Senin, 23 Januari 2017

Bidik

*Jokowi Membidik Sasaran, Busur Panah Tepat Menancap di Lingkaran Tengah*

Sulit dibantah hubungan Presiden ke 6 SBY dan Presiden Jokowi dalam kondisi titik nadir. Sejak dilantik Oktober 2014, SBY dan Jokowi tidak pernah lagi bertemu. Sementara dengan Presiden ke 3 BJ Habibie dan Presiden ke 5 Megawati Soekarno Putri sudah beberapa kali bertemu.

Publik membaca buruknya hubungan SBY dan Jokowi bukan karena Jokowi ingin menjaga perasaan Megawati Soekarno Putri yang menutup diri dengan SBY, namun memang ada sesuatu yang terasa dingin di antara mereka.

Kita masih ingat ketika SBY Tour de Java Maret tahun lalu. Dalam rangkaian Tour de Java, tepatnya di Pati, Rabu (16/3/2016), SBY mengungkapkan bahwa pemerintah sebaiknya tidak menguras anggaran di sektor infrastruktur. Apalagi, kondisi ekonomi tanah air sedang lesu.

Dua hari setelah kritik SBY, Jokowi tiba-tiba meninjau proyek pusat olahraga di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Di sana Jokowi geleng geleng kepala menyaksikan bangunan Hambalang yang telah ditutupi ilalang.

Kesedihan itu diungkapkan Jokowi di akun Twitternya @Jokowi.

“Sedih melihat aset Negara di proyek Hambalang mangkrak. Penuh alang-alang. Harus diselamatkan,” tulis Jokowi. Kontan SBY yang tadinya busung dada sok bijaksana, langsung kena godam raksasa. Publik ngakak melihat hantaman balik Jokowi. Walhasil, Tour de Java kehilangan gairah. Bubar jalan. Huahahaha.

Puncak perang dingin SBY dan Jokowi tervalidasi saat Presiden Jokowi dengan wajah serius berpidato usai aksi demo 411 yang menuntut Ahok agar ditangkap. Jokowi menengarai ada aktor politik yang menunggangi aksi demo tersebut.

Tidak lama kemudian, SBY langsung mengadakan konpers di rumahnya Cikeas. SBY dengan emosi menolak dikaitkan dengan aksi 411. Bahkan SBY wanti wanti bahwa aksi demo akan berlangsung sampai lebaran kuda jika hukum tidak ditegakkan. SBY gerah merasa dituduh oleh Jokowi sebagai biang kerok aksi demo.

Belakangan, hubungan keduanya semakin memanas. Pasalnya, Mpok Sylvi cawagub yang berpasangan dengan AHY anak SBY sedang dibidik polisi atas dugaan penyalahgunaan dana hibah bansos saat Mpok Sylvi menjabat sebagai Ketua Kwarda Pramuka DKI Jakarta pada 2013 lalu.

Entah karena kecurigaan Mpok Sylvi diproses hukum, tiba tiba SBY ngetwit. Cuitan SBY tentang kegalauannya ini tentu menggegerkan publik. SBY ngetwit “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar ‘hoax’ berkuasa dan merajalela. Kapan rakyat dan yang lemah menang? *SBY*.

Kontan cuitan SBY membikin panas jagad medsos. Ribuan netizen membalas cuitan SBY. Banyak netizen membalas cuitan SBY itu sebagai ekspresi kegalauan pihaknya atas nasib Mpok Sylvi yang sedang diselidiki keterlibatannya dalam kasus dugaan korupsi penggunaan dana hibah bansos.

AHY bahkan menuding ada muatan politis dibalik pemanggilan Mpok Sylvi di Bareskrim Polri. AHY terlihat gusar saat menjawab pertanyaan wartawan atas pemeriksaan Mpok Sylvi. Lucu juga melihat reaksi AHY. Untuk kasus Ahok kubu AHY terlihat menggebu gebu mendorong polisi memproses hukum Ahok, giliran Sylvi kubu AHY malah menuding polisi aneh aneh.

Pada titik ini, kita melihat persoalan Ahok dan Mpok Sylvi bukanlah persoalan biasa. Ada arus besar yang tidak terlihat namun bisa kita rasakan sedang beradu.

Dalam tataran ilmu silat, dua grand master ini sejatinya sedang bertarung pakai ilmu tenaga dalam jarak jauh. Begitu keras dan dahsyat sebenarnya pertarungan mereka.

SBY dengan kekuatan penuh menggunakan segala sumber daya untuk mengalahkan lawannya, sementara Jokowi dengan daya tahan tinggi bergerak lincah, membangun kekuatan untuk menyerang balik setelah dibombardir di aksi 411 & 212.

