Kamis, 26 Januari 2017

Konflik Seneca

Seneca – Konflik antara panggilan filsafat dan permainan politik praktis


1. Pendahuluan 

Apakah jalan filsafat selalu bertentangan dengan permainan politik? Marilah kita melihat apa yang terjadi dengan Seneca di Roma lebih dari 2000 tahun lalu. Makalah ini ingin menggambarkan adanya konflik yang terjadi antara panggilan hidup berfilsafat dengan keterlibatan publik dalam politik. Dimulai dengan riwayat hidup Seneca, kemudian meningkat pada problematik hidupnya ketika bersentuhan dengan kekuasaan. Dan pada akhirnya makalah ini mencoba memberikan pertimbangan perihal “konflik’ Seneca tersebut. 


2.  Kisah hidup Seneca

Lucius Annaeus Seneca lahir di Cordoba, Spanyol, sekitar 1 tahun sebelum Yesus lahir. Sedari kecil Seneca sudah berbahasa Latin, hal ini memang dipersiapkan oleh Lucius Annaeus Seneca senior, ayahnya. Sejak bocah, ayahnya sudah melatihnya dengan ketrampilan deklamasi, demikian pula dalam ilmu filsafat, khususnya Stokisme. Stokisme adalah aliran filsafat Yunani yang menekankan pada etika dan mempelajari serta mendalami sistem pemerintahan. Istilah Stokisme berasal dari sekolah Stoa yang didirikan oleh Zeno. Zeno terinspirasi oleh etika Socrates, khususnya keberanian untuk menempuh jalan kematian dengan sukarela. 

Pada awalnya Seneca lebih tertarik mencari kebijaksanaan ketimbang mengejar kekuasaan politik. Pada tahun 25 Seneca pergi ke Mesir untuk mendalami filsafat. Di tahun 31 Seneca kembali ke Roma, kemudian pada usia 35 dia mulai memasuki karir politik sampai di umur 39 Seneca sudah menjadi orator yang paling terkenal di negeri itu. Namun Kaisar Gaius yang berkuasa saat itu cemburu atas reputasi Seneca, sehingga dia diberikan hukuman mati dengan alasan yang kurang jelas. Beruntung Caligula, kaisar berikutnya, menyelamatkannya - namun peristiwa itu membuat Seneca kemudian menurunkan frekuensi kemunculannya di muka publik secara drastis.

Dua tahun kemudian Caligula meninggal, Claudius sebagai penguasa yang baru langsung menuduh Saneca bermain serong dengan Julia Lavilla. Julia adalah adik perempuan Caligula. Tuduhan itu sebenarnya hanya karangan yang dibuat-buat oleh istri kaisar Roma yang baru itu, yang bernama Valeria Messalina. Disamping tuduhan terhadap percintaan Seneca dengan Julia, Julia Lavilla pun digosipkan bermain cinta dengan Caligula dan juga bercinta dengan gemblak kesayangan kaisar. Politik orang Romawi saat itu sering menggunakan tuduhan dan desas-desus kejahatan moral untuk menundukkan musuh. Namun orang tidak serta merta percaya dengan rumor Julia melakukan perbuatan semacam itu, mengingat dia seorang gadis polos yang masih berusia 24 tahun. Dinyatakan bersalah, Seneca kemudian mengalami pembuangan ke pulau Corsica. 

Selama 8 tahun di Corsica, hidup Seneca tidak menderita, karena dia mendapat dukungan finansial yang cukup, juga tersedianya fasilitas perpustakaan di tempat itu. Bagi penggemar buku seperti dia, hidup yang terbatas di Corsica justru membuatnya senang. Karena dengan itu dia bisa menulis, mengejar hakikat hidup dan kebijaksanaan dalam damai dan tenang. Mungkin sekali, Dialogi, suatu kumpulan essay karangannya, ditulis di masa itu. 

Pada tahun 49, Claudius menikahi Agrippina, keponakannya, yang juga adik dari Caligula. Agrippina adalah wanita yang haus kekuasaan. Melalui bujukan Agrippina, Claudius memanggil Seneca dari pengasingannya. Alasan mengapa Seneca dipanggil kembali ke Roma, adalah untuk melatih Domitus, anak dari perkawinan terdahulu dan juga untuk mendidik Nero, kaisar Romawi masa depan. Disamping itu, Agrippina membutuhkan nasehat Seneca demi memenuhi ambisi politiknya. Kurang jelas apa yang dilakukan Seneca selama 5 tahun mendampingi Agrippina, namun kemungkinan besar Seneca tidak melatih Nero beretorika dan tidak mengajarkan filsafat juga, meskipun dua subjek itu merupakan keahlian Seneca.

