Sabtu, 28 Januari 2017

Memakan Anak

Manuver SBY Kini Memakan Anaknya Sendiri!


salah satu calon Gubernur Jakarta, yaitu pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni (Agus-Sylvi) kini justru tampak panik dan kewalahan di lap-lap terakhir.

Namun sebelumnya perlu ditegaskan, asumsi kepanikan dan kewalahan pasangan Agus-Sylvi ini dibuat di atas landasan dua survei mutakhir Indikator Politik Indonesia dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Survei Indikator Politik Indonesia 12-20 Januari 2017 menunjukkan, elektabilitas Agus-Sylvi kini tinggal 23,8%, Basuki-Djarot 38,2%, sementara Anies-Sandi malah nyaris menyamai Agus-Sylvi: 23,6%.

Sementara survei SMRC 14-22 Januari 2017 malah menempatkan pasangan Agus-Sylvi di posisi bontot: 22,5%. Basuki-Djarot kembali memimpin dengan 34,8%, sedangkan Anies-Sandi justru menyodok Agus-Sylvi dengan angka 26,4%.


Kenapa Agus-Sylvi Kini Melorot?

Yang kini menjadi pertanyaan, kenapa Agus-Sylvi yang sempat meroket pada bulan November dan Desember 2016 justru melorot di lap-lap terakhir balapan Pilkada ibu kota? Menurut penerawangan saya yang bisa saja salah, setidaknya ada empat faktor yang menyebabkan Agus-Sylvi tampak loyo di lap-lap terakhir ini, bahkan mungkin saja disalip pasangan nomor urut tiga, Anies-Sandi.

Pertama, 

faktor manuver SBY alias Susilo Bambang Yudhoyono, pepo aka ayahanda Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kita tahu, desakan-desakan SBY kepada Pemerintahan Jokowi-JK agar segera memperkarakan Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok November lalu, kini justru menjadi bumerang bagi anaknya sendiri.

Menurut Peraturan Kapolri yang dikeluarkan sejak era Kapolri Jenderal (Pur) Badrodin Haiti, perkara-perkara hukum yang melibatkan calon-calon yang sedang berkompetisi dalam Pilkada mestinya harus ditunda sampai proses Pilkada selesai.

Aturan ini maha penting untuk menjaga kemaslahatan semua pihak yang sedang berkompetisi, dan demi menghindari kesan politisasi dan kriminalisasi. Peraturan ini juga sangat masuk akal karena Pilkada adalah momen yang sangat-sangat politis.

Lebih dari itu, aturan ini juga penting agar Pilkada dapat terselenggara secara sehat dan adil. Kompetisi seperti Pilkada ini semestinya juga menjunjung tinggi semangat fastabiqul khairat alias berkompetisi secara sehat dan adil.

Namun lewat pidato politiknya yang sangat emosional di Ciekas pada 4 November 2016, juga artikelnya di Rakyat Merdeka pada 28 November 2016, SBY justru menjadi sosok antagonis yang paling ngotot agar Ahok dikasuskan dan segera dimejahijaukan (istilahnya menuntut keadilan).

Manuver seperti ini, selain jelas-jelas mencederai sportivitas Pilkada Jakarta sejak malam pertama, kini juga terbukti berbalik memakan anak SBY sendiri.

Desakan SBY yang kadung melanggar aturan itu, justru memicu Kapolri Tito Karnivian untuk menginstruksikan agar mengusut semua kasus yang melibatkan pasangan calon kepala daerah tanpa kecuali dan tanpa pandang bulu.

Dan kita tahu, kini Agus-lah yang justru mengeluhkan pemeriksaan dugaan korupsi pembangunan Masjid al-Fauz dan dana bantuan sosial ke Kwarda DKI Jakarta yang sedang menimpa pasangannya, Sylviana Murni.

Menurut amatan saya, pemeriksaan dugaan korupsi Sylviana Murni ini jelas merupakan buah dari manuver pepo yang tidak cermat dan itu menjadi faktor penting yang menggerogoti elektabilitas anaknya sendiri.

Agus-Sylvi kini terkena karma pepo atau tulah sebuah hadis Nabi yang menegaskan bahwa "engkau akan menuai apa yang engkau tanam."

Pepatah kita punya kearifan hidup: siapa yang menebar angin, dia akan menuai badai!

Kedua, 

sedari awal, pesona terbesar pasangan Agus-Sylvi sepertinya ada pada janji-janji uang yang akan mereka taburkan kepada warga DKI lewat bantuan langsung sementara, bantukan bergulir per-RW, dan bantuan unit usaha.

Janji-janji ini mungkin saja sempat memabukkan sebagian warga kelas menengah ke bawah Jakarta yang masih merupakan mayoritas pemilih menurut survei LSI Denny JA. Namun seiring waktu, janji-janji itu justru tampak hampa dan bermasalah karena dua hal.

a) ternyata jumlah yang dijanjikan justru lebih kecil dari apa yang selama ini telah dinikmati sebagaian warga miskin Jakarta dari kebijakan pertahana. 
b) bantuan-bantuan tunai ala SBY itu justru dikhawatirkan akan menjadi lahan bancakan korupsi para elit di masa mendatang.