Aksi 411 & 212 adalah serangan kolosal yang ingin menjatuhkan Jokowi. Sayangnya, serangan itu hanya merusak bentuk rambut Jokowi. Serasa angin kencang yang merusak bentuk sisiran rambut tapi tidak bikin rontok sampai botak. Tidak sampai membuat Jokowi pincang apalagi batuk darah.

Sekarang bola ada di tangan Jokowi. Tendangan tanpa bayangannya sedang dalam level energi tertinggi. Semua pasukan berada dalam kendali sempurna. Esok Senin, Rizieq Shihab, tokoh utama aksi 411 dan 212 akan diperiksa Bareskrim Polri atas dugaan pidana hasutan Uang Kertas berlogo PKI. Sebelumnya 11 aktivis sudah ditangkap karena mencoba makar.

Sementara Jumat lalu, Mpok Sylvi diperiksa atas dugaan korupsi dana hibah bansos. Usai diperiksa, Mpok Sylvi bukannya menjelaskan kemana uang hibah itu lari, Mpok Sylvi malah menyeret nama Jokowi sebagai pihak yang memberikan dana hibah tersebut. Sylvi mencoba menyerang Presiden Jokowi sebagai pihak yang harusnya paling bertanggung jawab.

Sayangnya ocehan Mpok Sylvi ini dibantah polisi. Menurut penyidik penggunaan dana hibah bansos itu tidak ada hubungannya dengan Jokowi selaku Gubernur. Itu tanggung jawab Sylvi selaku Ketua Kwarda Pramuka DKI Jakarta dalam menggunakan anggaran hibah.

Ini persis kasus kasus korupsi dana hibah bansos di hampir seluruh Pemda tanah air. Maret 2016 lalu, mantan Wakil Ketua DPRD Batam asal PKS Aris Hardi Halim, ditetapkan sebagai tersangka kasus hibah bansos. Dana hibah bansos sebesar Rp 500 juta diterima Aris selaku ketua Persatuan Sepakbola Batam. Olehnya, dana tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan penggunaannya.

“Modusnya bermacam-macam, ada yang memanipulasi laporan pertanggungjawaban, mark-up dan menggelembungkan biaya kegiatan,” kata Asisten Pidana Khusus Kejati Kepri, N.Rahmat SH.

Apakah Walikota Batam ikut terkena pidana korupsi atas tindak pidana korupsi Aris Hardi Halim tersebut?
Tentu tidak. Anggaran yang sudah dikucurkan ke masing masing penerima dana bansos tentu menjadi tanggung jawab si penerima bantuan tersebut.

Jadi kalo Mpok Sylvi koar koar bahwa bansos yang diterimanya sebagai Ketua Kwarda Pramuka adalah tanggung jawab Jokowi sebagai gubernur, dapatlah kita katakan Mpok Sylvi ini mungkin sedang panik lalu mencoba menyerang Jokowi. Biasanya kalo orang sedang terjepit, setanpun bisa dijadikan tumbal, apalagi Jokowi yang notabenenya sedang perang dingin dengan SBY.

Pekan pekan ke depan, kita akan menyaksikan para petarung dunia persilatan perpolitikan akan berjatuhan. Rizieq Shihab akan menerima tuaiannya. Mpok Sylvi akan dikuliti penggunaan anggaran hibah dana bansos.

Dan yang paling mendebarkan jantung republik adalah segera dimulainya penyelidikan atas nyanyian Nazarudin, Anas Urbaningrum dan Alm Soetan Bathugana atas dugaan keterlibatan Pangeran Cikeas dalam mega skandal korupsi SKK Migas.

Rasanya pesan simbolis Presiden Jokowi saat ikut pertandingan memanah hari ini bisa kita jadikan kode keras. Saat bertanding, busur panah pertama Jokowi menancap tepat di lingkaran kuning di tengah.

Menurut Presiden Jokowi, panahan, sebagaimana pekerjaan apa pun, membutuhkan fokus dan konsentrasi. Dan yang terpenting adalah, dalam setiap kegiatan targetnya harus jelas.

“Target yang dibidik jelas: berupa lingkaran kuning di tengah-tengah”, ujar Jokowi.

Sepertinya kode keras ini ingin menyampaikan kepada kita bahwa target sedang dalam kuncian. Bagaimana permainan kunci mengunci dua grand master ini akan berakhir? Cuitan SBY bisa kita baca sebagai lempar handuk putih pertanda game is over. Game is over my son....

_Birgaldo Sinaga_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.