda? Kemana orientasi saya. Orientasi kita sama. Yaitu. Kepada apa yang tercantum dalam Al-Qur'an. So read your Qur'an. Dan mari mengikuti setiap petunjuk yang ada didalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.