Minggu, 15 Januari 2017

Ahok, Indikator

Ketika partai2 tampak hanya jadi mainan orang kaya dan orang tua, sejumlah indikator dalam ulasan Goenawan Mohamad ini menjadi sangat penting.

Saya tak tahu apakah saya cocok dengan Ahok, secara pribadi. Saya juga tak tahu apakah dalam setiap hal saya akan setuju dengan pilihan kebijakannya. Yang saya tahu, sebagai warga Jakarta, dan sebagai orang Indonesia, saya ingin dia menang dalam Pilkada DKI 2017.

Saya mengalami sendiri bagaimana ber-angsur2 Jakarta jadi lebih baik.

Di dekat rumah saya ada sebuah balong besar yang kotor dikelilingi himpunan gubug kumuh. Ber-tahun2. Kini ia diubah jadi kolam luas dan taman hijau.

Tak jauh dari tempat saya bekerja, ada Pasar Minggu. Ber-puluh2 tahun jalan di depan pasar itu macet oleh pedagang dan kendaraan. Kotor, berisik, tak memberi peluang orang melihat ke toko2 di sekitar itu. Sejak Jokowi dan Ahok memimpin Jakarta, keadaan berubah. Kaki lima dan pasar teratur. Jalanan lebih longgar. Toko2 di tepi jalan kelihatan.

Jika kita kini berkeliling Jakarta, kita akan melihat jalanan jadi bersih, sampah tersingkir dari sungai dan banjir jauh berkurang. Saya dengar teman2 saya yang ber tahun2 kebanjiran bila hujan, kini lega. Ahok mengerahkan dan membayar ratusan tenaga kerja yang secara rutin membersihkan gang, jalan, parit, gorong-gorong ibukota metropolitan, Jakarta.

Siap bekelahi

Sejak bersama Jokowi sebagai Gubernur, Ahok memulai gebrakan perbaikan kota dengan membereskan birokrasi kota. Ia, yang dikenal keras dalam soal korupsi, dan keras kepada dirinya sendiri dan keluarganya, bisa melakukan hal ini karena tak ada rasa takut akan dianggap palsu. Di sebuah kota yg birokrasi dan DPRD nya ber-tahun2 jadi bagian mafia segala hal (mafia sampah, mafia parkir, mafia pasar, mafia… ), Ahok siap berkelahi.

Kadang2 saya khawatir, orang yang terus menerus membersihkan pemerintahan dari korupsi akan tergoda untuk menjadi orang yang merasa paling suci/ pahlawan yang siap berkorban. Saya harap Ahok punya cukup rasa humor untuk menangkal godaan “narsisme' ini. Tapi mungkin tak ada pilihan lain: berkelahi melawan korupsi memang perlu stamina, konsentrasi, dan kelihaian yang tinggi. Ahok punya semua itu.

Harapan sekaligus indikator

Tapi tak hanya itu. Ahok adalah sebagian dari harapan yg lebih luas. Pilkada DKI 2017 bukan cuma untuk memenangkan orang ini. Kita memilihnya karena kita ingin memberinya tugas: jadi indikator bahwa Indonesia sedang berubah ke arah yang lebih baik, dengan memilih orang jadi pemimpin karena kemampuannya, bukan karena agamanya/latar belakang etnisnya. Juga indikator bahwa orang-orang tak berpartai, yang mengusung Ahok, yang jumlahnya jauh melebihi suara yang masih percaya kepada partai, berhak dan bisa menang.

Ketika partai2 tampak hanya jadi mainan orang kaya dan orang tua, indikator itu penting. Kita sedang membangun harapan.

Penulis:

Goenawan Mohamad, seorg sastrawan, pendiri majalah Tempo&Komunitas Salihara, penerima penghargaan Louis Lyon dari Yayasan Nieman, CPJ International Press Freedom Award 1998, International Editor of the Year Award dari World Press Review (1999), serta& David Prize Award (2006). Ia juga merupakan ketua Komite Nasional pameran buku Frankfurt Book Fair 2015, saat Indonesia menjadi ta mu kehormatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.