Kamis, 26 Januari 2017

Bekas

PRESIDEN BEKAS VS BEKAS PRESIDEN

Ketika Soeharto jatuh, digantikan Habibie, dia memilih bertapa di rumahnya. Seolah dia lepas dari hinggar bingar politik dan sibuk menghabiskan hari tuanya. Tidak terdengar satupun statemen yang mengkritik pemerintahan Habibie.  

Begitupun saat laporan pertanggungjawaban Habibie ditolak MPR, dan dia gagal maju lagi menjadi presiden. Lelaki ahli pesawat terbang itu memilih menjadi pandito. Tidak pernah terdengar omongan Habibie yang bernada menyerang pemerintahan Gus Dur. Padahal waktu itu poitik memang tidak berpihak kepadanya. Tapi toh, Habibie ikhlas. 

Lalu Gus Dur dijatuhkan di tengah jalan, Megawati naik ke puncak pemerintahan. Adakah Gus Dur ngambek? Gak juga. Bagi Gus Dur tidak ada kekuasaan yang pantas dipertahankan dengan pertumpahan darah. Makanya Gus Dur menghalangi pengikutnya yang mau mengeruduk Jakarta. Dia rela melepaskan kursi kekuasaan ketimbang melihat Indonesia berdarah-darah. 

Diakhir periode Megawati, sistem pemilu Indonesia berubah. Kali ini rakyat berhak memilih langsung Presidennya. SBY tampil menjadi kandidat dan mendapat suara rakyat. Megawati harus tersingkir. Ketua PDIP itu secara pribadi tidak melakukan serangan terbuka kepada pemerintahan SBY. 

PDIP memang memposisikan diri sebagai partai oposisi. Tapi fungsi itu lebih banyak diambil oleh kader-kader PDIP di parlemen. Sementara Megawati sendiri lebih fokus membangun kekuatan partai. 

Itulah etika seorang bekas presiden. Sebab sesungguhnya apa yang terjadi pada pemerintahan sekarang adalah kelanjutan hasil kerja dari pemerintahan sebelumnya. Alangkah anehnya jika bekas presiden ikut cerewet dengan pemerintahan yang sekarang.

Rakyat mesti berterimakasih pada orang-orang besar itu, yang berjiwa besar dan tidak ngambekan. Pergantian kekuasaan, meskipun didahului dengan gonjang ganjing politik, tetapi selalu berlangsung mulus. Orang yang pernah duduk di kursi Presidenpun seolah bersikap tut wuri handayani, mendorong dari belakang.

Sikap ini menjadi semacam etika umum. Lihat saja Clinton yang diam ketika George W. Bush berkuasa. Atau Bush yang juga tidak lagi sibuk cawe-cawe ketika Obama duduk di Gedung Putih. Meskipun kebijakan Obama banyak yang berlawanan dengan kebijakan Bush dulu.

Sementara kini, kita melihat ada seorang mantan presiden yang baperan. Mungkin juga bisa masuk kategori cerewet. Apalagi ketika anaknya sekarang sedang ikut bertanding dalam Pilkada DKI Jakarta. Dia gemar mengungkapkan perasaannya lewat medsos layaknya anak alay.

Curhat itu semakin terasa, biasanya ketika Presiden yang sekarang dijabat Jokowi mengundang orang-orang besar untuk bertukar fikiran tentang kondisi Indonesia. Waktu Jokowi bertemu Prabowo dan fotonya di atas kuda beredar, dia nyinyir memperkenalkan istilah lebaran kuda. Memang sih, komentar itu menanggapi kasus Ahok. Tapi lebaran kudanya, itu loh. Kini saat Jokowi mengundang Habibie dan Tri Sutrisno, dia kembali curcol. Kali ini dia mengeluh pada Tuhan via twiter seolah akun miliknya sudah difollow Tuhan. 

Kita jadi tahu, ada bekas presiden, ada juga presiden bekas. Bekas presiden biasanya mampu bersikap kalem. Berbeda dengan Presiden bekas : sikapnya selalu baperan.

www.ekokuntadhi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.