Apa yang dilakukan Seneca pada masa itu adalah mengarang teks drama. Drama yang terinspirasikan dari tragedi Yunani kuno, yang dimainkan secara terbatas dalam villa dan istana orang-orang kaya dan berkuasa. Drama-drama itu maksudnya sebagai pendidikan moral untuk Nero dan juga para penonton. Namun drama-drama itu sebetulnya cuma berisi pesan yang jinak, yang jauh dari ketajamannya essay-essay yang pernah dibuatnya di Corsica. Memang dalam drama ciptaan Seneca termaktub pesan halus tentang dunia yang menjadi gila karena kekuasaan yang sewenang-wenang, namun drama-drama itu tidak juga mencerminkan kedalaman ajaran-ajaran Stoa yang dikuasainya.

Nero memang mempunyai minat pada puisi dan drama, sama halnya dia tertarik pada lomba kereta kuda, pertandingan gladiator dan juga pesta-pesta mewah.Mungkin Seneca berharap nantinya drama-drama yang dia mainkan akan berpengaruh kepada kehalusan budiNero. Namun drama-drama Seneca, seperti pada tragedi Thyestes, koor pesan moral yang dinyanyikan tidak imbang dengan daya tarik akting ketika adegan kekejaman sedang dimainkan. Adegan kejahatan begitu menghibur ketimbang pesan moral yang hangat-hangat kuku. Hasil dari kegiatan itu, di tahun 52-53 Seneca dikenal sebagai penulis yang paling mashur di Roma. Penulis yang mahir mencipta sajak dan juga prosa. Essay-essay moralnya menyarankan pembaca untuk mencari kebijaksanaan dan mencapai ketenangan hidup, tersebar luas dan dibaca banyak orang. 

Pada oktober 54, Claudius meninggal karena jamur beracun, rumor mengatakan bahwa Agrippina pelakunya. Tidak membuang waktu, Nero segera diangkat menjadi kaisar yang baru. Banyak harapan muncul agar kaisar baru itu lebih bijak dari kaisar sebelumnya yang tindakan terornya disesalkan banyak orang. Seneca yang dikenal sebagai guru dan pembimbing Nero, langsung naik daun menjadi salah satu dari tiga orang berpengaruh di kekaisaran Roma. Secara resmi Seneca diangkat menjadi Amicus Principis yang artinya teman dari kaisar. Tugas Seneca adalah menjadi orang kepercayaan, penulis pidato dan memberi pemikiran intelektual kepada Nero. 

3. Bersentuhan dengan kekuasaan

Seneca dekat dengan Burrus, seorang Amicus yang lain. Mereka bersama-sama menyebarkan kebijakankaisar dan menjaga citra pemerintahanDi tahun-tahun awal berkuasa, Nero menerapkan kebijakan publik secara benar. Dengan meningkatnya pengaruh Seneca dan Burrus yang menyaingi Nero, membuat Agrippina kesal hati. Untuk mencari kekuatan baru, Agrippina membuat persekutuan dengan Britannicus, anak kaisar terdahulu – Claudius – dengan Valerina Messalina.Dalam jalan pikiran Agrippina yang manipulatif itu, Britannicus sesungguhnya lebih berhak menjadi kaisar karena keturunan langsung dari Claudius. Ternyata Nero tidak bisa menahan amarah atas politik Agrippina itu, Britannicus diracun pada suatu perjamuan publik di tahun 55.

Pembunuhan itu mematahkan ambisi Agrippina. Sementara Seneca dan Burrus berlaku seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal peristiwa ini menandakan awal tradisi Nero dalam menyelesaikan rival-rivalnya dengan cara pembunuhan. Beberapa bulan kemudian Seneca membuat essay yang didedikasikan untuk Nero. Dalam essay itu Seneca mengendorse Nero sebagai Rex atau raja. Menurutnya, seorang pemimpin Romawi itu dipilih untuk mengurus dunia dan diangkat sebagai wakil Tuhan di bumi, serta menjadi wasit mutlak di dunia dan akhirat. Raja yang berdaulat mempunyai kekuasaan tak terbatas – suatu gagasan yang tabu di Roma setelah berdirinya Republik  tinggal bagaimana menggunakan kekuasaan itu dengan bijaksana. Seorang raja harus menjadi suri tauladan dalam menahan diri dan menolak kejahatan berdarah. Nampaknya untuk sementara Seneca dan Barrus bisa menahan kecenderungan Nero untuk membantai.