Ketiga, 

ajang-ajang debat kandidat yang selama ini dianggap tak penting oleh konsultan dan pasangan Agus-Sylvi, ternyata justru dianggap penting oleh warga DKI.

warga Jakarta menganggap debat sebagai sarana yang sangat penting untuk mengenal dan menguji kompetensi calon. Dan ternyata oh ternyata, 62% warga Jakarta menyaksikan debat pertama secara seksama.

Dan kini tersingkaplah sudah rahasia kenapa Agus-Sylvi selalu menghindari forum-forum debat selain yang diselenggarkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta.

Warga Jakarta kini tahu, walaupun lulusan pascasarjana cum laude dari universitas di Amerika, Agus tetap saja tampak masih hijau dalam kemampuan memahami dan menanggapi persoalan-persoalan Jakarta yang dilontarkan dan disodorkan kepadanya.

Mengamati dua debat resmi yang telah digelar KPUD, saya pribadi merasa bahwa Agus memang masih terlalu mentah, seperti belajar pidato. Pada dua ajang debat yang ia ikuti, Ia seperti  menyetorkan hapalan atau menuturkan-ulang apa yang didiktekan para mentor debat ke kepalanya.

Agus sama sekali tak punya kemampuan memahami persoalan lalu menanggapi dan menguraikannya secara mandiri dengan bahasa yang bisa dipahami. Bila muncul pertanyaan-pertanyan sulit, ehm, ia mau tak mau harus melirik dan menggamit Mpok Sylvi yang lebih mengerti persoalan.

kenapa Jakarta yang sedang bergeliat ini tampak seperti kian macet sejak dalam pikiran Mas Agus? Saya sangat prihatin!

Keempat, 

pasangan Agus-Sylvi juga tampak tidak memiliki identitas yang jelas. Bagi saya, pasangan yang kini justru menampilkan diri sebagai antitesis dari pertahana justru pasangan Anies-Sandi.

Pasangan nomor urut tiga ini kian berani mengambil posisi ekstrem demi melakukan diferensiasi dari pertahana yang masih cukup kokoh. Anies Baswedan berani mengunjungi Petamburan, Markas Front Pembela Islam (FPI), walau harus menanggung resiko dikecam dan diejek oleh kelas menengah Ibukota.

Anies juga rajin sowan ke beberapa tokoh yang dianggap mengantongi simpul-simpul suara Muslim konservatif seperti Ustad Arifin Ilham dan lain-lain. Ketika ada salat subuh dan tabligh politik di Masjid al-Azhar, Anies hadir sementara Agus gaib entah ke mana!

Saya rasa, inilah blunder lain kubu Agus-Sylvi yang mungkin luput diamati banyak pihak. Anda tak dapat menghancurkan Ahok sebagai sebuah tesis jika Anda sendiri tidak menampilkan diri sebagai antitesis dari Ahok. Di titik ini, strategi Anies-Sandi tampak mulai bertuah.

Anies cukup pintar untuk segera mengambil posisi yang tidak diambil Agus-Sylvi. Dan bisa dimaklumi pula, dari segi apa pun Anies memang punya reputasi keislaman yang lebih baik dari Agus untuk dielu-elukan sebagai Gubernur Muslim yang akan mampu mengalahkan Ahok.

Kejutan di Lap Terakhir

Apa boleh buat, aura kompetisi Pilkada Jakarta memang telah tercederai sedari awal. Tepatnya sejak pidato agitatif SBY di Cikeas dan tulisannya yang provokatif saat mendesak pemerintahan Jokowi agar segera memperkarakan salah satu pasangan dengan tuduhan penistaan agama.

Walau Peraturan Kapolri menegaskan perkara seperti ini mestinya harus ditunda setelah selesainya proses Pilkada, namun demi anak, sang pepo tetap saja bermanuver seperti hendak mencurangi lawan anaknya.

Kini, manuver-manuver yang terang-terangan atau sembunyi-sembunyi itu justru berbalik memakan anaknya sendiri. Bagi mereka yang percaya karma, merosotnya elektabilitas Agus-Sylvi di dua pekan terakhir ini menunjukkan bahwa karma itu kini sedang bekerja.

Namun bagi saya, ini boleh jadi merupakan refleksi dari pemilih Jakarta yang mulai siuman dan cukup rasional dalam menilai kualitas pemimpin yang akan melayani mereka.

Manuver-manuver SBY sejauh ini tampak justru mempersulit langkah anaknya. Sementara manuver-manuver Anies-Sandi terlihat mulai membuahkan hasil.

Kita masih menunggu kejutan-kejutan apa yang akan diperagakan ketiga pasangan calon di lap-lap terakhir balapan ini. Saya berharap, Pilkada ini akan kian mengasyikkan dan mampu menyuguhkan tontotan yang amboi dan aduhai—!

Jakarta, 28 Januari 2017
Novriantoni Kahar
Sumber: lensaremaja.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.