Lima tahun pertama pemerintahan Nero memang membanggakan, namun Seneca dicap sebagai penjilat. Publius Sullius Rufus, seorang musuh Seneca,mengejeknya sebagai “gurunya tiran”. Merespon serangan Sullius, Seneca membuat essay De Vita Beata (kehidupan bahagia). Menurutnya, “memang saya bukan orang baik, …. tetapi setiap hari saya berusaha mengurangi keburukan dan memperbaiki kesalahan”.Essay Esai itu tidak mengurangi fakta bahwa bayaran atas jasanya kepada Nero adalah dimilikinya kebun, tanah, villa, dan hak untuk memperbesar pinjaman. Seneca cukup tekun untuk meningkatkan kekayaannya dengan cara investasi tanah dan membungakan uang.Untuk menjustifikasi tindakannya, Seneca berpendapat, apabila seorang filsuf mempunyai akses ke penguasa, sebaiknya penguasa itu dijinakkan saja, jangan dilawan. 

Di tahun 59, Nero mencoba membunuh Agrippina. Menurutnya, cara mudah mengakhiri pertentangan dengan ibunya, adalah dengan diracun atau diselesaikan secara pedang. Skenario Nero kemudian adalah menenggelamkan kapal yang dipakai Agrippina. Namun ternyata gagal, dia bisa berenang ke darat dengan selamat. Panik menghadapi rencana pembunuhan yang kacau, Nero memanggil Seneca dan Burrus untuk merundingkan cara terbaik menyingkirkan ibunya. Akhirnya Nero memutuskan untuk mengirim tiga pembunuh agar menusuk perut Agrippina dengan pedang.

Sebagai ahli hubungan masyarakat, Seneca ditugaskan mencari alasan dan memutar balikkan kejadian. Dalam pidato yang dibuatnya untuk Senat, Nero menuduh Agrippina melakukan pengkhianatan, bertanggung jawab atas kekejaman Claudius, dan Nero menjelaskan bagaimana dirinya telah menggagalkan upaya Arippina merebut kekuasaan dari pemerintah yang sah. Sambil tak lupa menceritakan peristiwa kecelakaan kapal Agrippina dan upaya Agrippina yang berulang kali mencoba membunuh kaisar. Namun cerita tentang kapal karam itu tidak satu pun orang percaya. Apa mungkin seorang wanita sendirian dengan kapal bocornya ingin membunuh kaisar dengan senjata?

4. Upaya untuk mundur

Burrus, sekutu Seneca, kemudian mati di tahun 62. Ada yang bilang dia mati karena sakit, ada juga yang mengatakan Burrus mati diracun atas perintah Nero. Kematian Burrus menyebabkan Seneca terisolasi. Posisi Seneca menjadi rawan kritik. Sejawat Nero mengeluh tentang kelakuan Seneca yang menumpuk-numpuk kekayaan di luar batas. Perkebunan dan villanya yang mewah terlihat tidak wajar, kemewahan itu lebih cocok untuk kaisar ketimbang seorang filsuf seperti dirinya. Merasa tidak enak dan tidak kuat lagi menahan cibiran dari masyarakat, Seneca memohon kepada Nero untuk pensiun. 

“Engkau telah memberikanku kesenangan luar biasa dan uang yang berlimpah”, ujarnya ketika meminta Nero membiarkannya bebas tugas. “Setiap kelimpahan menimbulkan kebencian”, Seneca menekankan. SUMBER?? Kemewahan itu sekarang menjadi beban, “dan itu menjerat saya”, katanya. Kemudian Seneca melanjutkan, “saya terpesona oleh kilaunya”. Dan filsuf itu sekarang beresiko untuk dituduh korup karena mempunyai penghasilan di luar gajinya. Seneca mengakui bahwa Nero berkuasa mutlak atas dirinya, dia bisa melakukan apa saja yang diinginkan terhadap Seneca. 

Permintaan mundur Seneca ditolak oleh Nero, walau Seneca sudah menyerahkan perkebunannya kepada Nero. Selanjutnya Nero dengan bangga mengatakan bahwa dia tidak lagi membutuhkan nasehatnya. Menurutnya, harta yang diterima Seneca darinya jauh lebih besar ketimbang nasehat yang diberikan kepada Nero selama ini. “Sebagai filsuf, engkau seharusnya hidup sederhana, dan mengembalikan semua uangmu kepadaku, tetapi bukan pengunduran dirimu”. Seneca beberapa kali meminta mundur setelah itu, dengan alasan kesehatan dan juga memberikan uang kepada Nero agar dikabulkan. Uang diterima, tetapi permohonan mundur ditolak. Tiga tahun setelah kematian Burrus, Seneca tetap menjabat Amicus Principis, walau ia tidak lagi digaji dan tidak lagi dimintakan nasehat. 

Tidak bisa mundur secara resmi, Seneca mengucilkan diri untuk menulis risalah dan kembali melanjutkan “Surat-surat Moral” yang ditujukan kepada teman lamanya, Lucilius. Surat-surat itu dimaksudkan sebagai refleksi yang mempertanyakan inkonsistensinyaterhadap ajaran Stoa. Surat itu juga sebagai pernyataan Seneca untuk kembali kepada disiplin Stoa agar mendapat kedamaian pikiran. Kepada Lucilius, Seneca meneguhkan dirinya untuk kembali ke jalan filsafat. Karena politik telah merusak upayanya mengejar kebijaksanaan dan perbuatan baik. Selanjutnya Seneca memuji jalan Lucilius yang secara perlahan mundur dari dunia politik dan mengambil filsafat sebagai jalan hidup yang baru. 

5. Kekuasaan membuat Seneca lupa

Seneca yang pada awalnya cinta pada kebijaksanaan, bahkan ketika ia dibuang ke   Corsica, secara perlahan berubah. Bukannya ia marah kepada anak didiknya ketika meracun Britannicusia menutup mata - sebaliknya Seneca mengenalkan konsep Rex pada pidato Nero setelah pembunuhan itu. Konsep pidatonya kepada Senat menjelaskan bahwa seorang Rex boleh melakukan apa saja, karena ia terpilih menjadi wakil Tuhan di bumi. Empat tahun kemudian, bersama-sama Burrus, Seneca ikut merundingkan beberapa alternatif Nero untuk membunuh Agrippina. Selanjutnya ia mengarang jalan kematian Agrippina sambil membuat cerita buruk tentangnya. Ganjaran atas nasehat-nasehat kepada Nero serta menjadi juru bicaranya adalah kekayaan yang berlimpah. Sudah pasti hal itu bertentangan dengan ajaran Stoa yang dipahaminya. 

Sullius musuhnya, sudah mengingatkan sekaligus mengejeknya, bahwa ia seorang penjilat. Namun Seneca berdalih bahwa ia setiap hari berusaha untuk lebih baik. Jika kemudian Seneca ingin mundur, dorongan awalnya bukan karena ia kembali ingat dengan ajaran Stoa, namun sesungguhnya karena kematian Burrus. Tanpa Burrus, ia hanya sendirian menjadi tameng Nero. Dan hal itu membuatnya tidak kuat lagi menahan tekanan publik dan juga kecaman dari kolega Nero. Posisinya sebagai filsuf terlihat ambigu dengan gaya hidupnya yang mewah. Seneca adalah filsuf yang korup dan kemudian insaf karena keadaan terdesak. 

Namun disitulah problemnya apabila seorang filsuf masuk ke dunia politik. Ia tak bisa lantang lagi menyuarakan kebenaran ketika jarak dengan kekuasaan terlalu dekat. Kemudian Seneca menjadi lunak, karena menurutnya penguasa itu dijinakkan saja, jangan dilawan. Seneca menjadi kompromistis dan permisif, bahkan lebih jauh ia menjadi partisipatif dalam berbuat kejahatan, misalnya dalam kasus rencana pembunuhan Agrippina. Bagaimana seandainya Seneca sejak awal telah dengan keras menegakkan aturan moral kepada Nero? Mungkin Seneca dengan cepat akan diusir atau dikembalikan ke pengasingannya di Corsica. Dalam hal ini Seneca tidak memilih jalan keras itu dan jelas Seneca menikmati kehidupan hedonis yang diberikan oleh Nero.

6. Penutup

Seneca mati bunuh diri dalam bak mandi, setelah Nero berusaha meracunnya. Dalam Surat-surat Moralnya, Seneca menyatakan penyesalan atas inkonsistensinya sebagai orang Stoa. Ia menyalahkan politik sebagai hal yang menggerus keinginan untuk mencapaikebijaksanaan dan budi baik. Apa yang telah dilakukan Nero adalah kesalahannya, karena ia tidak membimbingnya dengan baik. Di akhir hidupnya, ia kembali menemukan Stoa dalam dirinya, hanya individu yang mampu mengoreksi dirinya sendiri demi menuju kesempurnaan. Namun ketika manusia frustasi untuk mewujudkan hidup bermoral, lebih baik ia mati sempurna, kembali pada penciptanya.

Sumber : Miller, James. 2011. Examined Lives from Socrates to Nietzsche. New York: Farrar, Straus and Giroux.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.